
Kurang lebih Dua belas jam waktu yang mereka tempuh, hingga akhirnya mereka sampai di negara tujuan dengan pesawat pribadi mereka.
Selama di perjalanan Elvan terus menenangkan istrinya yang harus berpisah dengan keluarganya. Hingga akhirnya dia terlelap. Elvan berjanji akan menjaga Aida dengan baik. Karena dia adalah istrinya, selain itu dia juga sudah mengambil tanggung jawab dari orang tuanya dan sekarang tanggung jawab itu ada ditangannya.
Setelah pesawar landing dengan selamat, Elvan segera membangunkan Aida.
"Ai... ayo bangun kita sudah sampai. " Elvan menepuk-nepuk tangan Aida dengan lembut agar dia terbangun.
Aida yang merasa terkejutpun segera mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikn dengan cahaya yang masuk. Elvan yang melihat itu merasa sangat gemas dan ingin memakan Aida saat itu juga. Eh...
Mereka berdua keluar dari pesawat paling akhir, karena Aida masih memulihkan kesadarannya. Diluar pesawat sudah ada beberapa mobil mewah yang berjajar rapi dan akan membawa keluarga Khan untuk kembali ke mansion.
Aida benar-benar tak percaya, saat ini dia sudah menginjakkan kaki diluar negaranya, dan berada di negara suaminya tinggal.
'Mas, apa ini bukan mimpi? " tanya Aida saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Mimpi, mimpi apa? " tanya Elvan balik yang tidak mengerti dengan pertanyaan istrinya itu.
"Aku beneran ada di Turki sekarang? " tanya Aida lagi.
Elvan hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Dia lalu mencubit pipi Aida dengan sangat lembut.
"Aw, sakit mas. " kata Aida sambil mengusap-usap pipinya.
"Sakit kan, itu artinya apa? " tanya Elvan.
Aida hanya tersenyum setelah mendengar pertanyaan suaminya.
"Lain kali kalau kau tidak sibuk bisakah kita pergi umroh? Bukannya disini dan di Arab itu jaraknya tidak terlalu jauh ya. " ujar Aida penuh harap.
"Iya, kurang lebih 3-4 jam perjalanan. " jawab Elvan. "Jika aku tidak sibuk aku akan mengajakmu ke sana. "
Aida mengangguk dan melingkarkan tangannya di lengan Elvan. Lalu merebahkan kepalanya di bahu sang suami. Keromatisan mereka berdua tak luput dari penglihatan sopir dan Leo yang sengaja menjemput tuannya itu. Mereka berdua tidak menyangka kalau istri tuan muda mereka adalah wanita bercadar. Sedikit kecewa itu yang mereka rasakan karena tidak bisa melihat wajah dari nona mudanya.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya masuk ke sebuah gerbang besar yang terbuka. Aida langsung menegakkan tubuhnya saat mobil melewati gerbang besar dan memasuki sebuah halaman luas dengan bangunan mewah yang ada didepan matanya.
"Mas, ini rumahmu? " tanya Aida.
Elvan mengangguk dan tersenyum. "Ini adalah mansion utama keluarga kami. Ayo kita turun. "
__ADS_1
Elvan segera membawa Aida keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam mansion. Semua mobil juga sudah terparkir rapi di garasi. Itu artinya semua orang sudah datang. Hanya tinggal mereka berdua yang terakhir sampai.
Para pelayan berjajar rapi menyambut kedatangan tuan muda dan nona muda baru mereka. Mereka sedikit terkejut dan tidak menyangka saat melihat sosok yang digandenga Elvan adalah sosok wanita bercadar. Namun tak ayal mereka menundukkan kepala saat Elvan dan istrinya melewati mereka.
Aida sangat terkagum melihat semua keindahan dan kemewahan yang ada di hadapan matanya. Untung saja cadarnya bisa menutupi semua rasa kagumnya pada bangunan mewah ini.
Elvan mengajak Aida berkumpul bersama di ruang keluarga bersama para wanita yang sedang mengistirahatkan tubuh mereka. Sedangkan dia akan berkumpul bersama para pria untuk membicarakan masalag perusahaan.
"Kamu disini dulu sebentar ya. Aku akan menemui daddy. " kata Elvan sambil mengecup kening istrinya sebelum pergi.
Dan perbuatannya itu membuay semua para wanita heboh.
"Wah, kakakku ternyata beneran sudah jatuh cinta pada kakak ipar. " pekik Zia senang.
"Syukurlah." lirih Faza turut bahagia.
Elvan tidak menghiraukan kehebohan mereka, dia hanya menitipkan Aida kepada sang mommy.
"Mom, titip istriku dulu ya. Kau mau menyusul para pria. "
"Ya, pergilah. Istrimu aman bersama kami. " ucap Faza.
Elvan segera pergi dari sana dan menuju tempat kerjanya.
"Kak Aida, bolehkah kami melihat wajahmu? " rengek Zia.
Dan terang saja rengekan Zia itu membuat semua orang mengangguk setuju. Bahkan Emira dan Eira yang ikut bersama mereka pulang pun juga ikut penasaran. Ada Zahra dan Nala juga disana.
"Benar Aida, aku juga belum melihat wajahmu. Masak hanya Ibu mertua dan Zoya saja yang baru melihat wajahmu. " protes Zahra yang belum melihat wajah menantu mereka.
Aida menoleh kearah ibu mertuanya meminta persetujuan. Dan dilihatnya ibu mertuanya itu menganggukkan kepala setuju.
"Tenang saja, sayang. Di sini aman, semua pelayan wanita dan pelayan pria berada diluar, seperti tukang kebun dan security. Dan para pria itu tidak akan keluar secepat itu, jika sudah membicarakan pekerjaan. " kata Faza memberi jaminan.
Mendengar hal itu Aida pun merasa lega. Karena sesuai perintah suaminya, hanya dia satu-satunya pria yang bisa melihat wajahnya dan para wanita di keluarga itu. Akhirnya dengan perlahan Aida membuka tali cadarnya. Ada rasa was-was, namun dia juga harus memperkenalkan dirinya kepada keluarga sang suami.
Saat cadar itu sudah terbuka, semua mata terbelalak melihat wajah Aida. Dia memiliki wajah putih bersih tidak seperti wajah wanita Asia Tenggara lainnya yang memiliki kulit eksotis sawo matang atau pun kuning langsat. Kulitnya benar-benar mulus tanpa noda jerawat sedikitpun, belum lagi parasnya yang sangat cantik di mata lara wanita disana, dan membuat mereka sangat iri.
"Kak, kenapa kak memiliki kulit cantik seperti ini? Apa rahasianya. Kakak juga sangat cantik. Pantas kak Elvan langsung jatuh cinta sama kakak. " " Kata Zia adik kembar Elvan.
__ADS_1
Aida hanya tersenyum dan tertunduk malu.
"Tuh, kan. Senyumnya aja manis banget. " kata Zia kesal.
"Zia... jangan seperti itu, kau lebih dewasa dari Aida, jadi bersikaplah seperti orang dewasa. Jangan seperti anak-anak. " kata Faza sambil melotot kearah anaknya.
"Mom lihatlah. Kakak ipar sangat cantik aku ingin memiki kulit cantik seperti dia. " rengek Zia, yabg memang sangat manja. Dokter muda itu tetap bersikap kekanakan walau usianya sama dengan sang kakak.
Semua orang menggelengkan kepalanya mendengar rengekan Zia yang aneh itu.
"Aida, apa Elvan sudah melihat wajahmu? " tanya Faza dengan lembut.
"Su... sudah, mom. " jawab Aida.
"Lalu apa yang dia katakan." tanya Faza lagi penasaran.
"Mas, Elvan memintaku untuk tetap memakai cadarku walau berada di rumah ini. " kata Aida.
Semua orang saling berpandangan, mendengar panggilan Aida kepada Elvan.
"Mas? "
"Kenapa kamu memanggil Elvan dengan panggilan itu? " tanya Faza.
"Mas Elvan yang ingin aku memanggilnya seperti itu, mom."
"Pasti karena dia mengingat panggilan neneknya kepada kakak. " tebak Faza.
Aida hanya mengangguk sebagai jawaban.
Mereka semua menghembuskan nafasnya mendengar itu. Memang seorang Elvano adalah cucu kesayangan kakek dan nenek mereka. Sehingga kehilangan mereka berdua sangat membuat Elvan terpuruk.
"Maafkan Elvan ya, Aida. Jika Elvan selalu membicarakan kakek dan neneknya, karena El adalah cucu kesayangan mereka. Dia dulu memang pernah bilang kepada kami dan kakek neneknya kalau punya istri dia ingin dipanggil seperti nenek yang memanggil suaminya dengan panggilan mas. Jadi, ternyata ucapannya itu benar-benar dia wujudkan. Semoga kamu tidak keberatan. " kata Faza yang tidak enak hati dengan kelakuan anaknya.
"Tidak apa-apa mom. Aku sangat tidak keberatan. Karena panggilan itu, sudah menjadi kebiasaan di negara kami. Jadi aku tidak masalah. " kata Aida.
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang istrahatlah. Biar Zia mengantarmu ke kamar. " Ujar Faza dengan lega.
Sesuai perintah sang mommy Zia mengatarkan kakak iparnya ke kamar kakaknya. Di kamar Xia tidak langsung keluar, tapi dia malah ingin ngobrol berdua dengan Aida.
__ADS_1
"Kak, katakan padaku. apa rahasia kakak memiliki kulit putih bersih seperti ini. " Zia masih tidak mau menyerah ingin tahu rahasia kulit kakak iparnya itu.
Aida tersenyum melihat Zia yang keras kepala. Semoga suaminya tidak memiliki sifat keras kepala seperti Zia yang pemaksa.