
Sekuat apapun Kaisar untuk mempertahankan rumah tangganya Kaisar tetap kalah, karna Neli sudah mengajukan surat gugatan ke pengadilan. Tidak mau mempersulit keingin Neli untuk berpisah akhirnya Kaisar mengalah.
Hari ini adalah hari di mana putusan perceraian di lakukan. Tidak ada tuntutan dari si penggugat, karna Neli hanya ingin berpisah dengan Kaisar, ia tak meminta harta gono gini maupun nafkah tertentu untuk putranya. Terlepas dari keluarga toxic saja Neli sudah bersyukur.
Meski begitu Kaisar memberikan Neli banyak konpensasi sebagai hadiah karna sudah mengandung dan melahirkan putranya dengan sehat dan sempurna.
Bagai mana tidak bersyukur, Neli sangat tertekan tinggal di rumah Kaisar, yang di mana setiap gerak-geriknya di kritik dan setiap yang ia lakukan selalu mengundang kemarahan mertuanya.
Memang Dian ibu mertuanya sangat perhatian soal nutrisi untuk bayinya apa lagi saat ada Kaisar, tapi di luar itu mertuanya kadang-kadang berubah menjadi monster menyeramkan. Mengancam dan menakuti Neli kerap kali di lakukan oleh Dian agar ia mau menuruti setiap keinginan wanita tua itu.
Di samping semua itu banyak hal lain yang selalu menelor Neli, ada juga nomor baru yang selalu mengirimi Neli pesan beruntun yang menyuruhnya untuk berpisah dengan Kaisar di sertai ancaman-ancaman mengerikan.
Neli sekarang dapat bernafas dengan lega saat hakim mengetuk palunya tiga kali pertanda ia sudah resmi menjanda.
Dua tetes air mata lolos secara bersamaan dari dua kolopak mata ibu satu anak itu.
Neli mendekap bayi montok yang baru berusia tiga bulan dalam gendongannya. "Maafkan Mama Aus." bisik Neli pelan. "Kelak kau akan mengerti mengapa Mama melakukan ini." Neli juga mengecupi pipi gembul bayinya yang tengah terlelap.
"Neli mari bicara sebentar." ajak Kaisar.
Neli hanya mengangguk setelah memberikan putranya pada sang ibu, dan meminta ibunya untuk menunggu di mobil terleboh dulu.
Neli terlihat sangat tegar, hanya senyuman tipis yang ia perlihatkan ia tak ingin terlihat semakin menyedihkan di mata mantan suaminya.
"Ada apa Kai?"
"Kau tidak membenciku kan?"
__ADS_1
Neli menggelengkan pelan kepalanya.
"Tapi setelah ini aku yakin kau akan membenciku." ucap Kaisar parau. Suaranya tercekat berat.
"Ada apa? Kaun menginginkan hak asuh Austin?" tebak Neli tepat sasaran.
"Ibuku menyuruhku bertunangan satu bulan setelah hari ini." Kaisar menatap langit cerah di atasnya.
"Aku pasti semakin terlihat brengsek di matamu." ekor mata Kaisar mendapati Neli yang mengatupkan bibir sebelum kemudian membuang nafas.
"Ibumu benar. Masih untung tidak menyuruhmu bertunangan di saat kita masih terikat hubungan." Neli terkekeh. "Pasti dengan Laila putri Tuan Abraham." Sambung Neli.
"Hmm. Dari mana kau tau?"
"Aku memang terlihat bodoh Kaisar. Tapi memang tidak bodoh-bodoh banget sih. Otakku masih cukup cerdas untuk menyimpulkan beberapa hal yang terjadi di sekitar hidupku." Neli selalu menyelipkan senyuman di setiap kalimat yang ia ucapkan.
"Kau waras Kai? Menanyai pendapat mengenai pertunanganmu pada mantan istrimu! Tapi karna kau bertanya aku akan menjawab." Neli membalik badannya penuh menghadap Kaisar.
"Lakukan apapun jika menurutmu benar dan tidak merugikan orang lain. Kau memang harus melanjutkan hidupmu, begitupun dengan aku. Suatu saat nanti akupun akan memulai cerita dengan orang baru." Saat Neli menyebut orang baru tangan Kaisar mengepal erat ia tak rela jika Neli memulai hubungan dengan pria lain.
Belum selesai pembahasan mereka tiba-tiba seorang pria menghampiri Neli.
"Neli."
"Apa Kabar? Bagai mana kabarmu dan putramu?"
"Aku dan putraku baik-baik saja. Kau sendiri bagai mana?"
__ADS_1
"Aku juga baik." Ziano tak memperdulikan Kaisar yang berdiri di samping Neli.
"Sedang apa kau disini?"
"Zi."
"Jangan katakan kau selesai bercerai?" canda Ziano, di sertai krkehan kecil yang sialnya di angguki Neli. Ziano meringis pelan menoleh kearah Kaisar. "Maaf."
Menyadari atmosfer di sana cukup horor dan mencekam Ziano lebih memilih pamit untuk pergi dari sana.
"Kapan-kapan aku akan mampir kerumahmu." ucap Ziano sambil berlalu.
"Apa dia ora baru yang kau maksud tadi?"
"Kenapa? Apa dia tampan?"
"Menurutku dia terlalu tua untukmu." Kritik Kaisar.
"Hey umurnya baru jalan tiga puluh satu tahun. Dia sedang matang-matangnya di usia segitu." Neli terkekeh geli dengan karangannya sendiri.
"Sepertinya kau sangat mengenalnya."
"Ya, aku memang harus mengenalnya sebelum mengenalkannya pada Austin. Ziano seorang dokter."
"Awas saja jika kau mengenalkan pria tua itu pada putraku. Dia terlalu tua untuk menjadi ayah sambung putraku. Aku sendiri yang akan mencarikan Papa sambung untuk Austin." putus Kaisar.
"Dasar gilaa!"
__ADS_1