Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)

Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)
Hamil


__ADS_3

Zia segera menutup kembali wajah kakak iparnya menggunakan cadar. Dokter Alena yang melihat itu pun merasa terkejut. Karena ternyata wanita ini memakai penutup wajah seperti orang arab.


"Kenapa harus di tutup, dokter. " tanya dokter Alena.


"Aku tidak ingin kakakku marah karena wajah istrinya jadi konsumsi publik. " jawab Zia.


"Jadi... "


"Ya seperti yang kau tahu. Kakak iparku memang sangat cantik karena itu, kakakku Elvan tidak mau membaginya dengan orang lain. Dia hanya ingin menikmati kecantikan istrinya sendiri. Sangat pelit bukan, ah tidak lebih ke arah posesif. " ujar Zia sambil terkekeh.


Kini dokter Alena baru tau, ternyata Elvan sangat mencintai istrinya ini. Dan mungkin sudah tidak ada celah lagi bagi wanita lain untuk mendekati pria tampan itu. Tapi kan masih ada adik kembarnya, Eh....


"Ayo dokter, kita sampaikan berita bahagia*, ini kepada kakakku. Dia pasti tambah bucin dan akan lebih posesif lagi kepada istrinya. " kata Zia tidak bisa membayangkan betapa bahagianya kakak nya itu mendengar kabar ini.


Mereka berdua segera keluar, dan meminta kepada perawat untuk membawa Aida ke ruang VVIP tempat keluarganya biasa dirawat ketika sakit. Dan Zia segera keluar untuk memberi kabar tentang keadaan Aida kepada kakaknya.


"Bagaiman keadaan istriku, Zi. "


"Kak Aida baik-baik saja, kak. Perkenalkan ini dokter Alena, salah satu dokter kandungan di rumah sakit ini. "


Dokter Alena mengulurkan tangannya, namun Elvan tidak membalasnya dan hanya memberi sebuah senyuman.


"Maaf dokter, sepertinya kakakku sudah tidak mau menyentuh yang yang bukan mahramnya. Aku harap kau tidak tersinggung. " ujar Zia yang melihat dokter Alena malu.


"Ah, iya. Tidak apa-apa. "


"Jadi bagaimana. " tanya Elvan lagi.


Sebelum Zia menjawab terdengar suara brangkar yang didorong keluar dari ruang pemeriksaan.


"Sebaiknya aku jelaskan sambil berjalan saja, kak."


Mereka akhirnya berjalan mengikuti kemana brangkar yang membawa Aida itu pergi diikuti Leo dan Ryder yang sejak tadi juga berada di sana menemani Elvan. Sedangkan dokter Alena kembali ke tempatnya, karena dia masih di tunggu beberapa pasien diruang prakteknya.


"Bagaimana? " tanya Elvan lagi tak sabaran.


"Kabar bahagia untukmu, kak. Sepertinya kak Aida sedang hamil. " kata Zia dengan semangat.


Mendengar ucapan Zia, sontak saja membuat Elvan langsung tertegun dan menghentikan langkahnya. Dia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Kenapa berhenti, ayo. " teriak Zia yang melihat kakaknya itu tidak bergerak dan hanya berdiri mematung.

__ADS_1


Ryder Langsung merangkul pundak saudara kembarnya itu dan memberi selamat kepada sang kakak


"Selamat kak. Sebentar lagi kau akan jadi daddy. " kata Ryder yang berhasil menyeret kakaknya untuk berjalan.


"Apa aku tidak mimpi, Ry? Semua ini nyata kan? " tanya Elvan masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kedua saudaranya itu.


"Tidak karena aku dan Leo juga mendengar apa yang dikatakan oleh Zia. " jawab Elvan.


Ternyata mereka sudah berada di ruangan VVIP khusus keluarga Khan. Elvan langsung memindahkan istrinya di brangkar khusus kamar itu yang lebih nyaman dari pada brangkar pasien lainnya. Lalu mengecup sekilas kening istrinya. Setelah itu dia meminta penjelasan pada Zia.


"Apa kau serius, Zi. dengan pemeriksaanmu itu. "


"Tentu saja, awalnya aku juga tidak yakin. Karena itu aku memanggil dokter Alena yang ahli di bidang ini untuk memeriksanya. Dan ternyata dugaan ku benar. Kemungkinan kak Aida hamil. Untuk lebih meyakinkan lagi, Kita akan menunggu hasil tes darah yang akan keluar beberapa saat lagi. Jadii bersabarlah, sebelum semuanya pasti jangan memberikan kabar apapun kepada siapapun." kata Zia.


Elvan dan Ryder mengangguk mengerti.


"Tapi kenapa Aida masih tidak sadar? " tanya Elvan kembali cemas.


"Awalnya kak Aida memang pingsan, kak. Dia tadi sempat sadar sebentar. Tapi karena tubuhnya yang sedikit lemah karena tekanan darahnya rendah, akhirnya dia kembali memejamkan mata untuk tidur. " jelas Zia.


"Jadi sekarang, istriku itu sedang tidur? "


Elvan mengangguk mengerti sekarang. Dia lalu duduk di samping brankar istrinya. Sedangkan Ryder dan Zia bicara disofa yang ada diruangan itu Leo sudah pasti menunggu di luar sebelum mendapat perintah dari tuannya.


"Ry, kau pulang saja dengan Leo. Biar Aku sendiri yang akan menemani istriku. " kata Elvan.


"Ck, tunggu sebentar kak, aku juga juga ingin mendengar hasil tes kakak ipar. Setelah itu aku dan Zia akan pulang. " kata Ryder yang tidak ingin pulang.


Elvan menghembuskan nafasnya, sepertinya Ryder tidak mengerti maksud dari Elvan. Sejak tadi Elvan merasa tidak nyaman saat melihat istrinya tertidur dengan menggunakan penutup wajah, karena itu dia meminta Ryder untuk pulang agar dia bisa membuka penutup wajah istrinya.


Dengan berat hati akhirnya Elvan mengendurkan penutup wajah istrinya dan membukanya hanya sampai dibawah hidung agar Aida bisa bernapas dengan nyaman.


Terdengar pintu ruangan di ketuk, Ryder segera membuka pintu dan melihat seorang perawat yang merasa salah tingkah saat melihat wajah tampan pria dihadapannya.


"Kau kenapa? " tanya Ryder yang merasa lucu dengan tingkah perawat itu.


"Ma.. maaf tuan. Saya mau mengantarkan sesuatu untuk dokter Zia. " kata perawat tadi.


"Masuklah."


Ryder lalu membuka pintu lebar-lebar dan menyuruh perawat itu masuk. Dia mengedarkan pandangan ke luar mencari Leo, tapi pria itu tidak ada di kursi tunggu.

__ADS_1


"Kemana dia. " lalu matanya menangkap sosok Leo yang sedang bicara dengan seorang perawat.


"Cih, dasar playboy. " decihnya. Lalu menutup pintu lagi untuk melihat apa yang dibawa perawat itu kepada saudaranya.


Saat dia melihat ke arah brangkar pasien, matanya melotot dan bibirnya menganga saat melihat penampakan kakak iparnya dengan penutup wajah dan hijab yang sedikit terbuka.


Dia lalu menoleh ke arah sang kakak yang sedang bicara dengan Zia dan perawat.


"Cih, dasar pelit. Punya istri cantik cuma dinikmati sendiri. " gumamnya, lalu mendekati kedua saudaranya.


"Bagaimana, Zi. " tanya Elvan dan Ryder bersamaan.


"Kau boleh kembali, sus. " Ujar Zia kepada perawat yang mengantarkan hasil tes darah Aida.


"Tunggu sebentar. "


Zia segera membuka amplop yang berisi hasil dari laboratorium, dan segera membukanya. Dia membaca semua dengan detail, hingga di bagian akhir tertulis positif.


"Selamat kak. Kak Aida benar-benar hamil. " Zia langsung memeluk kakaknya itu, begitu juga dengan Ryder.


"Selamat kak, aku turut bahagia untukmu. " ucap Ryder juga.


"Benarkah Aida hamil dan aku akan menjadi seorang daddy? " tanya Elvan yang masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.


Zia dan Ryder mengangguk. Lalu Elvan yang menganggap ini bukan mimpi lagi langsung memeluk kedua saudaranya.


"Terima kasih, Ya Allah. Kau anugerahkan kabar gembira ini kepadaku dengan begitu cepat. " kata Elvan yang sudah tidak bisa membendung kebahagiaannya lagi.


Mereka merasa sangat bahagia mendengar kabar ini.


"Apa kita harus memberi kabar mommy dan daddy? " tanya Elvan


"Jangan, biarkan kami berdua yang akan menberi kabar kepada orang tua kita. Aku dan Zia akan pulang bersama Leo. Kakak tidak apa-apa kan kamu tinggal sendiri. " ujar Ryder.


"Ya tentu saja. Pergilah. " kaya Elvan sedikit mengusir adiknya itu.


"Aku tau kenapa kakak memintaku untuk segera pulang. Itu Karena kakak ingin membuka penutup wajah kakak ipar kan. Ternyata kakak iparku sangat cantik, karena itu kau tidak mau membaginya dengan kami. " gerutu Ryder.


Elvam melotot mendengar ucapan adiknya, dari mana dia tau kalau Aida sangat cantik. Lalu dia menoleh ke arah istrinya yabg berbaring.


"Astaghfirullah. Ryder... " pekik Elvan kepada saudaranya itu, tapi Ryder sudah melarikan diri dari sana.

__ADS_1


__ADS_2