
"Sayang.... " timang timang seorang ibu.
"Mas, anak kita ganteng sekali ya. Aku mau memberinya nama Ardan." ucap sosok perempuan.
"Ardan.... Bagus sayang emang artinya apa?" tanya lelaki dihadapannya.
"Tanda. Tanda kesuksesan buat kamu dan buat kita semua."
"Amin semoga saja ya sayang. Ardan sayang....." lelaki tersebut kemudian menimang nimang anak lelakinya yang baru saja lahir.
Tiba tiba kabut putih tebal menutupi kebahagian di mimpi Ardan.
"Ibu, Ayah, Jangan tinggalin Ardan."pinta Ardan.
"Ardan..... Ardan ....... Bangun sayang ini Ibu." ucap Bu Farda.
"Ibu.....Bu Farda." tatih Ardan karena sekarang ia memakai ventilator di hidungnya.
"Ardan..... Ingin....... Linda......"kata Ardan sambil tertatih.
"Sudah sudah, Ardan harus istirahat ya. Nanti kalau sudah sembuh boleh ketemu sama Linda."Kata Bu Farda.
Sementara itu, Pak Herman tengah memanggil manggil dokter yang tadi memeriksa anaknya.
Tak berselang lama, dokter datang dengan perawat memeriksa tubuh Ardan.
"Ibu sama bapak di mohon keluar sebentar ya. Dokter akan memeriksa anak bapak sama ibu." ucap perawat tersebut mengusir secara halus.
Pak Herman dan Bu Farda keluar agar dokter bisa memeriksa Ardan yang sudah ia anggap anaknya.
Tak lama dokter keluar membawa beberapa surat dan menyerahkannya ke Pak Herman.
"Jadi pasien bernama Ardan mengidap kanker hati stadium 4 dan para dokter tak dapat menyelamatkannya. Karena kanker tersebut sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Jikalau dapat pendonor pun untuk operasinya keberhasilannya hanya 0,1 persen. Untuk sekarang pasien Ardan membutuhkan kemoterapi."
Mendengar pernyataan dokter, Bu Farda tak sanggup menopang tubuhnya. Ia terduduk dengan lunglai.
"Ibu, ibu harus sabar dulu ya."ucap Pak Herman menenangkan istrinya.
"Untuk biaya kemoterapi sudah ada didalam map itu pak. Kalau bapak ingin membayar biayanya, silahkan bapak ke resepsionis. Saya pamit dulu ya pak."
Dokter tersebut pergi serta di ikuti perawat di belakangnya.
"Gimana pak?. Ardan tak ingin di kemoterapi padahal itu dapat meminimalisir penyebaran kankernya." tangis Bu Farda pecah karena dulu Ardan sempat diperiksa dan disuruh kemoterapi namun ia menolak dengan mentah mentah.
"Kita coba bujuk lagi ya. Semoga saja hatinya melunak."
Bu Farda tak henti hentinya menangis di lorong rumah sakit. Pak Herman hanya menyediakan bahu untuk istrinya meluapkan kesedihannya.
...****************...
__ADS_1
Linda membanting pintu utama dan menutupnya kembali. Untung saja rumahnya sepi. Linda bergegas ke kamar mandi karena bajunya basah kuyup akibat kehujanan. Kondisinya sangat menyedihkan dengan mata sembap dan baju lecek habis kehujanan.
Linda bergegas mandi dan berganti pakaian. Kesedihannya masih tak bisa dihilangkan dengan mandi. Ia masih tengkurap ditutupi guling dan menangis tersedu sedu meluapkan semuanya. Hingga ia tertidur dengan keadaan tersebut.
"Linda, maafin aku. Bukan maksudku untuk menyakitimu. Tolong maafkan aku."
Tiba tiba tangan yang digapai oleh Ardan perlahan menghilang menjadi sebuah debu. Berterbangan dan menghilangkan, meninggalkan Linda sendirian.
Linda terbangun dengan muka bercucuran keringat. Ia kemudian bangun dan mengambil jaket di samping pintu dan segera memesan taksi untuk ia naiki. Sampailah Linda di depan rumah minimalis. Dia kemudian berlari mengedor pintu utama.
"Ardan..... Ardan.... Ardan buka pintunya." pinta Linda namun tak ada jawaban dari sang pemilik rumah.
Linda lupa membawa ponselnya. Ia hanya membawa uang seadanya. Ia berpikir sejenak menenangkan hatinya di depan rumah Ardan. Linda langsung ada ide untuk pergi ke warung Pak Herman.
"Oh ya mungkin saja. Dia berada di warung Pak Herman."
Linda bergegas memesan taksi kembali dan menunggu taksi jemputannya di depan rumah Ardan. 15 menit menunggu akhirnya taksi yang ia pesan sampai di depan rumah Ardan.
Taksi tersebut kemudian melaju meninggalkan rumah Ardan.
Didalam mobil taksi yang ia tumpangi, Linda tak henti hentinya memanjatkan doa semoga ia dapat bertemu dengan Ardan.
Namun setelah sampai di depan warung Pak Herman. Linda mendapati warung baksonya tutup.
"Pak tunggu sebentar ya disini." pinta Linda kepada pak supir supaya ia tak mencari cari taksi lagi.
"Assalamualaikum pak. Bapak lihat Pak Herman yang jualan bakso disana." tanya Linda sambil menunjuk ke arah warung yang tutup.
"Oh Pak Herman. Tadi saya lihat Pak Herman sama istrinya tergesa gesa. Entah mau kemana?. Tapi yang saya dengar tadi kalau nak Ardan kecelakaan gitu. Saya ngga bisa memastikannya kalau berita itu benar apa tidak. Yang jelas tadi Pak Herman dan istrinya......"
Mendengar nama Ardan, Linda bergegas pamit ke tukang parkirnya.
"Saya pamit dulu pak." pangkas Linda dan bergegas pergi masuk kembali ke taksi yang semenjak tadi menunggunya.
"Anak ngga tahu terima kasih. Kalau bisa kasih minum dong. Pegal nih ngoceh trus." sindir tukang parkir setelah melihat mobil taksi melaju cepat.
Linda meminta pak supir untuk mengantarnya kearah rumah sakit terdekat. 25 menit perjalanan, akhirnya Linda sampai di depan rumah sakit.
"Ini pak, makasih ya." ucap Linda sambil menyodorkan beberapa lembar uang.
"Neng, neng."panggil pak supir kepada Linda yang untungnya belum sampai jauh dari tempat mobil terparkir sekarang.
Linda yang dipanggil segera kembali ke mobil taksi yang ia tumpangi.
"Uangnya kurang neng." kata pak supir.
"Haduh pak. Maaf saya hanya membawa uang segitu. Gini aja bapak kasih saya nomer bapak nanti saya transfer uang ke bapak."
"Gimana sih neng. Saya ngga mau tahu, neng harus membayar penuh untuk uangnya. Ngga ada utang mengutang."
__ADS_1
"Maaf pak hanya ini yang saya punya."
Tiba tiba seorang wanita memberikan uang kepada pak supir tadi.
"Ini pak. Saya bayar kurangnya."
"Nah gini dong. Makasih neng. Cantik cantik kagak bisa bayar gimana sih." sindir pak supir kepada Linda.
Mobil taksi tersebut kemudian melaju meninggalkan dua orang wanita di pinggir jalan.
"Makasih ya. Nanti aku ganti uangnya." Linda terkejut melihat apa yang ada dihadapannya sekarang. Seorang wanita yang sangat familiar berdiri di sebelahnya. Wanita yang kemarin memeluk Ardan begitu eratnya.
Tampak wanita tersebut tersenyum manis ke arahnya seperti tak terjadi apa apa pada dirinya.
"Iya. Gimana kalau kita kenalan? Yulina Fahma panggil aja Lina." tanya Lina sambil menjabat tangan Linda.
"Alinda Agustina. Panggil aja Linda."
Mendengar nama yang dilontarkan oleh perempuan disebelahnya membuat Lina melepas paksa jabat tangannya.
"Linda. Nama kamu Linda." cibir Lina.
"Iya."
"Boleh kita ke bicara di cafe itu." ajak Lina.
"Tapi saya..."
"Saya traktir." Lina pergi duluan dengan Linda di belakang membututinya.
Lina dan Linda masuk ke cafe depan rumah sakit dan memesan apa yang ada di menunya. Linda hanya memesan kopi karena ia tak mau merepotkan Lina.
"Ngga mau nambah lagi?" tanya Lina.
"Makasih itu saja." jawab Linda.
Lina dan Linda belum membuka obrolan mereka hingga pesanan yang mereka pesan sampai di meja mereka. Setelah pelayan meninggalkan mereka Linda mencoba membuka obrolan.
"Kenapa kamu ajak saya ke cafe ini." tanya Linda.
Lina menyeruput kopinya terlebih dahulu kemudian menjawab pertanyaan Linda.
"Tolong jauhi Ardan." pinta Lina sambil menggoyang goyangkan cangkir kopi yang ia pegang.
Linda menatap sinis ke arah Lina. Ia masih tak menyangka perubahan sifat yang sangat drastis dari perempuan didepannya.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku tahu kau menatapku." tutur Lina tak menatap balik Linda. Ia masih menatap cangkir kopi yang ia pegang.
"Kenapa kau menyuruhku menjauhi Ardan?" tanya Linda.
__ADS_1