
Meli yang ada di kantor sedang menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa ke ruangan menegernya untuk di tanda tangani "sudah semua, aku harus bawa berkas ini ke Doni" gumam Meli sambil merapikan berkas tersebut, lalu Meli menuju keruangan Doni.
Setelah sampai di depan ruangan Doni, lalu Meli mengetok pintu "tok, tok, tok" lalu Doni menyuruh untuk masuk "masuk", Meli berjalan mendekati Doni yang masih memandangi laptopnya "ini berkas yang perlu anda tanda tangani Pak", lalu Doni mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Meli "gak usah formal gitu Mel, biasa aja biar makin akrab" ucap Doni menyuruh Meli untuk bersikap seperti biasanya supaya lebih enak didengar.
"Maaf, ini di kantor Pak?" Meli mengingatkan Doni, kalau mereka sedang ada di kantor bukan di luar
"Kalau hanya kita berdua gak apalah" Doni mengungkapkan kepada Meli, lalu suara ketokan pintu terdengar "tok, tok, tok" Doni dan Meli sama-sama menoleh kearah pintu "masuk" ucap Doni menyuruh orang yang ada didepan untuk masuk, lalu Fitri memandangi Meli yang masih duduk didepan kakaknya
"Kak, ini karyawan yang baru?" Fitri bertanya kepada kakaknya
"Kenalin ini adikku, namanya Fitri?" Doni memperkenalkan Fitri kepada Meli, lalu mereka pun berkenalan "aku Meli" lalu menjabat tangannya Fitri
Karena urusan Meli sudah selesai, lalu pamit meninggalkan ruangan tersebut, Meli berjalan menuju ke tempatnya, Fitri yang melihat kakaknya terus memandangi Meli sampai pergi
"Cie, cie, yang tidak berkedip" ledek Fitri kepada kakaknya, lalu Doni mengalihkan pandangannya ke laptopnya "apa'an sih"
"Jadi wanita itu yang membuat kakakku selalu cengar-cengir sendiri" Fitri menyindir Doni sang kakak, yang selalu senyum-senyum sendiri kalau lagi kerja
"Kamu bisa gak sih, jangan gangguin kakak?" Doni merasa malu karena selalu di jahili adiknya
"Ih, siapa yang gangguin kakak" sahut Fitri yang tak terima dituduh kalau dirinya selalu mengganggunya
Di ruangan lain Meli masih menatap laptopnya sambil memijat keningnya "aku harus cepat selesaikan ini" gumam Meli yang masih banyak pekerjaan, kegelisahan menyelimuti hatinya.
Hari mulai gelap, setelah Jaka sholat Maghrib dan makan malam lalu menuju ke kamarnya dan mengambil handphonenya
"( Halo, assalamualaikum )" ucap salam Jaka di sambungan telepon kepada Intan
"( Wa'alaikum salam, pasti mau nanyain? sayang kamu lagi ngapain? udah mandi belum? udah makan belum? jalan yuk? hehehe..)" balasan salam dari Intan dan langsung memberondong berbagai macam pertanyaan
"( Hah, aku belum nanya sama kamu, kenapa sudah tahu )" ucap Jaka sambil nyengir kuda dan melongo
__ADS_1
"( Itu udah basi mas, lebay dan jadul hahaha )" Intan menjelaskan sambil tertawa kepada Jaka "( tuh tanya aja yang lagi baca novel, pasti orangnya lagi ketawa )"
"( Oh gitu yah, terus aku harus gimana? )" Jawaban Jaka yang tampan bodoh
"( Ya gak gimana-gimana, harusnya mas kasih bintang lima, biar yang nulis novel ini jadi semangat gitu? )" Intan memberikan saran kepada Jaka
"( Loh, tunggu? aku kan lagi telfon sama kamu, kenapa jadi bahas novel sih? )" ucap Jaka yang kebingungan dan menggelengkan kepalanya karena membahas novel
"( Hehehe, bercanda mas )" Intan menjawab dengan cengengesan
"( Emangnya kamu lagi baca novel ? )" Tanya Jaka kepada Intan, karena penasaran kenapa Intan membahas novel
"( Mas Jaka ketinggalan zaman, sekarang baca novel bisa lewat handphone, gak lagi pake buku )" Intan menjelaskan lagi tentang baca novel hanya lewat handphone
"( Emangnya bisa? )" Tanya Jaka yang masih penasaran dengan baca novel lewat handphone
"( Bisa dong, mas download aja aplikasinya dan baca novel yang berjudul Jaka mencari cinta )" Intan menyuruh Jaka untuk mendownload aplikasi untuk membaca novel
"( Ceritanya bagus gak? )" Jaka bertanya lagi kepada Intan, karena masih penasaran
"( Bisa dapat uang, kok bisa? yang bayarin siapa? )" Tanya Jaka karena heran, kenapa baca novel bisa dapat uang
"( Bisa dong, kan yang bayarin mas Jaka, hahaha )" ucap Intan dan menjahili Jaka yang masih penasaran
"( Kenapa aku yang harus bayarin? )" Jaka menanyakan lagi kepada Intan kenapa dia yang harus bayarin mereka yang baca novel
"( Kan judul novelnya Jaka mencari cinta atau penjual es mencari cinta, nah yang jualan es siapa? )" Intan masih menjahili Jaka sambil tersenyum sendiri di kamarnya
Mereka pun saling bercanda ria, saling menjahili, tertawa bersama, sampai mereka tak ingat waktu, Jaka dan Intan tak menyadari kalau malam semakin larut.
Keesokan harinya Meli sudah berada di ruangannya untuk mengerjakan berkas-berkas yang kemarin belum selesai, lalu Nana menghampiri Meli yang masih fokus menatap laptopnya
__ADS_1
"Mel antar berkas ini ke manager, karena sudah ditunggu" perintah Nana kepada Meli
"Tapi aku belum selesai nih mbak?" Meli menolak dengan halus, karena pekerjaannya belum selesai
"Udah ditinggalkan dulu, cepat antar berkas ini karena sudah ditunggu" Nana memerintahkan lagi kepada Meli.
Dengan wajah lesunya lalu Meli mengalah dan mengantarkan berkas tersebut kepada Doni, sesampainya di ruangan lalu Meli memberikan berkas itu kepada sang manager
"Ini berkas-berkas yang anda minta" ucap Meli kepada Doni, dengan wajah yang lesu dan kesal lalu menyodorkan berkas tersebut, Doni yang melihat Meli kurang semangat lalu berbicara kepada Meli
"Kamu kenapa? apa ada yang menggangu kamu? kenapa wajahmu tampak lesu?" Tanya Doni kepada Meli yang kelihatan kurang bersemangat
"Gak papa kok" ucap Meli sambil tersenyum terpaksa, karena tak ingin dianggap gak profesional dalam bekerja
"Bicaralah? apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" Doni menatap wajah Meli dan menyuruh nya untuk berterus terang
"Beneran aku gak papa, cuma capek aja karena pekerjaanku belum selesai dari kemarin" akhirnya Meli menceritakan apa yang mengganjal di dalam pikirannya
"Yang kamu kerjakan tidak terlalu buru-buru, jadi santai saja, gak usah dijadikan beban pikiranmu" Doni menjelaskan bahwa apa yang Meli sedang dikerjakan tidak usah menjadi beban tersendiri
"Kata mbak Nana hari ini harus selesai, kalau gak nanti gajinya dipotong?" Meli mengatakan dengan wajah yang kesal karena dirinya selalu diperintah oleh Nana seniornya
"Udah gak usah dipikirin, jangan cemberut dong? nanti cantiknya ilang" ucap Doni sambil menggoda Meli supaya bisa tersenyum kembali
"Gombal !!" Meli menjawab gombalan dari Doni sambil tersenyum kecil
"Senyum dong biar cantiknya gak ilang" Doni masih menggombali Meli yang masih malu untuk tersenyum
"Apa'an sih, gak lucu" Meli masih malu untuk tersenyum dan menoleh supaya tidak ketahuan bahwa dirinya masih malu untuk tersenyum
"Gak usah malu Mel, kalau kamu tersenyum malah tambah cantik hehe" ucap Doni sambil menjawil dagu Meli.
__ADS_1
Akhirnya Meli tersenyum dengan malu-malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Doni yang melihat tingkah laku Meli lalu tertawa terbahak-bahak, mereka berdua pun mengobrol dan bercanda.
*Bersambung*