
Dion melihat tubuh Ardan tergelatak tak berdaya di lantai. Melihat muka cemas Linda yang terus menerus menggoyang goyangkan tubuh Ardan tetapi tak ada respon darinya membuat Dion langsung sigap menggendong tubuh Ardan dibantu oleh Linda.
Mereka mendudukkan tubuh Ardan di motor sport milik Dion dan mengikatnya dengan selimut ke tubuh Dion agar tak jatuh. Dion menyalakan motornya.
"Linda kamu gimana?" tanya Dion
"Lu ngga usah pikiran gua, yang paling penting Ardan dapat sadar dulu." jawab Linda.
"Tapi lu?"
"Pliss Dion untuk kali ini saja, jangan pikirin gua. Tolong bawa Ardan ke rumah sakit sekarang. Kalau terjadi apa apa sama Ardan, gua ngga akan maafin lu." Pinta Linda.
Dion melajukan sepedanya meninggalkan Linda sendirian di teras rumah Ardan. Linda tak habis akal, dia langsung kembali menuju kamar Dion untuk mengambil kunci sepeda motor sportnya juga mengambil jaket motor milik Ardan.
Linda sangat cocok dengan jaket milik Ardan, namun agak kebesaran di tubuhnya.
Linda memakai helm milik Ardan dan mengendarai motornya yang ada di teras rumah. Melajukan sepeda motornya menembus langit senja menyusul Dion.
Dion menurunkan badan Ardan dan menggendongnya dari belakang. Memanggil manggil dokter dan suster disana agar menyelamatkan Ardan.
Dua orang perawat laki laki membawa brankar dan bergegas membawa Ardan untuk menuju ruang UGD.
"Tolong mas tunggu dulu disini."
Salah satu perawat kemudian menutup pintu ruang UGD. Dion menunggu di bangku rumah sakit sambil sesekali melihat ke arah luar.
Linda kok belum nyusul juga ya. Batin Dion
Tiba tiba seorang dokter keluar dan menanyakan keberadaan keluarga Ardan.
"Keluarga pasien Ardan."
Dion bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter tersebut.
"Anda keluarga pasien?"
"Saya temannya dok. Gimana keadaan teman saya?"
"Dia ngga papa. Tapi ada masalah dalam hati pasien."
"Maksud dokter?"
"Teman anda terkena kanker hati stadium 3."
"Apa??!!"
Dion tersentak kaget mendengar apa yang ia dengar dari dokter yang memeriksa Ardan.
"Kanker hati dok."
"Iya. Jadi harus terus dipantau kesehatannya karena kanker hatinya sudah menjalar keseluruh organ hatinya. Juga harus terus menerus melakukan kemoterapi. Kalau gitu saya permisi dulu." tutur dokter tersebut setelah itu pergi meninggalkan Dion.
Dion masuk menemui Ardan di dalam yang tengah melihat langit langit rumah sakit sambil berbaring di ranjangnya.
"Lu ngga papa?"
Ardan menoleh sejenak kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke langit langit rumah sakit.
__ADS_1
"Kenapa lu bawa gua kesini? Gua ngga mau berada disini. Gua ngga mau diperiksa. Lebih baik gua tidur dirumah. Sakit ini bisa hilang dengan sendirinya nanti." kesal Ardan.
"Lu ngga waras apa? Gua dan Linda tadi nemuin lu tergeletak di lantai. Ngga bilang terima kasih malah menggerutu sendiri." bentak Dion.
"Linda, kenapa dia kesini?"
Dion ingin menjawab namun orang yang dicari akhirnya muncul dari balik pintu.
Seorang wanita datang menggunakan jaket milik Ardan. Linda berlari menuju ranjang milik Ardan dan segera memeluknya.
"Lu ngga papa kan? Ada yang sakit ngga?" Linda melepas pelukannya dan melihat lihat sekujur tubuh Ardan.
"Gua ngga papa Linda. Lu kenapa kesini?" tanya Ardan.
"Gua......gua......" jawabnya terbata bata.
"Dia mencemaskanmu." papar Dion.
Linda menoleh sejenak ke Dion dan kembali menatap Ardan.
"Makasih sudah mencemaskanku." ucap Ardan.
Pipi Linda tiba tiba merona karena apa yang diucapkan Ardan kepadanya. Dia tidak bisa menyembunyikan rona wajahnya dihadapan Ardan. Linda senyum senyum sendiri dibuatnya.
"Linda, lu ngga papa kan?" tanya Ardan yang melihat rona wajah Linda memerah bak tomat.
Linda masih tak menyadari bahwa Ardan bertanya kepadanya.
"Linda......"
Tiba tiba bahunya di tepuk oleh Dion dan itu membuatnya langsung tersadar dari lamunan indahnya.
"Lu ngelamun tadi." jawab singkat Dion.
"Oh ya. Tadi kata dokter gimana?" Linda mengalihkan pembicaraan.
"Dokter tadi bilang kalau Ardan..." kata kata Dion langsung diputus oleh Ardan.
"Kalau gua hanya kecapekan aja Linda." potong Ardan. Ardan memberikan kode kepada Dion untuk merahasiakan tentang penyakitnya pada Linda.
"Oh syukurlah kalau begitu." Linda kemudian mengambil kursi dan duduk disebelah ranjang Ardan.
Dering telepon dari ponsel Dion membuatnya harus keluar sebentar untuk menjawab telepon tersebut.
"Gua keluar dulu sebentar ya."
Linda menjawabnya dengan anggukan tetapi Ardan hanya diam melihat Dion pergi dari tempatnya.
"Apakah kamu ada hubungan dengan dia?" Ardan menunjuk Dion dengan memajukan dagunya.
"Apaan sih kamu. Aku memang ada hubungan sama Dion. Dia itu kuanggap saudaraku sendiri karena ayah kita dulunya adalah teman akrab semasa SMA." Beber Linda malah menceritakan kedekatannya dengan Dion.
"Syukurlah." gerutu Ardan.
"Kamu bilang apa?" tanya Linda karena tak mendengar apa yang tadi diucapkan Ardan.
"Ngga. Bukan apa apa" jawab Ardan
__ADS_1
"Linda ayo kita pulang. Orang tuamu mencarimu sekarang." Dion menghampiri ranjang Ardan kembali dan membawa Linda untuk pulang.
"Ngga, aku ngga mau pulang." rengek Linda kepada Dion.
"Pulanglah Linda, hari sudah mulai semakin gelap." Ujar Ardan
Linda yang semula tidak mau langsung menuruti kata kata Ardan untuk pulang.
"Ardan, jaga diri kamu baik baik ya." pamit Linda sambil merapikan selimut Ardan.
Ardan mengangguk kemudian mereka pergi meninggalkan Ardan sendirian di rumah sakit.
Ia hampir lupa sekarang waktunya Ardan bekerja di warung bakso milik Pak Herman sekarang. Kalau ia tidak bekerja maka dia tidak akan mendapatkan upah untuk membayar tagihan listrik dan air di rumahnya serta kebutuhannya sehari hari.
Ardan menunggu beberapa menit agar Linda dan Dion segera pergi dari rumah sakit tersebut. Setelah itu, Ardan bangkit dari tidurnya walaupun masih merasakan sakit tetapi tak separah tadi. Ardan melepaskan infus yang tertancap di tangannya dan bergegas meninggalkan ruang UGD tersebut.
Sebelum itu, ia harus membayar tagihan rumah sakitnya jadi dia berhenti di meja resepsionis rumah sakit.
"Suster atas nama pasien Ardan. Jumlah tagihannya berapa ya?" tanya Ardan kepada suster yang berjaga.
"Ah.. Atas nama pasien Ardan untuk tagihannya sudah dilunasi oleh temannya mas." jawab suster tersebut.
"Makasih ya sus."
Ardan beranjak meninggalkan meja resepsionis dan beranjak ke parkiran. Untungnya kunci motornya ditinggal Linda di atas meja kecil disebelah ranjangnya.
Ardan menyalakan sepedanya dan melajukannya menuju warung bakso milik Pak Herman.
Suasana disana sama seperti biasanya. Ramai sekali dengan banyak pekerja pabrik yang sedang istirahat sejenak sambil makan di warung Pak Herman.
"Assalamualaikum pak."
"Waalaikumsalam nak. Segera tolong ibumu didapur. Jawab Pak Ardan tak memalingkan wajahnya karena ia sedang melayani para pembeli.
"Siap pak."
Nampak Bu Farda sangat kesusahan mengurus pesanan yang menumpuk dari pelanggan. Ardan langsung terjun membantu Bu Farda. Kedatangan Ardan membuat Bu Farda tak kewalahan sendirian mengurusi pesanan pelanggan.
Setelah warung nampak sudah lenggang dengan keramaian pembeli. Seperti biasa Bu Farda memberikan makan kepada Ardan sebelum pulang dan ia pulang duluan karena jarak rumah Pak Herman dan Bu Farda tak jauh dari warungnya.
Tinggalah Pak Herman dan Ardan berdua di warung. Setelah membersihkan mangkok mangkok kotor, Ardan duduk menyantap bakso yang sudah disajikan olehnya.
"Nak"
"Iya pak" jawab Ardan
"Kalau kamu punya masalah atau apapun itu. Bapak siap untuk mendengarnya dan kasih solusi untukmu. Karena kamu sudah bapak anggap seperti anak bapak sendiri." beber Pak Herman seolah olah dia tahu bahwa Ardan punya masalah dalam kehidupannya.
"Iya pak." sambil terus menyantap baksonya.
"Jangan bikin bapak menyesal karena tak tahu masalah yang kamu hadapi nak."
Tak terasa Ardan makan dengan tetesan air mata yang terus menerus jatuh di mangkok baksonya. Baru kali ini dia mendapatkan kasih sayang orang tua yang selama ini tak ia dapatkan. Dulunya ayah kandungnya gila dengan pekerjaan hingga menelantarkan Ardan sendirian. Juga ibunya yang gila dengan kerja karena suruhan ayahnya.
Ardan ditemukan oleh Pak Herman ketika ia masih berumur 7 tahun dan menangis di trotoar sendirian. Kemudian Pak Herman mengajak Ardan ke warungnya dan itulah kisahnya kenapa dia bisa sampai bekerja di warung Pak Herman. Pak Herman dan Bu Farda lama sekali tidak di karunia anak hingga memasuki umur dimana Bu Farda dinyatakan manoupuse.
Pak Herman tak merasa kecewa kepada Bu Farda. Mungkin suatu saat dia menemukan anak yang dapat dia asuh bersama istrinya. Doanya merasa dikabulkan ketika Pak Herman menemukam Ardan kecil menangis di trotoar.
__ADS_1
Melihat Ardan menangis tersedu sedu, Pak Herman memeluk tubuh Ardan seperti memeluk anaknya sendiri. Mulut Ardan menguyah makanan tetapi matanya mengeluarkan air mata tak henti hentinya.