Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)

Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)
Kebersamaan


__ADS_3

Kebahagiaan itu dirasakan oleh seluruh anggota keluarga Khan, setelah mendengar kabar kehamilan Aida. Itu artinya akan ada anggota baru yang akan hadir ditengah-tengah mereka. Dengan begitu nanti status mereka pun akan berubah menjadi kakek dan nenek, om dan tante atau uncle dan aunty. Wah, jika memikirkan hal itu mereka tidak menyangka kalau mereka sudah tua.


Malam ini semua keluarga berkumpul di mansion utama untuk mengadakan acara syukuran kecil-kecilan atas kabar bahagia ini. Kebetulan juga besok adalah akhir pekan jadi mereka semua memutuskan untuk menginap di mansion utama.


"Selamat ya Aida sayang. Kau hamil cucu pertama di keluarga ini. " kata Zoya dan Zahra.


"Selamat ya, kak Aida. Selalu jaga kesehatan agar keponakan kami lahir dengan sehat nanti. Aku tidak sabar menggendong bayi kecil itu nanti. " kata Eira dengan semangat.


"Kira-kira mereka laki-laki apa perempuan ya? " tany Emira seolah berpikir keras.


"Mana bisa dilihat. Saat ini bayi didalam perut kak Aida hanya sebesar biji kacang hijau. Nanti di usia lima bulan ke atas baru kita bisa melihatnya dengan jelas. ' Jelas sang dokter yang tadi menemani pemeriksaan Aida.


"Wah, masih lama. Sekarang usia kandungan kak Aida berapa bulan memangnya. " tanya si bungsu Nala.


"Kata dokter Alena tadi sekitar enam minggu, itu artinya masih satu bulan setengah, jadi kurang empat bulan lagi jenis kelamin mereka bisa kita ketahui. " jelas Zia lagi.


Mereka semua mengangguk mengerti.


Para orang tua terkekeh melihat keingin tahuan para anak wanita di keluarga mereka. Sedangkan para pria kini sedang menyerang si gunung es Rafa.


"Di keluarga kita hanya dua orang yang sudah menikah. Kak El sudah menunjukkan kemampuannya dalam bereproduksi. Kalau kau bagaimana Rafa, kapan kau akan menyusul kak Elvan. " Goda Ryder yang sangat suka menggoda sepupunya itu.


"Apaan sih. " ketus Rafa.


"Aku jadi sangsi selama tiga bulan menikah, apakah kau sudah menyentuh istrimu itu. Apa seorang manusia es bisa bersikap romantis, ya? " Ledek Ryder lagi seolah sedang berfikir keras.


Mendengar obrolan tak berfaedah itu membuat semua orang meledakkan tawanya. Sedangkan yang menjadi bahan ledekan hanya tersenyum tipis sambil memandang istrinya yang duduk dengan Aida. Mereka saling memandang dan tersenyum penuh arti.


"Aku tidak akan banyak bicara, tapi suatu hari nanti aku akan membuktikan kalau aku juga bisa seperti kak El. " gumam Rafa dalam hati dan masih memandang istrinya yang cantik itu


"Sudah-sudah kalian ini bicara apa sih. kasihan Rafa dan Najwa nanti malu. " kata Zoya membela anaknya.

__ADS_1


"Bercanda ma.... " kata Ryder sambil menunjukkan dua jari berbentuk V.


Mereka kemudian makan malam bersama di meja makan panjang yang ada di ruang tamu.


"Saat semua orang berkumpul seperti ini maka meja makan ini terasa sempit. " celetuk Faza.


"Iya aku tidak bisa membayangkan kalau mereka semua nanti sudah menikah, dan masing-masing memiliki anak dua atau tiga. Wah pasti akan sangat ramai. " seru Zahra.


"Iya kau benar. " sahut Zoya.


"Aku tidak sabar melihat Ryder dan Zia menikah. " kata Faza menatap kedua anaknya yang masih jomblo.


"Sudahlah mom, yang penting kak Elvan sudah menikah dulu dan memiliki keturunan dulu. Maka pewaris keluarga kita aman. Kalau aku dan adik-adik yang lain terserah nanti saja. Bener ga." tanya Ryder kepada para sepupunya.


"Iya kak Ryder benar, asalkan kak El sudah memiliki keturunan pertama laki-laki, kita semua aman. Aku masih mau mengembangkan bisnisku di bidang otomotif. Jadi untuk menikah, belum terpikirkan olehku. " kata Nathan.


Semua orang yang mendengar ucapan Nathan hanya memutar bola mata malas. Memangnya siapa yang mau menikah dengan pria ingusan sepertinya. Kuliah aja baru lulus.


"Kau, Nala, Eira dan Emira. Masih bocah, bekerja dulu dan kembangkan bisnis kalian. Terutama kau Nathan. Kau harus bisa menguasai bisnis. Karena kakek Simon berharap banyak kepadamu. Setelah itu kau bisa berkembang biak membuat anak laki-laki yang banyak untuk meneruskan Althan dan Khan. " kata Rayyan tak berfilter.


Zahra langsung memukul lengan suaminya. Karena dia memberi nasehat tanpa filter dan didengar banyak orang.


Rayyan lalu menoleh ke semua orang yang sedang memandangnya aneh.


"Maaf. " kata Rayyan dengan cengiran khasnya.


Murad mendesah kasar. "Kalau sudah begini, kita tahu sifat siapa yang diturunkan kepada Ryder. " ujarnya sambil menggelengkan kepala.


Semua orang tertawa mendengar keluh kesah orang yang memegang sebagai kepala keluarga saat ini.


Setelah makan malam dengan obrolan absurd itu mereka kembali duduk bersama di ruang keluarga. Kembali mereka ngobrol santai menceritakan apapun kejadian yang mereka alami. Malam ini tidak boleh ada yang membawa pekerjaan di acara kumpul malam ini, siapapun itu.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari sejak tadi Elvan terdiam dan memandangi foto kakek dan nenek yang sangat dia cintai.


"Kek, istriku hamil. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang daddy seperti kakek. Dan kakek dan nenek akan menjadi buyut mereka. Andai kalian masih, ada. Kami mungkin akan sangat bahagia. " batin Elvan terus berkecamuk mengingat sang kakek yang sangat menyayangi nya.


"Terima kasih sudah mengirimkan bidadari surga untukku. "


Aida menyadari sikap suaminya yang hanya terdiam. Dia lalu mengikuti arah pandang sang suami yang ternyata sedang memandang foto kakek dan neneknya. Aida langsung menggenggam tangan suaminya dan mengusapnya perlahan. Dia tahu jika suaminya sedang mengingat sang kakek dan neneknya pasti dia akan bersedih.


Elvan yang menyadari tangannya di pegang oleh istrinya mengalihkan pandangannya dan tersenyum kepada Aida.


"Mereka sudah tenang di sana. Jika kau bersedih kasihan mereka, mas. " ujar Aida.


Elvan mengangguk. "Kau benar. "


Dia lalu merentang kan tangannya agar Aida masuk ke dalam pelukannya. Aida yang sebenarnya malu karena banyak orang disana, mau tidak mau dia yang ingin menghibur suaminya yang sedang mengingat sang kakek dan nenek mengesampingkan rasa malunya. Dia lalu berhambur memeluk sang suami, yang kemudian memberikan ciuman bertubi-tubi dipucuk kepalanya.


"Kak, kondisikan dong, disini banyak yang tidak punya pasangan." protes Eira.


"Iya benar , kalau mau mesra-mesraan sana masuk kamar. " seru Emira yang juga ikut kesal dengan tingkah kakak tertuanya itu.


Hu.. hu... hu...


Seru yang lainnya.


Aida dan Elvan hanya tertawa mendengarkan celotehan saudaranya. Andai mereka tahu kalau tadi adalah salah satu bentuk pengalihan kesedihan Elvan karena mengingat sang kakek.


Disudut lain, sepasang suami istri yang tak lagi muda itu saling berpelukan melihat kemesraan yang ditunjukkan anaknya yang merasa sangat bahagia. Karena kini dia bisa melihat anaknya tersenyum walau sedang mengingat orang yang berharga dalam hidup mereka.


"Terimakasih Aida, kau sudah hadir di tengah-tengah keluarga kami. Dan membuat Elvan menemukan kebahagiaan lagi setelah kehilangan orang yang sangat dia sayangi. " kata Faza dipelukan suaminya.


"Ya, kita beruntung, mendapat istri sebaik Aida. Apalagi dia adalah wanita pilihan mommy dan daddy. " Murad.

__ADS_1


__ADS_2