
Linda sampai di bandara. Mencari cari keberadaan Dion. Hingga menerobos masuk ke arah check in. Hingga penjaga disana memberhentikan langkah Linda untuk mencari Dion.
"Mbak mohon maaf. Anda tidak bisa masuk sebelum anda menunjukkan tiket anda." ucap penjaga tersebut.
"Maaf tapi saya ingin mencari teman saya dan saya tak memiliki tiket."
"Mohon maaf mbak. Tanpa tiket anda tidak diperbolehkan masuk."
"Tapi sebentar saja pak." melas Linda.
"Maaf mbak tetap ngga bisa."
Linda kembali dengan rasa bersalah di dirinya. Dia ingin meminta maaf karena rasa bersalahnya karena menolak dan tak menghiraukan Dion selama ini. Linda mencoba menghubungi ponsel Dion namun tak dijawab.
"Dion tolong jawab teleponku." tangis Linda pecah karena tak dijawab ponselnya oleh Dion.
Dari balik kaca, sebuah pesawat sudah meluncur meninggalkan Bandara. Linda berharap itu bukan pesawat yang ditumpangi Dion.
Dion kamu dimana?
...****************...
Rasa sakit terus membuncah dalam diri Ardan. Hingga ia tak dapat untuk bangkit kembali dari tempatnya. Helai rambutnya rontok secara terus menerus.
Bu Farda melihat kesakitan Ardan hanya dapat menguatkannya juga mendoakannya supaya Ardan bisa melaluinya.
"Ibu.." lirih Ardan memanggil Bu Farda.
"Iya nak. Kenapa apa kamu perlu sesuatu?" tanya Bu Farda.
"Ardan......ingin nanti ibu jangan nangis ya..." Ardan berusaha mengatur napasnya.
"Ardan..... ngga akan meninggalkan ibu yang sudah mengasuh Ardan. Jika ibu rindu sama Ardan nanti peluk aja nisan Ardan...." melas Ardan.
"Ardan..... bakalan peluk ibu balik....." ucap Ardan sambil menahan kesakitannya.
"Iya ibu ngga bakalan nangis kok, kalau nanti Ardan pergi. Ibu tahu nanti kamu disana ngga bakalan kesakitan lagi. Ardan bakal sehat disana. Ibu bangga karena punya anak sepertimu nak. Yang sudah berjuang sampai sekarang. Makasih sudah berjuang untuk Ibu dan juga bapak." kata Bu Farda sambil memeluk tubuh Ardan yang sudah lemah di ranjangnya.
"Ibu....... tolong panggil bapak..... kesini..." pinta Ardan.
Bu Farda bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya yang tengah membeli makanan untuk Ardan.
Tak berselang lama, Pak Herman datang membawa pesanan Ardan yang menginginkan bubur untuk dimakan.
"Ardan, ini bapak sudah belikan bubur untuk kamu. Kamu harus makan ya." ujar Pak Herman sambil menenteng bubur yang ia beli tadi.
Ia bergegas menuju ke ranjang Ardan dan segera membuka bungkus bubur. Menyuapkan bubur tersebut ke arah mulut Ardan. Ardan menerima suapan bubur dari tangan Pak Herman.
__ADS_1
Setelah memakan suapan dari Pak Herman, Ardan menggenggam tangan hangat bapaknya seraya berkata "Makasih pak. Sudah menjadi orang tua yang Ardan dambakan......."
"Sama sama nak. Bapak juga makasih karena Ardan mau bertahan sampai sekarang. Ardan boleh pergi dengan tenang sekarang." lirih suara Pak Herman ke telinga Ardan.
Tarikan napas berat dari Ardan membuat Pak Herman tak kuasa menahan tangisnya.
"Bapak sama ibu....... Jaga diri baik baik ya.......Ardan...... tunggu di sana........" ujar Ardan mulai terbata bata.
La ila ha illa Allah
Ucapan terakhir dari Ardan dan elektrokardiografi di samping ranjangnya mengeluarkan bunya bip............
...****************...
Linda masih mencari keberadaan Dion namun sampai saat ini masih belum diketemukan batang hidungnya.
Dering telepon membuatnya harus berhenti untuk mencari keberadaan Dion.
"Assalamualaikum." jawab Linda.
Namun di seberang sana hanya ada suara tangisan dari Bu Farda. Bu Farda berusaha untuk berbicara kepada Linda.
"Waalaikumsalam." Ucap Bu Farda terbata bata.
"Ibu kenapa? Apa ada sesuatu bu." tanya Linda.
"Ardan nak... Ardan...." katanya.
Linda tak mau berprasangka buruk karena takut itu tidak benar. Linda mencoba untuk berpikir jernih sekarang.
Ternyata apa yang dipikirkan tak sesuai harapan. Dibalik pintu Linda melihat tubuh Ardan sudah tertutupi oleh selimut putih.
Linda berharap bahwa ini hanya mimpi saja. Langkah kaki Linda berjalan perlahan ke arah tubuh Ardan yang sudah terbujur kaku di ranjangnya.
"Ardan.... Ardan...." Panggil Linda. Tapi tak ada respon dari pemilik nama tersebut.
"Nak kamu harus kuat." ucap Pak Herman menepuk bahu Linda.
Linda mencoba kuat untuk membuka selimut yang menutupi tubuh tersebut.
Semoga bukan Ardan. Batin Linda.
Linda membuka selimut putih perlahan lahan dan mendapati wajah yang familiar terbaring di ranjang.
Tangis Linda pecah kala ia mengenali sosok dibalik selimut tersebut. Ardan. Dia sudah pergi meninggalkan dia.
Linda tak kuasa untuk berdiri hingga ia terduduk lesu tak berdaya. Menumpahkan segala macam kesedihan yang ada.
__ADS_1
Sosok kekasih yang selalu mendampinginya kini telah tiada. Bahkan orang yang Linda harap dapat menguatkan hatinya sekarang juga sudah pergi ke negara lain.
Tuhan, cobaan apa yang engkau timpakan kepada hamba...
...****************...
Taburan bunga sudah memenuhi gundukan tanah atas nama Ardan Prasetya. Linda menabur bunga bunga ke arah gundukan tersebut. Satu persatu khalayak pergi meninggalkan kuburan tersebut. Hingga tersisa orang tuanya, orang tua asuh Ardan serta Linda sendiri.
Linda mengusap nisan yang terpampang nama Ardan.
"Ardan aku membawa bunga dandelion yang kamu berikan." kata Linda sambil menahan tangisannya.
"Katanya kamu ingin aku membebaskam bunga dandelion yang ku kurung agar mereka bisa tumbuh dengan sempurna di dunia ini."
Linda menancapkan bunga dandelion tersebut ke gundukan tanah milik Ardan. Tiba tiba hembusan angin semilir datang dan menerbangkan benih benih bunga dandelion tersebut.
Linda kembali berdiri dan mamanya mencoba menguatkan perasaan anaknya sekarang.
"Ardan aku pamit ya. Nanti aku akan sering sering datang menjengukmu."
...****************...
Setelah kepergian keluarga Linda juga Ardan. Lina datang membawa setangkai bunga. Berjalan ke arah gundukan yang masih basah dengan tulisan nama Ardan terpampang di nisannya.
Lina duduk di dekatnya dan meletakkan bunga yang ia bawa ke gundukan tanah tersebut.
"Ardan, kenapa kamu ngga pamit sama aku. Aku tahu kamu ngga menganggap aku pentingkan?" tangisan Lina pecah hingga mengenai bajunya sendiri.
"Maaf, di hari terakhirmu aku ngga mengunjungimu." Lina menyeka air matanya kasar.
"Padahal aku ingin memberikan kabar gembira untukmu." Lina memasang wajah bahagia dan mengelus perut yang kini ada nyawa hidup di dalam rahimnya.
"Kamu bakal punya keponakan." ucap Lina kembali.
"Namun Mas Yoga belum menyadari bahwa aku hamil anaknya. Aku mencoba menghindarinya agar ia tak menyakiti anak ini."
Lina bangkit kembali dari duduknya. Menyapa temannya untuk terakhir kalinya.
"Aku pamit ya Ardan. Aku bakalan balik lagi dan memberitahumu perkembangan keponakanmu didalam rahimku."
Lina pergi meninggalkan makam Ardan. Kini Ardan sudah kembali lagi ke pelukan ibu kandungnya.
...****************...
Maafkan aku Linda. Aku tak pamit kepadamu karena aku tak ingin kau menangisi kepergianku. Ini memang jalanku untuk berusaha move on darimu. Ini bukan salahmu, aku yang memilih jalanku sendiri. Aku akan kembali menemuimu ketika hatiku sudah siap untuk menerimamu. Jaga diri baik baik ya Linda.
^^^Dion^^^
__ADS_1
Surat yang dikirim Dion membuat Linda menangis sejadi jadinya. Di kamar dengan dominasi warna putih dan pink tersebut. Linda menjerit namun tak mengeluarkan suara.
Kehidupan yang diharapkan Linda kini sudah hancur bagaikan debu yang berterbangan tak tentu arah. Hilang sudah orang yang selalu menemaninya. Bunga mawar pemberian dari Dion kini layu dan mati.