
Setelah semua orang keluar dari ruang rapat, kini yang tertinggal hanya anggota keluarga Khan disana. Mereka duduk dengan tenang dan semua mata tertuju pada Aida. Mereka ingin mendengar sebuah penjelasan dari menantu pertama keluarga itu, tentang apa yang baru saja terjadi.
"Ada yang ingin kau jelaskan kepada kami Aida? " tanya Elvan dengan bahasa Turki.
Aida langsung menatap wajah suaminya, lalu menatap semua orang yang sedang menatap lekat kearahnya.
"A... apa? aku tidak mengerti maksud kalian. " jawab Aida terbata. (bhs Indonesia)
Semua orang menghela nafas dan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Bahkan dia bisa membalas pertanyaan suaminya dengan bahasanya.
"Bagaimana kau bisa menguasai bahasa kami? " tanya Elvan langsung, karena sepertinya Aida enggan membahas tentang ini. "
Mendengar pertanyaan suaminya dan tatapan semua orang, kini ia mengerti maksud pertanyaan sang suami yang bingung dengan keahliannya dalam berbahasa.
"Aku mempelajarinya di Internet dan yutub. " jawab Aida singkat.
"Hanya itu? " tanya Elvan tak percaya dan mendapatkan anggukkan kepala sebagai jawaban.
"Sejak aku tahu kalau aku sudah dijodohkan dan calon suamiku orang Turki. Maka sejak itu aku rajin belajar, selain mempelajari bahasa Inggris di sekolah dan tempat kuliahku aku juga mempelajari bahasa Arab sejak kecil dipesantren dan baru mempelajari bahasa Turki secara otodidak melalui internet atau video tub beberapa tahun belakangan. Aku tahu dan mengerti bahasa kalian sedikit-sedikit meski tidak lancar. " Jawab Aida malu sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar itu Murad langsung bertepuk tangan dengan senyuman lebar dibibirnya. Dia merasa sangat bangga dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Wah, ini baru menantuku. Kau hebat sekali, nak. Mau berusaha dengan baik untuk menyamai suamimu. " kata Murad dengan bangga. Dan semua orang mengangguk setuju dengan ucapan Murad.
"Karena aku tidak ingin mempermalukan suamiku dan diriku sendiri nanti. Aku tidak mau terlihat bodoh jika berhadapan dengan rekan kerjanya. Yang tidak mengerti apa-apa tentang pembicaraan mereka dan hanya bisa mengangguk dan tersenyum palsu. Aku tidak ingin itu terjadi, bukankah seorang istri harus menjaga kehormatan suaminya? Dan aku ingin melakukannya,walau hanya dengan hal kecil seperti ini." kata Aida dengan penuh keyakinan.
Elvan langsung memeluk istrinya setelah mendengar apa yang dia sampaikan dan alasannya mempelajari bahasa mereka. Dia mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali karena merasa bangga dengan apa yang baru saja dia dengar.
__ADS_1
"Aku bangga padamu. " ujar Elvan lalu melepaskan pelukannya.
Semua orang turut senang dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka kini semakin percaya kalau Elvan benar-benar sudah menerima dan mencintai Aida sebagai istrinya.
"Nathan, nanti kalau kamu mau menikah dan cari istri. Cari yang seperti Aida ya. Baik, sopan dan cerdas. Dan yang penting dia harus bisa menjaga dirinya dan nama baik keluarganya. Apa kau mengerti? " kata Rayyan sambil menepuk-nepuk bahu putra laki-laki nya.
"Iya, dad. Kak Aida memang keren. " ucap Nathan yang diam-diam juga mengagumi sosok Aida.
"Kak, apa kami benar-benar tidak boleh melihat wajahmu? " Ryder mengulang pertanyaan yang sama sejak semalam. Karena dia sangat penasaran dengan wajah kakak iparnya.
"Ry... " Elvan kembali melotot kepada adiknya dia tidak suka mendengar pertanyaan itu berulang-ulang dari Ryder.
"Maaf kak Ry. Meskipun bercadar ini bagiku sunnah dan tidak wajib, Karena Abi dulu menyuruhku bercadar untuk melindungi diriku dari tatapan para pria dan untuk menghindari fitnah karena aku sudah menjadi milik orang. Tapi sekarang aku harus mematuhi perintah suamiku. Jika dia memperbolehkan aku memperlihatkan wajahku kepada kalian, maka aku akan menurutinya. Namun jika tidak, aku juga tidak akan dan tetap menurutinya. Karena sekarang aku adalah tanggung jawabnya. " ujar Aida.
"Kakak pelit sekali. Aku kok jadi kasihan ya sama kakak ipar. Setidaknya kakak ipar hanya membuka penutup wajahnya itu di dalam rumah kak. Kan kasihan engap tiap hari pake begituan. Baru kalau diluar rumah kakak bisa meminta kakak ipar memakainya lagi. Lagian kata kakak ipar itu juga tidak wajib kan. Buktinya semua wanita di keluarga kita tidak memakai penutup wajah. Tapi mereka memakai pakaian tertutup dari ujung kepala hingga kaki. " protes Ryder.
"Apa kau keberatan jika aku memintamu menutuo wajahmu itu, Ai? " tanya Elvan kemudian.
Aida langsung menatap wajah suaminya dan tersenyum di balik cadanya. Elvan bisa mengetahui istrinya tersenyum karena melihat kedua matanya menyipit.
Lalu dilihatnya Aida menggeleng.
"Tidak, mas aku tidak keberatan. Karena aku sudah terbiasa. Lagi pula saat kalian para pria bekerja aku bisa membuka cadarku di rumah karena di rumah hanya ada wanita, jadi aku nggak merasa keberatan. Jika kau tidak menginginkan aku memperlihatkan wajahku. " jawab Aida.
"Baiklah, untuk saat ini aku tidak mengijinkan mu membuka penutup wajahmu itu, kecuali saat Ryder dan Nathan sudah menikah. Saat itulah, aku mengijinkan mu membuka cadarmu dirumah meskipun ada mereka. Itupun jika kau mau. Jika kau tidak mau, aku juga tidak apa-apa aku malah akan senang." Putus Elvan pada akhirnya.
Mendengar ucapan Elvan tentu saja membuat semua orang menatapnya tak percaya, terutama Ryder dan Nathan. Bagaimana bisa mereka baru bisa melihat wajah kakak iparnya saat mereka berdua sudah menikah. Karena pernikahan mereka juga tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Jangankan menikah memiliki kekasih saja mereka tidak punya.
__ADS_1
Sedangkan Aida yang mendengar itu hanya tersenyum. Dia tidak menyangka kalau suaminya sangat posesif, dan itu artinya Elvan benar-benar mencintainya dan benar-benar menjaganya. Tentang masalah penampilannya inipun, Aida sudah tidak perlu memikirkannya, lagipula dia sudah terbiasa dengan penampilan sepeti ini sejak kecil.
"Sudah-sudah hentikan perdebatan ini. Kita kembali ke kantor dulu dan menyelesaikan pekerjaan kita. " Murad akhirnya melerai perdebatan kakak adik itu dan menyuruh mereka kembali ke kantor masing-masing.
"Dan Ray, Jika Tuan Alex ingin mengakhiri kerjasamanya dengan kita silahkan saja. Asalkan dia membayar pinalti sesuai kesepakatan dan jika dia tidak mau kita laporkan saja mereka ke polisi karena sudah melanggar kontrak. Apabila dia masih mau mengerjakan kerjasama dengan kita, kau harus mengawasinya dengan ketat jangan sampai lengah. Karena aku tidak mau kita mendapat masalah dimasa depan. Aku harus terus mengawasi Tuan Alex, karena dia sangat licik. " Murad mengingatkan adiknya itu tentang Alex karena sepertinya Alex adalah orang yang berbahaya.
"Baik, kak. " jawab Rayyan singkat.
"Dan Kau Nathan, perusahan Althan juga bergerak di bidang properti, sebaiknya kamu membatu daddy mu dulu dalam mengatasi masalah ini. Agar saat kau sudah diangkat sebagai CEO Altan kau sudah siap dan ilmu yang kau dapatkan dari daddy mu. " ujar Murad kepada keponakannya itu.
"Tapi dad, aku lebih suka otomotif. " keluhnya pada Murad.
"Jika perusahaan mu maju, maka kau bisa membuat bengkel atau pabrik otomotif sesuai keinginanmu. Dan ingatlah, kelak kau juga menjadi seorang daddy untuk anak-anak mu. Setidaknya kau bekerja keras sekarang agar kelak anak-anak kalian bisa hidup nyaman dan merasakan kehidupan yang layak. " Nasehat Murad tidak hanya kepada Nathan tapi juga kepada kedua anaknya.
"Lihatlah kakekmu Erhan dia tidak hanya meneruskan perusahaan ini sebagai induk,tapi dia juga sudah mengembangkannya mulai dari butik sampai rumah sakit dan firma hukum hingga hotel dan semua itu diberikan kepada cucu-cucunya. Apa kau tidak mau memiliki usaha sendiri selain warisan dari kakekmu. Lihatlah kakakmu Elvan bahkan dia sudah mengembangkan usahanya dibidang perhiasan dan supermarket yang sudah ada di beberapa sudut kota ini. " Kata Murad lagi memberi motivasi kepada keponakannya yang berusia empat tahun lebih muda dari anak-anaknya.
"Baiklah dad, aku akan mencoba mengembangkan skill ku. Jika aku tidak mengerti mohon bantuan kalian. ' ujar Nathan sopan kepada panannya itu.
"Bagus, itu bahu kelurga Khan. "
Setelah bicara bersama mereka akhirnya kembali ke ruangan masing-masing dengan Elvan yang mengajak istrinya ke ruangannya. dan mommy mengajak Murad ke ruangannya.
"Bagaimana apa kau tadi mengerti pembicaraan kami? " tanya Elvan kepada istrinya saat mereka sudsh berada di ruang nya.
"InsyaAllah aku mengerti. Aku kan istrimu. "
Mendengar ucapan dari Aida, Elvan langsung membawa Aida ke dalam pelukannya. Dia merasa bahagia
__ADS_1
"Terima kasih sudah menungguku dan terima kadih sudah mau menjadi istriku. "