Perangkap Cinta Pertama

Perangkap Cinta Pertama
Kita sudah menikah


__ADS_3

"Kemana perginya Neli?" Kaisar meremat kepalanya frustasi.


Sebenarnya jika Neli pergi sebelum melakukan hubungan suami istri dengannya mungkin Kaisar tidak akan perduli. Tapi sekarang lain lagi ceritanya karna Neli pergi membawa benihnya.


Mungkin saja Neli kini tengah hamil anaknya bukan. Mengingat Kaisar menaburkan benihnya di tempat seharusnya saat dua kali pelepasannya.


Sebulan sudah berlalu tapi wanita itu masih tidak ada kabar, Kaisar bahkan mengintai rumah ibu Neli juga menyadap nomor ponsel ibunya wanita itu.


"Cari Neli sampai ke ujung dunia sekalipun!" Kaisar memarahi salah seorang suruhannya yang ia tugaskan untuk mencari keberadaan gadis yang mebawa benih unggulnya.


"Pergi. Lanjutkan pencarian kalian."


"Aku sungguh ceroboh, harusnya aku melepas benihku di luar bukan di dalam rahimnya. Sial!" Kaisar meninju dinding beberapa kali untuk meluapkan amarah yang tercokol di dadanya.


.


"Kai. Apa kau tak ingin melanjutkan pernikahanmu pada Shifa? Atau mau ibu carikan calon lain?" Ibu Dian menanyai anaknya. "Ibu sudah tua, semua teman-teman Ibu sudah memiliki cucu ibu ingin cepat-cepat menimang cucu Kai." Ibu Dian menyampaikan leluh kesahnya yang ada pada dirinya.

__ADS_1


"Ibu, bisa sabar sedikit tidak. Aku tengah mencari keberadaan Neli. Wanita itu menipuku dia membawa kabur calon cucu Ibu." Kaisar mengatakan itu agar ibunya berhenti menyuruhnya menikah.


"Maksudmu?" Ibu Dian mendekati anaknya, dan duduk di hadapan putra tunggalnya.


"Ck, aku sudah menanamkan benihku padanya sebulan lalu, makanya aku mencari keberadaannya sampai sekarang." ungkap Kaisar jujur.


"Kapan kau menanam benihmu? Katamu kau tidak menidurinya waktu malam itu bahkan kau menolak menikahinya."


"Aku memang tidak menidurinya malam itu. Tapi aku menidurinya siang hari di kantor Bu."


"Ya Tuhan Dirga." Ibunya memekik. "Bajingan sekali kau, kenapa kau melakukan hal serendah itu.?" tak habis pikir Dian dengan kelakuan putranya di umur yang sudah sedewasa ini.


"Temukan menantu dan calon cucuku." ungkap Dian tegas.


"Menantu?"


"Ya, bagi ibu Neli adalah menantu Ibu. Karna kau sudah menidurinya."

__ADS_1


Kaisar menjentikkan jarinya ia mempunyai ide yang bagus karna ucapan ibunya. Ia akan menikahi Neli di kantor pencatatan sipil tak perduli orangnya tak ada, yang terpenting Kaisar mempunyai data dan identitas yang ia perlukan untuk pernikahan. Dengan uang yang ia miliki semuanya akan berjalan dengan baik.


Setelah beberapa hari Kaisar berhasil mencatatkan pernikahannya di kantor pencatatan sipil, tentu saja dengan ijin ibu Neli. Karna Kaisar mengatakan kemungkinan akan Neli yang kini tengah mengandung anaknya. Tak ingin calon cucunya terlahir di luar pernikahan ibu Neli mengijinkan pernikahan itu, sungguh konyol.


.


Di sinilah Neli berada. Di sebuah pedesaan di salah satu daerah di luar kota. Tempatnya sangat sejuk karna memang berada di pegunungan.


Neli terbaring lemah di salah satu kamar rumah sakit di daerah itu, salah seorang tetangga di tempatnya tinggal menemukan ia yang tidak sadarkan diri di depan rumahnya. Sudah dua hari dirinya dirawat, dan kabar yang lebih mengejutkan di banding semuanya adalah ia mengandung anak dari Kaisar. Pria yang ia cintai sekaligus ia benci. Takdir memang sebercanda itu pada dirinya.


Sanggupkah Neli kembali suatu hari nanti dengan membawa seorang bayi pada ibunya, Neli merasa sudah menjadi anak paling durhaka bagi ibunya.


Tanpa sadar Neli menangis mengingat nasibnya yang tragis.


Kaisar tersenyum penuh kemenangan saat orang yang Kaisar tugaskan untuk mencari Neli berhasil menemukan gadis itu.


"Sudah aku katakan Neli. Kau akan ku temukan." Kaisar akan pergi ke daerah itu untuk membawa Neli kembali. Kaisar juga akan membawa surat-surat nikah mereka barang kali di perlukan di daerah itu.

__ADS_1


"Neli. Kita sudah menikah." Kaisar tersenyum bangga saat mengingat seorang yang Kaisar bayar juga mengatakan jika Neli tengah hamil, dan Kaisar yakin itu adalah darah dagingnya.


__ADS_2