Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
5. Kabar Duka


__ADS_3

Kejadian tadi malam membuat Linda tak bisa tidur dengan nyenyak terbayang bayang oleh Ardan. Membuatnya terbangun dengan rambut acak acakan juga kantung mata yang menggelantung.


"Aaaa......." teriakan Linda memancing orang tuanya yang tengah bersantai di ruang tengah.


Mamanya bergegas melihat apa yang terjadi dengan anaknya.


"Nak, kamu ngga papa kan didalam?" tanya mamanya mengetuk ngetuk pintu kamar anaknya.


"Iya ma. Aku ngga papa kok." ucap Linda dari dalam.


"Oh yaudah kalau kamu sudah siap segera turun untuk makan ya nak." pinta mamanya yang masih tetap berada di depan pintu kamar anaknya.


"Aku ngga bisa berpenampilan kayak gini. Gua harus cari timun. Iya timun." Linda bergegas turun namun belum bersiap untuk pergi ke sekolah.


Orang tuanya melihat anaknya berlari menuju dapur seperti ingin mencari sesuatu.


"Linda ngapain di dapur sayang? Teriak papanya karena anaknya merusak suasana santainya membaca koran.


"Lagi nyari timun pa." jawab Linda.


Mamanya menghampiri anaknya sedari tadi mencari timun di kulkas.


"Ketemu nak timunnya?"


"Sudah ma."


Melihat wajah anaknya, mamanya kaget bukan kepalang karena kantung mata terlihat sangat jelas di mata anaknya.


"Astaga, kok bisa kamu jadi kayak gini nak."


Linda tak mengubris kata kata ibunya dan langsung bergegas pergi ke kamarnya untuk merilekskan matanya dengan timun.


...****************...


Ardan bangun dengan suara deringan beruang kali dari nomor tak dikenal. Ardan melihat sekilas nomer tersebut dan segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum. Mas" suara panik dari suara di seberang sana.


"Waalaikumsalam. Iya kenapa ya." Ardan masih merasa malas untuk bangun jadi dia mengangkatnya dengan tidur tiduran di kasur.


"Mas, ibu mas kecelakaan di daerah Jamawari."


"Apa?!!. ibu saya kecelakaan." Ardan langsung bangkit dari tidurnya mendengar hal itu. Ardan menutup teleponnya dan buru buru ke daerah Jamawari. Untungnya daerah itu dekat sekali dengan lokasi sekolah Ardan. Jadi dia bisa menemui guru sebentar untuk izin.


Dia segera pergi ke daerah Jamawari. Ketika sudah sampai disana, dia melihat ibunya terkapar di tengah jalan dengan bersimba darah. Banyak mobil polisi yang melakukan investigasi dengan mayat ibunya.


Tiba tiba mobil ambulan datang. Ardan pergi menemui ibunya yang tengah digotong oleh pihak rumah sakit untuk ditangani kesehatannya.

__ADS_1


"Ibu, bangun bu...." Ardan sambil menggoyang goyangkan tubuh ibunya namun tak ada respon tubuh yang diberikan ibunya.


Ardan menangis di tengah jalan melihat mobil yang membawa ibunya menuju puskesmas terdekat.


Ardan secepatnya mengejar mobil tersebut dengan motornya. Membututi mobil rumah sakit tersebut hingga sampai di depan rumah sakit. Dia bergegas mendorong juga brankar rumah sakit yang membawa tubuh ibunya yang sudah terbaring lemah.


"Tolong bertahanlah ibu. Aku mohon."


Untungnya pada saat itu pihak rumah sakit langsung memberikan pertolongan pertama untuk ibunya yaitu kesadaran ibunya.


"Nak...... kalau ibu tak bisa selamat. Tolong......... kau jual rumah itu untuk menyambung hidupmu. Maaf......... ibu tak bisa memberikan lebih untukmu kecuali rumah itu. Maafkan ibu........ yang tak berguna ini nak." Ucap ibunya terbata bata serta di ikuti tangisan karena ia tidak bisa membahagiakan anaknya sama sekali.


"Ibu ngga boleh ngomong gitu. Ibu pasti sehat." ujar Ardan tak ingin kehilangan sosok ibu yang menjadi keluarga satu satunya bagi Ardan.


Brankar tersebut masuk ke ruang UGD dan Ardan disuruh untuk menunggu di luar ruang UGD. Ardan mondar mandir di ruangan tersebut sambil berdoa semoga ibunya tak kenapa kenapa.


Hingga dokter yang memeriksa ibunya keluar membawa kabar untuk Ardan.


"Bagaimana keadaan ibu saya?"


"Ibu anda kehabisan darah dan membutuhkan pendonor segera. Stok darah AB kami sudah habis." tegas Dokter tersebut.


"Saya akan mendonorkan darah saya kepada ibu saya."


"Baiklah silahkan anda untuk melakukan tes darah sebelum anda mendonorkan darah anda kepada pasien."


"Mohon maaf anda tak bisa mendonorkan darah anda karena anda sedang mengidap penyakit." kata salah satu petugas donor.


"Jadi gimana, ibu saya membutuhkan donor darah sekarang?" pinta Ardan dengan rasa khawatir yang menjalar.


"Maaf tapi anda tidak bisa mendonorkan darah anda kepada pasien." kata petugas donor untuk kedua kalinya.


Ardan pergi dan menemui ibunya yang terbaring sekarat di brankar pasien dengan banyak selang yang menancap di tubuhnya.


"Ibu, gimana kondisi ibu?" Ardan merasa iba melihat ibunya terbaring tak berdaya.


"Maafkan........ ibu....... Ardan. Ibu...... tak bisa......menjadi..... ibu yang baik..... untukmu...... Tolong......maafkan ibu......." ibunya berbicara tersengal sengal karena rongga mulut dan hidungnya terpasang ventilator.


"Tidak, ibu sudah menjadi ibu yang baik untuk Ardan. Kesalahan ibu sudah Ardan maafkan sejak lama. Jadi Ardan mohon ibu sembuh dulu ya. Tolong temani Ardan. Karena Ardan tak punya siapa siapa lagi selain ibu." pinta Ardan kepada ibunya.


"Maafkan...... Ibu..... Nak...... Ibu .......tidak....bisa .....menjadi...... Ibu.......yang .......baik....." tiba tiba ibunya tak sadarkan diri membuat Ardan memanggil manggil dokter yang tadi memeriksa ibunya.


Dokter datang dan segera menyuruh Ardan untuk menunggu di luar ruang UGD.


"Ibu, Ardan mohon bertahanlah. Tolong jangan tinggalin Ardan."


Ardan melihat dokter tersebut melepaskan semua selang dan ventilator milik ibunya. Ia tidak tahu apa yang terjadi kepada ibunya.

__ADS_1


Dokter pun keluar membawa kabar bahwa ibunya sudah meninggal.


"Maafkan kami. Kami tidak bisa menyelamatkan ibu anda." kata Dokter tersebut.


"Ngga, ngga mungkin dok. Ibu saya masih hidup dia tidak akan meninggalkan saya sendirian disini." tegas Ardan kepada dokter tersebut.


"Tapi tuhan sudah berkehendak lain. Jadi kamu ikhlaskan saja."


Ardan tak sanggup membendung lagi air matanya. Perlahan lahan butiran air mengalir di pelupuk mata Ardan. Dalam sekejap dia langsung menangis sesenggukan melihat tubuh ibunya yang ditutup oleh kain putih.


Tak berselang lama Pak Herman datang dengan Linda dan Dion. Disana mereka melihat Ardan menangis di depan pintu UGD rumah sakit. Pak Herman segera memeluk tubuh Ardan yang sudah lunglai di depan pintu rumah sakit.


"Yang sabar nak. Ibumu sudah tak merasakan sakit lagi. Kamu harus kuat. Kamu ngga sendirian disini ada bapak nak."


Proses pemandian dan pemakaman ibunya Ardan berlangsung lancar. Nisan yang bertuliskan nama ibunya terpampang di sana. Ardan tak bisa lagi menatap wajah cantik ibunya. Dia sudah tenang disana. Ardan harus ikhlas dengan kepergian ibunya.


Ardan berdiri dan langsung bergegas ke lapas untuk mengabarkan kepada ayahnya bahwa ibunya meninggal. Pada saat itu Ardan tak sendirian di kuburan. Ada Pak Herman dan Bu Farda serta Linda dan Dion.


Melihat Ardan pergi begitu saja tanpa pamit kepada mereka. Membuat Linda ingin bertanya kepada Ardan tetapi langsung ditarik tangannya kembali oleh Dion.


"Biarkan dia sendiri dulu. Mungkin dia sekarang butuh ketenangan."


Linda diam dan tak berkutik ketika Dion bilang begitu.


...****************...


Ardan melajukan sepedanya meninggalkan kompleks pemakaman dan segera ke lapas untuk menemui ayahnya.


Tak berselang lama dia sampai di depan gerbang lapas penjara. Ardan memakirkan sepedanya dan menemui petugas lapas untuk memberitahukan bahwa dia ingin berkunjung.


Ardan disuruh untuk menunggu dulu di ruangan tunggu dan tak berselang lama ayahnya datang dengan petugas lapas dibelakangnya.


"Untuk waktu berkunjung 15 menit." ujar petugas lapas tersebut.


Ardan kemudian memeluk tubuh ayahnya, melepaskan rindunya kepada ayahnya.


"Ayah. Aku membawa kabar duka. Ibu meninggal karena kecelakaan tadi pagi. "


Ayahnya kaget mendengar hal itu. Dia tidak tahu bahwa istrinya sudah meninggal. Tetapi ayahnya harus bersikap tenang untuk menguatkan anaknya.


"Sudah nak, kamu duduk dulu." ujar ayahnya.


Ardan menceritakan semua yang ia alami saat ini kepada ayahnya. Hingga tak terasa 15 menit sudah berlalu.


"Ayah, Ardan pamit dulu"


Ardan kemudian pamit sambil mencium tangan ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2