Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
19. Kenangan


__ADS_3

Linda terbangun dengan wajah bengkak karena habis nangis kemarin. Ia meregangkan ototnya. Setelah itu ia beranjak pergi untuk mandi. Ia tak menghiraukan wajahnya hari ini, karena ngga mood untuk merawatnya.


Setelah mandi, Linda lekas berganti baju dan mempersiapkan buku buku yang akan dibawa ke sekolah.


Ketukan pintu membuatnya segera menoleh dan mendapati kedua manik mata cantik yang sangat ia kenal berada di ambang pintu.


"Linda, ayo makan nak." pinta mamanya.


"Iya ma. Bentar ini mau rapikan buku dulu."


"Yaudah mama tunggu di ruang makan ya."


"Iya ma."


Setelah menyelesaikan aktivitasnya merapikan buku. Linda bergegas turun dan duduk disebelah papanya yang tengah makan. Linda mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai coklat diatasnya kemudian memakannya secara perlahan lahan.


"Linda. Kemarin kamu kenapa? Pulang pulang nangis." ujar papanya.


Linda menghabiskan rotinya dan segera meminum susunya. Ia masih tak menjawab pertanyaan papanya.


"Yaudah pa. Aku berangkat dulu." sambil mencium kedua tangan orang tuanya.


"Nih anak kalau ada masalah selalu dipendam sendiri." sindir papanya ketika Linda sudah meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaannya.


...****************...


Linda memakai sepatunya dan memesan taksi. Tak lama taksi yang ia pesan sampai di depan gerbang rumahnya.


"Sesuai aplikasi ya pak." pinta Linda.


"Baik."


Supirnya segera melajukan mobilnya, meninggalkan rumah Linda. Pemandangan bangunan tinggi dan berbagai macam aktivitas manusia mewarnai keramaian kota. Linda melihat ke arah jendela tak memalingkan maniknya sedikitpun ke arah yang lainnya.


Tiba tiba dering telepon membuyarkan semuanya. Linda bergegas merogoh ponselnya yang berada di dalam tas.


"Halo, maaf dengan siapa ya?"


"Saya supir taksi yang akan mengantar mbak. Saya sudah sampai mbak di depan rumah mbak."


"Ha?! supir taksi."


Linda masih menempelkan ponselnya ke telinga sambil menepuk nepuk pundak sopir di depannya.


"Pak. Maaf anda salah bawa orang."ucap Linda.


"Ngga saya ngga salah orang kok mbak."


"Pak, ini bukan taksi yang saya pesan."


"Iya saya memang bukan taksi yang mbak pesan."

__ADS_1


Supir taksi tersebut kemudian menoleh dan mendapati wajah yang sangat Linda kenal menyupir mobilnya.


"Dion....?!!" kaget Linda.


"Hai, kaget ya."


Linda kemudian memukul mukul pundak Dion dari belakang untuk melampiaskan kekesalannya. Setelah itu, Linda duduk kembali dan menjelaskan semuanya kepada supir taksi yang ia pesan.


"Maaf pak saya batalkan pesan taksinya namun saya kasih tip buat bapak. Makasih ya pak."


"Makasih mbak. Kalau begitu saya tutup dulu. Mau jemput orderan selanjutnya." tutur pak supir di ponselnya. Sambungan ponsel terputus dan Linda cemberut setelahnya.


"Kenapa cemberut aja?" tanya Dion.


"Kenapa lu jemput gua?. Gua lagi ngga pingin deket sama siapa siapa."


"Yang salah satu orang yang disalahkan banyak orang." cibir Dion.


"Serah gua lah. Perasaan, perasaan gua. Kok lu sewot."


Emang cewek tuh selalu benar. Batin Dion.


Tak beberapa lama, mereka sampai di sekolah. Dion bergegas memarkirkan mobilnya. Setelah memarkirkan mobilnya, Linda buru buru keluar dan tak menghiraukan sama sekali Dion yang baru ingin keluar.


"Linda......" panggil Dion karena ia merasa ditinggalkan oleh Linda.


Linda masih tak menghiraukan Dion yang mengejarnya dari belakang. Hingga tangan Linda ditarik oleh Dion.


"Waduh ada dua sejoli lagi berantem nih. Eh bentar, Lu kenapa ngga bareng sama Ardan lagi. Biasanya bareng tuh." cecar Sindy.


"Ardan kabarnya gimana?" celetuk Dinda.


"Oh ya iya. Dimana tuh orang yang dulu lu ajak hujan hujanan dan yang lu tunggu lama di bangku parkiran?" cecar Sindy.


"Eh, bestie sorry gua telat. Katanya Linda punya dua cowok ya. Kasihan tuh pasti yang ditinggalin." cibir Windy tiba tiba datang dari arah belakang Dinda dan Sindy.


"Eh kalian jangan ngomong gitu ya tentang Linda!!!" bentak Dion.


"Haduh, udah ngga dianggap malah ikut ikutan dalam hubungan Linda. Mendingan sama aku aja. Aku bakalan setia kok sama kamu Dion." celetuk Sindy.


"Ogah gua sama lu."


"Sudah sudah gua ngga mau punya masalah lagi apalagi sama kalian." kata Linda pergi begitu saja dari kerumunan para gadis tersebut.


Menjalankan rutinitas yang membuatnya jenuh yaitu belajar membuatnya bosan. Melihat kelas dengan suasana itu itu saja membuat ia ingin lekas pergi dari sana.


Entah kenapa ia ingin cepat cepat pulang karena hatinya sudah merasa tak berguna lagi berada disini. Sepi itu yang Linda rasakan sekarang.


Sepanjang jam pelajaran Linda ikuti dengan lemas hingga dirasa cukup lama. Di jam terakhir Linda tertidur di bangkunya. Untungnya bangku yang ia pilih dulu bersama Dion berada di bangku agak belakang namun tak agak depan juga. Jadi kayak tengah tengah gitu.


Bel pulang berbunyi. Seperti biasa para siswa berhamburan untuk keluar kelas agar merasakan nikmatnya hembusan angin sepoi sepoi dan menenangkan pikiran yang sedari tadi tegang.

__ADS_1


Linda mendengar bel itu lekas merapikan bangkunya dan berjalan untuk pulang. Dion juga tiba tiba mengikutinya dari belakang. Tiba tiba manik mata hitam Linda menangkap bangku kosong di daerah parkiran. Dia membayangkan dulu ketika ia masih menunggu lelaki itu.


Kenapa ketika aku ingin melupakanmu namun tiba tiba kenangan kita menghidupkannya. Batin Linda.


Tepukan bahu dari Dion membuyarkan lamunan Linda.


"Kenapa lihat in bangku itu?" tanya Dion.


Dion tak mengetahui kalau dulu Linda pernah menunggu Ardan di bangku tersebut karena saat itu Dion masih berada di rumah Om Darma.


"Ngga, ngga papa." kilah Linda.


"Ayo, pulangnya bareng aku saja." ajak Dion.


"Ngga. Aku mau pesan taksi aja."


Dion tak ingin penolakan dari Linda. Ia langsung menarik tangan Linda dengan paksa.


"Apa sih Dion. Aku bilang ngga mau ya ngga mau!!" bantah Linda.


"Aku ngga mau penolakan darimu lagi."


Linda memberhentikan langkahnya dengan mendadak membuat Dion langsung menoleh ke arah Linda.


"Kenapa Linda?" tanya Dion.


"Aku bilang ngga mau ya ngga mau!!." sambil membelalakan mata ke arah Dion.


Dion langsung menggendong tubuh Linda ala fireman's carry. Membawanya ke arah mobil. Linda tak habis pikir dengan cara Dion. Linda tersipu malu dilihat oleh para siswa yang tengah mengambil kendaraan mereka. Wajahnya memerah seperti tomat. Linda hanya diam tak memberontak ketika digendong Dion.


Ketika sudah sampai di depan pintu mobil Dion. Linda mempunyai akal bulus untuk kabur dari cengkraman Dion. Dion menurunkan tubuh Linda dan saat itu juga Linda berlari ingin menjauhi Dion. Namun Dion mengetahui akal bulus Linda. Ia langsung menarik kra seragam Linda. Membuat Linda tercekik dibuatnya.


"Mau kabur kan?" tanya Dion.


Linda hanya pasrah ketika dijinjing Dion untuk masuk ke mobilnya. Didalam Linda hanya menggerutu tentang Dion.


"Dasar lelaki siluman!!" gerutu Linda.


Saat itu Dion mendengar hal itu dan menanyakan kembali apa yang diucapkan Linda.


"Apa lu ucapkan tadi?" tanya Dion.


"Sudah berangkat aja. Gua mau rebahan di kasurku."


Dion pasrah dan menuruti apa kata Linda dan segera melajukannya meninggalkan sekolahan. Wajah Linda sangat jutek hingga Dion tak berani memulai percakapan dengan Linda. Hingga tiba tiba Linda menanyakan jalur yang berubah ketika diantar oleh Dion.


"Kenapa kita harus lewat sini?" tanya Linda.


"Oh jalan yang selalu kita lewati lagi ada perbaikan jalan. Jadi kita harus muter. Mungkin kamu sekalian mau ke supermarket buat beli sesuatu." jawab Dion.


Linda tak mengapa lewat disitu namun kenangannya masih ada di sana. Bangku dekat supermarket dimana dulu dia menembak Ardan dan sampai sekarang, Linda tak tahu jawabannya.

__ADS_1


Kenapa kenangan itu keingat kembali. Ardan apakah kau menyiksaku dengan kenangan kita?


__ADS_2