
Ardan membuka matanya dan mendapati dirinya berada di rumah sakit. Ia melihat sekeliling dan netranya menangkap sosok wajah cantik tampak muram dan sedih melihat Ardan terbaring.
"Lina..." ucap Ardan.
"Ardan kamu sudah sadar." balas Lina nampak khawatir.
Ardan menggangguk dan melihat kembali ke sekeliling. Ia tidak mendapati Pak Herman dan Bu Farda.
"Kemana Pak Herman dan Bu Farda?"
"Dia mengambil obat untukmu."
Ardan kembali menganggukkan kepala kedua kalinya. Beberapa menit, kedua sahabat tersebut saling diam hanya terdengar suara dentingan jarum jam. Tak lama Lina memulai percakapan.
"Sejak kapan kamu sakit kanker hati?" tanya Lina.
Ardan memalingkan wajahnya sejenak melihat ke arah jendela, melihat burung terbang kesana kemari dan mendengar suara bising kendaaraan berlalu lalang di bawah.
"Kamu tahu, bagaimana rasanya dicampakan bahkan oleh kedua orang tua sendiri?. seperti seorang anak yang tak diinginkan." ujar Ardan masih melihat pemandangan dari jendela.
Ardan bangun dan bersandar pada tepian ranjang kasurnya dan menatap manik hitam milik Lina.
"Aku iri padamu." ujar kembali Ardan.
Tiba tiba ada yang membuka pintu dan membuat Ardan dan Lina sontak menoleh ke ambang pintu. Mereka mendapati kedua sosok pasangan suami istri menghampiri Ardan.
"Ardan, kamu ngga papa?" Khawatir Bu Farda.
"Aku baik kok bu." jawab Ardan.
"Ardan, kenapa tak kau ceritakan soal ini kepada kami. Bapak sama ibu memang bukan orang tua kandungmu, namun kau sudah ku anggap anak sendiri. Nak, sudah berapa lama kamu menyembunyikan hal ini kepada bapak?" tanya Pak Herman
"Maaf pak, bu. Bukan Ardan tak mau memberitahu namun Ardan tak ingin membuat bapak sama ibu khawatir akan keadaan Ardan. Ardan sudah banyak ngerepotin kalian dari dulu dan Ardan tak mau direpotkan kembali." beber Ardan.
"Namun ketika kamu tak mengatakan ini kepada kami itu membuat kami sakit Ardan. Bapak sudah pernah bilang padamu. Seburuk apapun masalah, ceritakan pada kami. Yaudah kamu istirahat saja. Jangan banyak pikiran." nasehat Pak Herman.
...****************...
Linda terlihat mondar mandir kesana kemari di kamarnya. Dari kemarin, ia tak mendapat pesan apalagi bertemu dengan Ardan di sekolah.
"Ardan, kenapa rasa khawatir ini menjalar di hatiku. Apa kamu terjadi apa apa Ardan sampai kau buat aku khawatir akanmu?"
Notifikasi dari ponselnya membuat Linda langsung membuka ponselnya. Namun itu bukan pesan dari Ardan tetapi Dion.
Dion :
Lu besok free kan?
^^^Linda :^^^
^^^Iya, kenapa?^^^
Dion :
Besok lu bisa kan kerja kelompok buat tugas dari Bu Indah tadi?
^^^Linda :^^^
^^^Tugasnya 2 minggu lagi dikumpulkan kenapa buru buru sih?^^^
Dion :
__ADS_1
Ya gapapa sekalian nyicil biar pas hari H nya kagak gelagapan.
^^^Linda :^^^
^^^Baiklah. Di rumah siapa?^^^
Dion merasa bahagia kalau Linda besok bisa ikut untuk kerja kelompok. Dia tak henti hentinya bilang yes yes yes.
Dion :
Jam 8 di rumah gua, nanti gua ajak Wati sama Juno juga.
^^^Linda :^^^
^^^Oke besok gua langsung kesana.^^^
Setelah membalas pesan dari Dion, Linda membuka pesan yang selalu ia kirimkan ke Ardan. Ia membaca pesan singkat namun membuatnya gembira.
"Gua suka sama lu Ardan. Entah kenapa hatiku berdebar ketika pertama kali kita bertemu di UKS. Saat itu aku ingin sekali memilikimu untuk menjadi kekasihku atau mungkin suamiku. Astaga Linda lu kenapa jadi halu gini sih." gerutunya dengan setan di kamarnya.
Setan be like : Sudah kebiasaan cewek itu. Jadi kagak usah diganggu gugat.
...****************...
Linda mencoba menghubungi Ardan karena kemarin ia lupa. Ia duduk di teras rumah sambil menunggu jemputan dari Dion. Namun Ardan tak merespon panggilan Linda.
"Ini orang kemana sih buat khawatir saja." geram Linda.
Tiba tiba Dion sampai di depan teras rumahnya. Linda saat itu masih fokus kepada ponselnya.
"Linda..." sapa Dion.
Linda masih tetap berkutat dengan ponselnya hingga tiba tiba bel motor sport milik Dion mengejutkannya.
Tiiiiinnnnnn.
"Setan, untung ponsel gua ngga jatuh." celetuk Linda.
"Serius amat liat ponselnya." canda Dion
"Terserah gua." ucap Linda.
Linda berdiri dan menghampiri motor sport Dion dan memakai helm yang disodorkan Dion.
"Lu tahu soal Ardan ngga?" tanya Linda setelah memasang helmnya.
"Lu kenapa tanya soal dia." jutek Dion.
"Kagak papa. Soalnya kemarin dia ngga masuk sekolah."
"Tanya aja sama orangnya. Kenapa tanya gua." cerca Dion.
"Idih, gitu doang aja lu marah." celetuk Linda.
Linda kemudian naik dan memegang pundak Dion agar tidak jatuh. Dion mengegas motornya dan memberhentikannya secara mendadak hingga membuat Linda langsung memeluk pinggang Dion.
"Nah gitu dong. Pegangan kok di bahu kayak teman aja." goda Dion.
"Lah emang kita temenan." kata Linda sambil mengalihkan kembali tangannya memegang pundak Dion.
Kata kata dari Linda membuat hati Dion sakit. Linda masih menganggap dirinya hanya sebatas teman saja. Namun Dion ngga akan putus asa membuat Linda jatuh cinta sama dirinya.
__ADS_1
"Yaudah kita jalan." ajak Dion dan langsung melajukan motor sportnya.
...****************...
"Ardan, kamu kenapa kagak mau makan?. Mau aku suapin?" tanya Lina.
"Males gua." jawab Ardan.
Lina kemudian duduk di bangku disebelah ranjang Ardan.
"Kalau kamu ngga mau makan. Gimana kamu bisa sehat. Makan sedikit saja ya." ucap Lina sambil mengambil mangkok berisi bubur di meja kecil sebelahnya.
"Gua boleh pinjam ponselmu ngga?" tanya Ardan.
"Boleh buat apa?"
Lina mengeluarkan ponselnya dan langsung disahut oleh Ardan. Ardan kemudian mengotak atik ponsel Lina dan menelpon Linda. Namun tak ada respon dari Linda.
"Makasih." sambil mengembalikan ponsel Lina.
Ardan beranjak dari tempat tidurnya dan melepas paksa selang infus yang tertancap di tangannya.
"Ardan mau kemana?" tanya Lina.
"Ngga perlu tahu."
Ardan bergegas pergi meninggalkan Lina sendirian di ruangannya. Untung saja, Pak Herman membawa motor sportnya dan memakirkannya di basemant rumah sakit. Ia berjalan ke parkiran dan melajukan motornya.
Lina masih menatap kosong ambang pintu yang terbuka akibat Ardan.
Jadi ini maksud dari jawabanmu Ardan. Batin Lina.
...****************...
"Ardan, kalau kita sudah besar nanti. Kamu mau ngga nikah sama aku?" tanya Lina kecil.
"Nikah?!.Tidak Lina kamu harus mempunyai pasangan yang sempurna daripada aku." jawab Ardan.
Ardan bergegas pergi dari taman dan meninggalkan Lina.
"Ardan.... Tungguin aku." teriak Lina.
...****************...
Ardan melajukan motornya hingga ia sampai di depan rumahnya. Ia kemudian masuk dan berganti pakaian untuk menuju rumah Linda.
Matahari tampak bersinar cerah di atas kepala. Siang hari yang begitu panas tak menyusutkan rasa rindu Ardan kepada Linda. Ia ingin sekali bertemu dan melihat wajah Linda.
Di jalan ia menangkap sosok yang ia suka tengah dibonceng oleh seorang lelaki.
"Itu seperti Linda."
Melihat hal itu, Ardan putar balik dan segera tancap gas mengikuti motor sport tersebut. Dion melihat ada kejanggalan di balik spionnya seperti ada yang mengikutinya. Dion melihat motor sport milik Ardan di belakangnya. Dion semakin cepat melajukan motornya membuat Linda semakin erat memegang bahu Dion.
"Pegangan Linda." ucap Dion.
"Haa.. Apa..... Gua kagak dengar." Linda tak mendengar apa yang diucapkan Dion karena Dion mengendarai cukup cepat.
Melihat lelaki tersebut semakin cepat berkendara membuat Ardan juga melajukan motornya secepat kilat. Hingga ia bisa memotong jalan si pemotor tersebut.
Dion terkejut melihat motor Ardan di depannya dan segera memberhentikannya secara mendadak. Linda sambil terperanjat kaget akibat rem mendadak dari Dion.
__ADS_1