
"Ibu......" sapa Ardan langsung memeluk ibunya.
"Ibu baik baik saja disini?" tanya Ardan.
"Ibu baik kok nak. Maafkan ibu ya ngga pernah memeluk Ardan seperti ini." jawab ibunya masih memeluk anaknya.
"Ibu, aku mau kenalin ibu sama Linda. Dia wanita tipe Ardan banget."
"Iya nanti ibu bakal kenalan kok sama Linda. Yang terpenting sekarang kamu ngga papa."
Ibunya menggandeng tangan anaknya mengajaknya kearah taman yang indah sekali. Dimana banyak kupu kupu berterbangan kesana kemari juga awan berasa menari nari diatas langit biru.
Mereka memilih untuk duduk dibawah pohon besar dan menikmati keajaiban yang Tuhan ciptakan.
"Nak, ibu ingin sekali membahagiakanmu namun ibu telat. Ibu terlanjur meninggalkanmu."
"Ngga, ibu sudah merawat Ardan hingga tumbuh dewasa seperti ini itu sudah lebih dari cukup buat Ardan. Kebahagiaan Ardan adalah bisa melihat orang yang Ardan sayangi hidup bebas tanpa kekangan. Seperti ibu. Dulu waktu ibu selalu diperintah kesana kemari oleh ayah membuat Ardan sangat sedih. Ibu tidak bisa istirahat apalagi soal kerjaan. Ayah begitu gila kerjaan hingga membuat ibu jadi kewalahan. Ardan ngga mau itu terjadi lagi. Hingga saat ibu melampiaskan kekesalan ibu kepada para lelaki di luar sana. Aku tahu ibu ingin sekali merasakan kasih sayang. Sama seperti Ardan. Namun, Ardan sudah mendapatkan kasih sayang Ardan melalui Pak Herman dan Bu Farda."
"Maaf nak. Kamu harus mencari kasih sayang kepada orang lain."
"Iya bu. Ardan sudah maafkan ibu sejak lama. Jadi ibu bisa tenang ya disini."
"Makasih nak." Kata ibunya sambil memeluk tubuh anaknya.
Ardan pun membalas pelukan ibunya. Ia sudah merasakan pelukan ibunya untuk pertama kalinya dalam hidup Ardan. Tanpa terasa buliran air mata jatuh dari pelupuk mata Ardan. Ardan sudah tak bisa lagi menahan rasa bahagia dalam hatinya. Ia ingin berlama lama merasakan kasih sayang ibunya.
...****************...
"Linda........" panggil seseorang.
Linda menoleh melihat ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Iya, kenapa?" tanya Linda.
Seorang lelaki berjalan cepat kearah Linda. Laki laki tersebut tampak tinggi tegap dan postur Linda didekatnya serasa bagaikan anak kecil.
"Kamu tahu kabar Ardan ngga?" tanya lelaki tersebut.
"Maaf, anda siapa ya? Kok nanya nanya soal Ardan."
"Saya Fatur, teman sekelas Ardan."
"Oh, Fatur.. Maaf aku sudah ngga ada hubungan lagi dengan Ardan selama beberapa hari ini. Jadi aku ngga tau dia dimana sekarang?"
__ADS_1
"Baiklah, makasih ya." Fatur pergi meninggalkan Linda yang masih berada di ambang pintu kelasnya. Linda tadi sebenarnya ingin ke kantin untuk makan namun tiba tiba dihentikan oleh keberadaan Fatur yang menanyakan kabar tentang Ardan.
...****************...
Dari kejauhan, Dion sudah membawakan sebuah roti serta minuman untuknya juga Linda.
Dion bergegas berlari ke arah Linda sebelum ia pergi begitu saja.
Ketika Linda hendak pergi sodoran roti serta minuman kembali menghentikan langkahnya. Itu ternyata Dion.
"Untuk lu." Ujar Dion sambil menyodorkan roti dan minuman yang ia bawa.
"Makasih."
"Kita duduk disana yuk." ajak Dion ke arah bangku depan lapangan.
Linda mengangguk saja menuruti perkataan Dion dan segera berjalan ke arah bangku yang ditunjuk. Dion juga berjalan berjejeran dengan langkah Linda. Ia nampak bahagia ketika Linda mau diajaknya untuk makan berdua.
Linda duduk disusul oleh Dion duduk didepannya. Dion membuka bungkus rotinya dan langsung melahapnya. Linda yang nampak kesusahan membuka bungkus rotinya melihat ke arah Dion supaya membantunya membukakannya.
Untungnya tatapan memelas dari Linda membuat Dion langsung peka dan segera membuka bungkus roti milik Linda. Dion juga membukakan botol minuman yang masih tersegel rapat.
"Makasih." ucap Linda seraya memakan roti yang sudah dibuka.
Dion membalasnya dengan tersenyum ke arah Linda. Mereka menikmati angin sepoi sepoi yang berhembus hingga membuat daun dan ranting bergoyang.
"Iya... Kenapa Dion?" tanya Linda
"Seandainya orang yang lu sayangi meninggalkan lu begitu saja. Lu bakal maafin dia kagak?"
"Tergantung sih. Seberapa penting dia di kehidupan gua."
"Kamu sudah terima buket bunga dariku?"
"Oh ternyata itu dari lu. Kok lu ngga cantumin nama lu di buketnya. Gua kan jadi bingung itu dari siapa."
"Gua cantumin kok. Mana ada orang ngirim buket ngga tercantum nama pengirimnya."
"Serius.... Gua kemarin dapat buket bunga lain dong. Soalnya di buket tersebut kagak ada nama pengirimnya."
"Coba lu jelasin warna bunga yang dikasih sama seseorang itu apa saja?"
"Kira kira paling banyak warna kuning sih. Trus ada surat tuh didalam buketnya. Kalau ngga salah tulisannya " Temui aku di cafe rembulan jam 4 sore " gitu."
__ADS_1
"Gua ngasih buket ke lu karena hari ini ulang tahun lu dan gua kasihnya bunga mawar."
"Gua kagak nerima tuh bunga. Kesasar kali. Oh ya makasih ya atas ucapan ulang tahunnya gua kira lu lupa."
Dering telepon dari orang tak dikenal kembali menelpon ponsel milik Linda. Ia melihat tak ada nama yang tercantum di nomer tersebut. Linda mencoba mengangkatnya.
"Halo, dengan siapa ya?" tanya Linda kepada suara di seberang sana.
"Linda temui Ardan nak. Dia lagi koma di rumah sakit." dibarengi dengan suara isakan tangis dari si pemilik suara tersebut.
"Ibu Farda kah? Kenapa bu? Ada apa dengan Ardan?!!" tanya Linda nampak cemas mendengar kabar tersebut.
"Iya nak. Saya bu Farda. Tolong temui Ardan nak. Sebentar saja." pinta Bu Farda di ponsel.
"Nanti sehabis pulang sekolah, Linda segera ke sana."
Linda tak kuasa menahan buliran air mata yang tiba tiba jatuh dari pelupuknya.
"Ada apa Linda?" tanya Dion.
"Ardan koma Dion. Dia sekarang ada di rumah sakit." terisak isak Linda menjawab pertanyaan Dion.
Dion memeluk tubuh Linda mencoba untuk menenangkannya.
"Dion, apakah ini termasuk pertanyaan yang kau lontarkan kepadaku?" tanya Linda.
"Iya."
Tangis Linda langsung pecah diiringi suara menjerit di dalam dekapan Dion.
"Kali ini. Aku sangat tak ingin kehilangan dia. Meskipun dia sudah menyakitiku."
Dion masih berbesar hati menerima Linda meskipun hatinya bukan untuk dirinya seutuhnya. Dion akan berjuang kembali mendapatkan hati Linda ketika Ardan sudah sadarkan diri dan sehat kembali.
...****************...
Didalam kelas Linda ingin segera cepat cepat pulang agar bisa menjenguk Ardan di rumah sakit. Linda selalu memain mainkan pulpen yang ia pegang namun tak ada satupun yang ia catat.
Linda khawatir terjadi apa apa kepada Ardan disana. Dion yang nampak dari kejauhan memandang Linda seperti ingin sekali segera beranjak dari tempat duduknya.
Linda, apakah tak ada sedikit hatimu untukku. Batin Dion.
...****************...
__ADS_1
Bel pulang berbunyi Linda segera cepat cepat berlari meninggalkan kelas. Menuruni tangga dan segera memesan taxi. Ketika sudah mencapai gerbang sekolah, didepan berdiri seorang wanita dengan muka lebam yang ia tutupi dengan masker. Wanita tersebut menatap Linda.
Wanita tersebut kemudian membuka maskernya ternyata itu adalah Lina. Wanita yang menyakitinya.