
Kaisar menunggu di taman dari pukul tiga pagi sampai jam tujuh pagi.
Kaisar juga menghubungi ibu mertuanya tapi tidak tersambung sama sekali. Bahkan Kaisar juga menyuruh orang untuk mendatangi rumah ibu mertuanya, tapi tidak ada siapapun di sana kecuali asisten rumah tangga.
Setelah Kaisar melihat seorang pria paruh baya mendorong grobak bubur ayam, suami Neli itu segera keluar dari mobil dan menghampiri pedagang bubur itu untuk mendapatkan informasi.
"Pak kemarin pagi saya meninggalkan seorang wanita hamil di dekat grobak bapak. Apa bapak tau kemana perginya wanita hamil itu." Kaisar mengabaikan rasa pegal yang melanda sekujur tubuhnya saat selama beberapa jam Kaisar menunggu di dalam mobil.
"Apa yang Tuan tanyakan wanita hamil besar yang mengenakan dres berwarna abu itu? Yang datang dengan tuan kemarin?"
"Ya pak, memangnya ada berapa orang wanita hamil yang datang bersamaku."
"Ya, Tuan wanita hamil itu mengalami kontraksi, sepertinya wanita itu hendak melahirkan. Karna ada cairan yang keluar diantara kedua kakinya." mendengar keterangan dari penjual bubur ayam itu sungguh membuat Kaisar menggigil. Bagai mana nasib bayinya.
"Kemana dia pergi?" Kaisar bertanya dengan tidak sabar, Kaisar juga mengguncang tubuh tubih penjual bubur itu beberapa kali.
"Seorang pria membawanya kerumah sakit terdekat." sahut penjual bubur.
Tanpa bertanya lagi, dan tanpa ucapan terimakasih Kaisar melajukan mobilnya kerumah sakit terdekat.
Satu rumah sakit menyatakan jika tidak ada seorang wanita hamil yang masuk rumah sakit itu kemarin. Beruntung di rumah sakit kedua Kaisar menemui nama istrinya di daptar pasien yang datang di hari kemarin.
"Neli."
__ADS_1
Suara Kaisar tercekat saat yang ia dapati bukan hanya Neli saja.
Ada sesosok bayi mungil di gendongan ibu mertuanya.
"Bu ini?" Kekawatiran kaisar lenyaplah sudah. Tergantikan oleh kebahagian yang luar biasa, ada kebanggaan yang sulit ia jelaskan Saat yang ia dapati pertama kali bukan hanya Neli melainkan juga seorang bayi.
Kini fokus Kaisar teralihkan bukan lagi pada Neli melainkan bayinya. Kaisar mengambil bayi dari gendongan ibu mertuanya.
"Biar ku gendong Bu."
Ini bayinya, darah dagingnya penerusnya dan pewarisnya.
Neli yang melihat itu justru semakin terluka dan sudah membulatkan tekadnya untuk berpisah dengan Kaisar.
Kebahagian yang bersumber dari bayinya. "Terimakasih, kau sudah hadir di hidup Papa." tadinya Neli berharap ucapan terimakasih dari mulut suaminya untuk pertama kali di tunjukan padanya karna sudah mengandung dan melahirkan seorang pewaris untuk keluarga kaya raya itu. Namun Neli salah, Neli terlalu percaya diri sehingga kecewanya terlalu melampaui batas.
Sakit sungguh. Ia yang berjuang antara hidup dan mati tapi tidak mrndapatkan sekedar ucapan terimakadih dari suami sendiri. Jika selama ini Neli selalu membiarkan Kaisar berlaku semaunya dan tidak terlalu memikirkannya, tapi kali ini Neli benar-benar terluka. Lukanya lebih sakit dari bekas oprasi yang ia jalani kemarin.
Jika Kaisar masih tertawa bahagia lain halnya dengan Neli. Wanita itu tengah meremat jantungnya sendiri yang terasa terhimpit oleh sebuah beban, ia berusaha membebaskan diri dari rasa yang menawannya.
Tidak di perdulikan dan tidak di anggap Neli sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi kali ini ia ingin bebas.
"Kai aku ingin Cerai." Empat kata itu menyurutkan senyum dan tawa Kaisar.
__ADS_1
Kebahagian tadi kini lenyap di wajahnya.
"Ibu boleh tinggalkan kami berdua!" Kaisar meminta mertuanya untuk meninggalkan Neli dan dirinya.
Kaisar juga memberikan bayinya pada ibu mertuanya.
Sebentar lagi ayah dan ibunya akan datang. Kaisar tak ingin pembicaraan ia dan Neli terganggu.
Setelah ibu mertuanya keluar Kaisar mendekat ke arah Neli. Wanita itu terlihat masih pucat dengan selang infus yang mengalir di salah satu tangannya.
"Aku ingin bercerai." Neli mengulang kalimat itu.
"Kenapa? Apa karna masalah kemarin karna aku meninggalkanmu atau karna aku tak ada saat kau melahirkan atau?"
"Stop ... Salah satu nya memang itu, tapi ada hal lain juga yang memicu hal lainnya." ujar Neli. Ia memalingkan wajahnya tak ingin menatap wajah Kaisar.
"Pemicu lain?"
Jujur Kaisar belum siap untuk berpisah dengan Neli. Setidaknya ia butuh lima tahun lagi untuk menyiapkan semuanya.
"Ya. Bukankah sama saja sekarang atau lima tahun lagi kita akan bercerai?"
Deg.
__ADS_1
Dari mana Neli mengetahui perjanjian antara Kaisar dan ibunya?