
15 menit berlalu. Tibalah Linda di depan gerbang sekolahnya. Ia kemudian memberikan ongkos kepada bang gojeknya dan segera pergi masuk.
Linda berhenti di depan parkiran dan disana nampak Ardan tengah duduk. Ardan kemudian menoleh ke arah Linda dan segera menghampirinya. Linda bergegas berlari menghindari Ardan.
"Linda.... Linda dengerin aku dulu."
Ardan mencoba meraih tangan Linda. Tiba tiba Dion menghalangi langkah Ardan untuk meminta maaf kepada Linda.
"Jangan ikuti dia." sergah Dion.
"Gua ngga ada urusan sama lu. Minggir lu!" bentak Ardan.
Ardan menerobos paksa tubuh Dion dan segera berlari ke arah Linda.
"Linda dengerin aku dulu." Ardan dapat menangkap tangan Linda yang hampir masuk ke kelas.
"Dengerin apa?! Sudah Ardan aku ngga ingin tahu masalah kamu dengan cewek itu." Tegas Linda sambil melepaskan tangannya dari kepalan tangan Ardan.
"Tapi itu salah paham Linda. Cobalah percaya kepadaku."
Linda mendengar pernyataan Ardan terakhir namun tak mengubrisnya. Tak berselang lama Dion datang dan meletakkan tasnya ke tempat duduknya. Menghampiri Linda yang tengah termenung di mejanya.
Sementara Ardan lekas pergi karena bel sekolah sudah berbunyi.
"Hai Linda. Nanti jangan lupa ya kerja kelompok." sapa Dion.
"Heem" jawab Linda singkat.
"Jutek amat. Nanti cantiknya hilang loh."
"Apa apain sih lu. Sudah gua tak ingin diganggu."
"Yaudah. Nanti lu nebeng sama gua aja. Gimana?" ajak Dion.
"Kagak. Gua nanti pulang pake ojek aja." tolak Linda.
Tak sempat untuk merayu Linda agar bisa bareng sama Dion. Tiba tiba bu guru datang dan memulai pelajarannya.
...****************...
Bel pulang sekolah berbunyi. Membuat siswa langsung keluar dari kelas dan bergegas pulang. Sejak istirahat, Linda tak mendapati Ardan keluar dari kelasnya. Hingga bel pulang pun, Ardan masih belum menampakkan batang hidungnya.
"Linda. Ikut gua ke ruang OSIS sekarang. Di suruh kepala sekolah untuk kumpul semua anggota OSIS."
__ADS_1
Dion menarik tangan Linda. Linda pasrah saja tangannya ditarik oleh Dion.
Haduh kerjaan lagi. Bete deh gua. Batin Linda.
...****************...
Ardan memikirkan bagaimana caranya menjelaskan semuanya kepada Linda. Ia tak beranjak sama sekali dari bangkunya. Ardan memijat mijat otaknya karena pusing memikirkan masalahnya kepada Linda.
Tiba tiba dering telepon dari seseorang membuyarkan semuanya.
"Halo." sapa Ardan ke sosok penelpon tersebut
"Ardan." terdengar isakan tangis dari si penelpon tersebut.
"Kamu kenapa?"
"Aku....aku......" sambil terisak isak hingga tak bisa melanjutkan percakapannya.
"Oke, temui aku sekarang di depan gerbang sekolah." Ardan segera mematikan teleponnya dan keluar kelas untuk menemui wanita yang menangis di teleponnya.
...****************...
Linda merasa bosan di ruangan dengan dominasi warna biru dengan logo besar terlukis di dindingnya. Ia ingin lekas pulang dan merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Linda tak dapat menahan rasa kantuk yang sudah melemahkan otot matanya.
"Ah iya. Bentar tadi apa barusan?" jawab Linda gelapan dan segera membuka buku catatannya.
"Untuk hari guru kita harus menyiapkan sekuntum bunga dan bingkisan kue coklat. Juga untuk seluruh penghuni kelas harus membersihkan kelasnya masing masing." beber Dion panjang lebar.
Linda mencatat apa yang diucapkan Dion tadi dan sambil menunggu Linda selesai dengan catatannya, Dion membuka diskusi pertanyaan.
"Baiklah. Apa ada yang perlu ditanyakan?" tanya Dion ke seluruh anggotanya.
"Apakah mau mengadakan lomba di hari Guru ataukan cuma selebrasi saja?" tanya Sinta sebagai sekertaris osis.
Haduh si Sinta malah nanya lagi. Pulangnya bakalan lama nih. Batin Linda sambil menyelesaikan tulisannya.
"Cuma selebrasi aja. Jadi nanti siswa pulang agak pagi." jawab Dion.
Sinta mengangguk dan menutup buku catatannya.
"Bagaimana Linda sudah?" tanya Dion.
"Sudah dari tadi." jawab Linda.
__ADS_1
"Baik rapat kita akhiri sampai disini. Saya sebagai ketua mengucapkan maaf karena mengganggu waktunya sebentar. Kalian bisa bubar sekarang." Kata Dion mengakhiri rapat.
Linda langsung berdiri dan keluar dari ruangan osis. Dion menyusul Linda dari belakang. Membututinya sampai di depan parkiran.
Linda menangkap sosok yang tak asing di matanya. Di depan gerbang dia mendapati Ardan memeluk seorang wanita yang tengah menangis di dekapan Ardan. Linda terdiam melihat hal itu. Dion pun melihat Ardan memeluk seorang wanita dari belakang Linda.
Dion menepuk pundak Linda dan menenangkannya.
"Sudah lupain Ardan. Dia jahat sama kamu." kata Dion.
Buliran air mata menetes dari pelupuk mata Linda. Ia tidak menyangka bahwa Ardan yang sudah ia cintai tengah mengkhianatinya di belakang.
Jadi usahaku sia sia Ardan. Kamu tak menganggapku lebih dari itu. Batin Linda.
Dion mengajak Linda ke arah parkiran dan memakaikannya helm. Dion memakaikan helmnya dan mengusap air mata Linda.
"Sudah. Ngga perlu kamu tangisi lelaki songong kayak gitu. Air matamu ini sangat berharga lebih berharga daripada berlian." gombal Dion menenangkan Linda.
Linda naik ke motor Dion. Dion kemudian melajukan sepedanya. Tiba tiba tangan Linda memeluk pinggang Dion. Sungguh itu membuat Dion sangat bahagia. Baru kali ini Linda memeluknya tanpa harus Dion menyuruhnya.
Ini yang aku inginkan Linda. Makasih. Batin Dion.
Dion melajukan motornya meninggalkan parkiran melintasi Ardan yang tengah berbicara dengan wanita lain. Linda tak melihat Ardan. Namun di sisi lain, Ardan melihat Dion menggonceng Linda.
"Ardan, kamu lihatin siapa?" tanya Lina.
Lina tidak tahu bahwa Linda dan Dion tadi melintas. Ia kemudian memandang manik hitam milik Ardan. Disana ada bendungan air yang siap menetes dari pelupuknya.
"Aku sudah menyayanginya. Sungguh aku mencintainya." Tak terasa tetesan air mengalir deras dari pelupuk mata Ardan.
Lina memeluk tubuh Ardan mencoba menenangkannya. Ardan menolak pelukan dari Lina dan bergegas pergi.
"Maaf aku harus pergi."
Ardan berlari menuju parkiran sekolah dan mengambil motornya. Melajukannya menembus langit sore dengan cuaca dingin dan mendung.
Hujan datang begitu derasnya. Ardan berhenti di bawah pohon rindang. Menikmati hujan yang perlahan membasahi tubuhnya. Melihat tetes demi tetes air dari langit.
"Ibu, anakmu sedang terluka sekarang. Apakah ibu ingin memelukku dengan meneteskan hujan untuk membasahi tubuhku? Ibu sebenarnya aku menginginkan pelukan hangatmu. Dekapan hangat seorang ibu adalah obat bagi anaknya. Aku rindu. Tuhan, bolehkah aku merasakan dekapan ibu?" Ardan bermonolog di bawah rintikan hujan.
Rasa sakit tiba tiba datang dari ulu hatinya. Ardan meringis kesakitan hingga tak bisa menopang motornya. Ardan terjatuh dari motornya. Saat itu, Ia melihat cahaya putih mendekatinya. Tampak sosok ibunya berdiri di hadapannya. Dengungan telinga menganggu Ardan. Ia sudah kesakitan bahkan ditambah dengan dengungan telinga.
Tuhan berikan aku kesempatan. Aku ingin memperbaiki hubunganku. Tolong jangan sekarang. Tolong Tuhan. Batin Ardan.
__ADS_1
Ardan kehilangan kesadaran dirinya dibawah rintikan hujan. Tetesan air matanya menyatu dengan tetesan hujan dari langit.