Pengeran Tidur

Pengeran Tidur
27. Sadar


__ADS_3

Ardan tersadar dari komanya dan melihat Linda yang tiba tiba mencium keningnya. Saat itu Linda tidak melihat bahwa Ardan sudah tersadar karena dirinya memejamkan mata untuk mencium kening Ardan.


Tak disangka Ardan kemudian terbangun dari komanya. Walaupun menurut Ardan dia sudah terbangun duluan sebelum kecupan datang ke keningnya.


Pipi Ardan seketika berubah menjadi sebuah tomat merah karena kecupan Linda di keningnya. Linda yang juga melihat hal itu, sontak wajahnya juga ikut ikutan berubah menjadi memerah.


"Ardan kamu sudah bangun?" tanya Linda.


Ardan menjawab dengan anggukan karena mulutnya tengah dipasang ventilator.


Kemudian Linda segera memanggil dokter untuk memeriksa kesehatan Ardan. Tak berselang lama dokter datang dengan Pak Herman dan Bu Farda di belakangnya.


"Gimana keadaan anda? Apa masih ada yang sakit?" tanya dokter kepada Ardan.


"Ngga ada dok." ucap Ardan.


Dokter dan suster segera bertindak untuk melepas semua peralatan yang tertancap di tubuh Ardan.


"Maaf untuk keluarganya dimohon untuk menunggu di depan karena dokter sedang memeriksa tubuh pasien." ucap suster yang tadi berjalan di samping dokter.


Linda, Bu Farda dan Pak Herman segera keluar dari ruangan ICU dan menunggu kabar yang disampaikan dokter.


15 menit menunggu. Suster keluar membawa peralatannya untuk segera di kembalikan lagi ke tempatnya. Saat itu, Linda juga bertanya kepada suster tersebut.


"Suster bagaimana keadaan Ardan?" tanya Linda.


"Masih diperiksa dulu oleh dokter mbak. Tunggu sebentar lagi ya." kata Suster tersebut.


Setelah suster tersebut meninggalkan mereka berdua, dokter berjalan keluar untuk mengabari keadaan Ardan.


"Keluarga pasien yang bernama Ardan?" tanya dokter tersebut.


"Iya, saya ibunya." ucap Bu Farda sembari berdiri dari tempat duduknya.


Linda berbalik badan dan segera menanyakan kabar Ardan.


"Dok, gimana keadaan Ardan?" tanya Linda.


"Sakitnya masih menjalar ke seluruh tubuhnya bahkan semakin ganas. Saya tidak bisa memperkirakan hidup pasien Ardan."


Rasa sakit dan sedih bercampur aduk di dalam hati Linda. Bu Farda tak bisa lagi membendung tangisannya. Mendengar kabar yang malah semakin buruk membuat Bu Farda tiba tiba pingsan tak sadarkan diri.


"Astagfirullah bu bangun." ujar Pak Herman menggoyang goyangkan tubuh istrinya yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


Linda sontak juga menggoyang goyangkan tubuh Bu Farda. Seketika Linda berteriak untuk memanggil para suster membawakan brankar. Dokter pun segera bertindak untuk memberikan pertolongan pertama untuk pasien yang pingsan.


Tak berselang lama, para suster pria membawa brankar. Menaruh tubuh Bu Farda dan membawanya ke UGD.


"Nak, tolong jaga Ardan sebentar ya." pinta Pak Herman kemudian ia menyusul istrinya yang tengah dibawa.


Linda masih tak kuasa menahan tangis demi Ardan. Dia tak ingin kalau Ardan melihat Linda dalam keadaan menangis.


Linda mengusap kasar wajahnya dan berusaha kuat di depan Ardan. Linda kemudian masuk melihat senyuman yang terulas dari bibir Ardan ketika melihat sepasang mata indah milik Linda.


"Linda." panggil Ardan.


Linda menghampiri tubuh ringkih dihadapannya. Wajah Ardan tampak begitu pucat.


"Apa ada yang sakit?" tanya Linda.


"Ngga ada." jawab Ardan.


Suasana tiba tiba menjadi hening seketika. Ardan tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana dulu. Sedangkan Linda memikirkan perkataan Dokter yang mendiagnosis Ardan tadi.


"Kamu ngga pegel berdiri terus?" tanya Ardan melihat Linda sedari tadi berdiri.


Linda langsung duduk di samping Ardan. Namun suasana kembali lagi menjadi sunyi.


"Sama sama. Apakah bunga dandelionnya sudah berubah?"


"Sudah dari minggu lalu. Namun aku tidak ingin membuka jendelaku kembali karena aku tak ingin bunga tersebut terbang meninggalkanku." beber Linda jujur akan perkataannya.


"Biarkan saja mereka terbang untuk menjadi tumbuhan baru."


"Biarkan saja?!! Mereka terbang tak tentu arah bahkan untuk singgah saja." tegas Linda menolak akan kepergian Dandelionnya.


"Justru itu kelebihan dari dandelion. Mereka bisa tumbuh bahkan diantara semak belukar sekalipun." tutur Ardan sambil memegang tangan hangat Linda.


"Aku ngga mau kehilangan mereka. Biarkan mereka singgah di rumahku."


"Jangan egois Linda, Mereka dirancang untuk terbang ke antah berantah untuk mencari tempat yang layak untuk tumbuh. Mereka akan bahagia di tempat barunya dan mereka cuma tanaman gulma."


"Kalaupun gulma, aku bakalan siap ngerawatnya."


"Linda, dengerin baik baik. Gulma tetap menjadi gulma, mereka ngga bakalan bisa jadi tanaman yang indah yang bisa kau ternak."


Ardan menghela napasnya sebentar dan melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Tanaman Gulma juga tidak pernah diinginkan kehadirannya." tutur Ardan kembali hingga tak disangka buliran bening menetes di selimutnya sendiri.


Linda melihat buliran bening dari mata Ardan, menetes deras dari sumbernya. Linda memeluk tubuh Ardan yang sudah tak berdaya di atas ranjang. Menguatkan dirinya supaya air matanya juga tak jatuh di kepala Ardan.


...****************...


Pagi yang cerah dimana sang surya terbit dari sebelah timur rumah sakit. Memantulkan cahayanya melewati ruangan dengan dominasi warna putih. Hingga membuat sang pemilik terbangun terkena sinar dari sang surya.


"Linda.." ucap Ardan membangunkan tubuh Linda yang terduduk sangat lama disampingnya.


Sang pemilik nama terbangun karena sentuhan kecil yang diberikan oleh tangan hangat milik Ardan.


"Kamu mau apa?" tanya Linda peka.


"Aku mau berjalan di taman rumah sakit."


Linda menyiapkan kursi roda disampingnya. Kursi roda tersebut sudah disiapkan oleh suster kemarin saat ada keperluan dari pasien entah mau ke kamar mandi atau sekedar berjalan jalan saja.


"Aku tidak mau pake kursi roda." bantah Ardan.


Ardan mengulurkan tangannya ke arah Linda.


"Aku ingin di pegang saja." ucap kembali Ardan.


"Apakah masih kuat untuk berjalan?" tanya Linda mendekati Ardan dan menerima uluran tangannya.


Ardan mengangguk kemudian mengulas senyum ke arah Linda.


...****************...


Dion melihat ke jendela kamarnya. Memikirkan bagaimana keadaan Ardan sekarang. Dion mengirim pesan kepada Linda namun tak dijawab oleh pemiliknya.


"Dion. Ayo berangkat sekolah nanti keburu telat loh kamu!" pinta mamanya dari balik pintu kamar Dion yang sedari tadi kebuka.


Dion beranjak pergi untuk ke sekolah. Mengendarai motor sport miliknya. Tak berselang lama, Dion sampai di gerbang sekolah. Dia memarkirkan sepedanya di parkiran dan segera masuk untuk menemui Linda. Namun, Linda tak masuk saat itu.


Dion mencari di kelasnya namun bangku Linda masih tetap kosong.


Apa jangan jangan Linda menemui Ardan saat ini. Batin Dion.


Dion berusaha untuk menghubungi Linda namun tak dijawab. Sontak Dion segera pergi membawa tas sekolahnya untuk membolos. Untuk pertama kalinya Dion membolos demi mencari keberadaan Linda.


20 menit perjalanan, akhirnya Dion sampai di depan rumah sakit. Dion segera bertanya kepada resepsionis karena takutnya ruang Ardan di pindah. Firasat Dion benar, Ardan sudah dipindahkan di ruangan mawar no 4.

__ADS_1


Dion berjalan ke arah ruangan mawar no 4 namun tak mendapati Ardan dan Linda. Justru ada Lina yang menunggu di samping ranjang kosong.


__ADS_2