
Jam sekolah pada saat itu berjalan cukup lancar. Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar untuk segera pulang ke rumahnya masing masing.
Linda membereskan barang barangnya kemudian beranjak pergi untuk pulang. Tiba tiba tangan Linda ditarik oleh Dion yang pada saat itu juga lagi berbenah untuk pulang.
"Gua anterin pulang ya." pinta Dion.
"Kagak usah gua bisa pulang sendiri." lontar Linda kemudian dia pergi meninggalkan Dion sendirian.
Linda pergi sendiri tanpa ada Dion. Dulu mereka sangat dekat banget tetapi karena omongan dan gunjingan dari semua siswa membuat mereka harus menjaga jarak hari ini.
...****************...
Ardan berjalan menuju parkiran dengan sempoyongan memegang ulu hatinya yang terasa sakit sekali. Ardan mencoba untuk kuat supaya bisa membaringkan tubuhnya di kasurnya. Tetapi ulu hatinya malah semakin sakit sekali hingga wajahnya berubah pucat pasi.
Linda yang melihat dari kejauhan seseorang yang berjalan sempoyongan membantunya yang hampir saja terjatuh. Dia membopong tubuh tersebut ke tempat duduk area parkiran. Dia melihat sekilas ternyata orang yang dibantunya adalah Ardan.
"Ardan, masih sakit ya?" melihat wajahnya yang pucat pasi membuat Linda semakin khawatir.
Ardan tak mengubris perkataan Linda karena ia tak ingin terlihat lemah di depan perempuan.
"Lu duduk aja di sini." ucap Linda mendudukkan tubuh Ardan yang sudah lemas di sebuah bangku di parkiran.
Linda merogoh tasnya dan mengambil air minumnya untuk Ardan.
"Lu minum dulu ya." Resah Linda karena wajah Ardan malah semakin pucat.
Ardan yang sedari tadi tidak memikirkan apa yang mau dilakukan gadis itu hanya bisa menuruti perintah gadis tersebut.
"Gua anter lu ke rumah sakit ya." pinta Linda merasa khawatir dengan keadaan Ardan.
"Ngga usah. Gua mau pulang aja." jawab Ardan sambil menahan kesakitannya.
Ardan berdiri dari tempat ia duduk kemudian beranjak pergi meninggalkan Linda. Tetapi hal itu membuat ulu hatinya semakin sakit hingga dia pingsan.
Linda berlari mendekat ke arah Ardan dan membangunkan Ardan.
"Ardan, bangun.... Ardan bangun......" kata Linda berusaha menbangunkan Ardan.
Setengah sadar Ardan bangun kembali dari pingsannya.
"Gua anterin pulang ya." pinta Linda.
Ardan terpaksa mengiyakan perkataan Linda dan memberikan kunci sepeda motornya karena dia sangat tidak kuat sekarang. Ardan tak memikirkan apakah gadis ini bisa mengendarai sepeda sportnya.
Untungnya Linda tahu bagaimana caranya mengendarai sepeda sport karena dia selalu diajari oleh Dion untuk menyetir sepeda sport.
__ADS_1
Linda membopong kembali tubuh Ardan untuk mendekat ke arah motornya. Linda menaiki motor tersebut dan menyalakannya. Ardan naik ke motornya.
"Lu pake aja helmnya. Gua lagi pusing..." ujar Ardan.
Linda langsung memakai helm Ardan dan melajukan sepedanya meninggalkan parkiran sekolah.
Ardan bersandar di punggung gadis tersebut sambil menahan dirinya agar tidak pingsan.
Dengan lihainya, Linda melajukan sepeda motor milik Ardan menembus langit senja yang indah.
Tak berselang lama mereka akhirnya sampai di rumah mewah namun minimalis. Warna yang disuguhkan oleh rumah tersebut sangat tampak elegan dengan hiasan tanaman dinding di teras rumahnya.
Linda memakirkan sepeda Ardan di teras rumahnya. Kemudian membantu Ardan untuk membuka kunci rumahnya. Suasana rumah yang cukup sepi ditambah kegelapan yang mencekam membuat Linda merasa bahwa Ardan tinggal sendirian.
Ardan menyalakan tombol lampu yang dekat sekali dengan pintu masuk. Aura rumah yang tadi gelap kini terang karena pencahayaan lampu.
Linda masih membantu Ardan untuk masuk ke kamarnya. Kamarnya tampak gelap hingga Ardan menyalakan lampu kamarnya. Cat abu abu dengan garis garis geometris menghiasi dinding kamar tersebut. Tak ada tempelan apapun didalam kamar tersebut. Linda masih tidak menanyakan keberadaan orang tuanya Ardan. Dia masih terdiam membantu Ardan untuk membaringkan tubuhnya.
Setelah itu, Linda membaringkan Ardan di kasurnya dan melepaskan sepatu yang melekat di kaki Ardan.
"Aku buatin bubur ya." ujar Linda karena sebelum minum obat Ardan harus makan dulu.
Ardan menjawabnya dengan anggukan dan Linda keluar untuk ke dapur. Dia mencari tombol lampu terlebih dahulu. Kemudian Linda membuka kulkas yang ternyata tidak banyak bahan makanan untuk dimakan. Linda menggunakan sedikit bahan tersebut untuk membuat rasa bubur menjadi enak. Untungnya rumah Ardan menyediakan beras.
Di dapur Linda sibuk membuat bubur untuk Ardan. Hingga tangannya tak sengaja teriris pisau saat memasak. 15 menit berlalu akhirnya bubur untuk Ardan sudah jadi.
Linda meletakkan buburnya di meja. Serta Linda membangunkan Ardan dengan cara menggoyang goyangkan tubuhnya perlahan.
"Ardan, bangun yuk. Ini aku sudah buatin kamu bubur." kata Linda sambil menggoyangkan tubuh Ardan.
Ardan terbangun dari tidurnya dan mencoba untuk duduk bersandar di bagian belakang kasur.
Linda membawa kembali buburnya dan menyuapkannya ke Ardan.
"Biar aku saja." sahut Ardan mengambil mangkok berisi bubur tersebut.
Ketika menerima bubur tersebut tangan Ardan bergetar. Linda yang takut buburnya jatuh langsung menyahut kembali mangkok berisi bubur tersebut.
"Sini biar aku saja." ucap Linda sambil menyuapkan bubur kepada Ardan.
Ardan hanya bisa pasrah dan terus disuapi oleh Linda sampai bubur tersebut habis. Setelah itu, Linda menyodorkan minum untuk Ardan.
"Obat kamu mana? Biar aku ambilin." ujar Linda.
"Didalam laci." jawab Ardan seraya mengambil segelas air yang disodorkan Linda.
__ADS_1
Linda memberikan obat Ardan dan Ardan segera meminum obatnya.
Tak terasa malam sudah menjelang. Linda pamit kepada Ardan karena takut dirinya dicariin oleh orang tuanya.
"Gua pamit pulang dulu ya sudah malam soalnya." pamit Linda.
"Gua anterin ya." pinta Ardan.
"Ngga usah. Lu kan masih sakit." kata Linda.
"Ngga papa. Gua agak mendingan kok sekarang." balas Argan bangkit dari duduknya dan mengambil kunci motor yang tergeletak di laci.
"Kagak usah. Lu istirahat saja." balas Linda tetapi tak dihiraukan oleh Ardan yang sudah keluar dan menyalakan sepeda motornya.
Ardan melewati tubuh Linda yang masih diambang pintu kemudian menyalakan motor sport miliknya.
"Ah sudahlah. Ngga guna juga gua bicara." Linda bergegas menyusul Ardan yang sudah berada di luar menunggunya.
Angin semilir dan gemerlap cahaya kota pada malam hari menemani perjalanan sepasang sejoli. Berboncengan menikmati angin semilir nan sejuk serta melewati banyak gedung gedung tinggi dan indah. Ragam teater disuguhkan di pusat kota layaknya konser terbuka. Menembus lampu kerlap kerlip juga pengunjung disana.
20 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Linda yang tampak mewah saat pertama kali melihatnya.
"Kagak mampir dulu?" tanya Linda.
"Kagak usah. Namamu siapa?" Ardan balik bertanya kepada Linda.
"Gua Linda." Balas Linda.
"Makasih Linda. Gua pamit ya." pamit Ardan melajukan motornya kembali.
Linda tersipu ketika Ardan memberinya ucapan terima kasih. Hati Linda serasa ingin terbang ke langit. Juga jantungnya serasa ingin keluar dari tubuhnya.
Linda masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan senang hingga tidak sadar bahwa dirinya menabrak mamanya.
"Ck ck ck ada yang bahagia nih sampai nabrak mamanya sendiri." Decak ibunya melihat anaknya gembira sekali.
"Maaf ma. Linda ngga sengaja." permintaan maaf Linda kepada mamanya karena tak sengaja menabraknya.
"Ngga papa kok sayang. Omong omong kamu bahagia karena apa?" bisik mamanya.
"Ada lah ma. Mama jangan kepo." celetuk Linda.
Linda pergi meninggalkan mamanya dan masuk ke kamarnya. Didalam kamarnya Linda berjingkrak jingkrak tak karuan. Serasa dapat undian 1 milyar. Hingga dia membantingkan badannya ke arah kasur dengan keras.
"Tunggu kenapa aku begini ya?" tanya dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apakah benar aku jatuh cinta?!" tanyanya lagi.
Yes. Akhirnya aku menemukan seseorang yang dapat aku sayangi dan aku cintai. Gua akan buktikan pada mereka bahwa aku bisa lepas dari Dion. Batin Linda.