
"Kenapa anda mengajak saya untuk bertemu?" tanya Linda
Mereka sekarang berada di cafe dekat dengan sekolah Linda. Lina masih belum menjawab pertanyaan Linda. Ia tengah asik menyeruput kopi yang ia pesan.
"Ardan mencarimu." singkat ia menjawabnya.
Tak lama Lina meneruskan kembali kata katanya setelah ia menaruh cangkir kopi di atas meja kembali.
"Bunga warna kuning yang kau terima kemarin adalah bunga dari Ardan. Aku yang memesankannya dan surat itu dari aku. Aku ingin menjelaskan semuanya tentang aku dan Ardan sebelum ia koma seperti ini."
"Jelaskan apa lagi. Kan sudah jelas kalian telah membohongiku bahkan bermesraan di belakangku."
"Kau siapanya Ardan sampai sampai merasa bahwa kamu yang tersakiti?" tanya Lina.
"Aku memang bukan siapa siapanya Ardan namun aku tahu bahwa dia mencintaiku karena manik matanya tak akan pernah salah. Namun sampai saat ini aku belum mendengar Ardan menjawab cintaku melalui mulutnya.
"Kamu benar. Dia sangat mencintaimu. Namun ia tak ingin menyakitimu."
"Maksudnya?" tanya Linda.
"Dia mengidap kanker hati stadium akhir bahkan hidupnya sudah tak lama lagi. Ia tak menjawab pernyataan cintamu karena ia sangat tidak ingin menyakitimu."
Buliran air mata kembali menetes dari pelupuk mata Linda. Ia segera beranjak pergi meninggalkan Lina di cafe tersebut.
...****************...
Linda berlari melintasi lorong lorong rumah sakit mencari ruangan Ardan. Linda kemudian sampai dan membuka pintu ruangan Ardan di rawat.
Tangisannya semakin menjadi ketika melihat dia sekarang dalam keadaan sekarat di ranjang rumah sakit. Banyak alat alat yang di tempelkan ke badannya. Sungguh Linda sedih karena terlambat mengetahui bahwa Ardan sakit.
Linda memeluk tubuh ringkih Ardan dan mencoba menggoyang goyangkan lengan Ardan.
"Ardan...... Bangun...... Ini aku Linda. Aku minta maaf." sambil terisak Linda berbicara kepada Ardan.
Namun yang diajak bicara hanya diam dan tak ada respon apapun. Tangisan Linda tak henti hentinya menetes.
"Linda...." Panggil seseorang dari belakang. Ternyata itu adalah Bu Farda dan Pak Herman. Mereka baru masuk dan sampai di ambang pintu ruangan Ardan.
Linda menghampiri Bu Farda dan segera memeluknya. Ia ingin menumpahkan kesedihannya di dekapan Bu Farda.
"Sudah nak... Jangan nangis. Nanti kalau Ardan tahu pasti bakalan ikut sedih juga." ujar Bu Farda menenangkan Linda.
"Maaf bu, Linda terlambat mengetahuinya."
"Iya ngga papa."
__ADS_1
...****************...
Dion menatap malam yang indah di taman belakang rumahnya sendiri. Ia merenungkan kejadian ini. Secangkir coklat panas menemaninya.
"Linda kenapa kau mengharapkan cinta Ardan? Padahal aku sudah ada untukmu jauh sebelum Ardan ada untukmu." gerutu Dion.
Dion menghembuskan napas kasarnya dan mengambil cangkir berisi coklat panas dan menyeruputnya. Dion berusaha untuk meredakan pergulatannya sejenak dengan Ardan karena saat ini dia koma.
...****************...
"LINA!!!!" teriak Yoga.
Lina berlari kabur setelah berpapasan dengan Yoga di jalan. Ia tak mau ditangkap oleh Yoga dan disakiti lagi. Lina sudah ngga kuat untuk berhadapan langsung dengan Yoga.
"AWAS AJA KALAU KETEMU!!" bentak Yoga.
Lina masih berlari dan tak menemukan tempat untuk bersembunyi sedangkan Yoga berjalan bak layaknya seorang singa mengincar mangsanya.
Akhirnya Lina bersembunyi dibelakang pick up yang sedang berhenti di pinggir jalan.
...****************...
Saat itu Dion berjalan jalan untuk melepaskan rasa penatnya karena terlalu memikirkan cintanya. Ia berjalan jalan malam santai di trotoar saat ada pemerkosaan perempuan di seberang trotoar.
Si perempuan tersebut meminta tolong namun tak ada satupun yang lewat. Dion bergegas menyebrang dan melerai pertengkaran antara keduanya.
Si perempuan kemudian melepaskan tangannya yang sudah tercengkram rapat kepada si perempuan. Sedangkan si perempuan berlari ke belakang Dion untuk mencari perlindungan.
"Oke Lina untuk saat ini, aku akan melepaskanmu tapi ingat satu hal ini kau tetap istriku dan semoga kita bertemu lagi." tegas Yoga kemudian meninggalkan Lina dengan Dion.
Dion mengajak ke supermarket terdekat untuk menenangkan perasaan perempuan tersebut.
...****************...
Dion keluar dengan menenteng tas belanjaan menghampiri si perempuan yang ia suruh duduk di bangku dekat supermarket.
Dion mengeluarkan sebuah obat luka juga plester untuk mengobati luka si perempuan. Luka yang ada ditangan bahkan di dahinya cukup parah hingga ada sobekan kecil di area mulutnya karena tamparan dari laki laki brengsek tersebut.
Dion membersihkan lukanya dengan alkohol terlebih dahulu kemudian menempelkan plester agar lukanya cepat sembuh.
Setelah merawat lukanya, Dion memberikan sebotol minuman kepada perempuan tersebut.
"Makasih." ucap si perempuan.
"Sama sama."
__ADS_1
"Itu tadi suamimu?"
Si perempuan mengangguk tanda mengiyakan ucapan Dion.
"Kayaknya kita seumuran."
"Tebakanmu benar, kita memang seumuran tapi beda kisah. Aku dijodohkan oleh seorang anak rentenir. Orang tuaku punya utang kepada mereka. Untuk melunasinya aku harus jadi istri anak rentenir tersebut yang terbilang cukup jahat dengan banyak wanita." curhat Lina panjang lebar.
Dion tak bisa memberi solusi untuknya sekarang, ia hanya bisa mendengarkan curhatan si perempuan tersebut.
"Lina." sambil memberikan tangannya untuk berkenalan.
"Dion." membalas menerima jabatan tangan dari Lina.
...****************...
Linda melihat banyak bintang bertaburan di langit ditemani oleh cahaya bulan yang indah di langit malam. Ia sekarang berada di kamarnya sendiri. Linda memberikan vas untuk bunga yang diberikan oleh Ardan dan Dion. Bunga Dion tadi sudah terkirim di rumahnya.
Karena kemarin bunga dari Ardan tak dirawat dengan baik sebagian kelopak bunga tersebut ada yang mengering. Linda membuka surat yang diberikan oleh Bu Farda. Tetesan air mata kembali menetes setiap Linda membaca tiap baris dari surat itu. Itu dari Ardan.
Tangisan Linda pecah kembali. Linda tak dapat mempercayainya bahwa ia sejahat ini. Ardan selalu menunggunya.
"Maafkan aku Ardan. Aku sejahat itu. Aku terlambat mengetahuinya. Maafkan aku. Maaf karena tak mempercayaimu." sambil terisak isak dia berbicara sendiri.
"Ardan tolong sembuh lah. Aku ingin mengucapkan kata maafku. Tolong jangan pergi terlebih dahulu padaku." gerutu Linda mengusap kasar kelopak matanya.
Tuhan, bolehkah aku bertemu dengan Ardan walaupun sebentar.
...****************...
Elektrokardiogram terpasang di dada Ardan untuk mengetahui kondisi jantungnya. Detak jantung Ardan perlahan hilang dan berganti suara bip. Dokter dan para suster berlari kearah Ardan dan segera menanganinya.
Tangisan Bu Farda kembali pecah ketika Ardan kembali drop akan kondisinya. Pak Herman menenangkan istrinya.
Dokter mencoba untuk memacu jantung Ardan agar kembali berdetak. Badan Ardan terhempas bukan hanya 1 atau 2 kali tapi berkali kali Namun tak ada respon dari jantung Ardan.
...****************...
"Assalamualaikum nak."
"Waalaikumsalam bu ada apa?" tanya Linda kepada Bu Farda di seberang sana.
"Ardan sudah meninggal nak."
Pernyataan yang dilontarkan Bu Farda tak sesuai doa harapannya. Ardan sudah pergi untuk selamannya.
__ADS_1
Linda berlari mengambil jaket dan segera menutup ponsel dari Bu Farda. Kemudian memesan taxi untuknya. Linda tak henti hentinya berdoa agar Ardan bisa hidup kembali.
Tuhan, untuk kali ini saja tolong kabulkan doaku. Aku memohon kepadamu.