Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
7. Menjenguk Keponakan


__ADS_3

Pikiranku kacau, setelah memberikan pesanan mama. Aku segera ke kamar dan membantingkan tubuhku ke kasur.


"Apa yang barusan aku katakan pada Ardan?" gumamku


Aku merasakan denyut jantungku bekerja begitu cepat. Hingga detaknya ku rasakan di sekujur tubuhku. Hatiku gembira bak mendapatkan uang 1 triliun secara tiba tiba.


Aku berjingkrak jingkrak dan malu dengan diriku sendiri di atas kasurku.


"Kenapa lidahku tak bisa diajak kompromi. Mengapa secepat itu aku mengungkapkan cintaku kepada Ardan."


Namun aku juga berpikir kenapa reaksi Ardan seperti tak menginginkan hal ini.


...****************...


Suara Dion terngiang ngiang di telingaku. Aku ngga konsen dengan apa yang aku kerjakan.


Lu ngga kasihan sama Linda.


"Ardan, kamu kenapa nak?"


Tiba tiba Bu Farda menepuk pundakku membuatku terkejut dan hampir membuat mangkok bakso di tanganku meloncat.


"Ha.. Ngga papa kok bu."kilahku padahal masalah mengerubungiku.


"Kalau kamu sakit atau capek. Istirahat saja, jangan dipaksa, ngga baik." tutur Bu Farda dengan suara lembutnya.


"Ardan ngga papa kok bu. Ardan sehat sehat saja." sambil mengulas senyum palsu.


...****************...


Dering telepon membuyarkan semua lamunanku. Aku melihat ponselku yang berada di meja kecil pinggir kasur. Ternyata itu dari Dion.


"Nda, lu mau ikut menjenguk keponakanku ngga? Dia sudah lahir."


"Apa?!! Keponakanmu? Oh yang dari Tante Kiana sama Om Darma ya."


"Iya barusan ayahku bilang begitu."


"Wah selamat ya."


"Makasih Linda. Jadi lu mau ikut kagak?. Ajak orang tuamu juga biar ramai nanti."


"Emang gapapa?"


"Orang tuamu juga kenal mereka kok. Jadi kamu ngga perlu takut."


"Oke. Bentar aku tanya mereka dulu ya."


Perbincangan mereka kemudian di tutup oleh Linda. Linda mencoba mengabari hal ini kepada kedua orang tuanya.


"Papa mama, tadi Dion ngasih kabar bahwa keponakannya sudah lahir."


"Oh ya? Om Darma itu ya?" ujar mamanya.


"Kok kalian bisa tahu."

__ADS_1


"Kan dia adik dari teman papa. Masak kami ngga tahu." sahut papanya sambil membawa secangkir teh untuk diminum di ruang tamu.


"Jadi gimana pa. Mau ikut kagak?"


"Boleh deh. Sekalian mau refreshing dari kota ini." ujar kembali ayahnya.


"Oke kalau begitu aku kabari Dion dulu." jawab Linda sekalian dia balik menuju kamarnya sendiri.


|| Dion, orang tua gua setuju kalau mereka mau ikut ||


^^^|| Oke besok jam 7 kita berangkat ||^^^


Linda menutup kembali ponselnya dan masih memikirkan tentang Ardan kembali. Ia kemudian mencari kontak Ardan.


|| Ardan kamu kenapa? ||


|| Kalau punya masalah cerita sama aku saja barangkali aku bisa bantu ||


...****************...


Disatu sisi Ardan melihat chat yang dikirim oleh Linda untuknya. Ia tak bisa cerita soal penyakitnya. Ia hanya ingin melihat Linda bahagia walaupun tanpa bersamanya.


Maaf Linda mungkin untuk saat ini aku harus belajar untuk tidak mengenalmu lebih dalam lagi karena aku takut kamu akan terjerumus semakin jauh ke dalam hatiku dan kamu akan sakit dibuatnya setelah mendengar kebenaran yang ku sembuyikan


...****************...


Chat yang kemarin sempat dikirim oleh Linda ternyata tak membuahkan hasil apa apa. Ardan masih diam tak membalas chat darinya. Linda menunggu sampai pagi mulai menyingsing namun tak ada yang ia dapatkan.


Perasaanya kini campur aduk. Antara bahagia juga sedih. Ingin sekali Linda dibalas cintanya namun kenyataan tak memihak pada dirinya.


"Linda, ayo masuk nak." ujar mamanya yang sudah masuk di mobil.


"Ah iya ma."


Setelah memakai sepatunya, ia bergegas menaiki mobil ayahnya.


Di Perjalanan ia tampak muram dan tak ada semangat untuk mengunjungi keponakan barunya Dion. Entah mengapa semangatnya mulai turun kembali karena Ardan sama sekali tak memberikan kabar selepas hal itu terjadi.


Linda melihat banyak gedung gedung tinggi disebelahnya tanpa ada rasa gairah untuk mengunjunginya suatu saat.


Orang tuanya sibuk berbincang hal hal sepele yang membuat Linda merasa bosan di dalam mobil.


Sesekali mereka berhenti untuk membeli sebuah camilan di supermarket dan melanjutkan perjalanannya. Waktu yang ditempuh kurang lebih sekitar 5 jam. Linda sudah sangat bosan dan memutuskan untuk tidur saja.


...****************...


"Gua juga suka sama lu Linda. Makasih ya sudah mengutarakan cintamu kepadaku."


"Ah bukan apa apa. Jadi kita sekarang resmikan pacaran."


Ardan manggut manggut tanda menerima pernyataan Linda.


Linda tak bisa menutupi wajah memerahnya karena ia telah diterima oleh Ardan. Namun hal yang tak diinginkan terjadi. Ardan menghilang pergi bersama kabut tebal warna putih.


"Ardan.....Ardan...."

__ADS_1


Linda memanggil manggil nama Ardan. Ia kemudian membuka matanya perlahan dan memperlihatkan wajah Dion dihadapannya.


"Linda, ayo turun kita sudah sampai." ujar Dion yang sedari tadi menghadang pintu mobil disebelahnya.


"Dion...." Linda masih mengumpulkan nyawanya dan beranjak turun dari mobil ayahnya.


"Kamu tadi tidur dan mamamu suruh aku untuk membangunkanmu." ucap kembali Dion.


Linda menganggukan kepalanya dan berusaha meregangkan ototnya karena pegal habis tidur entah berapa lama.


"Ayo kita masuk." ajak Dion menggandeng tangan Linda untuk segera masuk ke sebuah rumah yang cukup mewah dan minimalis.


Linda kemudian masuk bersama dengan Dion. Dion masih memegang tangan Linda.


"Wah, pasangan sejoli lagi mesra mesranya nih." ucap Tante Kiana.


"Oh ngga kok tante." Linda sudah sadar sepenuhnya dan melepaskan genggaman tangan Dion.


"Anaknya kok imut tan? Boleh aku gedong ngga?" tanya Linda.


"Boleh dong. Masak ngga boleh." celetuk Tante Kiana.


"Hati hati ya Linda dia masih kecil." tutur mamanya.


"Iya ma"


Linda menggendong keponakan Dion dengan perlahan dan hati hati.


"Kamu lucu banget sih." kata Linda melihat bayi tersebut.


Dion sedari tadi melihat Linda menimang nimang keponakannya. Dion mendekat dan ingin melihat juga keponakannya.


"Lucu ya." ucap Dion sambil menyentuh pipi mungil bayi tersebut.


"Iya." jawab Linda.


"Kapan nih kedua keluarga besanan?. Udah cocok tuh." celetuk Tante Kiana.


Orang tuaku juga orang tua Dion tampak begitu bahagia ketika aku dan Dion dijodoh jodohkan.


"Ih, apa sih tan. Aku kan masih sekolah. Aku juga ngga mau cepet nikah." ketusku.


Lagian aku juga sudah punya Ardan. Batinku.


...****************...


"Pak, apa yang bapak lakukan ketika bapak ditembak wanita yang paling bapak cintai namun bapak punya masa kelam yang menbuat bapak harus merelakannya." tutur Ardan kepada bapaknya yang tengah menyajikan bakso ke pelanggan.


Sesibuk sibuknya Pak Herman, dia selalu menyempatkan untuk berbincang dengan Ardan.


"Ya kalau bapak sih, kalau masa kelam kita bisa kita kubur baik baik mungkin kita bisa menerimannya namun kalau tidak ya wassalam. Merelakan adalah hal yang paling bagus daripada menerima tetapi masih memikirkan masa lalu, percuma" beber Pak Herman dengan kata kata bijaknya yang dapat membuat Ardan tenang.


"Baiklah pak, kalau itu saran bapak. Makasih ya pak." ucap Ardan.


"Sama sama nduk. Kalau perlu sesuatu lagi. Jangan sungkan untuk ngomong." kata Pak Herman sambil mengulas senyum ke arah Ardan.

__ADS_1


__ADS_2