Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
1. Perkelahian


__ADS_3

Apa yang kamu pikirkan tentang putri tidur?. Apa kamu percaya tentang hal seperti itu. Putri tidur hanyalah sebuah dongeng khayalan buatan manusia. Dongeng yang dianggap nyata oleh sebagaian orang, tetapi tidak denganku. Cerita ini mengubahku dari yang tidak percaya akan dongeng kini aku mempercayainya. Kisah ini bukanlah tentang putri tidur melainkan pangeran tidur.


Namaku Alinda Agustina. Aku seorang remaja SMA yang aktif di setiap organisasi. Aku menjabat sebagai wakil ketua osis di sekolahku. Aku sering dibenci oleh teman temanku karena jabatanku. Entah kenapa teman temanku iri melihatku selalu dengan Dion.


Dion Sanjaya. Dia adalah sahabatku tetapi keluargaku sudah mengganggapnya seperti saudaraku sendiri karena ayahku dengan ayahnya sudah berteman sejak mereka masih duduk di bangku sekolah.


Dia menjabat sebagai ketua osis di sekolahku.


"Auhh......." erangku terkena oleh botol kosong yang mengenai kepalaku.


"Upss... Sorry ya gua ngga sengaja." cibir Sindy dengan membawa bestienya Windy dan Dinda.


Aku langsung mengambil botol kosong tersebut dan memukul mukul kepala Sindy.


"Ohhhh....... Ngga sengaja. Nih gua pukul kau biar kita seimbang." cemoohku kepada mereka dan memukul mereka habis habisan.


Aku berjalan menyelonong pergi dan meremas botol yang sedari tadi aku pegang.


"Cih..... Awas aja ya lu." gerutu Sindy.


"Udah udah yuk kita ke kantin." ujar Windy dan disetujui oleh Sindy dan Dinda.


Jam istirahat dimulai Linda dengan menghadiri rapat OSIS di ruang OSIS. Linda tidak pernah absen untuk masalah rapat karena dia adalah wakilnya.


"Linda....." Teriak seseorang dari arah belakangku. Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki bertubuh tegap dan tampan juga ditambah lesung pipi yang berada di sebelah kanan membuat semua yang melihatnya sangat terpana. Dion Sanjaya. Aku manggilnya Dion. Dia adalah ketua OSIS di sekolahku. Banyak wanita yang terkesima oleh ketampanannya bak pangeran yang jatuh dari langit.


Dion menghampiriku dan merangkulku dari belakang.


"Mau ke ruang OSIS kan. Bareng aja yuk!" ajaknya kepadaku.


Aku menjawabnya dengan anggukan kecil dan kami berjalan berdua menuju ruang OSIS.


Banyak wanita yang tak suka kepadaku karena aku selalu dekat dengan Dion. Apa salahnya dia sudah ku anggap jadi saudaraku sendiri tetapi kedekatan kita seperti sepasang suami istri. Ya itu lah yang dilontarkan banyak orang kepada kami. Mereka tak percaya bahwa kami adalah saudara.


Akan aku buktikan bahwa aku tidak menyukai Dion. Aku akan menemukan cinta sejatiku sendiri. Biar mereka percaya bahwa aku dan Dion adalah saudara. Batinku dalam hati.


Kami pun sudah berada di ruang OSIS dan Dion memulai rapatnya.


...****************...


Disatu sisi, Ardan terlibat pertarungan dengan kakak kelasnya dan membuat seisi kelas onar dibuatnya.


"Gua ngga ambil rokok lu ya. Gua bukan pencuri." tegas Ardan kepada Rama.


"Ah... pencuri ngga akan pernah mengaku bahwa dirinya pencuri." ejek Rama.


Ardan langsung memukul wajah kakak kelasnya tersebut dengan keras hingga Rama tersungkur dibuatnya.

__ADS_1


"Oh.... berani lo sama gua."


Rama melayangkan pukulan kerasnya dan mengenai ulu hati Ardan hingga menbuatnya merintih kesakitan.


"Habis lo sama gua." Ejek Rama.


Rama masih memukul Ardan yang sudah tersungkur di tanah.


"Makanya jangan jadi maling. Bapaknya pandai korupsi, anaknya pandai mencuri. Bapak sama anak sama saja." cibir Rama.


"Gua bukan maling dan gua beda dengan bapak gua." Ardan bangkit dan langsung memukul Rama dan pukulannya tersebut mengenai rahang bawah Rama.


...****************...


Ruang OSIS pada saat itu menjalankan rapat dengan lancar. Hingga salah satu teman Dion yang bernama Bagas merusak semuanya.


"Dion, ada yang berantem di kelas 11 IPA 4." ujar Bagas sambil mengatur napasnya kembali.


Dion tanpa bertanya langsung sigap berdiri dan berlari menuju kelas 11 IPA 4 yang letaknya agak jauh dengan ruang OSIS.


"Gila, siapa yang berantem?" Linda tak ikut terjun dan malah kepo akan perkelahian tersebut.


"Itu si Ardan sama Rama." Jawab Bagas yang sambil mengatur napasnya yang tersengal sengal.


"Mereka berdua lagi. Kenapa sih berantem terus kayak ngga ada kerjaan aja." Ledek Linda, karena mereka sering sekali bikin ulah.


Tak lama Dion kembali membopong tubuh Ardan yang sudah nampak pucat akibat perkelahiannya dengan Rama. Sedangkan Rama tampak berjalan dibelakang Dion babak belur di bagian muka hingga ujung bibirnya sobek.


"Linda bantu aku lapor ke Bu Santi ya buat bukain ruang UKS nya." Kata Dion dan dijawab "Iya" oleh Linda.


Linda berlari ke ruang guru untuk bertemu Bu Santi.


"Bu Santi, tolong buka UKS nya ada yang berantem tadi bu." ucap Linda sambil mengatur napasnya yang sudah terengah engah.


Bu Santi langsung pergi membawa kunci UKS dan berjalan cepat menuju ruangan UKS. Dalam perjalanan Bu Santi bertanya kepadaku.


"Siapa yang berantem?" tanya Bu Santi.


"Ardan sama Rama bu." jawabku singkat.


"Mereka lagi." geram Bu Santi.


Bu Santi tiba di ruang UKS dan melihat Ardan tergeletak di lantai luar UKS. Linda yang melihat itu sempat terkejut.


"Loh, Ardan kenapa?" Resah Bu Santi menghampiri Ardan karena takut terjadi apa apa.


Seketika orang yang di omongi bangun dari tidurnya di lantai.

__ADS_1


"Saya ngga apa apa kok bu." jawab Ardan.


"Trus kenapa kamu tidur di lantai?" tanya Bu Santi sambil membuka pintu ruang UKS.


"Lagi meredahkan sakit saya bu. Karena lantainya dingin jadi enak saja." jawab Ardan.


"Saya kira tadi kamu pingsan." Kata Bu Santi sambil mempersilahkan Ardan dan Rama untuk masuk ke UKS.


"Kalian berdua masuk biar saya obati. Linda bantu ibu untuk mengobati mereka berdua." Ucap Bu Santi.


Linda hanya bisa pasrah menuruti perkataan gurunya tersebut dan segera masuk untuk membantu Bu Santi.


Kemudian ruang UKS ditutup oleh Bu Santi karena takut mengganggu pasiennya hari ini.


"Linda kamu obati Ardan saja. Biar Rama saya obati." Ucap Bu Santi.


Linda mengambil obat p3k yang berada di etalase UKS dan menghampiri Ardan yang sudah tergelatak lemas di kasur.


"Sini biar aku obati." kata Linda.


"Kagak usah. Gua hanya butuh tidur sebentar saja." lontar Ardan tanpa membuka kelopak matanya.


Linda terpesona dengan wajah Ardan ketika tertidur. Dia tak beranjak sedikit pun dari dia berdiri sekarang. Meskipun berandalan. Dia sangat tampan.


Aduh Linda lu kenapa malah muji dia sih. Batin Linda.


Dia pergi dan menemui Bu Santi yang berada di sebelah ruangan Ardan. Bu Santi tengah mengobati luka Rama.


"Sudah selesai?" Ujar Bu Santi serius dengan pengobatannya tanpa menoleh sedikit pun ke Linda.


"Ardan tidak mau diobati bu. Dia ingin tiduran aja di UKS." Beber Linda kepada Bu Santi.


"Oh yaudah biarin dia istirahat. Makasih ya Linda." ucap Bu Santi belum mengalihkan pandangannya.


Linda kemudian keluar dari Ruang UKS dan mendapati Dion berada di luar UKS sendirian.


"Lu napa disini?" tanya Linda.


"Gua nungguin lu." jawab Dion.


"Ngga usah di tunggu juga ngga papa. Gua kan bisa sendiri." cibir Linda berlalu meninggalkan Dion.


"Tungguin dong." Ucap Dion lalu mengikuti langkah Linda.


Linda dan Dion berjalan tanpa ada basa basi yang diperbincangkan. Sampailah mereka di ruang kelas yang sudah ada Bu Dina dan para siswa didalamnya.


"Permisi bu," Ujar Linda

__ADS_1


Kemudian Dion mengikuti Linda dari belakang dan mereka duduk dibangku masing masing dan memulai pelajarannya.


__ADS_2