Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
25. Pernyataan Dion


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu. Linda dan Dion sudah naik kelas ke kelas 12. Linda selalu melihat bangku di area parkiran yang sekarang sudah lapuk dan usang.


"Ardan. Aku rindu." gerutu Linda.


Linda berjalan menuju kelas dan sesekali memandang langit biru indah. Di bawah hembusan angin pagi dan guguran daun kering yang terkena membuat Linda merasa rileks untuk sekarang.


"Linda....." panggil Dion.


Linda menoleh ke belakang dan mendapati Dion berlari ke arahnya.


"Dion..." sapa Linda.


"Mau ke kelas. Gua anterin ya." pinta Dion.


"Boleh."


Linda dan Dion tak lagi sekelas karena aturan dari sekolah mengharuskan setiap naik kelas harus mengacak kembali nama siswa.


"Linda, kamu tahu kan sekarang kamu sekelas sama siapa?" tanya Dion di sela sela perjalanan mereka ke kelas Linda.


"Aku tahu. Sindy kan yang kamu maksud."


"Kalau kamu diganggu sama dia jangan sungkan sungkan untuk mengatakannya kepadaku."


"Iya gua tahu. Makasih ya udah perhatian."


Setelah mengantar Linda ke kelasnya, Dion pamit untuk ke kelasnya juga. Kelas Linda dan Dion berjarak satu ruangan. Jadi mungkin ngga terlalu jauh juga.


Geng wanita yang dipimpin Sindy sudah berada di kelas. Mereka tengah memperbaiki make up mereka. Linda tak ingin membuat keributan dengan mereka karena ini masih pagi banget dan Linda merasa ngga mood untuk itu.


Tak berselang lama kawanan Sindy datang dan menggebrak meja Linda.


"Kalau gua ada PR kerjain ya. Gua kagak tahu harus apa?" bisik Sindy di telinganya.


"Plis gua ngga mau diganggu pagi ini dan gua bukan babu lu." tegas Linda kepada geng wanita tersebut.


"Gila, lu masih belum taku sama kita kita." celetuk Windy dari belakang.


"Buat apa gua takut?!"


"Enaknya diapain ya biar lu takut pada kita?"


Tiba tiba si Dinda menjambak rambutku dari belakang dan membuatku mengerang kesakitan.


"Masih belum takut sama kita?" tanya Dinda dengan tegasnya.


Linda memegang tangan Dinda dan kemudian memutarnya membuat Dinda mengerang kesakitan karena ulah Linda.


"Anjrit lu, SAKIT WOI..." erang Dinda.

__ADS_1


"Apa, gua ngga denger? . Oh...masih kurang?"


Linda memutar dengan sekuat tenaga hingga Dinda menitikkan air mata karena kesakitan.


"Plis.... Lepasin gua." pinta Dinda sambil berharap untuk dilepaskan.


"DASAR ******!!!" bentak Sindy kemudian melayangkan tamparan ke arah Linda. Namun Linda langsung sigap menangkap pergelangan tangan Sindy dan juga memutarnya seperti yang dilakukan pada Dinda.


"Anjrit.... SAKIT." erang Sindy.


"Lu juga mau ikut ikutan sama mereka Windy."


Windy sedari tadi terdiam tak tahu mau apa. Windy hanya bisa memohon lepaskan kedua sahabatnya.


"Plis Nda, lepasin mereka." pinta Windy sambil memelas ke arah Linda.


Linda melepas pergelangan kedua teman Windy dan mereka kemudian menjauhi Linda pergi meninggalkan kelas.


"Bilang terima kasih kek. Ngga ada sopan santunnya." tegas Linda karena mereka bergegas pergi meninggalkan Linda.


...****************...


Dion saat itu melintasi ruang kelas Linda dan mendapati dirinya tak diganggu oleh geng wanita yang dipimpin Sindy. Malahan ia tak mendapati geng tersebut berada di kelas.


"Baiklah, situasi aman." gumam Dion.


"Dion..... Malah ngelamun disitu." panggil temannya.


...****************...


Linda merasa bosan tanpa kehadiran Ardan. Dia berpikir bagaimana caranya membangunkan Ardan. Ia masih tak bisa membuat Ardan bangun dari tidurnya.


Apakah kau nyaman sekarang Ardan bisa melihat dan memeluk ibumu. Pikir Linda.


Bel berbunyi, Linda segera mengemas barang barangnya dan pergi meninggalkan kelas. Ketika beranjak dari duduknya, ia tiba tiba ditabrak dengan sengaja oleh Sindy.


"Ups. Sorry." celetuk Sindy dan meninggalkan Linda dengan barang berantakan di lantai.


"Sabar aja Linda." gerutu Linda. Ia kembali membereskan bukunya yang tadi ditabrak oleh Sindy.


"Gua bantuin sini." ujar Dion tiba tiba datang menolongnya.


"Makasih."


Linda dan Dion sekarang terbebas dari tugas OSIS nya karena kini mereka sudah berada di kelas 12. Sekarang tugas OSIS dilanjut oleh adik kelas mereka.


Linda berjalan bersama dengan Dion pergi meninggalkan kelas dan bergegas ke parkiran.


"Apa yang membuatmu ingin sekali mengungkap gadis yang bersama dengan Ardan? Justru itu kan dapat memperburuk hubungan antara aku dan Ardan dan dapat mempermudah kamu merebut hatiku?" tanya Linda panjang lebar.

__ADS_1


"Aku sudah beberapa kali merebut hatimu namun kamu tetap selalu memikirkan Ardan. Hatimu sudah penuh dengan dirinya. Aku bisa apa Linda? Hanya bisa ikhlas kamu bersamanya. Tapi aku merasa sakit kalau kamu sedih. Saat kamu sedih karena disakiti oleh Ardan waktu itu. Aku menghampirinya dan ingin memukulnya namun aku masih menahannya."


Linda memberhentikan langkahnya dengan sengaja dan bertanya satu hal tentang Ardan.


"Bagaimana kamu tahu kalau Ardan saat itu dirawat di rumah sakit?" tanya Linda.


Anjrit gua keceplosan ngomong itu. Batin Dion.


"Eh, itu..... Aku......"


...****************...


Dion yang cukup lama mengetahui penyakit Ardan hanya bisa memeluk Linda untuk menenangkannya.


"Kenapa kau tak memberitahuku?" sambil terisak Isak Linda mengatakannya.


"Maafkan aku Linda, aku tidak bermaksud untuk tidak memberitahumu tetapi aku sudah berjanji dengan Ardan."


Linda menampar pipi Dion dengan keras dan membuat seluruh cafe melihat ke arah mereka.


"Tega lu Dion, Gua benci sama lu."


"Linda tolong dengerin penjelasanku dulu. Linda....." panggil Dion berusaha untuk menarik tangan Linda.


"Apa lagi yang ingin lu jelaskan kepada gua?. Kalau lu saat itu bertemu dengan Ardan jatuh saat hujan kenapa ngga segera hubungi gua. Kalau Ardan ada apa apa gimana? Apalagi dia mengidap kanker hati. Penyesalan gua sekarang adalah gua baru tahu Ardan berusaha untuk sembuh dari penyakit ganasnya." tutur Linda. Ia sekarang tak tahu harus marah ataukah sedih. Perasaannya campur aduk sekarang.


"Jadi kamu sudah tahu kalau Ardan mengidap kanker?" tanya Dion.


"Gua tahu dari Lina."


Dion terdiam merasa bersalah dengan keadaan Linda sekarang yang seperti orang bersalah karena tak mengetahui seluk beluk Ardan.


"Maaf Linda, gua sudah tahu lama. Saat ia tiba tiba pingsan dirumahnya. Dan kau menyuruh gua untuk mengantarnya."


"Gila kau Dion, gua benci sama lu." Linda bergegas pergi meninggalkan Ardan di pinggir jalan.


Aku tahu pasti Linda akan begini. Maaf Linda tak mengatakannya dengan jujur kepadamu. Batin Dion.


...****************...


Linda memesan taxi dan pergi ke arah rumah sakit dimana Ardan dirawat. Didalam taxi Linda menangis sesenggukan.


"Bodoh kau Linda, Bodoh." marah Linda kepada dirinya sendiri sambil memukul mukul kepalanya.


Ardan kenapa kau membuatku seperti orang jahat. Apakah kau tidak percaya lagi kepadaku? Padahal aku yang selalu khawatir terhadapmu.


Linda melihat dengan tatapan kosong ke arah pemandangan kota yang akan gelap karena sudah hampir malam.


Linda mengeluarkan ponselnya mengabari orang tuanya agar tak mencarinya.

__ADS_1


|| Pa, saat ini aku mengunjungi Ardan sebentar nanti aku pulang agak malam. ||


__ADS_2