
Dion duduk di sebelah Lina. Lina membuka tas yang ia bawa dan mengeluarkan sebuah roti isi untuk dimakan oleh Dion.
"Ucapan terima kasih karena telah menolongku kemarin." ujar Lina sambil menyodorkan kotak berisi roti isi tersebut.
"Iya sama sama." ucap Dion sambil menerima kotak yang diberikan Lina.
"Omong omong kamu lagi olahraga pagi ya."
"Iya rutinitas yang jarang aku lakukan karena kesibukanku menjadi ketua OSIS."
"Oh ya, hebat dong kamu." puji Lina.
"Ngga juga. Malah kalau jadi ketua harus bisa disiplin waktu banget sedangkan aku masih berusaha untuk itu. Bahkan kadang aku suka lupa kalau ada PR."
"Dih ngga usah rendah diri deh." ledek Lina.
Dion tersenyum dan membuka roti isi dari Lina lalu memakannya.
"Gimana enak?" tanya Lina.
"Enak. Suami kamu gimana kagak marah kalau kamu dekat sama aku?" tanya Dion.
Seulas senyum berubah menjadi rasa kesedihan di raut wajah Lina. Ia tak dapat menjawab hal itu. Karena dia sekarang tengah kabur dari suaminya yang sangat posesif juga suka memukul kepadanya.
"Yaudah kalau begitu aku lanjut aja ya. Untuk roti isinya terima kasih." lanjut Dion dan kembali berlari pagi.
Lina masih termenung meratapi punggung Dion yang semakin jauh meninggalkannya.
...****************...
Linda tak ingin kembali lebih cepat hari ini karena Linda ingin menemani Ardan. Papanya sudah pulang duluan karena ingin menemani mamanya yang sendirian di rumah. Jadi Linda memutuskan untuk tetap di rumah sakit menjaga Ardan.
Pak Herman dan Bu Farda juga tak bisa lama lama menjaga Ardan kadang ia menyuruh Lina untuk menemaninya namun sekarang ada Linda jadi Bu Farda tak perlu repot repot untuk menelpon Lina.
"Nak, Ibu dan bapak mau pergi sekarang karena ingin membuka warung bakso kami. Jadi untuk sekarang kamu mau kan jagain Ardan dulu?" tanya Bu Farda dengan suara halusnya.
"Iya bu ngga papa kok. Linda juga lagi ngga ngapa ngapain sih sekarang. Jadi Linda mau menemani Ardan saja." jawab Linda.
"Baiklah kalau begitu bapak dan ibu pamit dulu ya. Kalau ada apa apa soal Ardan segera hubungi kami." pamit Bu Farda.
"Iya bu."
Mereka kemudian meninggalkan Linda sendirian bersama Ardan yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
Linda mengusap punggung tangan Ardan berharap Ardan dapat bangun sekarang.
"Ardan sampai kapan kamu gini trus. Kamu tahu bangku parkiran yang selama ini menjadi saksi kita, kini sudah berdebu dan tak ada yang mau duduk di situ lagi. Ardan tolong kembali lah. Aku tak ingin menunggu lagi. Ardan bangun...." curhat Linda sambil menggoyang pelan punggung tangan Ardan.
"Ardan kamu tahu tadi ada anak kecil yang mau aku bacakan cerita tentang dongeng putri tidur. Dia sempat cerita bahwa dirinya juga merasa kesepian tanpa ada ayahnya. Ayahnya koma sangat lama dan belum bangun sampai sekarang. Hingga sebuah pertanyaan terlintas di benak anak tersebut. Apakah dengan mencium kening ayahnya membuat ayahnya bisa bangun lagi? Namun aku tak mempercayai hal itu apalagi belum ada bukti kalau dengan mencium kening seseorang yang koma dapat membuat dirinya bangun." beber Linda tentang dirinya yang bertemu dengan anak kecil tadi pagi.
Linda berharap ada balasan dari Ardan namun yang ia dengar hanya suara dari elektrokardiogram yang menunjukkan detak jantung Ardan serta suara obat bius yang menetes di selang milik Ardan.
"Ardan bangun yuk. Kamu ngga mau hujan hujanan lagi sama aku?" tanya Linda.
Linangan air mata tiba tiba menetes dari pelupuk mata Linda. Ia tak dapat membendung lagi rasa kesedihan yang ia alami saat ini.
"Kalau saja aku tak pergi meninggalkanmu saat itu serta mendengarkan penjelasanmu, kamu pasti ngga akan kayak begini." erang Linda.
"Ardan bangun........" sambil terisak isak ia memanggil nama Ardan.
...****************...
Lina menatap dari balik pintu ruangan dimana Ardan dirawat. Disana ia mendapati Linda tengah menangis di sebelah Ardan.
Lina masuk dan membawa sekeranjang buah untuk Ardan.
"Linda aku mau bicara sebentar." ucap Lina kepada Linda.
Mereka sampai di kantin rumah sakit dan membeli beberapa camilan dan minuman untuk dimakan.
Lina mengawali perbincangan dan langsung to the point ke intinya.
"Sejujurnya aku iri sama kamu."
"Iri kenapa?" tanya Linda.
"Karena kau dicintai tulus oleh Ardan. Sedangkan aku..."
"Aku tahu cincin yang kamu pakai sekarang bukan dari Ardan. Kau berbohong denganku di cafe saat kita pertama kali bertemu dan ini uang ongkos taksi kemarin. Makasih." potong Linda.
Linda berdiri dan berbalik menuju ruangan Ardan kembali namun Lina menghentikan langkah Linda dengan pernyataannya.
"Linda.... Aku tahu aku salah. Aku telah membohongimu soal cincin ini tapi ada sebab kenapa Ardan mengirim bunga dandelion kepadamu." ujarnya sambil berdiri juga di bangkunya.
...****************...
15 menit sebelum ini terjadi. Dion tiba tiba mengirim pesan kepada Linda.
__ADS_1
|| Linda, aku tahu apa hubungan Lina dan Ardan. ||
Linda tak menjawab hal itu namun ketika pesan terkirim kembali dari Dion. Linda terkejut saat itu.
|| Dia sudah memiliki suami namun suaminya begitu keras kepadanya. Dia memdekati Ardan hanya untuk curhat sebagai teman namun kau terlalu menganggapnya serius waktu itu. ||
^^^|| Makasih Dion atas infonya. ||^^^
Dion lega sekarang karena Linda sudah mengetahui semuanya. Namun kenapa Dion membantu Linda mengungkap siapa Lina? Karena dia sudah berpikir jernih tentang hubungannya dengan Linda. Ia tak dianggap lebih oleh Linda karena dia tahu Linda tak ingin kehilangan sosok Dion yang sudah menemaninya bagaikan kakak.
...****************...
Pov : Saat Dion sendiri bab 22
Saat Dion memyeruput coklat panas dengan menatap langit malam yang begitu indah. Papanya datang dan menepuk punggung Ardan.
"Nak, sendirian disini?" tanya papanya.
Papanya kemudian duduk disebelah Dion juga menatap langit malam saat itu.
"Papa pernah jatuh cinta ngga?" tanya Dion.
"Selalu kalau itu." jawab papanya singkat dan jelas.
"Papa sebenarnya aku dari dulu sangat menyukai Linda. Namun...." tiba tiba Dion terdiam dan tak melanjutkan penjelasannya.
"Namun kenapa?" tanya papanya.
"Linda sudah punya yang lain pa. Aku pernah mengungkapkan cinta ke Linda namun dia menolakku mentah mentah. Aku sangat kecewa pa dan aku ingin membalas dendam kepada Ardan tentang perasaan Linda yang sudah berubah kepadaku." tutur Dion panjang lebar.
"Nak, jangan pernah salahkan cinta. Cinta datang tanpa ada sebab dan akibat. Dion, melihatnya dari kejauhan itu sudah cukup ketimbang kita memilikinya namun tak diharapkan keberadaanya. Jangan kau menjadi manusia yang serakah, ingin memiliki langit seutuhnya namun langit tak dapat dipeluk karena terlalu luas." nasihat papanya.
Dion terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan papanya.
"Nak, Mungkin pikiran Linda menolakmu mentah mentah karena dia tak ingin kehilangan sahabat sepertimu yang bagaikan kakak bagi Linda. Dulu kau selalu mengutamakan keselamatan Linda ketimbang dirimu. Kamu ingat saat kalian terjatuh dari sepeda. Kamu menangis karena Linda terluka sedangkan Linda menguatkanmu karena itu hanya luka lecet. Kamu sendiri saat itu juga terluka bahkan lebih parah dari Linda namun kamu tak memedulikannya kan. Ingat hal ini nak, Manusia berhak untuk mengatur rencana namun yang memutuskan adalah Tuhan. Jika kamu sudah berusaha semampumu untuk mendapatkan cintanya Linda namun kalah Tuhan tak berkehendak buat apa."
Dion merenungi kembali setiap perkataan yang dilontarkan papanya. Yang dikatakan papanya memang benar Dion tak harus memaksa Linda untuk mencintainya. Melihatnya dari kejauhan saja sudah cukup untuknya.
Papanya kemudian berdiri dan meninggalkan Dion sendiri. Papanya berhenti di ambang pintu dan mengucapkan satu hal yang kelupaan tadi.
"Tuhan tak akan pernah salah untuk memilih pasangan untuk kita."
Papanya meneruskan langkahnya menuju kamarnya kembali.
__ADS_1