
Zia hanya menggelengkan melihat tingkah kedua saudaranya yang satu posesif yang satu usilnya di luar batas. Tapi mereka saling melengkapi satu sama lain, seperti halnya dirinya.
"Besok setelah aku datang kita bawa kakak ipar ke ruang dokter kandungan, untuk melihat sudah sebesar apa keponakanku. " ujar Zia.
"Baiklah, jangan datang terlalu suliang, Zi."
"Iya bawel. besok aku akan menyiapkan pakaian ganti untuk kalian berdua dulu. Nanti aku akan mengatakan kepada mommy dan daddy tentang kabar bahagia ini. " kata Zia sambil mencium tangan kakaknya.
Dia lalu menyerahkan kunci mobil yang sengaja dia tinggal untuk kakaknya,karena dia akan pulang bersama Ryder dan Leo. Setelah itu dia baru melangkah keluar ruangan.
Setelah mengantar adiknya keluar Elvan kembali masuk ke dalam ruangan dan menguncinya. Dia takut kalau ada yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya dan melihat istrinya. Elvan lalu duduk di samping istrinya dan mencium tangan lemah itu.
"Tidurlah, besok saat kau terbangun kau akan mendengar berita bagus, sayang." ucap Elvan, lalu menyentuh perut istrinya yang masih datar dan mengusapnya.
"Baik-baik ya, nak. Di perut mommy." bisik Elvan seolah dia sedang berbicara dengan sang anak yang masih berupa embrio itu.
Dia lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya, lalu berbaring disamping ranjang sang istri yang muat untuk dua orang dan memeluk istrinya untuk menggapai mimpi bersama.
Di mansion.
Ryder dan Zia baru saja sampai di mansion, sedangkan Leo langsung kembali ke apartemennya. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mansion dengan wajah berbinar, ingin segera menyampaikan kabar gembira ini kepada kedua orang tuanya. Namun ternyata kedua orang tuanya tidak ada diruang tengah. Biasanya jam segini kedua orang kesayangan mereka itu sedang bercengkrama di depan televisi.
"Kenama mereka? ' tanya Ryder.
Zia menggedikkan bahunya, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi daddynya. Dan syukurlah pada panggilan pertama langsung diangkat oleh sang daddy.
"Halli, Zia. Ada apa? " tanya daddy Murad dari seberang telpon.
"Daddy sama mommy kemana sih. " tanya Zia kesal.
"Daddy kan tadi bilang sama kamu kalau kami pergi ke rumah Rayyan. " jawab Murad sambil mengernyitkan keningnya karena mendengar kekesalan anaknya itu.
"Sampai malam begini? ini sudah waktunya istirahat dad. " tegur Zia.
Murad lalu melihat ponselnya dan melihat jam berapa sekarang. Pantas saja anaknya itu marah ternyata sudah lebih dari jam sepuluh malam. Dan dia belum beristirahat.
__ADS_1
"Maaf sayang... kami sampai lupa waktu kalau sudah berkumpul. Baiklah kami akan segera pulang. "
"Kami memiliki kabar gembira. Tapi karena mommy dan daddy tidak ada dirumah. Aku tidak akan memberitahu kalian malam ini. Kalian berdua harus dihukum. Biar penasaran sampai besok pagi. " Zia menutup ponselnya, lalu menggandeng saudaranya untuk segera tidur. Biarlah besok saja memberi tahu kabar bahagia ini.
Ryder yang mengerti kekesalan adiknya pun hanya menuruti nya. Selain cerewet adiknya kalau sudah kesal tidak bisa dibantah. Dan kemarahan Zia kepada kedua orang tuanya itu sangat beralasan karena ini juga demi kesehatan daddy yang sangat mereka cintai.
"Ayo sayang, kita pulang. Anakmu sepertinya marah kepada kita. " ajak Murad kepada istrinya.
Rayyan hanya menggelengkan kepalnya karena kakaknya itu tidak bisa berkutik jika berhubungan dengan Zia.
"Iya, pulang lah kak, Zia marah itu juga karena kesalahan kakak sendiri yang ngeyel nggak mau pulang. Kalau terlalu malam begini aku juga khawatir kak. " ujar Rayyan.
"Jangan berlebihan sepert Zia, rumah kita hanya menyeberang jalan saja. Aku tidak akan apa-apa jika hanya terkena sedikit angin Ray. " kata Murad dengam wajah masam.
Semua orang tertawa melihat pria itu kesal.
"Biar sopir ku saja yang mengantarkan kalian. " tawar Rayyan.
"Jangan berlebihan seperti Zia. " kata Murad masih dengan wajah di tekuk. Dan segera kembali ke masionnya bersama sang istri.
Siapa yang tidak tahu apa yang di alami Murad. Murad memang tidak boleh terkena angin malam berlebih, kalau tidak memakai pakaian tebal. Jika tidak maka kakinya yang pernah kecelakaan dulu akan mengalami kram dan nyeri diseluruh otot persendiannya. Entah kenapa seperti itu, apa mungkin karena beberapa tahun lalu dia mengalami kecelakaan lagi, yang menyebabkan hal ini terjadi. Walau dia sudah sembuh, tapi efeknya masih terasa sampai sekarang.
"Sudahlah kak, mungkin anak-anak sudah tidur. " kata Faza yang melihat wajah kecewa suaminya.
"Tadi Zia bilang kalau dia mempunyai kabar bahagia untuk kita. Tp kau tahu sendiri bagaimana Zia kalau sudah marah. " Ucap Murad kepada istrinya.
"Ya sudah, kita istirahat saja dulu, kak. Besok kita dengar kabar bahagia dia Zia. " Faza lalu membawa suaminya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Keesokan paginya Murad dan Faza sudah tidak sabar mendengar kabat bahagia dari Zia. Mereka sudah menunggu anaknya itu di meja makan. Dan akhirnya yang ditunggu pun datang dengan wajah yang segar.
"Selamat pagi." sapa Zia sambil mencium pipi mommy dan daddynya. Di ikuti Ryder yang melakukan hal yang sama. Lalu duduk di depan kedua orang tuanya.
"Ayo makan. " ajak Zia.
"Kita harus menunggu kakak dan kakak iparmu, Zi." Faza menghentikan Zia yang akan makan lebih dulu.
__ADS_1
Zia lalu bertatapan dengan Ryder, lalu beberapa detik kemudian mereka tertawa bersama.
"Kalian ini kenapa? ' sela Daddy Murad.
"Kakak dan kakak ipar tidak akan sarapan bersama kita. Karena mereka tidak pulang semalam." ujar Zia.
"Kenapa tidak pulang? Dimana mereka sekarang?" Tanya Faza bingung.
"Rumah sakit." Jawab Zia dan Ryder bersamaan.
Kini Murad dan Faza yang terkejut, lalu mereka membulatkan matanya mendengar ucapan kedua anaknya.
"Rumah sakit, apa yang terjadi pada El dan Aida? " tanya Faza cemas.
"Tenanglah mom. tidak terjadi apa-apa kepada mereka berdua. " Jawab Zia santai.
Murad dan Faza saling berpandangan lagi melihat wajah santai kedua anaknya. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan sikap kedua anaknya.
"Zia, katakan. " kata Murad menatap anaknya tajam.
"Salah sendiri. Semalam kami mau memberi kabar ini kepada kalian, tapi kalian tidak ada di rumah. Jadi ini hukuman untuk kalian. Biar penasaran. " kata Zia acuh.
"Zi... " Faza langsung menegur anaknya itu yang bersikap tifak sopan kepada daddynya.
Zia menghembuskan nafasnya, lalu menatap ayahnya dengan tajam. "Dad, aku cerewet karena aku sangat menyayangimu. Jadi jangan anggap ke cerewetanku ini sebuah keberanian atau pembangkangan kepadamu. Karena aku sangat menyayangimu. Daddy harus terus sehat dan hidup lebih lama agar bisa melihat kami menikah dan melahirkan anak cucu untuk kalian kelak. Seperti yang dialami kak Aida saat ini." Kata Zia yang sudah tidak bisa menahan air matanya dan memeluk sang daddy dengan erat.
Murad sangat terkejut mendengar ucapan dari anaknya. Dia lalu mengusap punggung anaknya itu dengan sayang lalu menatap istrinya. Faza hanya menggedikkan bahu tak mengerti.
"Ada apa, sayang? apq yang terjadi pada Elvam dan Aida. " tanya Murad dengan penuh kasih sayang.
"Kak Aida hamil, saat ini dia berada di rumah sakit bersama kak Elvan. " kata Zia pada akhirnya masih dipelukan sang daddy.
Murad langsung melepaskan pelukannya dan menatap Zia dengan pandangan tak percaya.
Zia hanya menganggukkan kepala, begitu juga dengan Ryder yang mendapat tatapan dari sang mommy.
__ADS_1
"Iya, dad, mom. Kak Aida sedang hamil. Semalam dia pingsan dan kami langsung membawanya kerumah sakit. Dan hasilnya positif. Pagi ini aku dan kak Elvan akan melakukan pemeriksaan kepada kak Aida ke dokter kandungan. "
Murad dan Faza hanya terdiam beberapa saat mendengar kabar gembira yang mengejutkan ini, hingga beberapa detik kemudian mereka tersenyum senang.