Perangkap Cinta Pertama

Perangkap Cinta Pertama
Pecinta Janda Satu anak


__ADS_3

"Aus ... Mari pergi." Ziano membawa bayi itu dari tengah acara.


"Kemana Mamamu?"


Kaisar hanya memejamkan kedua matanya. Ia bodoh ia tidak bisa berbuat apapun.


Ya siapapun pasti mengatakan Kaisar Ayah paling buruk.


Ibu Kaisar juga melihat kepergian cucunya yang tengang menangis juga di iringi rontaan kecil dari bayi yang baru berusia lima belas bulan itu. Ada sedikit rasa bersalah di diri wanita itu, namun segera ia tepis. Dian meyakinkan pada dirinya sendiri jika ia adan memiliki cucu lagi setelah Kaisar menikah dengan Laila, begitulah pikir Dian. Wanita tua itu juga tak berniat memberitahu pernikahan Kaisar sebelumnya dengan Neli jika Kaisar belum resmi menikah dengan Laila.


Ziano menyusuri sebuah lorong hotel menuju toilet, suara tangis bayi menggema di antara lorong itu. Dokter itu juga celingukan mencari keberadaan Neli, barangkali wanita itu sudah selesai dari toilet. Namun sayang Ziano tk mendapati ibu dari bayi yang tengah memeluknya dengan tangis yang sangat nyaring.


Neli yang tengah menangis di dalam toilet juga menghentikan tangisnya saat samar-samar ia mendengar suara tangis bayi, ia mengenali jika yang menangis adalah Austin putranya.


Tokk ... Tokk ...


Ziano mengetuk toilet wanita.


"Neli! Apa kau di dalam." Ziano setengah berteriak.


"Ya Zi, aku sudah selesai." Neli membuka pintu bersamaan dengan ia yang menyaut.


Seketika Austin kecil menghentikan tangisnya, dengan terseguk-seguk saat mata bocah itu menangkap sosok ibunya.


Austin kecil seketika merentankan kedua tangannya saat Neli mendekat, bayi itu langsung di dekap oleh Neli.


"Maaf merepotkanmu." ujar Neli.


"Tidak apa-apa Neli. Tapi ngomong-ngomong kau lama sekali di kamar mandi, apa kau tertidur. Wajahmu juga sembab. Kau menangis?" Ziano menelisik wajah temannya tapi Neli hanya tersenyum samar. Ketahuan menangis di dalam kamar mandi di hari pertunangan mantan suaminya benar-benar memalukan.


Neli memalingkan wajah, ia malu juga canggung. Ziano adalah orang yang sangat peka pada orang sekitarnya.

__ADS_1


"Zi, aku permisi pulang. Ohh, ya dimana kereta dorong Austin?" tanya Neli.


"Astaga aku meninggalkannya di aula hotel." Ziano menepuk keningnya sendiri.


"Ayo aku akan mengambilnya sekalian pulang." Neli menggendong putranya, Austin menyenderkan kepalanya di bahu Neli, sembari berceloteh mengatakan Papa. Semakin menyayat pilu relung hati wanita itu.


"Papa ... Papa ..."


Austin tertawa saat Ziano memegang tangannya yang mungil.


"Papa ..." Austin kecil mengulang-ulang kata itu, yang membuat Ziano semakin gemas pada bayi montok itu.


"Kau pulang dengan siapa? Mau ku antar?"


"Tidak usah Zi. Aku pulang dengan supirku. Terimakasih."


Saat sampai di aula kebetulan semua orang tengah bertepuk tangan karna acara inti pertukaran cincin sudah selesai di lakukan.


Tanpa sengaja manik Kaisar bertubrukan dengan tatapan Neli. Dan wanita itu langsung membuang wajah ke arah lain.


Austin tidak mau di taruh di kereta dorong ia sepertinya takut di tinggal kembali oleh ibunya.


"Biar orangku yang mengantarkan kereta dorong putramu. Aku masih mengingat alamatmu." tukas Ziano memberi solusi.


"Terimakasih."


"Tunggu." Ziano menahan langkah Neli dan mengecup kepala Austin.


"Jagoan hati-hati di jalan."


Ziano melambaikan tangan dan ikut di ikuti oleh bayi lucu itu.

__ADS_1


"Papa ..." Austin masih tertawa dengan lambayan tangannya, berbeda dengan hati Neli yang kini semakin terluka.


Kaisar mengepalkan tangannya di tempatnya berdiri, bahkan pria lain mampu memberikan kecupan untuk anaknya, sedangkan ia sendiri seperti orang dungu yang menuruti setiap kata ibunya.


Para tamu bergantian menyalami dan memberikan ucapan selamat pada Kaisar dan Laila kini tibalah saatnya ia yang datang ke atas panggung untuk mengucapkan selamat.


"Doktet Zi, kemana bayimu?" Lailalah yang bertanya, wanita cantik itu adalah sama seperti Ziano sebagai seorang dokter di rumah sakit yang sama dengan Ziano, tapi Laila baru beberapa bulan itu mengabdi di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Dia bukan Bayiku."


"Lalu?"


"Aku hanya menjaganya sebentar, kebetulan aku kenal dengan ibu bayi itu. Tapi kasihan juga pada bayi tampan itu dia seperti tidak mempunyai seorang ayah." Sindir telak Ziano pada pria di samping Laura.


"Kasihan sekali, kemana ayahnya? Apa bayi itu seorang yatim?" tanya Laila polos.


"Sepertinya." Ujar Ziano tenang.


Kaisar mengetatkan rahangnya, ia terhina ayah dari bayi itu masih hidup dan sekarang tengah bertunangan dengan wanita lain. "Aku pria paling brengsek." Kaisar mengecap dirinya sendiri.


"Selamat atas pertunanganmu dokter Laila." Ziano mengulurkan tangannya untuk memberi selamat.


"Terimakasih, Dokter Zi."


"Semoga nasib baik berpihak padamu. Tidak seperti bayi tadi." Ziano masih menyindir Kaisar meskipun pria itu tidak merespon.


"Aamiin."


"Kapan kau menyusul?" tanya Laila basa-basi.


"Doakan ibu bayi tadi mau menjadi istriku."

__ADS_1


"Hahaha. Kau bisa saja dokter Zi, kau pecinta janda beranak satu rupanya."


"Apa maksudmu?"


__ADS_2