Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)

Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)
Belanja


__ADS_3

Setelah dirasa cukup melihat drama pengantin baru itu, Murad meminta Elvan mengajak istrinya pulang saja. Karena mereka masih dalam masa pengantin baru, jadi Murad memberi waktu anak dan menantunya itu untuk menghabiskan waktu bersama. Sebelum pulang Elvan mengajak Aida ikut keruangannya karena dia harus berdiskusi dengan Leo tentang pekerjaan yang harus dia lakukan.


Aida hanya ikut berjalan di samping sang suami yang selalu menggenggam erat tangannya. Sedangkan dia berbincang dengan Leo. Elvan tidak tahu saja selama perjalanan, mereka menjadi pusat perhatian para karyawan. Para karyawan itu menatap Aida dengan tatapan aneh, karena mereka tidak terbiasa melihat wanita yang memakai pakaian sangat tetutup seperti itu. Kalau hanya berhijab mungkin sudah biasa. Walau yang bercadar juga ada tapi tetap saja mereka merasa aneh. Apalagi wanita itu adalah istri dari Elvan pria tampan yang selalu menjadi moodbooster bagi Para karyawan wanita.


Mereka sampai di ruangan Elvan, dan Elvan mempersilahkan Aida untuk masuk ke dalam ruang istirahatnya. Sedangkan dia akan membicarakan masalah pekerjaan dengan asistennya.


"Ruangan ini luas sekali lebih luas dari kamarku. " gumam Aida saat berads di ruangan Elvan.


Dia terus memeriksa isi ruangan istirahat Elvan, mulai dari kamar mandi dan lemari yang berisi beberapa pakaian kantor, lemari es dan akhirnya dia berhenti di depan kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Istambul. Bibirnya terus menyunggingkan senyuman melihat pemandangan di hadapannya.


"Aku tidak menyangka kalau aku bisa sampai di negara ini, jauh dari orang tua dan keluarga. " batinnya.


"Tapi mulai sekarang, aku akan memiliki kekuarga baru disini. Dan membuat keturunanku sendiri disini bersama suamiku. Abi, Umi aku merindukan kalian. " gumamnya lagi


"Doakan anakmu ini agar selalu bahagia. "


Tanpa terasa air matanya jatuh juga saat memikirkan kedua orang tuanya. Dan dengan cepat Aida menghapus air matanya itu. Dia segera menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. Entah karena lelah atau karena kantuk yang melanda akhirnya tak lama diapun terlelap.


Hingga sebuah ciuman nakal mendarat dibibirnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan sang suami. Rasanya Elvan ingin sekali memakan Aida saat ini juga. Tapi dia masih waras, dia tidak ingin melakukannya di kantor karena takut terjadi sesuatu karena ini adalah yang pertama kalinya bagi mereka berdua.


"Mas, " lirih Aida saat melihat suaminya sudah duduk manis disampingnya.


"Kau lelah, ya. " tanya Elvan.


"Enggak juga, tadi lihat bantal rasanya ingin baringan sambil main ponsel. Eh, taunya ketiduran. " kata Aida berbohong, dia tidak ingin melihat suaminya khawatir bila melihat dirinya sedang bersedih saat merindukan kedua orang tuanya. Dia akan selalu berusaha terlihat bahagia di hadapan sang suami, agar tidak membebaninya.


"Syukurlah kalau kau tidak kelelahan. Sekarang Ayo kita ke butik Eira, kita sudah janji kepadanya kalau akan ke sana." ajak Elvan.


"Apa urusanmu dengan asistenmu sudah selesai?" tanya Aida.


"Sudah, Ayo kita pergi. Sudah waktunya makan siang juga. "

__ADS_1


Aida segera bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar mandi. Dia segera mencuci wajahnya agar telihat segar, mengelapnya dengan handuk dan kembali memakai cadarnya. Setelah itu mereka segera keluar dari kantor tidak lagi bergandengan tangan, tapi Elvan sudah melingkarkan tangannya dipinggang Aida. Membuat siapapun menjadi iri melihat kemesraan yang Elvan tunjukkan kepada istrinya.


Mereka akhirnya pergi ke Butik Eira, butik yang diturunkan secara turun temurun karena hobby dari sang kakek dan nenek. Dan keahlian mendesain juga diturunkan kepada salah satu cucu mereka.


Tiga puluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai juga di butik Eira. Mereka bahkan sudah di tunggu oleh si pemilik butik, yang sudah menyiapkan makan siang untuk mereka berdua di ruangannya. Karena tadi Elvan sudah menghubungi nya dan meminta Eira untuk menyiapkan makan siang juga untuk mereka berdua.


"Selamat datang di butikku kakak Ipar. " Eira menyambut kedatangan Aida dengan sebuah pelukan.


Dan Aida membalas pelukan Eira.


"Butikmu besar sekali, Ei. " ujar Aida sambil memperhatikan setiap sudut butik milik sepupu suaminya itu.


"Tentu saja kak, butik ini sudah didirikan tiga generasi. Jadi kami juga melakukan perluasan dan membuka beberapa cabang di kota lain. " kata Eira dengan bangga.


Aida mengangguk mengerti dan mengikuti Eira ke ruangannya. Mereka tidak tahu saja para karyawan sejak tadi memperhatikan sepasang suami istri itu. Bagaimana tidak, dimanapun Elvan berada dia selalu menjadi pusat perhatian karena ketampanannya. Apalagi sekarang dia sedang berjalan berdampingan dengan seorang wanita bercadar dan merangkulnya dengan posesif. Semakin membuat mereka penasaran.


Mereka langsung menyantap makan siang mereka saat sudah berada di ruangan Eira sebelum berkeliling mencari pakaian yang Aida inginkan.


"Ya, begitulah. Hanya seorang tikus pengganggu saja yang ingin memanfaatkan keluarga kita. Tapi sudah kami selesaikan. " jawab Elvan santai.


"Bagaimana bentuk wanita yang ingin mereka berikan kepadamu? ” sindir Eira kepada kakak tertuanya itu.


Elvan hanya bergidik membayangkan wanita yang tadi dikenalkan kepadanya.


" Jangan membicarakannya. " ketus Elvan.


Eira langsung tertawa mendengar kekesalan kakaknya sedangkan Aida hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat sikap sang suami.


"Ayo kak Aida, aku antar kau memilih pakaian. "


Eira langsung menarik tangan kakak iparnya itu dan mengajaknya keluar. Melihat itu, Elvan langsung mengikuti kedua wanita kesayangannya itu. Melihat pakaian seperti apa yang akan dipilih Aida.

__ADS_1


"Ei pilihkan yang simpel aja. Juga untuk yang dipakai dirumahan. " pinta Elvan kepada adik sepupunya.


"Oke. "


Setelah hampir satu jam berkeliling akhirnya mereka menyudahi belanjanya. Karena Aida juga sudah lelah ditarik kesana kemari oleh Eira. Begitu juga Elvan yang sudah merasa capek saat menemani mereka. Dia lalu memberikan black cardnya kepada Eira.


"Cepat hitung, Aku sudah lelah." gerutu Elvan.


"Oh, ya. jangan lupakan membuat cadar untuk setiap pakaiannya. " Elvan mengingatkan.


"Oke, siap bos. Sepertinya aku akan cepat kaya jika seperti ini terus. " ujar Eira sambil memberikan cengirannya kepada sang kakak.


Setelah melakukan pembayaran, Eira segera meminta karyawannya untuk meletakkan beberapa paperbag ke mobil kakaknya. Elvan dan Aida segera meninggalkan butik Eira setelah berpamitan dengannya.


Di dalam mobil, terlihat Aida tersenyum senang. Karena baru kali ini dia belanja gila-gilaan bersama sang suami.


"Mas, terima kasih ya. " kata Aida memiringkan tubuhnya sambil menatap sang suami.


"Untuk..." tanya Elvan sambil menaikkan alisnya.


"Untuk semua yang kau berikan padaku hari ini. " ujar Aida sambil tersenyum lebar di balik cadarnya.


"Tentu saja, sayang. Karena kau adalah istriku. Jadi, aku akan memberikan apapun untukmu. Tapi... " Elvan menggantung kalimatnya


"Tapi... tapi apa? " tanya Aida penasaran karena suaminya itu menggantung kalimatnya.


"Persiapkan dirimu malam ini. Aku ingin memakan hidangan utama ku. " ujar Elvan Ambigu.


"Apa." Aida masih merasa bingung dengan ucapan Elvan


"Persiapkan dirimu malam ini, karena aku ingin memakanmu. Dan tidak akan ada larangan lagi dari mommy. "

__ADS_1


__ADS_2