
Bel berbunyi, Ardan bergegas pergi menjemput Linda di kelasnya namun tak disangka ia bertemu Linda bersama dengan Dion. Ardan memberanikan diri menghampiri Linda.
"Linda." sapa Ardan.
Linda bergegas pergi ke arah Ardan. Dion melihat Linda berlari menuju bajingan itu.
Dia lagi. Batin Dion
"Lu kenapa ke sini?" Bentak Dion menghampiri Ardan dengan memegang kra baju Ardan.
"Ardan, apa apaan sih kamu." Bentak Linda kepada Dion.
Dion masih memegang kra baju milik Ardan.
"Lu kenapa sih deketin dia." Tanya Dion kepada Linda.
"Kenapa?!! Masalah buat lu. Gua juga pingin punya teman selain lu." Linda mempertajam pandangannya kepada Dion.
"Kenapa harus dia?. Banyakkan teman lain yang mau berteman sama kamu." melas Dion.
"Jangan pernah ikut campur urusan gua. Ngerti kamu. Lepasin dia Dion!" pinta Linda, mengajak Ardan pergi menjauh dari Dion.
Linda menarik tangan Ardan sambil ngedumel sendiri.
"Dih, kenapa emangnya?. Suka suka gua dong mau berteman sama siapa?." gerutunya.
Di tempat parkiran, Ardan melepas tangan Linda dengan paksa.
"Linda, maafin aku. Kita batalin aja ya rencanaku." Ucap Ardan.
"Loh kenapa?. Ada yang salah kah?. Atau kamu sungkan sama Dion. Udah ngga usah dipikirin Dion emang orangnya terlalu posesif kayak gitu." Beber Linda.
"Bukan begitu. Aku........"
"Sudah cukup. Aku ngga butuh alasan kamu. Pokoknya ajak aku sekarang." pinta Linda.
Linda mendorong tubuh Ardan untuk segera ke parkiran mengambil motornya. Tak berselang lama, ia datang menunggangi motornya. Kemudian berhenti tepat di hadapan Linda.
"Ayo" ajak Linda.
Ardan melajukan motornya meninggalkan sekolahan dan ke warung Pak Herman. Sesampainya disana, ia disambut dengan banyak pelanggan yang mengunjungi warung Pak Herman.
"Nah, sudah sampai. Kamu mau kan makan di tempat kayak gini?" tanya Ardan merasa sungkan karena tempatnya yang begitu ramai.
"Ngga papa kok kalau ada kamu." gombal Linda.
Linda mendapati wajah Ardan yang memerah seperti tomat.
"Ardan, kamu sakit?" tanya Linda khawatir.
"Ngga kok. Ayo ku kenalkan kamu pada seseorang." ajak Ardan sambil menggandeng tangan Linda.
Mereka menerobos kerumunan pelanggan yang tengah mengantri. Disana ia mendapati Pak Herman dan Bu Farda sibuk dengan dagangan mereka. Ardan lalu membantu Bu Farda. Tak disangka Linda juga ikutan membantu untuk meringankan beban pekerjaan mereka.
__ADS_1
Untungnya Linda sudah terbiasa dengan hal itu, karena ia selalu terlibat langsung ketika OSIS mengadakan acara bazar makanan.
Satu persatu mangkok dan plastik, Linda masukkan bahan penyedap serta selada. Ardan kebagian tugas menuangkan kuah bakso kedalam plastik maupun mangkok.
Jam menunjukkan pukul 7 malam. Berkat bantuan Linda kerumunan pelanggan jadi teratasi dengan cepat. Posisi warung saat itu sudah cukup lenggang dari pelanggan.
Ardan memperkenalkan Linda kepada Pak Herman juga Bu Farda.
"Kenalin pak, Linda." ucap Ardan.
"Oh ibu pernah liat kamu dimana tuh?. Ibu lupa." balas Bu Farda sambil mengingat ingat kembali.
"Di pemakaman ibu kandungnya Ardan. Dulu dia perwakilan OSIS yang mengatakan kepada bapak kalau ibunya Ardan kecelakaan." Kata Pak Herman yang tiba tiba muncul di belakang istrinya sambil membawa semangkok bakso.
"Ini untuk Linda. Bakso spesial." lanjut Pak Herman memberikan semangkok bakso panas untuk Linda.
"Makasih pak." Balas Linda
"Eh, justru kami yang harus bilang terima kasih kepada Linda." ujar Bu Farda.
"Ayo dimakan. Enak loh bakso buatan Pak Herman." ucap Ardan.
Linda memakan bakso buatan Pak Herman dan ternyata enak banget. Linda tak tahan untuk tidak berhenti menguyah bakso Pak Herman walaupun sebentar.
"Gimana enak kan?" tanya Bu Farda.
"Enak bu." Balas Linda.
"Kapan kapan mampir lagi ya kesini."
Ardan melihat Bu Farda juga Pak Herman sangat nyaman dengan keberadaan Linda. Hingga Linda akhirnya pamit karena sudah sangat malam.
"Kalau begitu. Linda pamit dulu ya bu, pak." pamit Linda sambil mencium kedua punggung tangan mereka.
"Iya hati hati." jawab Bu Farda.
"Ardan, mau nganterin Linda dulu ya pak, bu." ucap Ardan dibalas anggukan dari keduanya.
Pak Herman dan Bu Farda lanjut melayani para pelanggan dan Ardan mengantar Linda untuk pulang.
Diatas motor dengan menikmati malam yang bertabur bintang. Linda merasakan senang hari ini. Ia tak ingin hari ini berakhir begitu saja. Ia berharap dapat berduaan selamanya dengan Ardan.
"Ardan, makasih ya kamu sudah membuat aku bahagia." Kata Linda.
"Sama sama." jawab Ardan.
Mereka saling menikmati malam tersebut. Hingga tanpa sadar, Linda memeluk punggung Ardan dari belakang. Ardan merasakan kehangatan yang disalurkan dari pelukan Linda.
"Linda, kalau aku pergi. Kamu gimana?" Tanya Ardan.
"Pergi kemana? Aku bakalan ikut." jawab Linda.
"Tapi tiketnya sisa 1 gimana?" usil Ardan
__ADS_1
"Bodo amat. Aku bakalan masuk ke dalam kopermu." canda Linda.
"Tapi kalau aku pergi ngga bawa apa apa gimana?" tanya Ardan lagi.
"Ih kamu mah. Pokoknya aku harus ikut. Titik." Tegas Linda.
Linda merasa jengkel dengan pertanyaan Ardan hingga ia tak menghiraukan Ardan dan masih memeluk tubuh kekarnya. Melintasi langit malam yang begitu cerah.
Seandainya kamu tahu Linda. Kelak aku bakalan pergi darimu. Apakah kamu siap kehilangan aku?" Batin Ardan.
15 menit perjalanan, Mereka sampai di depan rumah Linda. Linda kemudian menyodorkan helm yang ia pakai tadi kepada Ardan.
"Makasih ya udah nganterin?"
"Sama sama."
"Oh ya yang tadi. Emang kamu mau pergi kemana?"
"Yaudah aku pamit ya. Salam kepada orang tuamu." ucap Ardan tak menjawab pertanyaan Linda.
Ardan menghidupkan kembali motornya dan melajukannya meninggalkan Linda di depan rumahnya.
"Sebenarnya dia mau kemana?" gumam Linda sendirian.
Linda kemudian masuk rumahnya. Ia mandi dan berganti pakaian. Untungnya besok seragamnya ngga dipakai lagi. Karena bau kecut habis bantuin Ardan tadi. Linda membuka ponselnya dan mencari kontak Ardan. Ketika asik mencari, tiba tiba notifikasi muncul di berandanya dan itu dari Dion.
|| Tolong, jauhi dia ||
^^^|| Kenapa? Iri ya kamu. Kalau iri bilang. ||^^^
|| Pokoknya jauhin dia. Dia bakal nyakitin kamu ||
^^^|| Aku ngga bakal ninggalin Ardan begitu saja. ||^^^
Linda tak jadi mengirim pesan kepada Ardan karena moodnya rusak karena pesan dari Dion.
"Kenapa sih, aku ngga dibolehin dekat sama Ardan. Padahal Ardan baik." gerutunya sambil membanting ponselnya ke arah bantal disebelahnya.
...****************...
Malam tampak indah. Ardan kembali ke warung bakso Pak Herman dan membantu Bu Farda kembali.
"Nak, tolong anterin bakso ini ke meja situ. Bapak kebelet bentar." Ujar Pak Herman berlalu begitu saja.
Ardan menggantikan tugas Pak Herman sebentar dan menyajikan bakso ke pelanggan.
"Ini mbak, makanannya." ucap Ardan.
"Makasih."
Kedua manik mereka saling bertatapan dan merasa kaget satu sama lain.
"Lina" sapa Ardan.
__ADS_1
"Ardan" balas wanita yang bernama Lina.