
Di siang hari yang terik, seorang anak laki laki duduk dibangku taman sendirian. Ia melihat kegembiraan seorang anak yang tengah berpiknik bersama ayah dan ibunya. Mereka tampak bahagia walaupun cuaca sangat terik. Sang Ayah bermain kejar kejaran dengan anak perempuannya. Hingga tak disangka anak perempuan tersebut terjatuh akibat tersandung batu. Ardan bangun dari duduknya dan menghampiri anak tersebut.
"Kamu ngga papa?" tanya Ardan
Ardan melihat ada bekas luka di lutut dan sikunya. Ayahnya kemudian menghampiri mereka berdua.
"Sayang, kok bisa jatuh?"
Ayahnya menggendong anak perempuan tersebut ke ibunya yang tengah menyiapkan makanan untuk mereka makan.
"Astaga sayang, kamu kenapa?" tanya ibunya.
"Habis jatuh tadi." jawab sang anak.
Melihat anak perempuan tersebut digedong, Ardan sontak berlari meninggalkan mereka. Ardan kembali menuju rumahnya. Tak ada orang tua sebagai tempat curahan cerita. Hanya ada para pembantu yang selalu merawatnya.
"Tuan Ardan sudah kembali, dari mana aja tuan?" tanya pembantunya.
Ardan tak menyahuti dan kembali ke kamarnya. Ia menangis di meja belajarnya. Ia butuh pelukan dari orang tuanya namun tak ia dapatkan. Orang tuanya sibuk mencari harta hingga tak menyempatkan untuk bermain bersama Ardan.
Ardan sungguh iri melihat anak perempuan tadi. Ia juga ingin merasakan hal seperti itu. Bermain bersama ayah dan ibunya.
Ardan menangis hingga tertidur di meja belajarnya.
Ketika Ardan sudah terlelap cukup lama dalam tidurnya tiba tiba ia merasakan rasa sakit di bagian ulu hatinya. Rasanya seperti tercabik cabik. Ardan memanggil manggil pembantunya namun ia tak kunjung datang. Ardan berusaha untuk tidur kembali, agar meredakan kesakitan yang ia rasa sekarang.
Hingga tak sadar bahwa ia tertidur cukup lama. Pukul 9 malam ia bangun. Ia tak lagi merasakan sakit di bagian ulu hatinya namun ia merasakan rasa lapar. Ardan pergi ke dapur. Dia melihat sisa makanan yang sudah dimakan oleh orang tuanya. Ia memakannya untuk mengurangi rasa lapar.
Seorang pembantu memergoki Ardan kecil sedang makan di atas meja makan yang sudah ingin ia bersihkan.
"Loh tuan Ardan, mau mbak masakin yang baru tuan?" tanya pembantu tersebut.
"Ngga usah. Aku makan yang ada saja." jawabnya.
Pembantu tersebut kemudian pergi membersihkan meja yang lainnya dan juga menunggu Ardan selesai makan.
...****************...
Pagi menjelang. Ardan berangkat ke sekolah diantar oleh sopir pribadinya. Namun saat ini Ardan ingin diantar oleh ayahnya.
"Ayah, anterin aku ke sekolah ya." melas Ardan kepada ayahnya.
"Nak, ayah lagi makan dan sebentar lagi ayah ada rapat dengan klien. Maaf ya nak hari ini papa sibuk banget jadi ngga bisa anterin kamu."
"Untuk kali ini saja, ayah anterin aku." melas Ardan sekali lagi.
"Ardan!! Kalau kamu gini trus kamu bakalan telat. Sudah diantar pak supir saja." Bentak ayahnya kemudian beranjak pergi meninggalkan meja makan.
__ADS_1
Ardan marah dan berlari melalui pak supir yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Tuan Ardan!!" panggil pak supir.
Namun tak digubris oleh Ardan yang berlari secepat kilat meninggalkan rumah mewahnya.
Pak supir kemudian mengejar Ardan namun umurnya yang sudah berkepala 5 membuatnya tak bisa mengejar Ardan kecil. Pak supir langsung melaporkan kejadian ini pada Tuannya.
"Tuan maaf, tuan Ardan tadi pergi berlari meninggalkan saya begitu saja."
Sontak Nyonya besar keluarga tersebut berdiri dan marah kepada pak supir.
"Kok bisa! Kamu cari anak saya sampai ketemu."
"Ma, sudahlah Ardan itu anak laki laki. Biarkan dia pergi sendiri."
"Tapi pa...."
"Ma!! Duduk!!" bentak suaminya.
Mendengar bentakan dari suaminya, sang istri hanya bisa menurut saja apa yang diperintahkan suaminya.
...****************...
Ardan berlari dengan menangis sesenggukan karena bentakan papanya. Ia kemudian berhenti di trotoar jalan dan duduk termenung sambil memandang jalanan. Mobil sedan tiba tiba saja berhenti tepat di depan Ardan. Sang empunya kemudian membuka jendela mobilnya dan nampak seorang ayah dan anak perempuan yang kemarin ada di taman memergokinya.
"Kamu kenapa?" tanya sang anak begitu polosnya.
Ardan kecil tak menjawab namun Ardan menundukkan kepalanya untuk menutupi kesedihannya. Anak perempuan tersebut memberikan sapu tangan warna biru ke Ardan.
Dengan sesenggukan Ardan menerima sapu tangan tersebut dan mengucapkan "Terima kasih."
"Sama sama." jawab si gadis kecil.
"Seragam kita sama. Jadi sekolah kita sama. Bareng aku aja yuk?" ajak si gadis tersebut.
Di dalam mobil, Ardan diam dan tak banyak bicara. Si gadis tersebut juga diam ingin ngomong banyak takut ngga enak sama Ardan. 15 menit perjalanan sampailah mereka di sekolah permata indah. Ardan turun duluan disusul gadis kecil tersebut. Ayah dari sang gadis juga ikut turun.
"Nak, janji ya sama papa. Ngga boleh na........"
"Nakal" balas si gadis antusias.
Ayahnya kemudian memeluknya sebentar dan mencium kedua pipi mungil anaknya.
"Papa berangkat kerja dulu ya."
"Oke pa."
__ADS_1
Ayahnya kemudian meninggalkan mereka di depan gerbang sekolah mereka.
Anak perempuan tersebut langsung memberikan jabat tangan kepada Ardan.
"Aku Lina. Kamu siapa?"
"Ardan" jawab Ardan.
...****************...
Ardan tak menyangka akan bertemu sosok gadis yang ia goda waktu kecil. Lina namanya. Gadis dengan paras cantik serta bulu mata lentik juga ekspresi wajah yang tak pernah menyiratkan kesedihan. Selalu menyemangati Ardan ketika dia terpuruk. Kini gadis tersebut berada dihadapannya dan tanpa aba aba Lina bangun dan memeluk Ardan begitu kuat seperti tak ingin dilepaskan.
"Ardan, kamu baik baik saja?" tanya Lina dalam pelukan Ardan.
"Aku baik Lina. Kamu apa kabar?" tanya Ardan dalam pelukan Lina.
"Aku juga baik." bisik Lina ke telinga Ardan.
Lina melepaskan pelukannya dan melihat Ardan dari atas sampai bawah.
"Kamu berubah Ardan." ucap Lina
Lina mendekat dan membisikkan sesuatu kembali ke telinga Ardan.
"Tambah ganteng." bisik Lina.
Ardan menjawabnya dengan senyuman hangat terulas di bibirnya.
"Makan dulu. Baksonya nanti keburu dingin." kata Ardan menunjuk bakso yang sedari tadi berada di meja.
"Okey. Kapan ada waktu?. Aku mau cerita lebih banyak sama kamu."
"Kalau nanti ada waktu kosong. Aku segera mengabarimu." jawab Ardan kemudian melenggang pergi meninggalkan Lina yang ingin memakan baksonya.
Ardan kembali ke pekerjaannya kembali membantu Bu Farda di dapur. Ketika Ardan kembali, untung saja Pak Herman sudah kembali dari kamar mandi.
"Makasih ya Ardan sudah gantiin bapak."
"Sama sama pak."
Mata Ardan tiba tiba berkunang kunang. Ia tak fokus memasukkan bakso ke dalam mangkok. Bu Farda mengetahui kalau Ardan mungkin kecapekan.
"Ardan. Kamu istirahat dulu saja. Biar sisanya ibu yang urus." pinta Bu Farda.
"Baiklah bu. Makasih." Ardan pergi duduk dan menyenderkan kepalanya sejenak untuk meringankan sakit kepala yang tiba tiba datang.
Namun Ardan tak bisa menopang kembali tubuhnya. Ia pingsan disana dengan darah yang keluar dari hidungnya.
__ADS_1