Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
3. Khawatir


__ADS_3

Ardan melajukan sepedanya meninggalkan rumah Linda. Menembus langit malam yang kian gelap. Dia berhenti di sebuah warung dengan begitu banyak pelanggan yang mengantri didepan warung tersebut. Ardan memakirkan sepedanya dan segera masuk ke warung tersebut walaupun berdesak desakan dengan pelanggan lain.


"Maaf pak, aku telat." adu Ardan kepada Pak Herman.


"Iya ngga papa Ardan. Langsung ke belakang saja ya. Tolongin ibumu." balas Pak Herman sambil mengelap meja pelanggannya yang kotor.


"Baik Pak."


Ardan kemudian masuk ke dapur belakang melihat bu Farda istri Pak Herman tengah sibuk menuangkan bakso di mangkok yang berjejer banyak.


"Biar saya bantuin bu." Lontar Ardan kemudian mengambil cetong yang sedari tadi dipegang oleh Bu Farda.


Bu Farda mengangguk dan mengambil alih membungkus bakso para pelanggannya.


Warung bakso milik Pak Herman sangat laris apalagi dikalangan orang orang pabrik. Warung baksonya dekat sekali dengan pabrik pabrik besar, makanya banyak pelanggan yang kadang tak kebagian kursi harus ngemper di depan warungnya.


Malam semakin larut. Keramaian warung tersebut perlahan lahan mulai sepi. Mungkin hanya tersisa satu dua pelanggan lagi yang masih menyantap makanannya.


"Ardan makan dulu. Ibu sudah siapin bakso spesial buat kamu." pinta Bu Farda agar Ardan berhenti mencuci mangkok kotornya.


"Bentar bu, tinggal dikit lagi." lanjut Ardan membersihkan mangkok yang tersisa satu lalu bergegas menemui Bu Farda.


Bu Farda memberikan semangkok bakso spesial kepada Ardan. Ardan kemudian duduk dan menyantap bakso spesial buatan Bu Farda.


"Nduk tadi kamu dari mana? Tumben baru datang malam ini." tanya Pak Herman tiba tiba datang karena habis mengelap meja kotor.


"Tadi saya abis berantem. Tapi ngga papa kok Pak." kata Ardan sambil menyantap makanannya.


"Trus ngga ada yang luka luka kan?" Bu Farda memegang wajah Ardan dan memutar mutar wajahnya untuk memastikan bahwa Ardan baik baik saja.


"Ngga ada kok bu. Tenang saja." jawab Ardan sambil memegang tangan Bu Farda yang tadi memegang wajahnya.


"Syukurlah." ucap Bu Farda.


Ardan tersenyum karena Ardan dapat merasakan nikmatnya mempunyai orang tua angkat yang sangat mengkhawatirkannya.


Ngga kayak ibu kandungnya selalu membawa laki laki lain ke rumahnya. Terlepas dari jerat sang ayah yang selalu berbuat kasar kepada ibunya bahkan membuat tubuh ibunya nampak banyak sekali bekas luka. Jadi karena ayahnya, ibunya jadi suka bermain dengan para lelaki hidung belang, pikir Ardan.


Malam sudah begitu larut. Waktu menunjukkan pukul setengah 1 pagi. Ardan menutup warung bakso Pak Herman dan menguncinya menggunakan gembok. Pak Herman melihat Ardan masih berusaha untuk mengunci warungnya.


"Sudah nak?" tanya Pak Herman.


"Sudah pak. Ini kuncinya." Ardan mengembalikan kunci tersebut kepada Pak Herman.

__ADS_1


"Oh ya. Ini uang jajan kamu." ucap Pak Herman mengulurkan sebuah selembaran uang untuk Ardan.


"Makasih pak." Ardan mengambil uang tersebut.


"Yaudah pak. Saya pamit dulu ya. Udah larut soalnya." pamit Ardan mengecup tangan milik Pak Herman.


"Oh yaudah hati hati ya nak." Pak Herman menerima kecupan tangan dari Ardan.


Ardan kembali menuju sepeda motor sportnya dan menyalakannya. Sepeda motor tersebut melaju dengan kecepatan tinggi melewati pertokoan dan juga banyak gedung gedung tinggi. Sepinya jalanan juga ditambah semilir angin menemani perjalanan Ardan menuju rumahnya.


Tak butuh waktu lama. Ardan sampai di teras rumahnya dan Ardan menemukan sepatu laki laki di depan rumahnya. Ardan sudah terbiasa melihat hal hal seperti itu. Ketika masuk ke rumahnya. Ardan mendengar suara erangan laki laki di kamar ibunya. Ardan tak menghiraukannya dan segera bergegas pergi ke kamarnya untuk tidur.


Pagi menjelang. Sakit di ulu hatinya kambuh lagi membuat Ardan sampai tak bisa bangun dari tempat tidurnya. Dia meraba raba meja sampingnya untuk mengambil obat yang digeletakkan oleh Linda. Namun sayang, obatnya malah jatuh berserakan di lantai. Ardan tak bisa memungut obatnya yang berserakan. Dia hanya bisa menahan rasa sakitnya dengan tertidur agar rasa sakitnya hilang.


Di area sekolah. Linda mencari cari seseorang sambil celingak celinguk kesana kemari tetapi Linda tak menemukan keberadaanya.


"Lu kenapa, kayak nyariin seseorang." ucap Dion menepuk pundak temannya.


"Kagak, gua kagak lagi nyariin seseorang." kilah Linda.


"Nih gua beliin lu minuman." Dion memberikan minuman rasa lemon kesukaan Linda.


"Makasih." tutur Linda jutek.


Dia mungkin ngga masuk sekolah. Nanti coba gua mampir ke rumahnya. Batin Linda.


Rasa khawatir Linda semakin membuncah ketika dia teringat waktu Ardan begitu pucat menahan rasa sakit yang ia derita. Sampai sampai Linda tak konsentrasi mendengarkan penjelasan guru.


Linda sudah tak bisa membendung rasa khawatirnya kepada Ardan.


Perasaan macam apa ini. Aku selalu memikirkan dia. Batin Linda.


...****************...


Bel pulang sekolah berbunyi. Linda bergegas pergi meninggalkan kelas, namun dicegah oleh Dion.


"Lu mau kemana?" kata Dion menghadang kepergian temannya yang sedari tadi merasa cemas seperti memikirkan sesuatu.


"Lu kagak perlu tau." celetuk Linda menyingkirkan tubuh Dion. Tetapi Dion tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri.


"Lu harus kasih tau gua kemana lu pergi?. Kalau tidak, gua akan tetap menghadang lu." beber Dion kepada Linda.


"Lu kenapa sih. Ngurusin kepentingan gua. Ingat ya lu tuh cuma saudara gua. Bukan pacar gua. Lu ngga perlu terlalu posesif ke gua. LU PAHAM!!" bentak Linda.

__ADS_1


Pada saat itu semua ramai ramai melihat keributan pasangan sejoli tersebut. Linda berlenggang pergi meninggalkan Dion bersama para kerumunan yang tiba tiba berkumpul melihat pertengkaran mereka.


Linda berlari hingga sampailah ia di pinggiran jalan raya. Menunggu taksi yang sedari tadi ia pesan agar segera bergegas ke rumah Ardan. Tak butuh waktu lama, taksi yang ia pesan datang. Linda segera masuk meninggalkan sekolahnya.


Didalam mobil Linda tak bisa berpikir jernih. Dia tetap mengkhawatirkan Ardan seperti firasat seorang ibu kepada anaknya.


Ardan lu ngga papa kan?. Batin Linda


Di satu sisi Ardan masih tak bisa menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan sekarang. Bahkan dari tadi ia tak bisa bangun untuk memungut obatnya. Wajahnya kian memucat hingga seperti seorang mayit.


"Ibu.......Ibu......." ringkih Ardan memanggil manggil ibunya namun sayang dia tak menyadari bahwa dirinya sudah ditinggal pergi oleh ibunya pagi tadi. Ardan sendirian di kamar berharap ada seseorang yang dapat membantunya.


Linda sampai di depan rumah Ardan. Dia membayar taksi yang ia tumpangi kemudian bergegas membuka pintu taksi.


Linda mengetuk pintu warna cokelat tersebut tetapi tak ada yang merespon untuk membuka pintunya.


"Ardan, lu ada di dalam kan?" teriak Linda sambil tak henti hentinya mengetuk pintu rumah Ardan.


"Ardan.....Ardan....lu didalam kan?" Linda masih tak beranjak pergi dari rumah tersebut.


...****************...


Dion sedari tadi membuntuti kemana perginya Linda. Tanpa sengaja menemukan Linda menggendor gedor pintu rumah orang lain.


Dion bergegas memakirkan sepedanya dan menarik Linda untuk menjauh dari rumah tersebut.


...****************...


Tiba tiba tangan Linda ditarik oleh seseorang hingga membuatnya menjauh sedikit mundur dari pintu yang ia ketuk. Sontak Linda melepaskan tangannya secara paksa karena dia tahu bahwa yang menarik tangannya adalah Dion.


"Lu napa sih ikutin gua." risih Linda.


"Gua khawatir sama lu." Dion sangat meresahkan temannya yang tiba tiba meninggalkan dia hingga tak mau bareng lagi dengannya.


Tiba tiba suara dari dalam seperti pecahan gelas jatuh membuat mereka terkejut. Linda semakin khawatir dengan keadaan Ardan.


"Ardan, buka pintunya!" teriak Linda dari luar sambil menggedor gedor pintu rumah Ardan.


Dion yang juga mendengar hal itu bergegas mendobrak pintu rumah tersebut.


*Gubrak* suara pintu terbuka secara paksa.


Linda langsung pergi ke kamar Ardan dan membuka pintu kamarnya. Melihat Ardan sudah tergeletak lemas di lantai membuat Linda membangunkan Ardan sambil menggoyang goyangkan badannya.

__ADS_1


"Ardan, bangun ardan....." ucap Linda. Hatinya sudah tak karuan. Dia bahkan tak memikirkan dering telepon dari orang tuanya.


__ADS_2