
Permainan mereka berdua semakin memanas, gelora jiwa mereka meronta-ronta ingin segera menuntaskan hasrat masing-masing, Meli dan Doni bergulat di atas ranjang melepaskan hasrat yang terpendam di hati masing-masing.
Mereka berdua saling mencari kenikmatan dan sensasi gairah jiwa yang sedang memuncak, seperti berada di alam kebahagiaan penuh dengan bunga-bunga yang membuat kenikmatan tersendiri.
Sekarang posisi Meli menyungging dan Doni dari belakang memasukkan senjatanya ke dalam gua milik Meli,
Mereka saling memadu kasih, saling bercumbu, melepaskan beban di hati mereka berdua, melepas hasrat masing-masing, sambil mencari titik kenikmatan yang membuat hati mereka sesak dan gundah, lalu dengan semangat pinggul Meli digoyang berputar dan maju mundur sampai keringat mereka berdua bercucuran membasahi tubuh.
mereka berdua tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan, mereka hanya menginginkan kenikmatan dan sensasi yang berbeda seakan tak percaya dengan dosa
Doni dengan kencang dan semangat terus menggerakkan senjatanya maju mundur sampai mentok kedalam mengenai daging kecil yang berada di dalam gua milik Meli
Semakin kencang dan cepat, akhirnya Doni merasakan amunisi senjatanya akan keluar, lalu Doni menarik senjatanya keluar dan Meli siap menerima amunisi dari senjata milik Doni dengan membuka mulutnya, akhirnya amunisi milik Doni keluar di wajah dan mulut Meli, sambil memegang senjata milik Doni, lalu memasukkan kedalam mulutnya untuk menuntaskan amunisi yang masih tersisa
Lemas dan capek, akhirnya mereka berdua merebahkan tubuhnya dan saling berpelukan, dengan tubuh mereka yang masih polos tanpa kain
"Gimana Mel, apa kamu suka dan menikmatinya? Doni bertanya kepada Meli tentang pertempuran yang tadi mereka berdua lakukan
"Suka Don, kamu hebat, sampai milikku sakit dan perih" sambil mengangguk kepalanya meli menjawab dan tersenyum bahagia, lalu Meli mengecup pipi Doni "cup"
"Makasih ya Mel, kamu sudah memberikan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan selama ini?" Doni senang karena pertempuran mereka berdua telah membuat hati Doni merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa
"Iya Don, sama-sama, aku juga baru merasakan sensasi nikmat bagai di surga cinta" Meli menjawab lalu tersenyum bahagia kepada Doni
__ADS_1
"Apa kamu akan menikahi ku Don?" Meli bertanya, apakah Doni akan serius dengan hubungan mereka berdua
"Entahlah Mel, aku belum berfikir untuk menikah sekarang" ucap Doni seakan tidak perduli apa yang mereka telah lakukan barusan tadi
"Kok gitu Don? apa kamu tidak mencintai ku?" Meli masih ingin agar Doni bisa menjadi suaminya, karena Doni mempunyai harta benda
"Ya aku belum siap untuk nikah sekarang, masih banyak yang harus aku lakukan" dengan acuhnya Doni mengatakan itu kepada Meli.
Lalu mereka berdua hanya diam, tanpa memperpanjang urusan tentang pernikahan, mungkin Meli mempunyai berbagai macam cara untuk bisa mendapatkan Doni dan hartanya
*******
Di rumah Intan, Jaka sedang duduk di ruang tamu menunggu pacarnya datang, lalu Intan berjalan dari dapur sambil membawa kopi untuk Jaka
"Makasih sayang" sambil tersenyum lalu Jaka menerima kopi yang telah dibuat oleh Intan, lalu Jaka menyeruput kopi tersebut
"Uwek, hah kok kopinya pahit sayang?" Jaka bertanya kepada Intan, kenapa rasa kopinya pahit
"Sengaja mas, kalau mau manis? minumnya sambil lihat wajahku? kan aku sudah manis dan imut hehehehe" sambil cengengesan Intan menjawab lalu mendekat kan wajahnya di depan Jaka
"Hah" Jaka melongo tak percaya "iya wajah mu emang manis, tapi masa aku harus minum kopi pahit sih" Jaka lalu cemberut "pacarku emang nyebelin yah" lalu Jaka bangkit dari duduknya dan hendak mencubit, Intan langsung berlari menghindari cubitan Jaka
"Awas yah, mau lari kemana kamu?" Jaka terus mengejar kemana Intan berlari
__ADS_1
"Gak kena? we, we" Intan berlari sambil meledek Jaka yang lagi sebel karena sudah dikerjain sama dirinya
"Mau lari kemana kamu?" Jaka terus mengikuti langkah Intan yang sedang mondar-mandir menghindari dirinya
"Sedang apa kalian, kok lari-lari?" Tanya Bu Siti kepada keduanya yang masih saling kejar-kejaran
"Ini Bu? mas Jaka nakal mau cubit Intan, we, we" sambil menjawab Ibunya, lalu Intan menjulurkan lidahnya meledek ke Jaka
"Gak Bu? Intan duluan yang nakal, masa aku dikasih kopi pahit" ucapan Jaka yang membela dirinya
"Sudah-sudah, kalian berdua seperti anak kecil aja" Bu Siti melerai mereka berdua, tapi Intan dan Jaka masih kejar-kejaran, Bu Siti hanya geleng-geleng kepala lalu meninggalkan mereka yang masih berlarian
"Kasian deh lu?" Intan terus meledek Jaka, sambil berputar akhirnya Jaka bisa menangkap Intan
"Nah kena kamu, hahaha" Jaka memeluk tubuh Intan dari belakang sambil tertawa
"Ampun jangan di cubit mas?" Intan menyerah gak mau di cubit oleh Jaka
"Pokoknya kamu harus aku kasih hukuman" Jaka masih memeluk Intan dari belakang lalu membalikkan tubuh Intan dan mencium bibir yang tipis
Intan lalu menyambut ciuman dari Jaka dan menjulurkan lidahnya, Jaka dengan lembut menelusuri deretan gigi, dan rongga mulut milik Intan, semakin lama ciuman mereka membuat Intan kehabisan nafas, lalu Jaka menghentikan ciumannya supaya Intan mengambil nafas kembali.
*Bersambung*
__ADS_1