
Linda berlari menuju lorong rumah sakit ke arah ruangan dimana Ardan dirawat. Disana mendapati Pak Herman dan Bu Farda menangis karena kehilangan Ardan. Dokter dan suster disana mencopot semua alat yang terpasang di tubuh Ardan.
"Dokter, tolong bantu Ardan untuk kembali." pinta Linda.
"Maaf nak. Saya hanya dokter dan saya bukan Tuhan."
"Tidak, Ardan kamu harus bangun. Ardan tolong bangun untukku." pinta Linda sambil menggoyang goyangkan tubuh Ardan.
Sayang bangun nak....
Tiba tiba ada suara yang sangat ia kenal berada tepat disampingnya. Linda terbangun dengan keringat basah yang bercucuran di dahinya.
"Ada apa nak? Kamu mimpi buruk." tanya mamanya.
Linda langsung memeluk mama yang berada disampingnya.
"Aku takut kehilangan seseorang ma. Aku takut menjadi orang jahat karena belum meminta maaf kepadanya."
Mamanya tahu soal Ardan karena kemarin Linda menceritakan semuanya. Soal Ardan yang koma.
"Mimpi itu terlihat seperti nyata ma bagiku. Aku takut kehilangan dia."
"Sudah jangan dipikirkan lagi. Sekarang kamu mandi dan jenguk Ardan. Mama sudah buatkan makanan untuk nanti dimakan di rumah sakit bersama Bu Farda dan Pak Herman." pinta mamanya.
Linda bangun dari duduknya dan meregangkan tubuhnya yang lelah karena semalaman tidur di meja belajarnya. Linda kemarin menangis dan tak terasa tertidur di meja belajarnya.
Ia beranjak mandi dan meninggalkan mamanya yang tengah membereskan meja belajarnya.
Hari ini adalah hari minggu yang cerah. Linda bergegas pergi dan diantar oleh papanya sendiri.
Linda membuka pintu mobilnya membawa bekal yang sudah disiapkan oleh mamanya. Didalam papanya menunggu untuk menyetir.
"Sudah siap sayang?" tanya papanya.
"Sudah pa."
Papanya segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Ardan dirawat. Bangunan tinggi dan keramaian kota mewarnai perjalanan Linda dan papanya. Kadangkala mereka berbincang bincang tentang hal random. Entah itu musik, bangunan baru atau yang lainnya.
"Bunga mawar kemarin dari siapa?" tanya papanya.
"Dari Dion pa."
"Trus bunga dandelion itu dari siapa?" tanya papanya lagi.
"Dandelion, oh bunga yang warna kuning itu. Itu dari Ardan pa."
Papanya hanya mengangguk saja.
Tak disangka 20 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah sakit. Papanya membeli tiket parkir dan segera memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Setelah mobil berhenti secara sempurna di tempat parkir Linda bergegas membuka pintu mobilnya dan tak lupa membawa bekal yang tadi sudah disiapkan mamanya.
"Ayo pa!" ajak Linda.
Papanya segera berjalan membututi anaknya dari belakang.
...****************...
Notifikasi dari seseorang membuat Dion bangun dan meraba raba meja kecil disebelahnya. Ia mengambil ponselnya dan membaca chat sambil tengkurap di kasur. Ternyata itu dari Lina.
Dion sempat memberikan nomer ponselnya saat berbincang dengan Lina. Dion tak meminta nomernya namun dia sendiri yang memberikan ke ponselnya.
"Kenapa harus dia sih?!!" jengkel Dion.
|| Hai Dion, apa kabar? ||
"Sok akrab banget dia sama gua." gerutu Dion.
^^^|| Baik. ||^^^
Lina membalas pesan Dion sangat cepat namun saat itu Dion bergegas berganti pakaian dan lari pagi. Rutinitas yang jarang Dion lakukan karena kesibukan ketua OSIS. Ia tak pernah membawa ponselnya ketika lari pagi karena dapat mengganggu.
|| Aku menunggu kamu di tempat supermarket yang kita kunjungi. Aku ingin berterima kasih. ||
Dion berlari keliling kompleks dekat perumahannya dan mendapati sosok perempuan tengah menunggu di supermarket dekat rumahnya. Sosok perempuan tersebut melihat ke arah Dion dan menyapanya.
"Dion." sapa perempuan tersebut yang tak lain adalah Lina.
...****************...
Hari ini cuaca cerah namun tidak dengan hati Linda. Ia menunggu kesadaran dari temannya namun itu cukup lama. Linda menyeruput teh hangat di taman dekat rumah sakit karena Ardan sudah ditemani oleh Bu Farda dan Pak Herman. Ia kesini karena tadi perutnya keroncongan dan ingin ke kantin untuk membeli roti.
Linda jarang sarapan pagi pakai nasi karena menurutnya kalau ada nasi masuk ketika pagi hari perutnya kadang merasa mual dan ingin muntah. Makanya dia selalu makan roti di pagi hari.
Seorang anak tiba tiba mendekat ke arah Linda dan ingin dia membacakan sesuatu dari buku tersebut.
"Kakak bisa baca buku?" tanya anak kecil tersebut.
"Bisa, kenapa? Mau kakak bacakan bukunya."
"Boleh kak. Soalnya tadi aku nyari ibu ngga ada."
"Yaudah kakak bacakan ya."
Ternyata buku yang dibawa anak kecil tersebut berjudul putri tidur. Linda menceritakan semuanya kepada anak kecil tersebut. Kadang kadang anak kecil tersebut bertanya tentang cerita tersebut.
"Trus kalau putri tidur diracun bangunnya gimana kak?" tanya anak kecil tersebut.
"Kakak akan bacakan terusannya ya."
__ADS_1
Anak kecil tersebut hanya mengangguk anggukan kepalanya dan kembali mendengarkan cerita dari Linda.
Linda membacakan ceritanya sampai tuntas. Tiba tiba anak kecil tersebut bertanya hal yang tak dapat dijawab oleh Linda.
"Kak, ayahku kan tidur lama. Apakah kalau aku cium keningnya bakal bangun?" tanya anak kecil tersebut.
Linda terdiam mendengar hal itu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Linda bahkan tak pernah percaya tentang cerita dongeng karena menurutnya itu cuma cerita buatan orang.
"Mungkin saja, tapi kamu juga harus mendoakan ayahmu semoga lekas bangun." jawab Linda seadanya.
"Aku selalu mendoakan ayahku namun sampai sekarang belum bangun juga." ungkap anak kecil tersebut atas kesedihannya.
"Alan..." panggil seseorang perempuan dengan isakan tangis menghampiri anaknya yanh tengah duduk di samping Linda.
"Ya ampun nak kamu darimana saja. Ibu nyari in kamu." kata ibu itu sambil memeluk anaknya.
"Tadi alan minta dibacakan cerita oleh kakak baik ini karena tadi ibu ngga ada." jawab lugu anak kecil tersebut.
"Makasih ya mbak sudah menjaga anak saya." ucap ibu tersebut.
"Iya sama sama bu."
"Kalau begitu kami permisi dulu ya."
"Iya bu hati hati ya."
"Dadah kakak baik kapan kapan kita cerita lagi ya." pamit anak kecil tersebut.
"Dadah. Hati hati ya." balas Linda.
Linda melambai lambaikan tangannya ke arah anak kecil yang sekarang tengah digandeng oleh ibunya pergi meninggalkannya.
Linda merasa sepi lagi karena tak ada teman yang dapat diajak bicara. Linda kepikiran dekat perkataan anak kecil tersebut.
Apakah benar kalau dicium keningnya bisa bangun. Batin Linda.
Tapi Linda langsung menepis hal tersebut karena menurutnya ngga mungkin kalau orang koma dicium keningnya akan bangun.
Dering telepon membuat Linda merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya. Ternyata itu dari papanya.
"Halo pa."
"Sayang kamu lagi dimana?" tanya papanya cemas di seberang sana.
"Aku lagi di taman dekat rumah sakit pa. Tadi habis beli roti di kantin."
"Yaudah kamu segera ke ruangan lagi ya. Agar papa ngga susah nyari in kamu." ujar papanya di seberang sana.
"Baik pa. Linda segera ke sana."
__ADS_1
Linda segera menutup telepon dari papanya dan bergegas ke ruangan Ardan kembali.