Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
20. Bunga


__ADS_3

Linda melamun saat melewati supermarket yang baginya hanya sebuah kenangan tak terlupakan. Dion melihat wajah murung Linda segera menanyakan apa yang terjadi.


"Linda, kamu ngga papa kan? Kenapa langsung murung."


"Ngga aku ngga papa kok." kilah Linda.


Dion masih diam dengan keadaan Linda sekarang. Ia tahu bahwa Linda sekarang terpukul gara gara Ardan.


Tak lama mereka sampai di kediaman rumah Linda.


"Makasih ya." ucap Linda namun ia tak bisa membuka pintu mobil Dion.


"Linda." panggil Dion disebelahnya.


Wajah Linda langsung menoleh ke arah Dion.


"Kalau ada apa apa cerita saja ke aku. Aku siap mendengarkannya. Aku tahu kamu pasti punya kenangan indah dengannya. Entah itu di parkiran dan supermarket. Aku tahu hal itu karena saat kita melewati tempat itu wajahmu berubah menjadi murung." jawab Dion panjang lebar.


Dion mendekati Linda yang berada di sebelahnya. Linda tampak gugup ketika tubuh Dion tiba tiba mendekatinya. Dion kemudian membuka pintu mobilnya untuk Linda.


"Ingat kalau ada apa apa segera beritahu aku ya." Kata Dion sebelum Linda pergi.


Linda keluar dan menutup pintu mobil Dion. Linda segera pergi dari halaman dan masuk ke rumahnya.


Dion kembali melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Linda.


Linda melihat mamanya tengah mencuci piring piring kotor di dapur. Linda kemudian memeluk mamanya dari belakang.


"Eh, anak mama sudah pulang."ujar mamanya sambil tetap mencuci piring kotor.


"Ma, aku capek." keluh Linda.


"Yaudah kamu segera tidur sana biar lebih enakan." jawab mamanya.


"Tapi nanti mama bisa capek kalau ngga aku bantuin."


"Mama sudah baik baik aja kok. kamu ngga usah khawatir tentang kesehatan mama."


"Ngga aku bantuin mama aja. Biar aku yang bagian menyapu lantai atas."


"Terserah kamu aja deh. Oh ya, tadi ada yang ngirim bunga untuk kamu. Tapi mama ngga tahu siapa pengirimnya. Mama taruh di meja belajarmu."

__ADS_1


"Nanti aja ma aku lihat, sekarang aku mau bantu mama."


"Ngga ganti baju dulu?" tanya mamanya.


"Seragam ini besok ngga dipakai ma. Jadi ngga papa kalau kotor nanti bisa dicuci."


Mamanya menurut saja apa kata anaknya. Linda kemudian mencari keberadaan sapu dan menyapu kamarnya serta kamar orang tuanya. Ia tak sengaja melihat buket bunga di meja belajarnya. Namun Linda masih belum menyentuhnya. Ia meneruskan membersihkan lantai dua rumahnya.


Setelah dirasa cukup bersih, Linda beristirahat di ruang tamunya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa besar yang ada di ruang tamunya. Hingga tak sadar dia terlelap tidur di sofa besarnya.


Linda terbangun dengan rambut yang berantakan. Melihat sekeliling ternyata dia sudah berada di kamarnya sendiri.


"Pasti papa yang memindahkan aku kesini." gerutunya.


Ia melihat jam di sebelah tempat tidurnya dan waktu menunjukkan pukul 5 sore. Ternyata Linda hanya tidur sebentar. Dia bangun dan segera mandi dan berganti pakaian. Ketika sedang menggosok gosok rambutnya ia menangkap buket bunga yang masih belum ia pegang saat itu.


Linda melihat kemudian menciumnya. Aroma khas dari bunga dapat terasa di hidungnya. Hingga tanpa sadar ada surat jatuh dari buket bunga tersebut.


Linda menaruh kembali buket bunganya ke meja belajarnya dan mengambil surat yang tak ada alamat pengirimnya kecuali namanya di akhir surat tersebut.


...****************...


"Ini yang kamu inginkan Ardan. Aku tak akan kembali lagi dengan suamiku meskipun dia sudah menyakitiku?!!"


Melihat wajah dan beberapa badan bekas pukulan dari suaminya membuat Ardan harus berpikir dua kali untuk menyuruh Lina pulang ke rumahnya.


Ia masih tetap menyakiti temannya. Ardan tak sanggup lagi harus menyuruh Lina untuk pulang. Namun, hubungannya bersama Linda akan semakin renggang.


"Trus sekarang lu maunya apa?" tanya Ardan.


"Nikahi aku Ardan, aku akan gugat cerai mas Yoga."


Ardan kaget dengan pernyataan yang diungkapkan Lina. Dia tak dapat mengabulkan permintaan Lina.


"Maaf Lina, gua ngga bisa."


"Karena sakitmu kan? Aku akan merawatmu sampai sembuh. Kalaupun Tuhan berkehendak lain aku akan ikhlas atas kepergianmu. Namun aku ingin merasakan kebahagiaan dengan pasanganku walau hanya memerlukan waktu sedikit."


Ardan terdiam tak habis pikir dengan Lina. Apa yang membuatnya terobsesi kepadanya. Bukannya Ardan sudah pernah bilang bahwa dirinya tak mencintainya.


"Gua ngga cinta sama lu."

__ADS_1


"Tolong Ardan jangan ucapkan hal itu."


"Apa yang membuat lu terobsesi kepada gua sedangkan gua ngga cinta sama lu."


"Aku suka, aku cinta, aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku ingin hidup bersama denganmu."


"Tolong jangan terobsesi kepadaku. Hatiku hanya untuk Linda. Aku ingin kamu juga dapat menemukan sosok lelaki yang baik kepadamu."


"Aku mohon Ardan nikahi aku." pinta Lina sekali lagi.


"Maaf gua ngga bisa."


Tetesan air mata jatuh dari pelupuk mata Lina. Perlahan lahan tetesan tersebut deras akan linangan air mata. Lina mengusap kasar air mata yang mengalir.


"Apa yang membuatmu suka dengan Linda?" tanya Lina.


Ardan tersenyum memikirkan Linda yang menari nari di otaknya seraya berkata.


"Jangan tanyakan apa yang membuatku suka dengan Linda tapi tanyakan kenapa harus Linda?. Kamu tahu ketika dia merawatku bak seorang ibu, ketika dia menemaniku layaknya teman, ketika memelukku layaknya kekasih. Aku bisa merasakan arti kasih sayang dari seorang Linda. Bisa merasakan arti menunggu serta kesenangan yang tak kudapatkan semasa kecil. Kini ku dapatkan dari Linda."


"Aku harus pergi Ardan." pamit Lina keluar dari ruangan kamar Ardan di rawat.


Ternyata kau masih belum menganggap diriku sebagai kekasihmu. Tuhan masih adakah orang yang menyukaiku lebih dari Ardan menyukai Linda. Tetesan air mata mengalir kembali dari pelupuk mata Linda dan segera ia pergi dari rumah sakit tersebut.


...****************...


Temui aku di cafe rembulan jam 4 sore


^^^Untukmu, Linda.^^^


Surat tersebut menyuruhnya untuk pergi ke cafe rembulan. Linda merasa terheran heran siapa yang mengirim buket bunga untuknya.


Didalam surat kecil tersebut tak ada pengirim suratnya. Setelah membaca sepucuk surat tersebut, Linda bergegas turun untuk makan karena perutnya sudah mulai keroncongan.


Ketika Linda sudah pergi untuk makan tiba tiba dering telepon dari orang tak dikenal menelponnya. Berkali kali menelpon Linda namun Linda tak pernah membawa ponselnya ke meja makan karena tak sopan. Ponselnya terus bergetar namun tak ada yang mengangkatnya.


...****************...


Bu Farda dan Pak Herman masih berdoa dengan keadaan Ardan yang kian memburuk. Mereka menunggu di ruang tunggu dengan perasaan khawatir.


"Pak, kok dokternya belum keluar juga?" tanya Bu Farda.

__ADS_1


"Tenang bu, Dokter masih memeriksa keadaan Ardan." kata Pak Herman menenangkan istrinya.


__ADS_2