Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
14. Keberadaan Linda


__ADS_3

Di dalam mobil yang ia pesan, Linda memikirkan apa yang diucapkan Dion tadi.


Apakah itu benar?


Dia mencoba berpikir jernih bahwa Ardan tak akan melakukan hal itu padanya. Linda mencoba melupakan apa yang tadi Dion katakan.


Hingga ia menangkap sosok lelaki yang mirip sekali pawakannya dengan Ardan. Namun ia tak dapat melihat wajahnya. Ia berada di posisi membelakangi jalan. Linda melihat ada seorang cewek yang memeluknya cukup erat.


Ah itu bukan Ardan. Aku mungkin salah lihat.


Linda mencoba berpositif thingking dan kembali melihat kedepan. Ia menikmati perjalanannya sambil sesekali melihat ke kanan dan ke kiri jalan untuk melihat betapa ramainya orang berlalu lalang.


...****************...


"Ardan aku butuh lebih dari hal itu."


"Aku sudah bilang sama kamu kalau alasanku menolakmu karena aku sakit dan aku takut kamu ngga akan bahagia bersamaku. Aku juga ngga cinta sama kamu." beber Ardan sejujurnya.


"Tapi masih adakah cinta untukku sekarang?" tanyaLina.


"Maaf Lina."


Lina menghembuskan napasnya secara kasar dan mengeluarkan sebuah ponsel hitam.


"Aku tahu mungkin hatimu sekarang milik dia." Lina memperlihatkan ponsel yang selama ini Ardan cari.


"LANCANG SEKALI KAU MENGAMBIL PONSELKU!!" Bentak Ardan mengambil ponselnya kembali


"Maaf Ardan namun apakah kau dulu punya perasaan yang lebih padaku?" tanya Lina.


"Kayaknya kamu salah persepsi kepadaku."


Ardan merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan sapu tangan biru. Memberikannya kepada Lina.


"Makasih untuk hari itu." ucap Ardan.


Lina menerima sapu tangan biru miliknya. Ia masih tidak percaya bahwa Ardan tak mencintainya.


"Lina........" teriak seorang lelaki dari arah belakang Lina.


Dia berlari mendekat kepada kami. Perawakannya cukup tampan dengan jas hitam dan kra terbuka di bagian lehernya. Ia terlihat lebih tua dari kita. Lelaki tersebut menarik paksa Lina untuk segera pulang.


"Lina, ayo kita pulang." ajak lelaki tersebut.


"Tapi aku ingin disini sebentar." balas Lina.


"Ayo Lina. Mama papa kamu sudah mencarimu." sambil menarik narik tangan Lina.


"Auh.... Sakit mas."


Melihat Lina yang kesakitan akibat lelaki tersebut. Ardan kemudian bertindak.


"Maaf mas. Masa jangan kasar dong sama wanita." sergah Ardan.


"Eh lu siapa? Berani beraninya lu sama gua." lelaki tersebut sambil mengangkat kra baju milik Ardan.


"Saya sahabatnya mas."


"Masih sahabat aja belagu. Kenalin gua calon suaminya."


Ardan terkejut mendengar pernyataan dari lelaki tersebut.


"Mas cukup mas. Malu dilihatin sama orang orang." kata Lina sambil melerai keduanya.


Lelaki tersebut langsung melepaskan kra baju Ardan dan kembali menarik tangan Lina.


"Lina. AYO PULANG!!" bentak lelaki tersebut.


Ardan merasa kesal akibat perilaku lelaki tersebut. Ia mengepalkan tangannya dan langsung menerjang bagian pipi lelaki tersebut.

__ADS_1


Lelaki tersebut kesakitan akibat pukulan Ardan. Ia meringis dan mencoba berdiri tegak kembali.


"Oh berani ya lu sama gua." lawan lelaki tersebut.


"Sudah mas. Baiklah aku akan pulang. Tapi mas tunggu bentar di mobil ya." Lina melerai keduanya.


"Gua tandain muka lu!" sambil berjalan pergi meninggalkan keduanya.


Lina kemudian menatap Ardan yang masih menatap lelaki tersebut dari kejauhan.


"Maafkan calon suamiku Ardan."


"Lina. Apa yang terjadi padamu?" tanya Ardan memegang pundak Lina.


"Nanti aku ceritakan semuanya. Aku sudah mencantumkan nomerku di ponselmu."


Lina memeluk tubuh Ardan dan pergi meninggalkan Ardan sendirian di taman tersebut.


...****************...


"Linda......"


"Iya ma....." balas Linda.


"Bantuin mama dong." ucap mamanya dari lantai bawah.


Linda keluar dan segera turun menghampiri mamanya.


"Ada apa ma?" tanya Linda.


"Bantuin mama mengeluarkan barang belanjaan mama di mobil."


"Oke ma." Linda pasrah di suruh mamanya untuk membantu membawa barang belanjaan ke dapur. Padahal dia teramat pegal sehabis pulang kerja kelompok tadi.


"Makasih sayang."


"mama, bangun ma. mama......" sambil menggoyangkan tubuh mamanya.


Linda segera menelpon ambulan dan tak lama mobil ambulan terparkir di depan rumahnya. Dua perawat segera turun dan menolong mamanya yang sedari tadi tergeletak di lantai.


Linda membututi perawat tersebut hingga ia masuk ke dalam mobil ambulan.


"Mama..... mama harus sadar." khawatir Linda dan tak terasa linangan air mata membasahi pipinya.


Setelah sampai mamanya lekas di bawa ke ruang UGD. Linda tak bisa masuk karena takut merepotkan dokter dan perawat untuk memeriksa mamanya. Ia duduk di bangku rumah sakit dan berdoa supaya mamanya tidak apa apa.


Tak berselang lama seorang dokter keluar dari ruang UGD. Linda segera menghampiri dokter tersebut.


"Dokter gimana keadaan mama saya?" tanya Linda.


"Alhamdulillah ibu anda tidak apa apa cuma kecapean aja. Ketika saya cek tadi darah ibu anda cukup rendah. Jadi saya kasih resep obat tambah darah." dokter tersebut menyodorkan selembar kertas yang harus ia tebus ke apotek.


"Baik dok. Terima kasih. Apakah saya boleh menemui mama saya?"


"Silahkan."


Linda masuk ke ruang UGD dan disana terdapat sosok seorang wanita yang ia sayangi sedang terbaring tak berdaya di brankar rumah sakit. Linda mencoba mendekatinya secara perlahan agar kedatangannya tak mengusik suara.


Ia kemudian duduk di sebelah brankar rumah sakit dan memegang tangan lembut milik mamanya. Mengelus elus tangan tersebut hingga pemilik tangan tersebut terbangun akibat elusan hangat anaknya.


"Mama. Maafkan Linda karena tadi tidakmemperhatikan mama kalau mama sakit." tangis Linda pecah ketika ia memohon maaf kepada mamanya.


"Iya gapapa kok. Mama cuma kecapekan saja. Anak mama ngga boleh nangis nanti cantiknya hilang loh." goda mamanya.


Linda memeluk mamanya yang berada di brankar dan melepaskan kesedihannya di dekapan mamanya.


"Cup cup cup cup. Anak mama." kata mamanya menenangkan kesedihan putrinya.


...****************...

__ADS_1


Pagi hari menjelang, alarm di kamarnya berbunyi membuat Ardan jadi tak bisa tidur nyenyak. Ia bangun kemudian mematikan alarmnya. Segera ia bangkit dan mandi. Setelah itu mengganti pakaian dan berangkat sekolah.


Ardan mengambil kunci dan helm. Menyalakan motornya juga melajukannya ke arah sekolah. Tak berselang lama, Ardan sampai di parkiran sekolah. Namun ia tak mendapati Linda.


Apa gara gara kemarin aku tidak masuk ya. Jadi Linda tak menunggu aku lagi. Batin Ardan.


Ia memarkirkan sepedanya dan membuka helmnya. Ardan merasa sepi karena tiada kehadiran Linda. Ia berusaha mengikuti pelajaran namun otaknya selalu memikirkan Linda.


Aku jadi tahu rasanya ketika Linda tak menemuiku bahkan untuk sehari. Gerutunya.


Jam istirahat berbunyi, Ardan tiba tiba merasakan sakit yang selalu datang tanpa di undang. Sakit di bagian ulu hatinya. Sungguh sangat sakit. Hingga Ardan merintih akibat sakitnya. Ia tidak tahu harus apa. Ardan mencoba mencari obat didalam tasnya. Namun ia lupa membawanya.


Rasa sakit tersebut menjalar hingga kepalanya. Ia sudah tak bisa menahannya lagi. Ardan mencoba untuk tidur saja. Menurutnya dengan tidur, sakit yang ia rasa bisa hilang.


Ardan tak sadar sudah berapa lama ia tidur. Hingga gebrakan meja dari pak guru membangunkannya.


"Ardan! Kamu tidur?!" gertak pak guru tersebut.


Saat itu Ardan sudah tak merasakan sakit dibagian ulu hatinya.


"Maaf pak."


"Lain kali kalau tidur sekalian bawa bantal sama guling. Kamu kerjakan latihan soal di bawahnya. Itu hukuman kamu."


"Baik pak."


Ardan di tertawakan satu kelas karena ulahnya sendiri.


Bel pulang sudah berbunyi, Ardan bergegas pergi ke kelas Linda. Disana ia bertemu dengan Dion.


"Dion, lu lihat Linda?" tanya Ardan.


"Gua kan sudah bilang. Lu jangan dekati Linda lagi." cerca Dion.


"Tapi lu tahu kan Linda dimana?" tanya kembali Ardan.


"LU DENGAR NGGA? JANGAN DEKATI LINDA." bentak Dion.


"TAPI GUA CINTA SAMA DIA."


"Anj**g lu." Dion menerjang rahang Ardan hingga ia tersungkur.


Ardan membalas pukulan Dion. Dia memukul di bagian rahang Dion juga. Hingga perkelahian terjadi di antara mereka. Tiba tiba pak guru melerai keduanya.


"Hei hei hei...... Sudah Ardan, Dion"


"Dia duluan tuh pak." celetuk Dion.


"Dia yang duluan pak." balas Ardan.


"Sudah cukup. Kalian ikut saya sekarang." pinta pak guru.


Di ruangan dengan dominasi warna putih dan dua pigura yang memajang wajah presiden dan wakilnya, Ardan dan Dion di introgasi.


"Kalian kenapa berkelahi. Kamu juga Dion, kamu kan ketua osis. Seharusnya kamu dapat menjadi contoh untuk teman teman kamu." beber Pak guru.


"Maaf pak." jawab Dion.


"Yaudah kalian minta maaf sekarang." pinta pak guru.


"Disini Dion yang salah pak bukan saya. Saya mau tanya keberadaan Linda ke dia. Dia malah ngegas dan ngga mau memberitahu keberadaan Linda." balas Ardan.


"Eh, lu kenapa nanya nanya soal Linda?"


"Eh, gua kan tanya baik baik kenapa malah ngegas."


"Sudah sudah Ardan Dion. Malah bermusuhan akibat wanita." celetuk Pak Guru.


"Tapi ini penting pak!" balas keduanya bebarengan.

__ADS_1


__ADS_2