Perangkap Cinta Pertama

Perangkap Cinta Pertama
Ini Memalukan


__ADS_3

Disaat semua orang menyunggingkan senyum kebahagiaan lain halnya dengan Kaisar pria itu terlihat murung, juga pikirannya yang tengah melayang menghampiri mantan istri serta anaknnya.


"Aus, maafin Papa ya ..." Kaisar bergunam lirih, ia berniat setelah acara ini akan melihat putranya.


Tepat pukul dua belas malam acara selesai, keluarga Kaisar sudah mempersiapkan kamar di hotel miliknya untuk para kerabat jauh serta keluarga Laila, semua tersusun dengan sangat rapi, karna memang acara ini sudah terencana sejak jauh-jauh hari.


"Kai, kau mau kemana?" Ayah Kaisar menghentikan langkah putranya yang hendak ke arah parkiran.


"Shutt. Ayah jangan berisik! Aku ingin melihat anakku sebentar." Kaisar setengah berbisik pada Ayahnya.


"Kai, Nanti jika ibumu marah bagai mana?"


"Ibu tak akan marah jika Ayah tutup mulut." Kaisar merasa kesal karna ayahnya sulit di ajak untuk bekerja sama.


"Kai, kau tau bagai mana watak ibumu. Ayah tidak bisa berbohong padanya." ucap jujur Ayah Kaisar.


"Ayolah Ayah, kau ini seorang pria juga seorang ayah. Pasti perasaanmu tak jauh beda denganku, aku merindukan putraku. Ku mohon ayah aku ingin menemuinya secara langsung." Kaisar terlihat memohon pada pria yang berjasa dalam hidupnya.

__ADS_1


"Ya sudah hati-hati. Kau harus kembali sebelum sarapan." ujar pak Beni menepuk pundak putranya. Ia tak tega melihat putranya yang sudah dewasa merindukan cucunya. Ia juga rindu pada cucu pertamanya tapi mau bagai mana ia harus menuruti ke inginan ratu di rumahnya, untuk memiliki seorang menantu terpandang dan dari kalangan atas.


.


Sebenarnya Kaisar tak enak bertamu malam-malam, di samping tidak sopan ia juga merasa canggung dengan mantan mertuanya.


"Permisi Bu, Kai ingin bertemu dengan Austin." Kaisar mengutarakan tujuannya, saat ibu mertuanya membukakan pintu.


"Loh, kok? Bukannya Neli baru saja menghadiri pertunanganmu? Harusnya kau bertemu dengan Austin kan?" cecar mertuanya. Dari sini Kaisar menyimpulkan jika Neli tidak bercerita apa lagi mengadu pada ibunya.


"Iya, bu. Hanya saja Kai ingin melihatnya lagi. Tadi Kai tidak sempat menggendongnya." Kaisar beralasan.


"Kai ingin melihatnya Bu, sebentar saja sepuluh menit saja Bu." Kai mencoba bernego dengan nenek dari putranya itu.


"Ya sudah jangan lama-lama. Tak enak sama tetangngga." ibu Mala memprrsilahkan Kaisar masuk, tapi ia mewanti-wanti agar Kaisar tidak terlalu kama bertamu, katanya tak enak sama tetangga, tetangga mana pula yang masih terjaga di jam seperti ini. Belum lagi rumah Neli berada di kawasan perumahan yang bisa di pastikan tetangganya tidak akan senyinyir tetangga kampung. Yang mana dua mata melihat maka satu desa yang akan berkomentar.


Dengan ijin ibu Mala, Kaisar memasuki kamar mantan istrinya. Tidak ada box bayi di kamar itu,

__ADS_1


Ranjangnya di huni oleh Neli dan Austin. Bayi gembul itu tengah menyedot sumber nutrinya dengan mata terpejam, satu tangannya juga memilin put ing ibunya.


Meski dengan mata terpejam, mulut bayi menggemaskan itu terlihat rakus menyedot nutrisi dari sumbernya langsung.


"Kau tampak menggemaskan Aus, bulu mata, hidung serta bibirmu seperti Papa. Hanya bola matamu yang seperti Mamamu. Hitam legam, sekelam malam." Kaisar mengusap kepala putranya.


Matanya kini tertuju pada mantan istrinya, yang hanya mengenakan daster sebatas pertengahan paha. Tapi sepertinya ukuran sebenarnya daster itu sebatas lutut tapi tersingkap itulah yang Kaisar simpulkan.


Wajah Neli terlihat semakin ayu saat tak menjadi istrinya lagi, wajahnya semakin cantik apalagi saat tertidur seperti ini. Jika boleh jujur, Kaisar sangat merindukan kebersamaannya dengan Neli, ia merindukan aroma tubuh mantan istrinya serta pelukannya, sekali lagi Kaisar berpikir untuk kembali memiliki Neli.


Mata Kaisar kini tertuju pada dua gumpalan yang sempat menjadi benda favoritenya kala itu. Bentuknya semakin besar dengan banyak cairan di dalamnya.


Tubuhnya memanas. Juga dengan hormonnya yang semakin menggila. Sejak bercerai dari Neli satu tahun yang lalu, Kaisar tidak menyentuh wanita manapun hatinya masih terpasung dengan sosok Neli, wanita yang selalu mengejarnya dan memperjuankannya di masa lalu.


Kaisar mengecup kepala putranya di bagian belakang. Ia juga melutut membaui aroma yang sangat ia rindukan, ia juga melabuhkan satu kecupan di kening mantan istrinya. Seakan tidak puas sampai di sama, Kaisar berniat membenamkan bibirnya diantara belahan bibir Neli.


"Ehem. Ini sudah sepuluh menit. Sebaiknya kau segera pulang." ujar mertua Kaisar mengacaukan segalanya.

__ADS_1


Kaisar tak berbicara apapun lagi ia terlanjur malu dan segera berlalu dari sana.


"Sial, kenapa bisa ketahuan sih? Ini memalukan." tutuk Kaisar sebelum melajukan mobilnya.


__ADS_2