Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
6. Cemburu


__ADS_3

Kepergian ibunya mungkin tak mengubah kehidupan Ardan. Suasana rumah juga sama saja sepi. Namun Ardan seperti kehilangan hidup ketika ibunya meninggal.


Pagi hari dijalani dengan sama saja oleh Ardan. Mandi dan bergegas berangkat sekolah. Dia tak pernah sarapan di pagi hari hanya meminum obat yang bisa menetralisir rasa sakit di ulu hatinya.


Setelah menyiapkan semua kebutuhan sekolahnya. Ardan pergi meninggalkan rumah menuju ke sekolah.


...****************...


Setelah menyelesaikan sarapannya Linda bergegas pergi untuk sekolah. Ia masih belum cerita soal Ardan kepada kedua orang tuanya. Dia juga tidak menceritakan kejadian kemarin tentang Ardan yang sakit dan ibunya yang meninggal.


Linda memakai sepatunya dan kemudian berjalan menuju gerbang depan untuk menunggu taksi yang ia pesan.


"Berangkat dulu pa, ma!!" teriak Linda dari luar rumah.


Ketika ingin membuka gerbang ada sepeda motor yang menunggunya didepan. Motor tersebut sudah tak asing lagi bagi Linda. Iya itu adalah motor Ardan.


"Ardan, ngapain kamu kesini?" tanya Linda karena merasa terkejut akan kedatangan Ardan.


"Gua mau jemput lu." ucap Ardan.


"Benarkah?" Linda tersipu malu dengan perkataan Ardan.


Ardan tak menjawab pertanyaan yang terakhir dilontarkan Linda. Dia langsung menyodorkan helm yang menggantung di jok motornya.


"Nih pake." kata Ardan memberi helm kepada Linda.


Wajah Linda semakin memerah ketika tak sengaja bersentuhan tangan dengan Ardan.


"Astaga jangan sampai gua jingkrak jingkrak disini. Bisa malu dilihat Ardan" Batin Linda.


Linda segera memakai helm yang diberikan Ardan namun wajah tomatnya belum juga bisa hilang.


"Lu ngga papa kan?" tanya Ardan.


"Ah.. Gua ngga papa kok." jawab Linda sambil segera menaiki motor sport Ardan.


"Oh ya kelupaan. Gua baru pesan taksi. Bentar gua batalin dulu." seloroh Linda.


"Pegangan." pinta Ardan.


Linda langsung memegang tanki gas yang ada didepan Ardan bukan malah memilh pinggang Ardan.


"Ahh... Perutku kedinginan." celetuk Ardan.


Tanpa basa basi. Linda memeluk Pinggang Ardan dan bersender di punggungnya.


Ardan terkejut akan gelagat Linda yang ternyata peka akan dirinya, membuat Ardan senyum senyum sendiri. Untungnya dia pakai helm yang menutupi permukaan mulutnya jadi Linda ngga bakal tahu.


Ardan menyalakan motornya dan melajukannya menembus embun pagi yang masih asri di kompleks perumahan Linda.


...****************...


Dari kejauhan nampak Dion tengah melihat mereka yang berbincang bincang hangat didepan rumah Linda.


"Gua, di mata lu. Lu anggap siapa?" Batin Dion.


...****************...


Tak berselang lama mereka sampai di gerbang pintu sekolah.


"Lu turunin gua disini aja." tukas Linda


Ardan hanya nurut saja dan menghentikan sepedanya di gerbang depan sekolah.


Linda mencoba tidak ingin terlihat dekat dengan cowok agar namanya tak tercemar karena suka caper sama cowok.


Linda melihat Ardan melajukan sepedanya meninggalkan dia di depan gerbang.


"Eh lu tau Ardan kan? Dia dah jadi anak piatu. Kemarin ibunya meninggal. Gua lihat sendiri." bisik salah satu siswa disana.

__ADS_1


"Kasihan banget ya. Pasti dia tertekan banget mentalnya apalagi dia selalu dibully sama Kak Rama." jawab temannya.


Informasi tentang meninggalnya ibu Ardan sudah beredar luas di sekolah. Banyak orang yang mengasihani kehidupan Ardan dan banyak juga yang menganggap bahwa Ardan kena karma karena ulah ayahnya.


Linda tak menggubris apa yang dibicarakan sekarang. Linda hanya bisa berharap semoga Ardan dapat kuat menjalaninya.


Linda kemudian berjalan menuju ke kelasnya dan duduk di bangkunya. Tiba tiba ada notif di smartphone Linda. Linda segera membuka. Namun nomer tersebut tak ada dalam kontaknya.


^^^|| Selamat pagi ||^^^


|| Selamat pagi. Siapa ya? ||


^^^|| Save nomerku Ardan ||^^^


Alangkah terkejutnya Linda mendapatkan kontak Ardan tanpa harus memintanya bahkan dia sendiri yang mendapatkan kontaknya. Pada saat itu Linda ingin melampiaskan rasa kegembiraannya kepada seluruh semesta. Namun ia tahan karena dia sekarang di sekolah.


Linda membalas kembali chat yang ia terima pagi ini dari Ardan.


|| Dapat kontakku darimana? ||


^^^|| Ada deh. Rahasia ||^^^


|| Y. Save back ||


^^^|| Pelajaran sudah dimulai nanti aja ya kita lanjut ||^^^


|| Oke ||


Linda merasa girang banget hari ini. Mood nya naik yang tadinya malas sekolah sekarang semangat kembali. Tanpa ia sadari dihadapannya ada Dion menginterogasi mimik wajah Linda.


"Lu kenapa tumben pagi pagi sudah senyum." tanya Dion


"Suka suka gua lah. Urusan gua juga, bukan urusan lu." ketus Linda.


"Siapa sih?. Pingin liat gua." Dion lalu menyaut ponsel Linda dan melihat apa yang ada di ponselnya. Hingga Linda dibuat harus lompat lompat untuk mengambil ponselnya kembali.


Dion melihat chatingan Linda dengan Ardan. Hatinya panas ingin sekali ia banting ponsel tersebut. Rasa cemburu kemudian membuncah di hatinya.


Kenapa dia chatingan sama Linda?? Kagak ada sopan sopannya dia sama linda gua." Batin Dion.


Sejak dulu Dion sudah menganggap hubungannya dengan Linda lebih dari seorang sahabat. Dion menunggu hari pas dimana dia bisa bertemu Ardan untuk membahas soal ini.


Guru tiba di kelas mereka berdua. Dion segera mengembalikan ponsel Linda dan segera duduk dengan raut wajah yang tak ingin di ganggu.


"Awas aja lu Ardan." Geram Dion.


...****************...


Setelah jam pelajaran usai. Linda tak melihat Dion saat jam istirahat tadi. Linda tak menghiraukan dimana Dion berada, Linda langsung pergi saja meninggalkan kelas dan menunggu Ardan di tempat parkir biasanya. Namun Linda tak melihat sepeda sport milik Ardan.


"Dia kemana??" gumam Linda kepada dirinya sendiri.


"Mungkin dia masih tak jauh dari sini. Aku akan mencarinya."


Linda keluar dari tempat parkiran untuk mencari keberadaan Ardan yang mungkin tak jauh dari area sekolah.


Tiba tiba Dion mengendarai sepedanya mendekati Linda.


"Ayo pulang." ajak Dion kepada Linda yang masih mencari keberadaan Ardan.


"Lu cari Ardan?. Dia sudah pergi dari tadi." kata Dion kepada Linda yang tak menggubris ajakannya.


"Ha? Dari mana kamu tahu. Dia ngga bilang apa apa sama aku." jawab Linda begitu khawatir karena tak semestinya Ardan pergi begitu saja.


Terpaksa Linda menerima tawaran Dion dan pulang bersama Dion hari ini. Linda tak bertemu dengan Ardan sama sekali pada waktu itu.


...****************...


|| Ardan lu dimana? ||

__ADS_1


Chat yang dikirim Linda tak dijawab maupun dilihat oleh Ardan. Linda pada saat itu bersantai di sofa ruang tamu. Tiba tiba suara mamanya memecah kegalauan Linda karena masih belum mengetahui keberadaan Ardan sampai saat ini.


"Sayang. Tolong belikan roti sama selai di supermarket depan." pinta mamanya.


"Baiklah ma." Linda menuruti perkataan mamanya dan segera pergi menuju supermarket. Pada saat itu Linda hanya menggunakan baju tidur juga cardigan warna biru.


5 menit berjalan akhirnya Linda sampai di supermarket. Dia kemudian mencari rak roti juga selai. Ketika ingin membayar tiba tiba ada yang menyerobot antriannya.


"Maaf anda menyerobot antrian saya." ucap sopan Linda.


"Maaf saya hanya membeli sekaleng soda. Mungkin itu ngga akan lama." jawab orang tersebut.


Linda mendongakkan kepalanya dan melihat lelaki tersebut.


"Ardan." sapa Linda


"Linda."


Setelah membayar semua kebutuhannya. Linda duduk di depan supermarket menunggu Ardan keluar dari supermarket.


"Nih."


Ardan menyodorkan susu caramel kesukaan Linda.


"Susu caramel. Dari mana kamu tahu bahwa aku suka susu caramel?"


"Ada deh."


Ardan duduk disebelah Linda dan meminum minuman sodanya.


"Kamu minum soda. Kamu kan baru sembuh dari kejadian kemarin."


"Itu kan sudah berlalu dan kamu ngga perlu cemas sama aku. Aku baik baik saja." jawab Ardan.


Setelah meminum seteguk air soda yang ia beli. Ardan teringat tentang apa yang ia alami saat itu.


"Maaf Linda aku harus pergi sekarang." Ardan beranjak pergi meninggalkan Linda sendirian namun tangan Ardan ditarik pelan oleh Linda.


"Tunggu. Aku mau ngomong serius sama kamu."


Ardan menarik kembali tangannya.


"Maaf Linda. Aku sudah ditunggu oleh Pak Herman." kilah Ardan.


Ardan terpaksa harus pergi meninggalkan Linda. Tiba tiba Linda memeluk punggung Ardan dari belakang. Ardan terkejut dan menghentikan langkahnya.


"Aku suka kamu."


Betapa kagetnya Ardan mendengar pernyataan yang dilontarkan Linda. Jantungnya berdebar tak karuan. Kehangatan yang disalurkan oleh Linda membuat hembusan angin tak terasa di tubuh Ardan.


"Maaf Linda aku harus pergi sekarang." Ardan melepaskan pelukan Linda dan segera pergi meninggalkannya.


...****************...


"Gua mau lu jauhin Linda." Pernyataan tegas dari Dion untuk Ardan.


"Kenapa. Emang lu siapanya dia?" cerca Ardan.


"Gua sebenarnya bukan apa apanya. Tetapi ketika kau melihat kedekatan kami selama ini, apakah kau bilang bahwa kami tak saling jatuh cinta." jawab Dion.


"Trus lu kagak kasihan sama Linda." ucap Dion kembali.


"Kasihan karena apa?" tanya Ardan.


"Lu tuh penyakitan dan penyakit lu cukup parah." tegas Dion sambil menelunjukkan tangannya ke dada Ardan.


"Trus apa hubungan Linda dengan penyakit gua." tanya kembali Ardan.


"Penyakit lu kanker hati. Umur lu pasti ngga bakalan panjang. Barangkali kanker yang kau miliki saat ini sudah menyebar ke seluruh tubuhmu. Aku takut Linda menyukaimu namun itu tak bertahan lama. Aku takut Linda bakalan sedih. Aku tahu betul sifat Linda. Dia ngga bakalan ikhlas kalau barang atau seseorang yang sudah jadi miliknya direnggut orang lain. Dia bakal larut dalam kesedihannya kalau dia masih saja dekat sama lu. Jadi aku mohon jauhi Linda." beber Dion. Selanjutnya ia meninggalkan Ardan sendirian di rooftop.

__ADS_1


__ADS_2