Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
9. Pertemuan


__ADS_3

Setelah basah kuyup akibat hujan, Linda masuk bersama Ardan ke rumah Linda. Disana Ardan disambut baik oleh mamanya Linda.


"Ya ampun sayang kok basah kuyup begini?" tanya mamanya.


"Abisnya keasikan main hujan ma." canda Linda.


"Oh ya ma kenalin ini Ardan. Teman baru aku." Linda memperkenalkan Ardan kepada mama Linda.


Ardan kemudian mencium punggung tangan mamanya Linda.


"Ya ampun nak. Kamu pasti diajak anak mama main hujan hujanan juga ya. Maafin anak mama ya." keluh mamanya akibat ulah anaknya.


"Ngga papa kok bu."


"Sekalian kamu mandi saja disini nanti mama pinjamkan baju suami mama." ujar mama Linda


"Ngga usah bu. Yang ada nanti saya malah ngerepotin mama." jawab Ardan.


"Ngga papa. Kalau kelamaan nanti bisa sakit loh. Linda ajak teman kamu ke kamar mandi. mama mau nyiapin makanan dulu." pinta mamanya kepada anaknya.


Linda memberikan isyarat berupa hormat kepada mamanya dan bergegas mengajak Ardan untuk segera ke kamar mandi.


"Kamu aja duluan, kamu kan juga basah kuyup." pinta Ardan.


"Tenang, kamar mandi disini ngga cuma 1 kok. Aku akan mandi di ruang private milik ortuku. Jadi kamu bergegas pergi dan ganti pakaianmu yang basah." kata Linda sambil menyodorkan handuk kering kepada Ardan.


"Makasih."


"Kamu kelamaan." Linda mendorong tubuh Ardan untuk masuk ke kamar mandi dan menutupnya.


Di balik kamar mandi wajah mereka seperti buah tomat. Merah merona. Ardan tak berhenti untuk menunduk. Sedangkan Linda harus bergegas pergi mandi.


"Ardan sayang, ini baju suami mama. mama taruh di depan meja kamar mandi ya." teriak mamanya Linda.


"Iya bu. Maaf ngerepotin." teriak Ardan dari dalam kamar mandi.


"Ngga papa kok. Kamu cepetan ganti baju ya. mama sudah menyiapkan makanan di meja makan." teriak kembali mamanya Linda.


mamanya Linda bergegas pergi meninggalkan Ardan. Tak berselang lama, Ardan keluar dengan menggunakan handuk saja di bagian bawahnya. Ia cepat cepat mengambil baju yang berada di meja samping kamar mandi dan memakainya.


Namun alangkah terkejutnya ketika Linda menemukan Ardan tanpa menggunakan baju. Sontak ia berteriak dan dilihat oleh Ardan yang sudah memakai bajunya.


"Haaaa....." teriak Linda.


"Ada apa nak?" mamanya bergegas menghampiri anaknya.


Melihat Ardan yang sudah keluar dari kamar mandi membuat mamanya melupakan kejadian anaknya.


"Ardan, sudah mandi? Ayo ke meja makan. mama sudah siapkan makanan spesial buat kamu." ajak mama Linda.


"Iya bu. Makasih." Ardan menghampiri keduanya namun Linda masih melamun syok karena melihat tubuh atletis milik Ardan.


"Linda, ayo makan." ajak Ardan.


"Oh, iya duluan aja." balas Linda.


Linda tak habis pikir apa yang ia lihat barusan sangat membuat jantungnya berdegup cukup kuat.


Ya ampun gua tadi liat apaan? Aduh jangan mikirin ya ngga ngga deh linda. Batin Linda sambil menepuk nepuk pipinya.


Setelah makan malam selesai, Ardan bergegas pamit kepada kedua orang tua Linda. Saat itu papanya sudah pulang dari pekerjaannya di kantor. papanya juga ramah kepada Ardan. Menyambut baik seperti yang dilakukan istrinya kepadanya.

__ADS_1


"Pak. Bu, Ardan pamit ya." pamit Ardan kepada kedua orang tua Linda.


"Oh ya, hati hati ya." balas ayah Linda.


mama Linda memberikan sebuah bingkisan kecil untuk dibawa Ardan pulang.


"Ini nak, sebagai permintaan maaf anak mama karena telah mengajak kamu main hujan." Mama Linda sambil menyodorkan bingkisan tersebut kepada Ardan.


"Ngga usah bu, ngerepotin"


"Ndak kok, terima saja ya buat nanti makan di rumah."


Ardan kemudian menerima bingkisan tersebut dan pamit pergi dari rumah Linda.


"Ma, Linda anterin sampai depan rumah ya!" pinta Linda bangkit dari duduknya.


"Iya anter Ardan sampai depan sana." ujar mamanya.


Linda mengantar Ardan ke depan


rumahnya.


"Aku pamit ya."


"Iya hati hati di jalan. Jangan lupa nanti di makan ya." ucap Linda


"Iya". balas Ardan dan segera melajukan sepedanya meninggalkan rumah Linda.


Di balik helmnya, Ardan tersenyum bahagia. Ia tak ingin hari ini berakhir. Ia ingin terus bersama Linda. Ia bahagia sangat bahagia. Ia melajukan sepedanya ke arah warung Pak Herman. Disana sudah biasa ramai sekali dengan para pembeli. Ardan langsung bergegas menolong Bu Farda di dapur.


...****************...


"Ah, kenapa gua salting terus sih." Linda menutupi wajahnya di sebalik selimutnya.


Jantungnya sudah berasa ingin keluar dari tempatnya. Hatinya sudah dipenuhi oleh cintanya kepada Ardan. Pertama kali Linda melihat tubuh Ardan yang body goals banget. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mendapati chatnya dibalas namun karena terlalu asik bersamanya jadi baru kebaca sekarang.


^^^|| Good night juga. Maaf baru bales ||^^^


|| Ngga papa kok ||


Otaknya sudah dipenuhi oleh khayalan yang tak masuk akal tentang Ardan. Bahkan ia memikirkan bagaimana jadinya kalau ia jadi istri Ardan. Wajah dan body ya sudah tak diragukan lagi. Mungkin anaknya kelak bakalan ganteng kayak Ardan.


Hingga ia tak sadar bahwa ia sudah lama berangan angan dan jam menunjukkan pukul 11 malam. Notif ponsel Linda berbunyi.


^^^|| Besok, ikut aku yuk ||^^^


|| Kemana? ||


^^^|| udah ikut saja ||^^^


|| Ih kemana dulu? ||


^^^|| Surprise,nanti kamu juga bakalan tau ||^^^


|| Oke.||


^^^|| Besok aku tunggu di parkiran atau di kelas? ||^^^


|| Di kelas aja. Sekalian ke parkiran bersama. Gimana? ||


^^^|| Oke. Good night ||^^^

__ADS_1


|| Good Night ||


Linda kemudian membanting ponselnya ke arah samping bantalnya. Linda malah makin gila dibuatnya. Ia berjingkrak jingkrak di bawah selimutnya.


...****************...


Keesokan harinya, Linda berangkat sekolah dengan semangat dan rasa penasarannya.


Tapi waktunya masih lama. Ia seperti biasa menunggu Ardan di tempat duduk di dekat area parkiran sambil mendengarkan musik. Kedua kalinya, Ardan melewati Linda namun saat itu Ardan tau keberadaan Linda.


Linda bangkit dari duduknya dan mematikan musik di ponselnya. Menghampiri Ardan dan menggandeng tangannya. Melintasi lorong kelas untuk segera sampai di kelas Ardan. Namun sekarang Ardan ingin membawa Linda ke kelasnya terlebih dahulu. Linda menurut saja dan membiarkan Ardan menarik tangannya ke arah ruang kelasnya.


"Nanti aku tunggu di sini ya." ucap Ardan dan segera pergi meninggalkan Linda.


"Ardan......." Teriak Linda ketika Ardan ingin menghilang di balik lorong.


"Hati hati ya." Ucap Linda.


Ardan memberikan isyarat hormat kepada Linda dengan senyum yang terulas di bibirnya sebelum menghilang di sebalik lorong.


Linda masih terpaku didepan ruang kelasnya kemudian tak berselang lama, Dion mengagetkannya.


"Hayoloh, lagi merhatiin apa?" tanya Dion.


"Dion, lu tuh ya kebiasaan suka ngagetin gua aja." cerca Linda lantas masuk ke kelasnya.


Dion kemudian mengikuti Linda dari belakang. Dion menaruh tasnya dan menghampiri meja Linda.


"Nih untukmu dari Om Darma."


Reaksi Linda masih muram kerena habis dikagetin oleh Dion. Dion kemudian mengelus elus pucuk kepala Linda.


"Dih, bocil ngamok ya?" canda Dion.


"Apaan sih Dion." Linda menepis tangan Dion yang berada di kepalanya.


"Kagak bilang terima kasih nih. Itu bingkisan dari Om Darma gua bawain"


"Makasih." cetus Linda.


"Yaudah maafin ya."


"Heem"


"Di maafin kagak?"


"Heem"


"Alinda Agustina. Maafkan kesalahan Dion Sanjaya ya."


"Iya dimaafin"


"Senyumnya dong masa masih cemberut gitu."


Linda kemudian mengulas senyum kepada Dion secara paksa.


"Nah gitu dong."


Tiba tiba bu guru datang dan memulai pelajarannya. Mood Linda menurun akibat ulah Dion. Kemarin ia ngga masuk karena masih menikmati liburannya di rumah Om Darma. Hari ini ia masuk sudah meruntuhkan mood yang Linda bangun untuk Ardan. Dion trus menerus melihat Linda dari bangkunya. Matanya tak lepas dari wanita cantik di sampingnya.


Linda gua suka sama lu. Gua ingin mengutarakan cinta ini kepadamu. Batin Dion sambil tersenyum ke arah Linda. Namun Linda tak mengetahui bahwa ia dari tadi dilihatin oleh Dion.

__ADS_1


__ADS_2