
"Jangan menangis! Tersenyumlah, lihatlah putramu." Ziano menunjukan bayi mungil itu pada Neli.
Neli turut tersenyum melihat putra tampannya yang terlelap dalam gendongan pria yang entah siapa Neli tidak tau namanya.
"Kau belum bisa menggendong putramu saat ini. Jahitan bekas oprasimu sangat beresiko jika kau nekad." Ziano meletakan bayi itu di sebuah box bayi yang sudah tersedia di sana.
"Ada nomor yang bisa ku hubungi agar keluargamu bisa menemanimu di sini." Ziano menatap dalam wanita itu.
Sedangkan Neli hanya menggeleng pelan. "Aku tak mengingat nomor ponsel keluargaku, aku juga tidak membawa ponsel." ujar Neli.
"Katakan alamat keluargamu, aku akan menjemput keluargamu."
Neli berpikir tadinya ia tak ingin merepotkan dokter itu, tapi sepertinya ia memang perlu ibunya ada di sana. Mengenai Kaisar entahlah ia malas memikirkannya. Neli memberikan alamat ibunya pada pria itu.
Setelah beberapa saat menunggu ibunya datang dengan tergopoh, meninggalkan Ziano di belakannya.
"Neli." suara ibu Neli bergetar ia tercekat di ujung lidahnya. Pantas saja sejak kemarin perasaannya tak enak ternyata, putrinya mengalami hal mengerikan.
__ADS_1
Ya mengerikan bagi ibu Mala ini adalah hal mengerikan, di mana seorang istri sah melahirkan seorang diri tanpa suami apa lagi keluarga. Sungguh jika terjadi sesuatu pada putrinya ibu Mala akan membunuh menantunya menggunakan kedua tangannya sendiri.
"Ibu." Neli memanggil ibunya pelan. Ia merentankan kedua tangannya ia ingin memeluk ibunya ia ingin mendapat pelukan dan ketenangan dari ibunya.
"Ya, Nak ibu di sini." Mala memeluk putrinya hati-hati menyalurkan segenap perasaan untuk menenangkan putrinya yang Mala yakini putrinya tidak baik-baik saja.
"Neli kangen sama Ibu. Neli berencana menemui ibu hari ini, tapi Neli malah melahirkan. Lihatlah Bu, cucu ibu sangat tampan." Neli menyarankan Ibunya untuk melihat putra pertamanya.
"Wah cucu Ibu sangat tampan." Mala menggendong cucu pertamanya dan menimangnya.
Ziano menyaksikan itu turut ikut terharu, ia mengingat mendiang ibunya yang telah tiada, sebelum ia sempat memberikannya cucu pada wanita yang sudah berjasa dalam hudupnya melahirkannya kedunia ini.
.
Ibu Dian memaki Kaisar habis-habisan tidak wanita itu pungkiri ia khawatir akan keadaan menantunya. Entah Dian sudah menyayangi Neli atau hanya menghawatirkan cucunya sendiri.
Kaisar semakin kelimpungan saat pukul dua pagi ia tiba di rumahnya tak mendapati Neli di kamarnya. Kaisar mengumpulkan setiap pelayan di rumahnya.
__ADS_1
"Kemana istriku sialan? dasar tidak becus bekerja." Kaisar memaki setiap orang. Dan semua pegawainya hanya menunduk takut. Atas kemarahan sang tuan muda mereka.
"Bukankah Nona Neli pergi dengan tuan tadi pagi. Dan sampai saat ini Nona Neli belum kembali, jadi kami pikir Nona sedang bersama tuan muda, makanya saat nyonya besar menelpon kami dan menanyakan Nona Neli, kami menjawab jika Nona Neli bersama tuan muda." ucap salah satu pelayan yang memberanikan diri berkata demikian pada tuannya.
"Sialan." Kaisar berlalu menuju mobilnya, ia juga mengutuk dirinya sendiri harusnya ia mengantarkan Neli pulang terlebih dahulu, atau menelpon dan menunggu sopir keluarganya. Bukan malah meninggalkan Neli di taman di dekat penjual bubur.
Kaisar juga menelpon asistennya dan meminta mencari keberadaan Neli. Sial Kaisar lupa jika Neli tak membawa ponsel, jadi ia tidak bisa melacak kemana Neli pergi.
Ibu Dian juga sudah murka, ia khawatir jika Neli membawa cucunya pergi. Dian dan suaminya langsung terbang dari luar kota untuk mencari keberadaan menantu dan cucunya.
Kaisar mendatangi taman, ia ingin mengecek cctv, dan nasib sial tengah mendatanginya, taman tersebut tidak di lengkapi cctv, sehingga membuat Kaisar semakin merasa bersalah telah meninggalkan Neli.
Akhirnya ia memutusnya untuk menunggu penjual bubur itu untuk ia mintai informasi.
.
"Bu. Aku ingin berpisah dengan Kaisar." saat pukul lima pagi, saat Neli terbangun dari tidurnya untuk menyusui putranya, Neli mengucapkan keinginannya pada sang ibu.
__ADS_1
"Kau yakin?" sebagai seorang ibu Mala, tau jika putrinya tengah marah dan kecewa, tapi ia tak ingin terlalu jauh ikut campur masalah keluarga putrinya.
"Aku yakin Bu. Aku ingin pisah dengan Kaisar." ucapnya lemah dengan mata berkaca-kaca, sudah lebih dari dua belas jam ia melahirkan tapi suaminya tidak muncul juga di hadapannya. Itu artinya Kaisar sebenarnya memang tak perduli padanya. Perhatian dan kasih sayang yang pria itu tunjukan selama ini ternyata hanya kepalsuan semata.