
"Mama kok malah bengong." cerca Linda.
Mamanya mematikan kompornya dan segera mendekati anaknya. Duduk di sebelah Linda yang tengah memotong sayuran.
"Nak, Tolong jangan dekati Ardan." celetuk mamanya tiba tiba
"Kenapa ma?"
"Kamu harus mencari lelaki yang sehat nak. Plis dengerin mama."
"Tapi kenapa ma?
"Pokoknya jangan." ucap mamanya berdiri dan melakukan aktivitasnya kembali.
Linda merasa kesal dengan mamanya lekas pergi ke luar rumahnya. Menutup pintu dengan sangat keras hingga mamanya dapat mendengarnya di area dapur.
"Jangan pernah merasakan rasa sakit yang dulu sempat mama rasakan." gumam mamanya sambil melakukan kembali aktivitas memasaknya.
Linda bergegas pergi ke taman belakang rumahnya. Merasakan angin sepoi menembus kulit hingga tulangnya. Linda melamun akan hal yang tadi diucapkan oleh Ardan.
...****************...
Pov : Saat Linda bersama Ardan di taman rumah sakit.
"Kenapa kau mengirim surat untukku?" tanya Linda.
"Agar aku tidak mati sia sia saat ajal sudah menjemputku." jawab Ardan dengan ringannya.
"Emang kamu mau pergi tanpa memikirkan perasaanku?" tanya Linda kembali.
"Mungkin saat itu kau akan merasa lega karena cintamu tidak bertepuk sebelah tangan."
"Tapi tanpa adanya seorang yang dicintai itu jadi sia sia. Sakit bakal di rasakan."
"Tapi tak sesakit saat perjuanganmu hanya dianggap sebagai teman ataupun saudara kan?"
...****************...
Linda langsung teringat perihal dirinya dengan Dion waktu itu. Linda terdiam seketika saat itu.
Apakah aku terlalu jahat kepada Dion? Batin Linda.
Linda kemudian membuka ponsel yang sedari tadi ia bawa. Mengecek apakah ada pesan masuk darinya. Hingga manik mata Linda tertuju dengan nama "Dion" di ponselnya.
Sesaat pikirannya beralih memikirkan Dion yang pernah ia tolak mentah mentah cintanya.
...****************...
"Ardan, kamu sudah makan nak?" tanya Bu Farda.
__ADS_1
"Sudah bu. Tadi sama Linda makan bareng." jawab Ardan sambil sumringah wajahnya.
"Kenapa kamu sumringah gitu?" tanya Pak Herman yang tengah membetulkan selimut Ardan.
"Ngga papa pak."
"Sudah berhasil nembak cewek yang kamu suka?" tanya Pak Herman sambil berbisik.
Ardan tersenyum merona tak bisa menahan kegembiraanya sekarang.
Melihat anaknya tersenyum begitu membuat beban kesedihan Bu Farda berkurang. Entah kenapa senyum yang terulas di bibir Ardan membuatnya ingin sekali memperjuangkan kesembuhan Ardan. Meskipun dia bukanlah anak kandungnya namun Bu Farda menyayanginya bak anak kandungnya.
...****************...
Linda masih membuka chat atas nama Dion. Ia ingin mengirim pesan kepadanya. Namun Linda tak tahu harus memulai darimana. Ia terus menerus mengetikkan kata tapi selalu dihapus kembali.
Tiba tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk bahunya dan membuat Linda berjengkit terkejut.
"Linda." ucap mamanya.
"Mama?! Buat aku terkejut saja." balas Linda.
"Maaf." jawab mamanya
Lantas mamanya berjalan untuk duduk disebelah anaknya. Menggenggam tangan kiri Linda.
"Mama mau minta maaf soal tadi yang tiba tiba bentak kamu." melas mamanya.
"Mama, tahu kalau kamu sangat cinta padanya. Mama juga tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Jujur saja, mama juga pernah merasakan hal tersebut. Mama sangat cinta kepada seseorang. Namun mama tak dapat menggenggam tangannya kembali karena dia sudah pergi." buliran air mata tak sengaja menetes ke tangan Linda.
Mamanya melanjutkan kembali perkataannya setelah berhenti sejenak untuk mengusap air matanya.
"Saat itu mama sangat terpuruk. Hingga mama kemudian bertemu papamu dan dia menerima mama juga masa lalu mama."
"Bagaimana mama bisa mengatasi masalah mama saat itu. Bukankah kehilangan seseorang yang dicinta sangat menyakitkan?"
"Mama mencoba semangat karena papa kamu selalu membuat mama bahagia. Hingga tanpa sadar kamu hadir di kehidupan mama dan papa. Saat itu mama jarang memikirkan dia. Namun saat kamu hadir nak. Mama sangat terkejut karena kamu mirip sekali dengannya."
"Karena dia tak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya." ucap lelaki di belakang mereka. Ternyata itu adalah papanya.
"Papa?!, sejak kapan papa berdiri disitu?" tanya Linda. Sedangkan mamanya mengusap kasar pelupuk matanya yang basah akibat air mata.
Papanya menghampiri kedua wanita yang sangat ia sayangi. Duduk bersama mereka dan melihat langit sore yang indah.
"Papa tahu kalau mamamu masih memikirkan dia. Namun papa masih tetap menerima mama."
Papanya menatap netra hitam anaknya.
"Kamu anak kandung papa. Namun wajahmu mirip dengannya. Papa sempat curiga kalau kamu bukan anak papa. Tapi saat jari kecilmu memegang tangan papa untuk pertama kalinya. Entah kenapa papa seperti mempunyai hubungan denganmu. Waktu berlalu begitu cepat kini anak papa tumbuh dewasa. Hingga dia bisa menolak permintaan mamanya dan tetap memilih setia dengan Ardan."
__ADS_1
Senyuman terulas di bibir papanya dan membuat kedua wanita dihadapannya juga tersenyum melihatnya.
"Walaupun begitu. Mamamu tak ingin kamu merasakan kesakitan yang dulu mama rasakan. Iya kan ma?" ucap kembali suaminya.
Sang istri hanya mengangguk dan memeluk anak kesayangannya. Papanya pun sontak mencium kening kedua wanita kesayangannya dan juga memeluknya.
Matahari terbenam perlahan lahan dari ufuk barat dengan disaksikan keluarga bahagia yang masih memeluk satu sama lain.
...****************...
Dion memandang langit malam. Ribuan bintang serta bulan nampak bercahaya pada malam itu.
"Dion, koper kamu sudah siap?" tanya papanya dibalik pintu.
Dion segera memandang papanya di balik pintu.
"Sudah pa." jawab Dion.
"Baiklah, besok jangan sampai terlambat. Tiket pesawatmu sudah papa pesankan."
"Baik pa."
Papanya menghampiri Dion dan menepuk bahu anaknya.
"Apakah kamu siap untuk pergi? Padahal tinggal beberapa bulan lagi kamu akan lulus."
"Papa, jangan khawatirkan aku. Aku bakalan baik disana. Aku memang baru naik ke kelas 12 namun disana aku bakal bisa mengejar kembali ketertinggalanku."
"Baiklah. Papa percaya padamu. Yaudah kamu lekas tidur besok harus bangun pagi."
"Iya pa." jawab Dion.
...****************...
Linda melangkahkan kakinya ke arah kelas. Hingga tiba tiba seluruh penghuni kelas menatapnya dengan tatapan penuh keheranan.
Linda tak menghiraukan tatapan tersebut dan lanjut berjalan ke arah mejanya.
Windy menarik kursi Linda hingga menbuatnya terjatuh. Seluruh kelas menoleh dan banyak yang menertawakan dirinya.
"LU APA APAAN SIH WIN!!, gua sampai mau terjungkal gara gara lu." bentak Linda.
"Oh sorry. Gua kan ngga sengaja." cerca Windy.
"Lu tuh ya bener bener buat gua marah pagi pagi gini." dengan bringasnya Linda menarik kra baju milik Windy.
"LEPASIN GUA!!. Gua yang seharusnya marah sama lu. Kenapa lu buat semua wanita patah hati akibat ulah lu?"
"Apa maksud lu?"
__ADS_1
Linda bergegas pergi meninggalkan kelas dan berlari menuju bandara. Dia tak menghiraukan perkataan semuanya tentang dirinya. Bahkan panggilan dari satpam sekolah tak dapat menghentikannya.
Dion, aku mohon jangan pergi.