Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
8. Perkenalan


__ADS_3

Linda menikmati liburannya bersama keluarga menjenguk keponakan baru Dion. Namun pikiran Linda tetap kepada Ardan. Dia sama sekali tak membalas chat yang ia kirim kemarin.


Ardan, apa yang sebenarnya terjadi padamu. Apa aku kemarin terlalu kecepatan ngomong cinta sama kamu. Gerutu Linda.


"Nak, ayo makan! Udah ditungguin loh sama keluarga Ardan" tiba tiba suara di sebalik pintu membuyarkan lamunanku.


"Iya bu." jawab Linda.


...****************...


Ardan masih termenung. Bagaimana caranya menolak Linda di hatinya. Linda sudah bersemayam di hatinya sejak saat ia ditolong olehnya.


Gimana aku melupakan orang yang sudah menyelamatkanku bahkan sudah 2 kali. Gumam Ardan pada dirinya sendiri.


"Nduk lagi mikirin apa?." Tanya Pak Herman yang melihat gelagat Ardan yang seperti memikirkan sesuatu.


"Ndak ada kok pak." kilah Ardan.


"Lagi ditembak sama seseorang ya." rayu Pak Herman.


Ardan tak bisa menyembunyikan raut bahagianya ketika ditanya oleh Pak Herman. Untungnya hari itu Hari Minggu jadi ngga begitu banyak yang mengunjungi warung bakso Pak Herman.


"Sebenarnya sih iya pak. Cuma Ardan masih bingung ingin menerimanya atau tidak. Namun masa lalu ku masih menghantui diriku pak. Tetapi aku cinta sama dia pak." bimbang Ardan.


"Gini nak, kalau kamu masih memikirkan masa kelam tolak lah ia secara halus dan katakan alasanmu. Namun kalau kamu mencintai dia dan tak memikirkan masa kelammu maka lanjutkan lah nak."


Ardan mengangguk tanda mengerti apa yang diucapkan Pak Herman.


"Jangan pernah kabur dari masalah ya nak. Lebih baik bicarakan walaupun itu sakit."


Setelah itu Pak Herman kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun Ardan masih termenung di depan warung. Ia belum menceritakan tentang rasa sakitnya. Ardan belum siap untuk mengutarakannya sekarang apalagi Linda juga belum mengetahuinya hanya Dion yang paham dengan keadaannya sekarang.


Malam mulai menjelang. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Saat itu Ardan seperti biasa membantu Pak Herman menutup warungnya. Setelah itu ia memberikan kunci warungnya kepada Pak Herman.


"Nak, kamu sudah pikirkan apa yang akan kamu katakan?" tanya Pak Herman.


"Belum pak. Nanti malam saya akan pikirkan kembali."


"Jangan dipaksa, pikirkan besok saja. Jaga kesehatanmu."Ujar Pak Herman sambil menepuk pelan bahu Ardan.


"Iya pak. Kalau begitu saya pamit ya pak." Pamit Ardan sambil mencium punggung tangan Pak Herman.


"Ingat kalau ada apa apa, langsung kabari bapak ya."

__ADS_1


"Iya pak"


Ardan tidak ingin meninggalkan rumah yang sudah menjadi tempat bernaungnya dikala hujan dan panas. Walaupun Ardan di suruh Pak Herman untuk tinggal di rumahnya namun Ardan menolak karena belum terbiasa untuk tinggal di rumah baru dan juga ia masih berharap bahwa rumah ini akan menjadi rumah yang dapat disinggahi oleh anak keturunannya kelak.


Ardan terbaring di kasurnya sambil memikirkan apa yang akan ia katakan kepada Linda. Namun rasa kantuk mulai menjalar di tubuhnya karena lelah sehabis kerja. Ia akhirnya terlelap tidur.


...****************...


"Aku akan mendekati Ardan besok serasa hal itu tak pernah terjadi. Oke Linda lupakan hari itu dan coba dekati Ardan kembali." gumamnya kepada dirinya sendiri.


Linda kemudian membuka ponselnya namun tak ada respon sama sekali dari Ardan.


|| Good night Ardan ||


Pagi menjelang dengan sinar matahari menembus gorden warna krem tersebut.


"Ya ampun sayang, ayo bangun sudah pagi loh" ucap ibunya sambil membuka gorden jendela kamar Linda.


"Ayo siap siap berangkat sekolah."


Linda bangun sambil mengumpulkan nyawanya kembali dan meregangkan otot yang mulai kaku selepas pulang dari rumah Om Darma. Linda dan keluarga tak menginap disana karena ayahnya ada acara besoknya. Jadi mereka langsung pamit pulang.


Linda bergegas mandi dan berganti pakaian. Setelah itu makan sebentar dan pergi ke sekolah. Ia sangat semangat untuk hari ini. Linda akan mengulang kembali kedekatannya dengan Ardan. Setelah jauh untuk beberapa hari. Ia berusaha untuk kembali dekat dengan Ardan.


5 menit menunggu, motor Ardan melintas melewatinya. Linda langsung mematikan musik di ponselnya dan berdiri untuk menunggu kehadiran Ardan. Ketika Ardan sudah berada dekat di depannya, Linda memberikan jabat tangan hangatnya.


"Hai namaku Linda. Waktu itu kita kan belum memperkenalkan satu sama lain"


Ardan menerima jabat tangan Linda dan ingin mengatakan sesuatu kepada Linda.


"Oh ya saat itu aku belum membalas cintamu. Hari ini aku akan........."


"Ngga usah dibahas. Anggap saja waktu itu tak terjadi pada kita." Celetuk Linda memotong pembicaraan Ardan.


Linda kemudian menggandeng tangan Ardan dan mengajaknya untuk ke ruang kelas bersama.


"Yuk" ajak Linda.


Ardan tak menyadari hal itu langsung di tarik oleh Linda untuk pergi dari tempat parkir sekolah.


"Mau kemana?" tanya Ardan.


"Ke pelaminan. Ya ke ruang kelas lah."

__ADS_1


Ardan menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Kalau ke pelaminan juga ngga papa?" gerutu Ardan dalam tundukan wajahnya.


Namun suara Ardan tak terdengar oleh Linda karena pada saat itu bel sekolah berbunyi.


"Ardan, itu ruang kelas kamu kan?" tanya Linda pura pura ngga tau.


Ardan memposisikan kepalanya kembali dan melihat apa yang ditunjuk Linda. Ardan kemudian menjawabnya dengan anggukan.


"Baiklah. Nanti sore ketemu lagi ya di parkiran biasanya." ujar Linda


Linda mendekat ke telinga Ardan dan membisikkan sesuatu.


"Aku tunggu."


Linda pergi meninggalkan Ardan di depan kelasnya dan segera masuk ke kelas. Untung saja jarak kelas Ardan tak cukup jauh dari kelasnya jadi ia agak santai.


Di satu sisi, wajah Ardan merah merona. Ardan terpaku di depan kelasnya. Hingga Pak Guru menepuk bahunya dan membuyarkan lamunan Ardan.


"Kamu ngga papa nak?" tanya Pak Guru tersebut.


"Ngga papa pak." Ardan lantas pergi ke mejanya dan kelas pun dimulai.


...****************...


Bel pulang sekolah pun berbunyi, Ardan bergegas pergi menemui Linda namun hujan tiba tiba melanda. Ia tak bisa pergi ke parkiran karena jarak parkiran yang cukup jauh.


Ardan kemudian berinisiatif untuk pergi ke kelas Linda. Untunglah Linda juga menunggu hujan di teras kelas.


"Linda...." sapa Ardan.


Linda pun menoleh dan mendapati Ardan berdiri di samping kelasnya. Linda berlari mendekati Ardan.


"Maaf, aku tidak bisa menunggu kamu di parkiran sesuai janjiku." lapor Linda kepada Ardan.


"Ngga papa toh juga masih hujan." jawab Ardan.


"Gimana kalau kita main hujan bersama?" lontar Linda tanpa berpikir panjang.


"Tapi Linda nanti kamu......"


"Udah ngga papa. Aku ngga bakalan sakit kok." Linda pun menarik tangan Ardan berlari melintasi hujan yang cukup deras. Tangan mereka saling bergandengan seperti layaknya pasangan yang tak terpisahkan. Mereka berlari menyusuri lapangan yang basah akibat hujan untuk sampai di parkiran.

__ADS_1


Tuhan tolong hentikan sejenak waktu ini. Dimana aku dapat melihat senyum yang terulas dari wanita yang kusukai. Gumam Ardan dalam hatinya.


__ADS_2