Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
15. Sebuah Foto


__ADS_3

Notifikasi dari ponsel Ardan membuatnya harus pergi dari tempat neraka itu.


"Gua harus pergi sekarang." Ardan pergi tanpa berpamitan dengan gurunya.


"Anak ngga punya tata krama." cerca pak guru ketika Ardan sudah menghilang dari ruangannya.


"Yaudah pak. Saya pamit dulu." kata Dion sambil mencium tangan Pak guru.


...****************...


Ardan bergegas pergi ke parkiran dan menuju sebuah taman yang kemarin ia kunjungi.


Ia memarkirkan sepedanya dan mencopot helmnya. Ardan melihat ke kanan ke kiri seperti mencari seseorang.


Ardan masih melihat pesan yang ia kirim kepada Linda. Namun tak ada balasan darinya.


Dimana kamu Linda? batin Ardan.


Ardan masih duduk di atas motornya hingga tepukan pundak dari seseorang di belakangnya membuatnya menoleh ke belakang.


"Lina.."


"Ayo kita duduk di sana." ajak Lina.


Ardan pasrah mengikuti kemana Lina akan membawanya. Sampai lah ia di sebuah bangku taman kosong. Lina duduk dan disusul Ardan juga duduk disebelahnya.


"Kamu dulu pernah cerita bahwa kamu iri dengan keluargaku." Kata Lina memulai perbincangan.


Linangan air mata membanjiri kelopak mata Lina. Tak terasa menetes satu persatu menyentuh tangannya.


"Lina, kenapa?" tanya Ardan dengan polosnya.


"Ini yang kamu iri kan? Hidupku sudah hancur oleh orang tuaku sendiri. Lelaki kemarin namanya Mas Yoga. Dia anak seorang dept collector. Ayahku tak sengaja tersandung banyak utang dan membuat anaknya sendiri dijual dengan cara menikahkanku dengan Mas Yoga, anaknya dept collector."


Lina menyenderkan kepalanya di bahu Ardan dan melepas kesedihannya.


"Nasibku sudah sama kan denganmu?" tanya Lina.


Ardan mengelus kepala Lina di pundaknya. Menenangkan hati seorang sahabat masa kecilnya. Ia tak tahu harus berkata apa. Yang dapat ia lakukan sekarang adalah menyediakan bahu untuk Lina.


Di seberang jalan, Seorang lelaki menjepret momen dimana Ardan mengelus elus kepala Lina pada saat itu. Lelaki tersebut kemudian mengirimkan hasil fotonya kepada Linda.


...****************...


Linda kembali ke rumahnya, karena tergesa gesa Ia lupa tak membawa ponsel saat membawa mamanya ke rumah sakit. Rumah nampak sepi tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Biasanya Linda akan disambut oleh kedua orang tuanya dan itu membuat rasa lelahnya buyar seketika.


Namun sekarang, mamanya sedang sakit dan papanya menemani istrinya di rumah sakit. Linda di suruh untuk pulang dan membersihkan diri.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri, Linda menuju meja kecil disebelah kasurnya. memencet mencet ponselnya namun tak ada respon membuat Linda menepuk jidatnya.


"Lupa!. Belum gua cas. Haduh Linda lu bodoh sekali." gerutunya.


Linda mencari cari kabel casnya disekitar meja kecilnya namun tak menemukannya.


"Kabel cas juga mana sih?" geramnya.


Linda kembali mencari cari di meja belajarnya namun masih tetap tak menemukannya.


"Ayo Linda coba ingat ingat lagi." geramnya kepada dirinya sendiri.


Linda kemudian mencari di area bantal dan kasurnya namun tetap nihil. Tak ada kabel casnya. Linda tak putus asa, ia kemudian mencari di tas sekolahnya. Akhirnya kabel cas nya ketemu namun kabel casnya tak tergulung rapi. Linda mengeluarkan semua isi tas nya agar kabel casnya dapat keluar.


Setelah berurusan dengan kabel casnya. Linda bergegas menghampiri ponselnya yang sudah sekarat dari tadi.


Setelah menancapkan kabel casnya, Linda menyalakan ponselnya. Notifikasi dari ponselnya membuat Linda tertarik ingin membukanya. Ia membuka pesannya dan mendapati ada pesan tak terjawab dari Ardan.


Ardan :


Kamu dimana? Aku nunggu kamu di parkiran biasanya namun ngga ada.


^^^Linda :^^^


^^^Maaf tadi aku ngaterin mama aku ke rumah sakit dan ponselku baterainya lowbat.^^^


Dion :


Ini yang kamu anggap baik Linda.


Linda tak merespon balasan kepada Dion. Dia tak menyangka bahwa Ardan berbuat demikian di belakangnya.


^^^Linda :^^^


^^^Dapat darimana kamu foto ini?^^^


Dion :


Ngga perlu tahu. Yang jelas Ardan sudah menduakanmu Linda.


Linda masih mencoba berpikir jernih namun ketika melihat foto yang dikirimkan Dion kepadanya membuat ia tak lagi percaya kepada Ardan.


Tega kamu Ardan. Batin Linda tak terasa bulir air mengalir dari pelupuk matanya membasahi ponsel yang memampangkan foto Ardan dan seorang wanita.


Bel rumah berbunyi membuat Linda mengusap kasar air matanya dan bergegas membukakan pintu.


"Maaf, orang tua saya sedang keluar." kata Linda tak melihat wajah tamunya.

__ADS_1


"Linda ini aku, Ardan."


Linda mendongakkan wajahnya dan nampak wajah yang tadi ia tangisi berada di hadapanya.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Linda dengan juteknya.


"Aku cuma...."


Tiba tiba Linda memotong percakapan Ardan.


"Cuma apa? Cuma mau bilang kalau kamu kencan sama seorang wanita."


"Wanita? Maksud kamu apa Linda?"


"Sudah kamu benar benar ngga cinta sama aku. Aku tahu aku paham. Aku bakal jaga jarak sama kamu. Mungkin aku terlalu mencintaimu. Jadi aku mohon sekarang kamu pergi dari rumahku. Aku sudah ngga cinta lagi sama kamu. Aku sudah muak dengan perbuatanmu dibelakangku." beber Linda dan segera menutup pintu rumahnya.


"Linda.... Linda ....... Dengerin aku dulu. Plis bukain pintu. Itu cuma salah paham Linda. Dia hanya teman aku Linda." harap Ardan dibalik pintu agar Linda membukannya.


Tak terasa linangan air mata Linda pecah ketika sudah membentak Ardan dengan begitu menyakitkan. Ia terduduk di balik pintu rumahnya. Linda sudah tak dapat menahan air matanya yang jatuh deras dari matanya.


"Linda. Aku tahu kamu masih ada di situ. Aku mohon Linda dengerin dulu. Aku akan ceritakan semuanya kepadamu." ucap Ardan sambil mengetuk pintu rumah Linda.


Linda beranjak dari tempatnya dan berlari ke arah kamarnya. Membanting tubuhnya ke arah kasur dan membungkam tangisannya dengan bantal.


"Tega kamu Ardan. Tega....... Baru kali ini aku merasakan cinta namun kau khianati begitu saja." geram Linda.


Ardan berbalik pergi namun langkah kakinya berat untuk meninggalkan Linda begitu saja. Ia ingin menjelaskan semuanya bahwa itu hanya salah paham. Ardan menaiki motornya juga menggunakan helmnya kembali.


Dari balik jendela kamarnya, Linda melihat Ardan pergi meninggalkannya begitu saja. Tangisannya kembali pecah. Ia memberantakan meja belajarnya demi melampiaskan kekesalannya.


"Aku tak akan belajar cinta lagi dengan seorang lelaki. Kuharap tak ada cinta lagi di kehidupanku."


...****************...


Matahari menyilaukan matanya dan membuat Linda terbangun dari tidurnya. Ia melihat banyak barang barangnya berserakan di bawah kasurnya.


Linda masih tak dapat melupakan hal kemarin. Linda satu persatu membersihkan perabotannya yang sudah ia berantakan. Setelah membersihkan kamarnya, Linda bergegas pergi mandi dan berangkat sekolah.


Ia tak lupa membawa ponselnya dan segera memesan gojek untuk mengantarkan dia ke sekolah. Linda melihat galeri fotonya. Banyak foto yang ia potret secara diam diam ketika Ardan sedang menyiapkan bakso pelanggan. Juga banyak foto tentangnya ketika ia berbincang bincang dengan teman temannya membahas pelajaran.


Linda tak ingin sedih hari ini. Ia menghapus semua foto Ardan di galerinya. Tak berselang lama, bang gojeknya sudah ada di depan rumahnya. Segera Linda berlari ke teras rumahnya.


"Dengan mbak Linda." kata bang Gojeknya.


"Iya saya sendiri."


Bang Gojeknya menyodorkan helm untuk digunakan Linda. Setelah memasang helm, Linda naik ke motor bang gojeknya dan segera melajukan motornya ke arah sekolah.

__ADS_1


__ADS_2