
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Dion mendekati Lina sendirian.
"Lagi nungguin mereka selesai main."
"Main?" Dion masih tak paham apa yang dikatakan Lina.
Lina beranjak pergi memberitahu Dion dimana Ardan dan Linda. Dion membututi Lina dari belakang. Hingga mereka sampai di taman rumah sakit. Dimana Linda dan Ardan bercerita dan tertawa satu sama lain di bangku taman rumah sakit tersebut.
"Mereka senang karena ada satu sama lain. Aku berharap Ardan dapat tersenyum seperti itu setiap hari." tutur Lina.
"Aku egois ingin memiliki Ardan namun Ardan adalah milik Linda dan aku tidak berhak untuk merampasnya." ucap Lina kembali.
Tetesan air mata mengalir di pelupuk mata Lina.
...****************...
Linda melihat mereka berdua dari kejauhan. Itu adalah Lina dan Dion. Mereka berada di seberang taman. Linda memanggil mereka untuk bergabung bersama.
Tetapi Lina tiba tiba saja pergi meninggalkan Dion sendiri. Dion pun berjalan menghampiri Ardan dan Linda di bangku taman.
"Gimana keadaan lu?" tanya Dion kepada Ardan.
"Gua baik." jawab Ardan.
"Syukurlah kalau begitu."
"Kenapa Lina tadi ngga bertemu dengan kita disini?" tanya Linda.
...****************...
Flashback saat Lina dan Dion berdua :
"Kamu tahu kita seperti tersisihkan disini." ujar Lina.
Dion masih terdiam tak menjawab perkataan Lina.
"Jangan memaksa untuk menjadi miliknya. Hatinya sudah terkunci oleh seseorang. Jangan bersikap bodoh dan egois ingin memilikinya. Aku pernah mengajak Ardan untuk menikahiku karena aku muak dengan sikap mas Yoga terhadapku."
Lina menghembuskan napas kekesalannya terhadap dirinya dan Dion masih tetap sama mematung dan terdiam mendengarkan ocehan perempuan tersebut.
"Namun aku tertolak karena hatinya sudah menjadi milik Linda. Beruntungnya Linda dapat dicintai oleh sosok Ardan. Yaudah aku pamit dulu. Titip salam buat mereka."
...****************...
"Dion kenapa kamu ngelamun?" tanya Linda.
"Ngga, ngga papa. Tadi Lina titip salam buat kalian."
"Makasih." jawab Linda.
"Kalau begitu aku harus pamit dulu ya. Tadi aku izin sebentar untuk keluar sekolah." kilah Dion padahal sebenarnya dia bolos.
"Oh ya hati hati. Tadi aku sudah kirim surat izin 1 hari untuk menemani Ardan disini." balas Linda.
__ADS_1
"Hati hati." jawab dingin Ardan.
"Iya. Gua cabut dulu ya." pamit Dion.
Ardan dan Linda menjawab dengan anggukan saja. Dion bergegas pergi namun tak ke sekolah tetapi ke cafe dekat rumah sakit untuk menenangkan diri.
Dion masih terngiang ngiang dengan perkataan Lina. "Jangan memaksa untuk menjadi miliknya, hatinya sudah menjadi milik orang lain."
...****************...
"Kamu tahu kenapa aku memberikan bunga dandelion untukmu?" tanya Ardan setelah kepergian Dion dari balik bilik rumah sakit.
"Aku sudah tahu." jawab Linda tanpa menoleh ke arah Ardan.
"Apa coba?" tanya Ardan penasaran.
Linda menoleh ke arah Ardan. Netra mata mereka bertemu dan saling beradu tatap.
"Dandelion. Ku kira bunga itu bakalan indah setelah beberapa hari kedepan. Bersemi layaknya bunga mawar milik Dion. Namun realitanya ngga."
"Kamu diberi bunga mawar oleh Dion?" tanya Ardan memotong perkataan Linda.
"Heem." jawab Linda dengan anggukan.
Percakapan mereka terhenti sejenak, Linda kembali memulai percakapannya tadi.
"Namun yang kusuka dari dandelion adalah rasa semangatnya untuk tumbuh namun ia mudah rapuh."
"Kamu benar, tetapi dia juga mudah ditemukan karena bijinya yang tersebar dimana mana." tambah Ardan.
"Linda, Jika kau menemukan bunga dandelion. Ucapkanlah "I Love You Too" karena itu adalah simbol aku mencintaimu."
Linda menatap lekat lensa mata coklat didepannya. Butiran air mata mengalir di pelupuk matanya.
"Jawabanku saat kau menembakku. I Love You Too. Aku juga mencintaimu, Linda." ucap Ardan sambil menangis ke arah Linda.
Linda juga tak kuasa menahan tangisannya. Mereka akhirnya sama sama berpelukan. Di taman rumah sakit dengan disaksikan tumbuhan dan sinar matahari juga angin yang berhembus. Ardan menyatakan cintanya kepada Linda.
...****************...
Dion meminum pesanan susu coklatnya di cafe sambil menikmati semilir angin yang mulai merasuki tubuhnya.
Dion merasa ada yang berbeda dengan hari ini. Kesepian. Tak ada yang ingin ia curahkan sekarang. Mungkin untuk sejenak dia harus pergi meninggalkan kota kenangan ini.
Dion berusaha untuk fokus mengejar cita citanya sekarang. Menjadi seorang pengusaha yang sukses.
...****************...
Lina melihat banyak sekali orang berlalu lalang di jembatan gatung. Matahari memancar cerah dengan semilir angin menemaninya.
Tuhan masih adakah cinta yang tulus kepadaku?
Rasa mual tiba tiba mulai terasa. Lina menutupi semuanya dari suaminya bahwa dia hamil. Dia tak ingin menemuinya sekarang karena demi keselamatan anaknya. Lina mengelus perutnya untuk menenangkan si jabang bayinya.
__ADS_1
"Maafkan ibu nak. Ibu ngga bisa mempertemukanmu dengan ayah. Karena ibu tahu bahwa kamu bakal disakiti olehnya. Cukup ibu saja yang sakit, jangan kamu." gumam Lina sambil mengelus perutnya.
...****************...
Linda masuk ke rumah menemui mamanya yang tengah menyiapkan makan siang untuk papanya yang akan lekas pulang.
"Mama." sapa Linda sambil memeluk tubuh mamanya dari belakang.
"Anak mama. Sudah pulang nak? Oh ya gimana keadaan Ardan?"
"Ardan sudah sadar ma. Maaf tadi aku ngga sekolah soalnya mau menemani Ardan di rumah sakit."
"Ngga papa. Sekarang kamu mandi dan lekas bantu mama. Sebentar lagi papa pulang untuk istirahat dari jadwal kantornya."
"Iya ma. Aku mandi dulu ya." pamit Linda kepada mamanya.
Linda bergegas naik ke lantai atas untuk mandi juga berganti pakaian. Tak berselang lama, Linda keluar dengan setelan baju biasa dan celana pendeknya.
"Sini ma, Linda bantu potongin sayurnya." pinta Linda sambil mengambil sayur yang akan di potong mamanya.
Melihat gelagat anaknya yang bahagia sedari tadi membuat mamanya penasaran.
"Kamu kenapa kok kayak senang gitu moodnya."
"Ngga, ngga papa ma." kilah Linda.
"Hayo mulai bisa bohong ya ke mama." goda mamanya agar anaknya cerita.
"Apa an sih ma. Beneran aku ngga papa."
"Nak, mama tahu perasaan kamu saat sedih maupun senang. Kan kamu anak mama. Jadi jangan pernah sembunyi apapun ya dari mama. Meskipun itu hal yang paling menyedihkan."
"Iya ma. Linda paham kok." celetuk Linda.
Keheningan kembali menemani keduanya hanya ada suara pisau yang sedang Linda gunakan mengiris sayur dan suara mamanya menggoreng ikan.
"Ma." panggil Linda yang fokus memotong sayur.
"Iya." jawab mamanya.
"Mama pernah ngerasain jatuh cinta ngga?"
Mamanya kemudian menghampiri anaknya dan mencolek hidung Linda.
"Mama sudah berpengalaman kalau membahas soal cinta." kata mamanya sambil mengambil potongan sayur yang sudah dipotong oleh Linda. Kemudian berbalik arah untuk segera menumis sayur tersebut.
"Ma, apa yang harus diberikan kepada seseorang yang sudah tak ada harapan untuk hidup?" tanya Linda.
Mamanya langsung berhenti dari kegiatannya menumis sayur. Tatapan mata mamanya kosong mengingat kejadian masa lalu yang pernah ia alami.
"Ma, mama." panggil Linda namun tak disahut oleh mamanya.
"Mama." panggil Linda lagi kali ini agak mengeraskan suaranya.
__ADS_1
"Ah, iya nak." mamanya sontak kaget dan suara Linda membuyarkan lamunannya.