
"Neli, semalam mantan suamimu kemari." ujar ibu Mala, sampai janda beranak satu itu menghentikan kunyahannya.
Selama beberapa waktu Neli membisu sebelum kemudian ia bertanya pada ibunya.
"Untuk apa tunangan orang itu kemari Bu?" Neli kemudian melanjutkan kegiatannya menyantap makanan di hadapannya dengan lahap.
"Katanya Kaisar ingin melihat Austin."
"Oh." respon Neli datar, entahlah perasaannya terasa biasa saja pada Kaisar sekarang, ya karna srmalam ia sudah berjanji tidak akan menangisi pria itu lagi.
"Kau masih menyukai Kaisar?" tanya ibuAla hati-hati.
"Tidak Bu, tiga belas bulan adalah waktu yang cukup lama untuk aku melumpuhkan perasaanku padanya." Neli membiarkan saja semuanya berjalan seperti air, ia tak akan menghentikan atau menghambat apapun yang akan terjadi padanya dan takdirnya.
.
Kaisar semakin sibuk dengan berbagai pekerjaannya, apa lagi ia kini tengah membangun salai satu hotel di Dubai di tempat calon istrinya mengharuskannya menetap beberapa waktu di sana.
Bahkan saat Kaisar tengah pulang ke tanah airpun ada saja pekerjaan yang selalu mengharuskannya untuk pulang larut malam, sehingga Kaisar tidak sempat menemui putranya Austin dalam keadaan terjaga, balita itu pasti sudah terlelap saat Papanya menemuinya.
"Kau lembur lagi." Neli meletakan secangkir teh di hadapan Kaisar, sudah sejak setengah jam yang lalu Kaisar bertamu di rumah Neli.
Sebenarnya ia giat bekerja agar mengalihkan fokusnya akan pernikahan yang mulai mendekat dengan gadis yang bernama Laila serta ia juga harus melenyapkan rasa tak wajar yang terus tumbuh pada mantan istrinya.
"Aku akan kembali pergi ke Dubai besok." Papar Kaisar.
"Oh begitu. Aku hanya mengingatkan Austin dua hari lagi ulang tahun yang keempat." ucap Neli, ia tak berharap Kaisar akan datang di hari ulang tahun putranya, mengingat tiga kali ulang tahun yang di gelarnya Kaisar tak sekalipun menampakan batang hidungnya tentu saja dengan alasan sibuk. Hanya akan ada barang-barang mewah untuk Austin sebagai kado dari pria itu.
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak akan bisa datang." ucap Kaisar penuh sesal ia bahkan mengalihkan tatapannya.
"Oh, tentu saja tidak masalah Kai, Austin anak yang pengertian dia tidak akan menanyakanmu, kau tenang saja Aus sudah terbiasa." Neli terkekeh di akhir kalimatnya.
"Aku hanya mengingatkanmu barang kali kau lupa." ucapnya datar.
"Mana mungkin aku lupa akan tanggal kelahirannya." jawab Kaisar cepat.
"Kau mungkin memang tak lupa tanggalnya, tak sepertinya kau lupa akan keberadaannya." Ucap Neli pelan, tapi masih terdengar langsung di telinga Kaisar.
"Apa maksudmu?" Kaisar tak suka akan jawaban Neli.
"Ah tidak ada." Neli mengalihkan perbincangan dengan topik lain.
"Kau mau kado apa dariku saat menikah nanti? Aku sekarang punya banyak uang, skin care yang ku buat kini tengah meroket di pasaran." Ya memang itu kenyataannya usaha baru yang tengah Neli kelola tengah melesat dan baik daun, Neli tidak tau jika di dalamnya ada campur tangan Kaisar.
"Kau jangan mengundangku! Aku tak akan datang." ujar Neli cepat.
"Oh Ya sepertinya kau harus pulang aku sudah mengantuk." Neli beranjak, tanpa menunggu tamunya pulang Janda satu anak itu sudah meninggalkan Kaisar lebih dulu.
.
Acara ulang tahun Austin di gelar dengan sangat meriah di salah satu hotel termewah di kota itu, Neli tak segan merogoh kocek yang dalam untuk acara itu, lagi pula dananya juga dari Kaisar, hotel yang ia gunakan juga milik mantan kekasihnya.
Ibu Dian mantan mertua Neli hanya berpesan hanya agar jangan sampai orang lain mengetahui tau jika Austin adalah anak dari Kaisar. Dan Neli menyetujui itu.
Khusus hari ini Kaisar mengosongkan jadwal untuk menghadiri ulang tahun putranya, bahkan ia membatalkan jadwalnya bertolak ke negara Dubai hanya agar dapat hadir di acara putranya.
__ADS_1
Dan di saat sampai di ball room hotel Kaisar semakin di buat terkejut calon istri yang tidak ia inginkan juga hadir di acara putranya, entah ini sebuah kebetulan atau memang sudah jalan semesta untuk membongkar kebenarannya, ia menarik nafas dalam jika seandainya rahasiah yang keluarganya sembunyikan dari keluarga Laila harus terbongkar kali ini.
"Papa ..."
Panggilan suara riang seorang bocah membuat Kaisar kesulitan menelan salivanya. Sebelumnya Austin hanya melihatnya dari layar ponsel karna bocah itu tidak pernah ia temui dalam keadaan membuka mata. Karna saat Kaisar menemuinya pasti bocah itu tengah terlelap, ini bukan salah Austin karna Kaisar menemui bocah itu selalu malam hari sesuai petuah sang ibu.
"Papa ..." Lagi-lagi bocah itu memanggil Papa, membiat tubuh Kaisar berbunga-bunga sekaligus gemetar takut ibunya murka padanya. Terlihat dari tatapan ibu Dian yang berjalan di sampingnya.
"Kenapa ada Laila juga di sini?" Geram ibu Dian.
"Lihat saja, Ibu akan mempermalukan Neli. Kenapa ia tak menghangi Austim." Ibu Dian semakin marah pada mantan menantunya yang menyunggingkan senyum madis.
"Papa tangkap Aus ..." Bocah itu sudah berlari ke tempat Kaisar mematung dengan semua keterkejutannya.
Kaisar masih diam menyaksikan bocah tampan itu berlari. Di balik semua ke khawatirannya Kaisar tersenyum lebar, sebelum tiba-tiba.
Langkah kaki terdengar dari arah Kaisar berdiri dan-
"Hap ... Papa Mendapatkan Aus." seorang pria yang Kaisar ketahui sebagai rekan kerja Laila. Doktet Ziano, pria itu yang di panggil Austin Papa.
"Papa memang terbaik." puji Austin. Anak itu mengecupi pipi Ziano bergantian.
"Mana hadiah Aus?" tanya kembali Austin.
"Kau akan mendapatkannya anak tampan Papa." Ziano menghujani wajah Austin dengan begitu banyak kecupan gemas. Ziano tak menyadari jika di sampingnya ada Kaisar dengan semua amarah dan ketidak berdayaannya.
"Syukurlah. Ku pikir Austin akan memelukmu." ucap Ibu Dian kemudian melanjutkan langkah untuk menemui Laila calon menantu idamannya.
__ADS_1
Neli, Ziano dan Austin terlihat begitu bahagia di sana, hanya Kaisar yang menjadi manusia paling terluka saat ini.