
Disana ia mendapati Lina tengah menemani Ardan di sebelahnya. Linda masuk dan segera bergabung untuk menemani Ardan juga.
"Kenapa kau disini?" tanya Linda.
"Mau menjaga amanat dari Bu Farda untuk menemani Ardan disini." jawab Lina.
"Bagaimana dengan suamimu, apakah dia tak mencarimu?"
"Dia pasti tahu kalau aku menjenguk Ardan dan aku tak memedulikannya."
Terlihat banyak luka lebam di wajah Lina kayak bekas tamparan dan pukulan.
"Apakah kamu baik baik saja?" tanya Linda.
"Tolong, jangan usik aku. Aku lagi ngga mood untuk berbicara panjang lebar sekarang."
Linda dan Lina tak berbincang sama sekali pada malam itu. Mereka menatap ke arah wajah Ardan yang terkulai lemas tak berdaya di atas ranjangnya.
Mereka berharap bahwa ada keajaiban datang untuk membangunkan Ardan.
Suara detak jantung Ardan dan suara jam dinding menemani malam mereka di ruangan dengan dominasi warna putih tersebut.
...****************...
"Maaf, aku harus pergi sekarang." pamit Linda kepada Lina yang masih menatap intens wajah Ardan.
Lina hanya membalasnya dengan anggukan dan Linda segera keluar ruangan tersebut untuk bergegas pergi.
Namun ketika diambang pintu, Lina sempat menanyakan tentang bunga dandelion yang dikasih Ardan kepada Linda.
"Bunga yang sempat dikasih Ardan, apakah sudah berubah?" tanya Lina tanpa menoleh sedikitpun ke arah Linda.
"Sudah." jawab Linda singkat.
"Baiklah, itu saja pertanyaan gua. Lu boleh pergi sekarang!." pinta Lina.
Linda pergi dari ruangan Ardan namun hatinya merasa berat karena jauh dari Ardan.
...****************...
Pagi menjelang, suasana sepi kerap kali menghantui Linda. Dia sekarang sudah berada di kelas. Setelah perbuatan Linda saat itu, Hari ini geng wanita tersebut tidak mengganggunya.
Linda melamun menatap langit biru melalui jendela kelasnya.
Kini suasana sepi menemaniku. Tak ada Dion yang dapat diajak bicara, bahkan Ardan masih terbaring lemah di ranjang. Siapa yang dapat disalahkan dalam kejadian ini. Aku, Dion, Ardan, ataukah Tuhan?.
"Linda....." panggil Dion di ambang pintu kelasnya.
"Dion..." jawab Linda.
Linda menjawab lantas berdiri menghampiri Dion. Namun sontak Dion pergi seperti debu. Ternyata Linda menghayal saat itu.
__ADS_1
Tuhan bolehkah aku memiliki takdir yang indah? Aku mengharapkan hal itu.
...****************...
"Maaf, alat bantu yang terpasang di tubuh pasien bernama Ardan harus segera dilepas sekarang." ucap si dokter.
"Tapi dok. Anak saya belum menunjukkan tanda kesadarannya." kata Pak Herman mencoba membujuk dokter.
"Mohon maaf pak. Ini sudah hampir 1 bulan dan perkembangan Ardan masih sama saja. Apalagi sekarang dia mengidap kanker hati yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Suster tolong lepaskan sekarang!" pinta dokter tersebut kepada suster yang menemaninya saat itu.
"Baik dok." jawab suster tersebut.
"Tolong dok. Jangan dicabut dulu saya yakin anak saya bakalan siuman."
...****************...
Linda berjalan untuk menemui Ardan. Ia berharap bahwa ada perkembangan yang cukup pesat dari tubuh Ardan.
"Kakak baik...." panggil Alan.
Linda berbalik badan ke arah anak kecil di belakangnya.
Alan berlari ke arah Linda sambil melebarkan tangannya seperti ingin di peluk oleh Linda. Linda menerima pelukan dari Alan.
"Kenapa kakak ngga pernah kesini?. Aku kangen sama kakak." ucap Alan tak melepaskan pelukannya ke Linda.
"Maaf ya. Kakak juga ada kesibukan lain." kilah Linda. Padahal banyak sekali masalah yang membuatnya pusing sekarang.
Alan melepas pelukannya dan mulai bercerita ke Linda.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu."
"Kakak, ternyata dongeng itu nyata. Aku percaya akan keajaiban dongeng."
"Alan...." panggil seorang ibu dari kejauhan.
"Yaudah kak. Aku mau pergi dulu." pamit Alan.
"Hati hati ya Alan."
"Iya kak."
Alan berlari ke arah ibunya dan Linda kemudian pergi melanjutkan perjalanannya ke arah ruangan Ardan.
Disana Linda melihat Bu Farda sedang memohon mohon kepada dokter disana.
Linda masuk dan membuat semuanya sejenak menoleh ke arah ambang pintu.
"Dokter apakah saya boleh bicara sebentar dengan Ardan dan keluarganya?"
"Baiklah saya kasih waktu 20 menit. Setelah itu saya akan melepas semua alat yang ada di tubuh pasien."
__ADS_1
Dokter dan suster tersebut lantas pergi meninggalkan ruang rawat.
Linda bergegas mendekati Ardan. Menaruh keranjang berisi buah dekat nakas Ardan.
"Ardan aku mohon bangunlah." pinta Linda.
Ardan aku sebenarnya kurang percaya akan dongeng namun kau tahu anak yang ku ceritakan tentang dongeng putri tidur. Ia mempraktekkan kecupan keningnya ke ayahnya dan ayahnya sekarang siuman. Ardan aku mohon semoga dongeng itu benar. batin Linda.
"Nak, makasih ya sudah membawakan Ardan buah." kata Bu Farda.
"Iya bu. Maaf Bu apakah saya boleh diberi privasi dengan Ardan saja."
Linda ingin menceritakan tentang putri tidur kepada Ardan dan mencoba mengecup keningnya. Namun Linda tak dapat melakukannya di depan Pak Herman dan Bu Farda. Dia cukup malu.
"Boleh. Kalau begitu bapak sama ibu pamit ke depan dulu ya. Nanti setelah selesai tolong kasih tahu ibu atau bapak ya." ucap Bu Farda.
Setelah Pak Herman dan Bu Farda pergi meninggalkan Linda dan Ardan berdua di ruangan, Linda memulai menceritakan tentang putri tidur kepada Ardan.
...****************...
"Ibu, bolehkah aku pamit sebentar untuk menemui Linda?" pamit Ardan.
"Baiklah nak. Ibu izinkan."
Ardan bergegas berlari ke arah kabut putih di sebelah taman tempatnya bertemu dengan ibunya tadi.
Tiba tiba ada tangan yang menarik Ardan untuk menjauh dari kabut tersebut. Ardan tak tahu siapa dia. Yang jelas ia berjubah putih.
"Kalau kamu mau kembali sekarang. Jatah waktu kamu akan terpotong." ujar si jubah putih tersebut.
"Trus aku harus menunggu berapa lama lagi untuk menemui Linda?"
"10 tahun ke depan namun kau tak akan mengingatnya lagi. Juga saat itu penyakitmu akan sembuh secara ajaib."
"Ngga, aku ngga mau. Aku ingin bertemu dengan Linda sekarang." bantah Ardan.
Ardan bergegas pergi ke arah kabut tersebut namun si jubah putih langsung menghentikan Ardan dengan ucapan bahwa ia akan mati 1 bulan ke depan.
"Oke. Kalau kamu ingin bertemu Linda sekarang, kamu akan mati dalam 1 bulan."
Ardan berbalik ke si jubah putih dan berlutut dihadapannya.
"Tolong berikan aku waktu lebih lama lagi." pinta Ardan memelas.
Si jubah putih tersebut memikirkan kembali perkataannya.
"Maaf ini sudah kehendak dari Allah." ucap si jubah putih meninggalkan Ardan sendiri.
"Baiklah kalau itu mau kamu! Aku akan tetap pergi meskipun kau kasih aku jatah waktu singkat."
Ardan berdiri kembali dan bergegas ke arah kabut putih tersebut. Sontak Ardan tersadar dan kembali ke ruangan rumah sakitnya.
__ADS_1
Si jubah putih yang melihatnya nampak sedih karena dia menyia nyiakan kesempatannya.
"Seandainya kamu tahu waktu di akhirat tak sama dengan waktu di dunia. 10 tahun yang ku maksud sama dengan 3 bulan di dunia." ucap si jubah putih dari balik kabut tersebut.