
Mendengar ucapan Elvan suaminya yang mengandung ungkapan perasaannya membuat hati Aida jadi berbunga-bunga. Itu artinya Elvan sudah menerima dirinya menjadi seorang istri. Apalagi baru saja mereka sudah melakukan sebuah pemanasan sebelum masuk ke intinya.
Aida yang merasa sangat bahagia langsung memeluk tubuh suaminya yang sedang bertelanjang dada saat ini. Menelusupkan kepalanya didada bidang sang suami dan menghirup aroma tubuh suaminya yang sangat memabukkan.
"Terima kasih. " ucap Aida saat berada di dalam pelukan sang suami.
"Untuk? " Tanya Elvan tak mengerti dengan ucapan terimakasih Aida.
"Karena kau sudah mencintaiku. Itu artinya kau sudah menerimaku sebagai istrimu. " ucap Aida lagi.
Elvan langsung mengendurkan pelukannya dan menatap wajah cantik istrinya itu. Dengan senyuman penuh arti.
"Aku sudah menerimamu sebagai istriku sejak kalimat ijab qobul itu terucap dari bibirku. Hanya saja rasa cinta ini baru tumbuh saat kita bersama selama dua hari ini. " Ujar Elvan kembali mengeratkan pelukannya kepada sang istri.
"Pokoknya aku mau mengucapkan terima kasih. " kata Aida tak mau tau.
Elvan terkekeh mendengar ucapan sang istri.
"Ayo kita istirahat, karena besok kita harus menghadiri pernikahan Rafa, dan harus melakukan perjalanan panjang untuj pulang. " kata Elvan yang mengajak istrinya berbaring.
Malam ini adalah malam ketiga setelah pernikahan mereka namun masih saja belum buka segel. Tapi Elvan sudah icip-icip sedikit. Jadi sedikit rasa penasarannya kepada sang istri sudah terobati.
Dan akhirnya mereka berdua menggapai mimpi mereka dengan saling berpelukan.
°
°
Hari pernikahan Rafa dan Najwa akhirnya diadakah di ballroom hotel tempat mereka menginap. Pihak hotel sudah yang ditunjuk untuk mengadakan pesta pernikahan itu melakukannya dengan baik. Bahkan Mereka juga yang sudah menyiapkan gaun pengantin dan MUA terbaik untuk merias kedua pengantin.
Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan, akhirnya Rafa sudah bisa mempersunting Najwa menjadi istrinya.
Seperti halnya di pernikahan Elvan, pada pernikahan Rafa pun terjadi hal yang sama. Dimana mempelai wanita masih enggan disentuh oleh mempelai pria. Padahal mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.
"Apa aku kemarin juga seperti itu, mas. " tanya Aida lirih.
__ADS_1
Elvan yang mendengar pertanyaan Aida pun terkekeh geli saat mengingat pernikahan mereka dua hari lalu.
"Iya sikapmu sama seperti Najwa malu-malu kucing. " ucap Elvan mengejek istrinya.
"Mas. " rengek Aida manja.
"Benarkan kataku, panggilan mas itu terdengar sangat manja ditelingaku. Aku jadi rindu nenek." kata Elvan tanpa sadar.
Aida hanya tersenyum mendengar ucapan Elvan. Tak apa dia menyayangi sang nenek yang sudah meninggal. Karena mungkin kenanganbyang ditinggalkan oleh kakek dan neneknya sangat membekas di hatinya. Dia jadi semakin penasaran seperti apa sosok kakek dan nenek Elvan yang juga sudah menjodohkannya dengan cucunya itu. Nanti saay disana Aida bertekad akan mencari tahu.
Setelah acara akad dilanjutkan dengan acara sungkeman. Dan kini semua orang akan mengambil foto keluarga sebelum mereka meninggalkan acara pernikahan ini.
"Rafa selamat ya, adikku. Semoga kau bahagia selalu bersama dengan istrimu. Aku tidak menyangka kalau kau menikah beberapa hari setelah pernikahanku. Ternyata kau tidak mau kalah denganku. " kata Elvan mengejek setelah mengucapkan selamat.
Wajah datar itu hanya memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan dari kakak tertuanya itu.
"Hei kenapa sikapmu seperti itu, ingatlah kau sudah menikah. Kalau Najwa melihatmu seperti itu, dia akan ilfeel kepadamu. " bisik Elvan ditelinga Rafa.
"Stop kak, jangan menggodaku terus. Aku bisa bersikap manis kepada istriku. Jadi, tidak usah mengajariku. " kata Rafa ketus.
Sedangkan disebelahnya Aida sedang memberi selamat kepada Najwa. Sambil bercipika-cipiki.
"Selamat ya, Najwa. semoga kebahagiaan selalu menyertaimu. " kata Aida.
"Iya, kak. kau juga. Sekarang kita bersaudara. " balas Najwa dengan senyuman manisnya.
Tanpa sengaja Rafa yang melihat senyuman manis istrinya itu jadi tertegun.
"Ck... nanti malam saja kalau memandangnya. Bahkan kau bisa memilikinya . Tapi sepertinya tidak akan semudah itu kau membuka segel istrimu." bisik Elvan lagi sebelum meninggalkan Rafa dengan segala kebingungannya setelah mendengarkan ucapan sang kakak.
Setelah kepergian Elvan, kini berganti sang pengacau Ryder yang naik ke pelaminan untuk memberi semangat dengan si bungsu Nathan.
"Selamat, bro. Aku kira kau tidak akan pernah jatuh cinta dan menikah. Tapi ternyata kau menikah lebih dulu dariku. " Ejek Ryder.
Rafa hanya menanggapinya dengan acuh. Karena dia tahu perangai kakak keduanya itu.
__ADS_1
"Adik ipar, selamat ya. Kau sudah bisa mencairkan gunung es inim Semoga kalian bahagia selalu. " ucapnya dengan sopan kepada adik iparnya itu.
Berganti Nathan dan para wanita yang memberi selamat kepada kedua mempelai, Tak lupa mereka juga mengambil foto bersama untuk kenang-kenangan.
Setelah semua acara terlewati, akhirnya sudah tiba waktunya untuk semua keluarga Khan berpamitan kecuali keluarga Ezra yang akan tetap tinggal selama beberapa hari di Indonesia.
Ezra dan keluarganya dan keluarga Alan tidak dapat mengantar mereka ke bandara, karena masih harus menemui para tamu yang hadir. Jadi, yang mengantar mereka ke Bandara hanyalah keluarga Kyai Amir, yang akan mengantar kepergian anak dan menantu mereka nuga keluarga besan.
"Maaf ya, kak Alan, kak Gita. Kami minta maaf karena harus segera pulang. Jika ada waktu lagi kami akan berkunjung. " ujar Murad mewakili keluarganya.
"Tentu saja, kalian harus datang lagi kemari. " Kata Alan sambil mengusap air matanya. Dia tidak menyangka pertemuan mereka hanya sekejap saja.
"InsyaAllah, kak. "
Setelah berpamitan mereka segera pergi dengan mengendari mobil yang disediakan pihak hotel untuk mengantar mereka ke Bandara diikuti keluarga Kyai Amir dengan mobilnya sendiri.
Dua jam perjalanan akhirnya mereka sudah sampai di bandara. Tak perlu melewati prosedur bertele-tele di Bandara, karena mereka langsung masuk jalur khusus untuk menaiki pesawat pribadi mereka.
Kyai Amir merasa terkejut saat mendapati bahwa ternyata mereka menaiki pesawat pribadi, bukan pesawat komersil biasa. Sungguh mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat itu didepan mata mereka.
"Nak Elvan apa ini pesawat kalian sendiri? " tanya Kyai Amir.
"Iya Abi. InsyaAllah nanti saat kami mengadakan resepsi kami akan menyuruh mereka menjemput Abi sekeluarga. " Kata Elvan.
Kyai Amir, mengangguk. "Selesaikan masalahmu dulu, nak Elvan. Setelah itu baru memikirkan resepsi kalian disana. " ujar Kyai Amir.
"Baiklah, Abi. Kalau begitu kami pamit dulu. " Elvan lalu mencium tangan Abi sebelum dia mengajak istrinya yang sedang menangis dipelukan uminya.
"Ayo, sayang. Sudah waktunya kita berangkat. " Ajak Elvan kepada istrinya.
Aida terpaksa melepaskan pelukannya dari sang Umi. Mereka semua kemudian berpamitan dan segera naik ke pesawat.
Air mata akhirnya tumpah dari mata kedua orangtua Aida dan kakak-kakanya melepaskan kepergian putri satu-satunya di keluarga mereka.
Didalam pesawat, Aida menangis sesenggukan dipelukan sang suami. Dia tidak menyangka kalau akan berpisah secepat ini dengan keluarganya.
__ADS_1
"Tenanglah, ada aku disini dan keluargaku yang akan menjagamu dan melindungimu sekarang. Karena kau adalah tanggung jawab ku sekarang, Aida. "