Perangkap Cinta Pertama

Perangkap Cinta Pertama
Ngidam rambutan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Kaisar sudah bangun menyuruh orangnya untuk membeli sarapan untuknya dan Neli juga memasak air panas untuk Neli mandi. Kaisar juga tidak mengerti apa yang ia lakukan ini sebagai bentuk kewajibannya sebagai seorang suami maupun calon ayah, atau ada hal lain yang melatar belakanginya.


"Owek ... Owek ..."


Neli kembali memuntahkan seluruh isi perutnya di kamar selalu seperti itu setiap pagi selama beberapa hari terakhir ini.


"Ya Tuhan Neli."Kaisar menghampiri Neli dan membantunya untuk menyiram bekas muntahan istrinya yang terlihat menjijikan, tapi Kaisar tak sekejam itu membiarkan Neli membersihkan muntahannya sendiri.


"Kau harus mandi terlebih dulu. Diamlah di sini Neli aku akan mengambil air panas." Kaisar menyuruh Neli untuk tetap berdiam diri di kamar mandi, pria itu kembali dengan membawa handuk dan air panas untuk mandi Neli.


Selesai mandi dan berkaian Neli menghampiri Kaisar yang tengah menyiapkan satu gelas susu hamil. "Sarapan dulu kita akan ke klinik kesehatan pagi ini." ucap Kaisar.


Neli dengan tenang memakan sarapannya, sesekali mata indahnya mencuri pandang kearah suami tampannya. Ah aku benar-benar beruntung. Pria yang aku inginkan sekarang asli adalah milikku aku tidak halu lagi. Tunggu apa teman-teman mereka tau jika Kaisar adalah suaminya Neli harus meminta pesta pernikahannya di lakukan dengan besar-besaran ia ingin menunjukan pada semua orang yang pernah mengatakan mustahil untuknya memiliki Kaisar. Neli juga ingin berbagi kebahagiaan untuk orang-orang yang mendukungnya selama ini.


"Kenapa kau senyum-senyum?" Kaisar menyoroti Neli dengan tatapan tak suka.


"Kai aku ingin mengadakan pesta pernikahan."


"Apa tujuanmu mengadakan pesta,? ingin membuktikan jika kau sidah menjadi cinderella sungguhan begitu?" Kaisar menuduh tepat sasaran.


"Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan denga orang-orang di sekitarku." ujar Neli.


"Kau pikir aku bodoh tak dapat menangkap maksudmu. Kau ingin mempermalukan aku, ingin mengatakan jika aku sudah menghamilimu lebih dulu. Aku juga tak ingin membuang-buang uangku untuk pesta tak berguna itu, dengan atau tanpa adanya pesta kita sudah menikah." Kaisar berkata ketus. Dan senjata yan Neli miliki adalah bayinya, ia hendak mengatakan jika ini ke inginan bayinya. Tapi mulut yang nyaris mengeluarkan suara itu kembali mengatup saat Kaisar berkata sinis padanya.

__ADS_1


"Jangan membawa-bawa bayiku atas kebohongan yang akan kau ciptakan." Sarkas Kaisar.


Neli hanya diam. Ya Kaisar memang seperti itu, apapun yang ada di benaknya ia langsung mengatakannya tanpa memperdulikan perasaan orang lain. Neli sudah tau sifatnya tapi tetap saja wanita itu merasa tersentil dengan ucapan Kaisar.


Kaisar mencuci peralatan yang mereka gunakan. Ia risih jika membiarkan apapun berantakan, dan setelah selesai Kaisar mengajak Neli untuk memasuki mobilnya.


"Kai tidak usah naik mobil kita jalan kaki saja, sambil menikmati udara pagi di sini. Suasananya masih asri aku menyukainya lagi pula kliniknya tidak terlalu jauh hanya berjarak lima ratus meter dari sini." Ujar Neli kembali. Neli kembali membuang muka ia masih kesal karna ucapan Kaisar yang selalu pedas padanya.


"Kau yakin akan berjalan kaki?"


"Hmm." Neli menganggukan kepalanya.


"Jika kau kelelahan aku tak ingin menggendungmu." ketus Kaisar.


"Hei bodoh! Jalanmu pelan-pelan di perutmu ada bayiku jangan sampai bayiku tak nyaman."


Neli tidak memperdulikan teriakan Kaisar yang mengejarnya.


"Neng Neli bade kamana?"


Neli berhenti celingukan, ada suara tapi tak ada orangnya.


"Neng saya di atas."

__ADS_1


Neli menengok keatas pohon yang terletak di pinggir jalan. Ternyata yang menanyainya adalah suami dari pemilik rumah sewa yang ia tempati.


"Mau keklinik pak." Neli menenggak butiran ludahnya saat melihat pohon itu ternyata pohon rambutan yang kini sudah siap panen. Warna merah dari rambutan masak memanjakan indra penglihatannya, serta kualitas ludahnya tiba-tiba di produksi semakin melimpah. Ya Neli ingin rambutan di atas pohon itu.


"Neng jika ingin rambutannya. Suruh suami Neng Neli manjat sendiri, ambil sesukanya tapi sayang banyak kararangenya. Maksud saya semut merah itu, apa ya nama jakartanya." Bapak itu terlihat berpikir keras.


Neli melirik Kaisar yang sudah tiba di sebelahnya dengan nafas ngos-ngosan.


"Kai, aku ngidam rambutan itu." Neli menunjuk buah rambutan berwarna merah yang berduyun-duyun tak terhitung.


"Astaga Neli." Kaisar mulai pusing dengan keinginan wanita hamil itu.


"Pak aku beli rambutannya." Teriak Kaisar dari bawah.


"Tidak usah beli A, asal ambil sendiri." Bapak itu sudah meloncat turun kebawah dengan badan menggosok-gosok seluruh badannya yang di gigiti semuk rangrang.


Bapak itu hanya membawa satu tangkai saja tak lebih, karna ia keburu di kerubuni semut itu. Saya tidak mau jika harus kembali memanjat.


Kaisar menelan gumpalan liurnya yang terasa kering.


"Kai aku ngidam rambutan itu, aku ingin kau yang memanjatnya untukku." Neli berkata dengan wajah memelasnya.


"Ya Tuhan. Neli." Kaisar mengetatkan rahangnya.

__ADS_1


__ADS_2