
Saat terdengar bunyi alarm di ponselnya, Aida langsung terbangun. Dia merasakan seluruh tubuhnya remuk dan sakit semua. Bahkan untuk bangunpun sepertinya dia kesulitan. Dengan terpaksa dia membangunkan sang suami yang masih terlelap disampingnya.
"Mas, bangun. " Aida mengguncang tubuh Elvan yang tertidur sangat pulas.
"Mas... " Aida masih mencoba membangunkan suaminya itu berharap dia segera bangun. Tapi apa yang terjadi, Elvan malah memeluk perutnya dengan erat.
Aida menggelengkan kepalanya melihat suaminya yang sangay susah dibangunkan. Akhirnya dia harus melakukan sesuatu yang ekstrem untuk membangunkan suaminya yang susah bangun ini. Aida lalu mendekatkan wajahnya di telinga Elvan, dan meniup-niupnya.
Elvan yang merasa terganggu hanya mmenggosok-gosok telinganya dengan tangannya. Lalu kembali tertidur. Aida menghela nafasnya saat sang suami tidak mau bangun. Kembali Aida mendekatkan wajahnya ke wajah Elvan lalu.
Cup.
Cup.
Cup.
Aida memberi kecupan di seluruh wajah sang suami mulai dari kening, kedua pipi, hidung dan terakhir di bibirnya. Saat ciuman terakhirnya, Aida merasakan tengkuknya di tekan oleh sebuah tangan kekar. Dia ingin memberontak namun, namun tidak bisa, Elvan semakin menciumnya begitu dalam. Setelah hampir kehabisan nafas Elvan melepaskan ciumannya.
"Morning kiss, sayang. " kata Elvan tanpa merasa berdosa sedikitpun.
Sedangkan Aida langsung mengerucut kan bibirnya saat tahu kalau ternyata Elvan mengerjainya.
"Jahat, ih. Dibangunin malah nggak bangun-bangun. " gerutunya.
"Karena aki ingin istriku membangunkan ku dengan ciuman bukan guncangan. " kata Elvan lagi.
Dia lalu mendudukkan dirinya disamping Aida yang masih berbaring dan mengusap rambut istrinya itu dengan lembut.
"Kok nggak bangun sendiri seperti biasa, malah bangunin aku. " tanya Elvan masih dengan posisi yang sama.
"Badanku sakit semua mas. Ituku juga sakit. Nggak bisa jalan rasanya. " keluh Aida.
Mendengar keluhan sang Istri, Elvan langsung melotot. Ternyata istrinya membangunkannya karena butuh bantuan darinya. Dia lalu mencari dimana boxernya yang semalam dia buang. Dan akhirnya ketemu di bawah temlat tidur. Dia segera memakainya dan memakai celana tidurnya. Lalu mengambil Bathrob untuk menutupi tubuh istrinya.
"Tu¡nggu sebentar. " pinta Elvan seperti kemarin sore.
"Mas, aku nggak mau berendam. Aku hanya ingin mandi, karena waktu subuhnya hampir habis. " Teriak Aida dan tidak dihiraukan oleh sang suami.
Melihat itu Aida kembali menggeleng kepalanya. Mau. Menyusulnya pun tidak bisa. Karena dia benar-benar merasakan sakit di area pangkal pahanya. Jadi yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu sang suami.
Tak lama Elvan keluar dari kamar mandi, tidak selama seperti kemarin saat mengisi bathup. Lalu apa yang dia lakukan dikamar mandi tadi?
__ADS_1
Elvan mendekati sang istri dan langsung menggendong istrinya itu ke kamar mandi. Aida langsung memeluk leher sang suami agar tidak terjatuh. Didalam kamar mandi, Elvan mendudukkan Aida di kursi plastik yang sudah dia siapkan tadi. Lalu membuka bathrob yang membalut tubuh istrinya.
"Mas... aku malu. " kata Aida sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Kenapa mesti malu, Ai. Semalam aku sudah melihat semuanya bahkan juga merasakannya, sampai membuatmu seperti ini." Kata Elvan sambil terkekeh saat melihat hasil karyanya ditubuh sang istri.
Tentu saja ucapan Elvan barusan membuat wajah Aida kembali memanas.
Elvan langsung menyiram tubuh istrinya dengan air hangat yang sudah diatur oleh Elvan. Dan mulai memandikan istrinya dengan sabar. Karena apa yang terjadi pada Istrinya itu karena ulahnya. Tak lama, Elvan sudah selesai memandikan istrinya. Dia lalu mengeringkan tubuh Aida dengan handuk lalu mamakaikan bathrob ketubuhnya.
"Wudhu dulu, setelah itu aku gendong ke dalam. "
Aida menurut dan melakukan apa yang diperintahkan sang suami.
Setelah selesai, Elvan langsung membawa Aida ke dalam kamar untuk melakukan sholat lebih dulu dan mendudukkannyaa di tepi ranjang. Elvan mengambil pakaian ganti untuk sang istri dan ingin memakaikannya kepada Aida. Tapi Aida menolak.
"Tidak usah, mas. Kau bisa melakukannya sendiri kamu cepat mandi sana. Biar nggak kehabisan waktu. " Ujar Aida yang langsung memakai pakaiannya sendiri.
"Baiklah." Elvan lalu meninggalkan istrinya setelah menyiapkan mukenahnya juga.
Setelah melakukan ibadah subuh mereka. Elvan membaringkan sang istri lagi agar dia beristirahat. Sedangkan dia sendiri akan pergi keluar menemui adiknya di kamar sebelah.
"Aku keluar sebentar ya. " kata Elvan setelah mengecup kening istrinya.
Elvan segera mengetuk pintu kamar Zia. Dia tau kalau Zia pasti sudah bangun. Karena adiknya itu sudah terbiasa bangun di pagi hari.
Pintu terbuka dan dilihatnya sang adik sudah dalam keadaan segar.
"Ada apa, kak." tanya Zia.
Elvan tidak menjawan pertanyaan adiknya, dia langsung masuk dan duduk disofa yang berada di kamar adiknya.
"Ada apa, kak. " tanya Zia lagi saat mereka sudah duduk bersama.
"Aku mau kau memeriksa istriku, Zi. "
"Memangnya kak Aida kenapa, kak? " tanya Zia yang merasa cemas.
Elvan hanya nyengir saat mendapatkan pertanyaan dari adiknya.
"Semalam aku melakukannya lagi dengan Aida. Dan Aku kelepasan. " Kata Elvan.
__ADS_1
"Melakukan apa? kelepasan apa. " tanya Zia yang tidak terlalu mengerti dengan ucapan kakaknya.
Elvan menghembuskan nafasnya, dan menjelaskan apa yang terjadi agar adiknya mengerti.
Zia membelalakkan matanya saat mendengar ucapan sang kakak. "Kalian melakukannya berapa kali? "
"Entahlah, tapi aku melakukannya sampai jam dua pagi. "
"Kakaaak...."
Zia langsung berdiri dan mengambil peralatan dokternya dan segera keluar dari kamarnya, menuju kamar kakaknya.
"Zia, tahan. Pelan-pelan, Aida mungkin sedang tidur. " ujar Elvan.
Zia menahan langkahnya dan menunggu kakaknya membuka pintu. Setelah pintu terbuka dia segers masuk ke dalam. Dilihatnya kakak iparnya sedang berbaring dengan berbalut selimut tebal.
Dia lalu mendekat dan memeriksa suhu tubunya.
"Tidak apa-apa, suhu tubuhnya normal. " kata Zia.
Aida yang merasa terganggu karena ada memegang keningnya langsung membuka matanya.
"Zia... ada apa? " tanya Aida saat dia sudah sadar sempurna dan mendudukkan tubuhnya.
"Tidak apa-apa kak, Kak Elvan tadi memintaku memeriksa keadaanmu. " ujar Aida.
"Mas... "
"Aku hanya, khawatir sayang. kamu nggak bisa jalan gitu. " kata Elvan.
" Sudah, tidak apa-apa kak, biar aku periksa. untuk mengurangi rasa sakitnya. "
Dengan malu-malu akhirnya Aida mau diperiksa. Zia hanya menggelengkan kepalanya saat melihat keadaan Aida yang mengenaskan.
Dia lalu meresepkan beberapa obat, mulai dari salep, pereda nyeri dan vitamin untuk Aida.
"Ini resepnya kak. Obati tiap pagi dan malam. vitaminnya diminum tiap malam. Tapi sebaiknya nanti kakak panggil kan terapis untuk memijat tubuh kak Aida. Agar pegal-pegal di tubuhnya relaks."
"Baiklah. Nanti aku akan meminta tolong kepada mommy untuk memanggil terapis langganan mommy. " kata Elvan.
"Itu lebih baik. Kak Aida istirahatlah. Nanti aku akan bilang kepada pelayan agar mengantarkan sarapan kalian ke kamar. " ujar Zia.
__ADS_1
"Terima kasih, Zia. " ucap Aida dan Elvan bersamaan.