Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)

Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)
Sebuah Kenyamanan


__ADS_3

Blush...


Wajah Aida langsung memerah mendengar ucapan tak berfilter dari mommy mertuanya.


Elvan yang juga malu tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak mengusir ketiga wanita itu dari kamarnya. Karena untuk apa mereka berads disini kalau hanya untuk mengolok-olok dirinya dan Aida.


"Mom please, ayo keluar. Daddy sudah menunggu kalian dia pasti sudah kelaparan saat ini. " Kata Elvan yag mendorong ketiga wanita itu keluar dari kamarnya.


"El, biarkan mommy bicara dulu dengan istrimu. " protes Faza saat dia tidak dibiarkan bicara dengan Aida.


Zia dan Eira tertawa cekikikan saat melihat ini semua. Sekarang Eira akhirnya tau penyebab Aida tidak bisa ikut makan malam bersama.


Sesampainya di luar kamar, Elvan langsung menutup pintu kamarnya. Dan bicara kepada ke tiga wanita itu.


"Mom, please jangan membuat Aida malu. Dia masih baru disini. Aku tidak mau dia merasa tidak nyaman tinggal bersama kita. Okey. " ujar Elvan memberi pengertian kepada mereka bertiga.


Ketiga wanita itu saling berpandangan lalu mereka menganggukkan kepalanya bersama.


"Aku harap bantuan kalian untuk membuat Aida nyaman tinggal di mansion ini. Masalah ini jangan diperbesar, Aku tahu mommy dulu pasti juga mengalaminya, karena itu mommy melarangku melakukannya saat kami berada di Indonesia dan Kemarin saat kita baru tiba disini. " Kata Elvan lagi.


Skak, Faza tidak bisa berkata-kata lagi. Karena apa yang dikatakan anaknya itu benar adanya. Eira dan Zia saling berpandangan lalu menatap mommy Faza mereka.


Faza yang ditatap mereka bertiga hanya nyengir kuda. sambil menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.


"Ya sudah kami pergi, jaga Aida baik-baik. " kata Faza mengajak kedua anaknya itu pergi dari kamar Elvan. Bertepatan dengan troli makanan yang datang dibawa pelayan.


"Tuan, ini makan malamnya. " ujar kepala pelayan.


"Terima kasih. Kalian boleh pergi." Elvan mengambil alih troli itu dan membawanya masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamar agar tidak ada yang masuk ke dalam kamar mereka secara tiba-tiba.


Aida menyambut kedatangan suaminya yang membawa makanan dengan senyuman. Wajah merahnya sudah kembali normal tidak ada lagi rona di pipinya.


"Ayo kita makan malam." kata Elvan sambil menyiapkan beberapa makanan untuk mereka berdua.


"Aku suapi ya?" kata Elvan dengan sendok yang sudah penuh dengan makanan.


"Nggak usah, mas. Aku bisa makan sendiri. " kata Aida menolak.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Ai, aku ingin menjadi suami yang baik untukmu. " ujar Aida.


Mendengar itu, Aida langsung membuka mulutnya. Dia tidak ingin suaminya merasa kecewa jika dia menolak niat baik suaminya itu.


"Enak? " tanya Elvan.


Aida mengangguk, dan melihat sendok yang berisi makanan menggantung ditangan Elvan. Dia lalu mengambilnya dan menyuapkannya ke mulut sang suami.


"Kamu juga makan, mas. Aku tidak enak kalau hanya aku yang kenyang, dan kau makan setelah aku. Sebaiknya kita makan bersama seperti in. " Kata Aida setelah berhasil memasukkan sesendok makanan ku mulut suaminya.


Elvan merasa senang, karena ternyata Aida juga memperhatikan dirinya meski keadannya masih tidak baik-baik saja.


Akhirnya semua makanan yang dibawa pelayan habis tak bersisa. Elvan lalu membawa keluar troli makanan itu keluar dari kamar. Setelah itu dia kembali menemani istrinya yang sedang duduk santai diatas sofa.


"Aku seperti ratu, ya. Hanya duduk dan makanan datang, disuapi pula dengan pelayan setiaku. " kata Aida sambil tersenyum ke arah suaminya.


"Hei, kau menganggapku pelayanmu. " kata Elvan tak terima. Lalu dia menggelitik perut Aida untuk memberinya pelajaran karena sudah menganggapnya pelayannya.


"Ampun mas, Ampun. Bercanda. " teriak Aida saat dia tidak bisa menahan geli akibat ulah suaminya.


"Kau memang ratu dihatiku Aida, dan aku adalah pelayan hatimu. " kata Elvan sambil mendekap erat tubuh sang istri.


Mendengar ucapan dan perlakuan Elvan kepadanya membuat Aida merasa sangat bahagia. Dia seperti dicintai berkali-kali lipat oleh orang yang sedang memeluknya sekarang. Aida mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu. Dan dengan berani dia memberikan sebuah kecupan singkat dibibir sang suami.


Sontak saja apa yang dilakukan Aida membuat Elvan sangat terkejut dan juga senang dalam waktu bersamaan. Sekarang, istrinya itu sudah tidak malu-malu kepadanya dan mulai bisa mengekspresikan apa yang sedang dirasakan oleh hatinya.


"Kamu mulai nakal ya, Ai. " kata Elvan sambil mencubit hidung istrinya itu.


Aida tidak menjawab, dia malah mengeratkan pelukannya dan menelusupkan kepalanya didada bidang sang suami, mencari sebuah kenyamanan disana dan menghirup aroma tubuh suaminya yang menenangkan.


" Tahu kah kau, Ai. Saat kau bersikap manja seperti ini, ada sesuatu dibagian tubuhku yang terbangun." bisik Elvan di telinga sang Istri.


"Apa? " tanya Aida yang sama sekali tidak mengerti maksud suaminya.


Elvan lalu melepaskan satu tangan Aida yang sedang memeluknya, lalu membawanya untuk memegang sesuatu dibawah sana yang sudah menegang. Mata Aida langsung melotot dengan tingkah mesum suaminya, dia lalu memukuli dada suaminya berkali-kali.


"Menyebalkan." gerutunya Kemudian dia berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


Sungguh menggemaskan melihat kekesalan Aida saat ini. Elvan berhasil menggodanya habis-habisan malam ini. Dengan perlahan Elvan masuk ke dalam selimut menyusul istrinya yang sedang kesal kepadanya. Dan memeluk tubuh Aida yang sedang memunggunginya


"Maaf, sayang. Aku cuma bercanda. " bisik Elvan ditelinga istrinya.


Membuat Aida jadi kegelian karenanya. "Bercanda apanya itu udah terasa keras, mas. Aku masih sakit tahu. " rengek Aida.


"Ya, memang gini, Ai. Aku mana bisa mengontrolnya. " kata Elvan yang serba salah sekarang.


"Terus gimana, sekarang? " tanya Aida, yang sepertinya masih memikirkan kesejahteraan junior milik Elvan.


"Biarin aja lah, nanti juga tidur sendiri. Atau kamu mau bantu mengeluarkannya seperti saat kita ke hotel dulu. " kata Elvan mengingatkan.


Mendengar ucapan Elvan, Aida langsung mengingat kejadian memalukan dihotel. Saat pertama kali suaminya itu mengerjainya dan pertama kali juga dia memegang senjata seorang pria. Ah, jika mengingat hal itu benar-benar membuat Aida malu, karena suaminya itu berhasil memanfaatkan kepolosannya.


Aida langsung berbalik menghadap sang suami, dan menatapnya lekat.


"Apa kau menginginkannya lagi? " tanya Aida.


"Tidak, beristirahatlah. " kata Elvan sambil merapikan anak rambut sang istri ke belakang telinganya.


"Jika kau menginginkannya, aku siap melayanimu. Mungkin awalnya memang sakit, tapi bukankah aku harus membiasakan diri untuk melayani suamiku. " kata Aida memberikan senyuman hangatnya kepada sang suami.


Mendapat lampu hijau dari sang istri Elvan tidak akan pernah menyia-nyiakannya lagi. Dia langsung menyambar bibir yang sangat menggoda itu.


"Apa kau tidak akan menyesal, mengijinkanku menyentuhmu malam ini? Karena setelah masuk aku tidak akan bisa menghentikannya, Ai. " tanya Elvan memastikan.


"Tidak akan aku tidak akan pernah menyesal, karena berdosa bagi seorang wanita yang tidak mau atau menolak melayani suaminya selama dirinya masih sanggup. Aku tahu ini yang pertama bagiku, jadi aku perlu membiasakan diri untuk bisa mengimbangimu. " Kata Aida dengan yakin.


Elvan tersenyum lebar mendengar ucapan sang istri. Ternyata istrinya ini benar-benar pengertian. Mungkin besok dia akan meminta obat dsn Vitamin kepada Zia, karena dia akan menghabiskan malam ini bersama istrinya. Karena sebenarnya dia juga tidak bisa berhenti saat merasakannya pertama kali tadi sore.


Elvan langsung mengungkung Aida di bawahnya, dia memulai mendaki gunung melewati lembah untuk mencapai sebuah kata yang bernama kenikmatan. Tidak hanya dirinya yang mencapai puncak, tapi Elvan juga memanjakan istrinya hingga membuat Aida terbang berkali-kali.


Entah berapa kali mereka mencapai puncak nirwana malam ini. Hingga akhirnya mereka berdua terkapar tak berdaya karena kelelahan. Aida sudah tidak sanggup lagi membuka matanya karena lelah dan mengantuk. Tapi seperti katanya tadi, dia tidak akan pernah menyesal karena sudah melayani suaminya malam ini.


Elvan menutup tubuh polos mereka berdua dengan selimut tebal. Dan memeluk istrinya yang sudah terlelap. Tak lupa memberikan ciuman sebelum tidur.


"Terima kasih, sayang. Kau memang yang terbaik, dan sangat luar biasa. "

__ADS_1


__ADS_2