Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
18. Surat


__ADS_3

Lina masuk ke dalam ruangan Ardan. Disana ia melihat Ardan menatap kosong ke arah jam dinding berukuran sedang yang tertempel di hadapan Ardan.


Lina masuk kemudian duduk di kursi kecil di sebelah Ardan.


"Berapa lama aku akan bertahan?" tanya Ardan tak lepas melihat jam dinding di depannya.


Lina tampak diam tak ingin menjawab pertanyaan Ardan karena ia juga tak tahu ingin menjawab apa.


"Kenapa kamu kembali lagi?" tanya Ardan.


Manik hitam milik Ardan menoleh ke arah sang gadis yang masih terdiam tak menjawab satu pertanyaan dari Ardan.


...****************...


Linda sampai dengan wajah sembap karena baru kali ini ia disakiti oleh seorang lelaki. Linda keluar dari taksi dan pada saat itu Papanya sudah berada di depan teras sedang menyeruput kopi buatan istrinya.


Melihat anaknya berantakan dengan pakaian kemarin malam yang belum sempat ganti membuat papanya terkejut setengah mati.


Papanya berjalan mendekati sang anak dan menanyakan apa yang terjadi pada dirinya.


"Ada apa nak. Kok berantakan gini?" tanya papanya.


Pertanyaan itu tak digubris oleh anaknya yang tiba tiba beranjak pergi menuju ke dalam rumah dengan langkah kaki terseok seok seperti malas untuk berjalan.


"Pak, uang taksinya belum dibayar." lapor pak supir kepada papanya.


Papanya lekas merogoh sakunya untuk mengeluarkan beberapa lembar uang.


"Ini, makasih ya." sambil memberikan uangnya kepada pak supir.


"Sama sama pak." Pak supir mengendarai mobilnya kembali meninggalkan rumah mewah milik Linda.


Setelah membayarkan ongkos anaknya, papanya beranjak pergi menanyakan kembali kepada anaknya apa yang sebenarnya terjadi.


Di dalam rumah istrinya masih melihat lantai atas dan tadi ia juga berusaha menanyakan apa yang terjadi pada anaknya namun tetap tak digubris oleh Linda.


Didalam kamar, Linda menutupi dirinya dengan guling hingga kembali menangis. Tetesan air mata mengalir deras dari pelupuk matanya menbuat guling yang ia dekap basah akan hal itu.

__ADS_1


Linda berusaha mengambil ponselnya di meja kecil sebelah tempat tidurnya. Linda membuka chat chatan dia dulu bersama Ardan. Menghapus dan memblokirnya.


Untuk saat ini, aku butuh waktu Ardan untuk melupakanmu.


Ketukan pintu dari arah luar membuat manik hitam Linda lekas menoleh ke arah pintu. Ia begitu malas untuk membukanya.


"Linda, buka pintunya. Ini Dion." kata Dion dari arah luar kamar Linda.


"Pergi. Gua butuh sendiri dulu. Gua ngga mau di ganggu." teriak Linda dengan suara serak akibat menangis.


Di luar Dion tak bisa menenangkan Linda yang menangis sesenggukan di dalam kamarnya. Dion bergegas turun dari tangga dan pamit kepada kedua orang tua Linda. Dion berjalan cepat kearah motornya. Melajukannya kembali. Ia mengendarai motornya dengan cepat menembus kemacetan dan keramain kota.


10 menit perjalanan akhirnya ia tiba di rumah sakit. Ia kemudian berlari menuju ruangan dimana Ardan di rawat. Disana Dion melihat Ardan tengah disuapi makan oleh wanita di sebelahnya. Dion membuka pintunya dengan kasar dan berjalan cepat menghampiri mereka berdua.


"Dasar lelaki buaya. Gua sudah bilang jangan dekati Linda. PAHAM!!!" bentak Dion membuat seisi ruangan menggelegar akibat suara kerasnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Ardan.


"Kalau lu ngga bisa jaga Linda. Jangan lu sakiti hatinya. Kalau lu ngga terbaring disini, gua sudah pukul lu sampai babak belur." cerca Dion.


"Maksud lu apaan sih?. Gua ngga paham"


"Minggir gua mau ngomong sama Linda." Ardan ingin beranjak dari tempat tidurnya namun dihadang oleh Lina.


"Kamu masih sakit Ardan." kata Lina memegang lengan Ardan.


"Ini lu bilang ngga ada apa apanya. KALIAN BERDUA MEMANG BRENGSEK." bentak Dion mendorong tubuh Ardan ke arah tempat tidur kembali.


Dion beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Diujung pintu ia sempat memberikan kata kata perpisahan untuk Ardan.


"Lebih baik lu pikirin amalan lu. Dah cukup belum masuk surga." ejek Dion sambil memiringkan mulutnya (smirk).


Dion pergi meninggalkan mereka. Di ujung koridor ia sempat berpapasan dengan Pak Herman dan Bu Farda namun tak di gubris oleh Dion.


Pak Herman masuk bersama dengan istrinya. Mereka menangkap tubuh Ardan tegap menggunakan jaket yang selalu ia pakai saat sekolah. Ardan melepas infus paksa infus yang menempel di tangannya.


"Ardan mau kemana nak?" tanya Bu Farda.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang harus Ardan selesaikan." tegas Ardan mengambil kunci motor di atas nakas rumah sakit.


Pak Herman menghadang Ardan untuk pergi.


"Balik." kata Pak Herman mengambil paksa kunci motor yang Ardan pegang.


"Tapi pak. Ardan ada urusan sebentar saja."


"Bapak ngomong apa tadi. Balik. Tidur di ranjangmu sekarang." tegas Pak Herman.


Pak Herman tak mendengar penjelasan selanjutnya dari Ardan. Ia mendorong tubuh Ardan kembali ke ranjang tidurnya.


"INI SEMUA GARA GARA LU!!" bentak Ardan kepada Lina yang sedari tadi terdiam di sebelah ranjang tidur Ardan.


"Apa maksudmu Ardan? Aku ngga paham." kilah Lina.


"Lu sudah jadi istri orang masih aja nemuin gua. Linda jadi berprasangka buruk tentang kita."


"Apa ngga boleh mengunjungimu? Ini juga termasuk bentuk kasih sayangku terhadap kamu."


"Rasa sayang gua cuma untuk Linda. Paham. Lu aja yang terlalu ke geer an." tegas Ardan.


"Sudah sudah. Ardan istirahat sekarang!" pinta Pak Herman.


Ardan melepas paksa jaket yang ia kenakan dan melemparkannya ke arah sofa kecil di hadapannya. Ardan bergegas tidur kembali namun sambil membelakangi mereka semua karena muak.


...****************...


Malam hari menjelang, Ardan sendirian di ruangannya sekarang. Ia melihat ke arah jendela. Terlihat bulan bersinar terang hingga sinarnya menembus jendela ruangan Ardan.


Terduduk manis tak henti hentinya melihat bulan purnama di malam itu. Ardan mendapati sebuah buku catatan di atas nakasnya. Ia kemudian menulis sebuah surat untuk Linda. Jikalau dia tak dapat lagi menemuinya.


Dear Linda. Wanita pertamaku.


Linda, kau adalah wanita pertama yang sangat aku cintai. Kepribadianmu mirip sekali dengan ibuku yang tak suka dikekang. Aku ingin sekali hidup bersama denganmu. Aku ingin sekali membalas "Iya" pada saat kamu mengutarakan cintamu. Sungguh aku sangat menyukaimu ketika pertama kali kau memandangku di ruang UKS. Aku tau kamu menatapku pada saat itu. Namun aku malu untuk menatapmu balik, karena kamu sangat cantik. Hal itu membuat rona wajahku memerah dan aku harus menunduk untuk menyembunyikannya. Linda, aku harus apa ketika Tuhan tak mengizinkan aku untuk membalas cintamu?. Apakah aku harus bilang bahwa Tuhan sangat jahat kepadaku atau Tuhan sangat menyayangiku hingga membuatku harus bertemu dengannya lebih cepat. Aku selalu berdoa untuk diberi jatah waktu lebih lama untuk kuhabiskan bersamamu. Namun Tuhan berkehendak lain. Andaikan saat itu aku mengutarakannya secara langsung. Mungkin kamu sekarang ngga akan menangis menyesali hari ini. Maafkan aku Linda, aku tak ingin menyakitimu dengan penyakitku ini. Cukup Tuhan saja yang tau. Maafkan aku Linda aku sangat egois kepadamu karena aku tidak mau bidadari cantikku menangis mengasihani aku. Aku tak perlu belas kasihanmu yang aku perlukan cuma kasih sayang dan cintamu untukku. Aku takut kamu akan khawatir terus terhadapku.


Maafkanlah aku Linda. Sebenarnya aku hanya cinta denganmu tak ada yang lain. Tolong percayalah kepadaku. Surat ini aku tulis jika kita sudah tak dapat bertemu lagi di dunia ini. Aku menunggumu Linda disurga bersama ibu. Akan ku kenalkan dirimu kepada ibuku. Jangan nangis ya cantik. Aku ngga akan meninggalkanmu. Aku selalu berada disisimu. Maaf ya aku pergi ngga ngajak kamu.

__ADS_1


Ardan.


__ADS_2