
Setelah seharian Kaisar berkutat menyelesaikan pekerjaannya di kantor, Kaisar juga menyuruh Una untuk mencarikannya sekertaris baru untuk mengganitikan Neli. Dan kaisar menginginkan seorang sekertaris pria di kantornya. Kaisar tak ingin terlibat perdebatan dengan Neli karna hal sepele, mengingat sebelum menikah saja wanita itu sangan over protektive padanya apa lagi sekarang sudah menikah. Atau Una bisa menjadi sekertaris untuk Kaisar dan Una bisa mencari asisten baru untuk untuknya, terserah saja yang terpenting jangan seorang wanita.
.
Kaisar menjemput istrinya untuk pulang kerumahnya. Tadi Kaisar sudah mengirimkan pesan pada Neli agar wanita itu bersiap serta meminta Neli untuk mengemasi barang yang penting saja.
Kaisar dan Neli berpamitan pada Ibu Mala.
Keduanya hanya diam selama perjalanan berlangsung. Baik Neli maupun Kaisar sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Bagaimana dengan bayi kita? Apa hari ini dia rewel?" Tangan Kaisar terulur menyentuh permukaan perut Neli yang masih terlihat datar. Hanya payudara dan bokongnya saja yang terlihat membesar, sedangkan perut Neli masih masih saja ramping. Kaisar mengakui jika Neli semakin seksih dengan perubahannya.
'Jangan terlalu percaya diri Neli. Sikaf lembutnya, kata halus yang Kaisar tuturkan hanya di peruntukan untuk bayinya saja.' Neli menekan hatinya agar tidak terlalu melambung tinggi.
"Ya, Kai selain pagi hari bayi kita tidak nakal." Neli tersenyum hangat pada Kaisar, Tidak sulit bagi Neli untuk berperangai baik pada Kaisar. Pria yang selama ini bertahta di sanubarinya sejak lama.
Kaisar menggenggam tangan lembut Neli. "Nanti jika aku sempat kita akan menengok Bayi kita kerumah sakit." Kaisar selalu berkata lembut pada Neli jika menyangkut masalah bayi mereka.
"Kai aku takut ibumu tak menyukaiku." Neli mengatakan apa yang menjadi ketakutannya sejak beberapa waktu terakhir ini.
Kaisar menghela nafas kasar. Benar apa yang di katakan Neli, Ibunya bukan seorang sembarangan. Ibunya seorang kaya raya sedari kecil tak ada yang dapat membantah setiap keputusannya di rumah. Ibunya juga seorang wanita karier serta sosialita kelas atas. Alasannya juga menyuruhnya menikahi Neli bukan karna wanita setengah baya itu menyukai Neli tapi karna takut Neli menyebarkan foto antara Kaisar dan Neli waktu itu, ya Ibu Dian tak ingin di permalukan oleh tindakan Kaisar yang meniduri seorang gadis. Jika Neli berani menjebak Kaisar bukan tidak mungkin Neli bertindak lebih jauh lagi untuk mempermalukannya, itulah yang ada di pikiran Dian kala itu.
"Hei. Jangan berpikir terlalu jauh! Ibuku menyayangi calon cucunya. Itu adalah calon cucu pertamanya Neli." Kaisar mengatakan kebenaran yang membuat Neli semakin terkejut.
"Cucu pertama? Bukankah Una cucu pertama ibumu?" bukan tanpa alasan Neli berkata demikian karna memang setaunya Una adalah keponakan Kaisar anak dari kakak perempuan Kaisar satu-satunya. Karna Kaisar itu dua bersaudara dengan kak Kanna, yang Neli sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan kakak iparnya itu. Jarak antara umur Kaisar dan Kanna sangat jauh yaitu delapan belas tahun.
"Una bukan anak kandung Kakakku. Dia merupakan anak adopsi kak Kanna." ucap Kaisar pada akhirnya ia tak memiliki pilihan selain berkata jujur pada istri barunya, tentang rahasia keluarga mereka.
__ADS_1
"Apa?" Neli tampak terkejut dengan kebenaran itu.
Selama ini Neli menganggap Una adalah keponakan asli Kaisar, sehingga ia tidak tersinggung atau merasa tersaingi saat Una lebih dekat dengan Kaisar saat bekerja. Tapi setelah mengetahui kebenarannya Una bukan keponakan kandung Kaisar Neli jadi was-was sendiri, entahlah ia jadi berpikiran macam-macam.
"Ya, Una anak adopsi Kakakku. Kak Kanna dulu menderita kanker rahim sehingga rahimnya harus di angkat sehingga ia tak mungkin memiliki anak kandung, akhirnya dia dan suaminya memutuskan mengadopsi seorang bayi dari panti asuhan katanya, saat umurku baru tujuh tahun kala itu." Kaisar menceritakan bagai mana Una hadir di tenangah kehadiran Una di keluarga mereka.
"Ya Tuhan." Neli menutup mulutnya tak percaya atas apa baru saja ia dengar.
"Tapi rahasiakan ini dari siapapun. Okay."
Neli masih syok akan ke adaannya, selama dua tahun ini Una menjadi asisten Kaisar dan itu sukses membuat Neli berpikir keras.
"Hey kau mendengarku tidak?" Kaisar menggoncang pelan bahu Neli. Ia heran mengapa Neli sampai mematung seperti itu hanya karna mendengar jika Una bukan keponakan kandungnya.
"Eh, apa?" Neli gelagapan sendiri.
"Rahasiakan jika Una, adalah anak adopsi jangan sampai ada yang metahuinya, termasuk Una sendiri. Jika Una sampai mengetahui kebenaran ini, habis Kau!" Suaminya bahkan mengancamnya untuk merahasiahkan ini dari siapapun termasuk Una. Neli sekarang menyimpulkan jika Una tidak mengetahui jika status mereka hanya Om dan keponakan palsu.
Sialan! Pikiran Neli selalu memikirkan hal-hal yang bahkan picik sekalipun, tapi sampai sejauh ini feelingnya terlalu kuat. Tapi apa? Neli tidak memiliki alasan kuat untuk mengatakan pada Kaisar supaya membatasi kedekatan mereka. Akan sangat terlihat konyol jika Neli mengatakan kini ia mencemburui Una juga.
"Neli ... Neli ..."
"Kau kenapa? Ini sudah sampai apa kau tak mau turun?"
Kaisar memanggil istrinya beberapa kali saat Neli masih terbengong dengan pikirannya tanpa perduli jika ia sudah sampai pada tujuannya.
"Neli! Kau ini kenapa.?" Kaisar menghentak istrinya agar wanita itu kembali ke alam sadarnya.
__ADS_1
"Ah, Ya. Maafkan aku."
"Ini sudah sampai. Ayo kita turun!" Pria tampan itu bahkan membatu Neli untuk menuruni mobil.
"Hati-hati!" Astaga perhatian sekali, Kaisar bahkan menahan bobot Neli saat menaiki dua undakan tanga di teras depan rumah Kaisar.
'Sadar Neli, yang di perhatikan Kaisar bayinya bukan dirimu.' Neli selalu memperingatkan dirinya agar tidak terlalu banyak berharap dengan pria itu. Neli juga harus menyiapkan mental jika saatnya tiba Kaisar ingin melepasnya ia tidak akan bisa menahan langkah kaki pria itu.
Beberapa pelayan membawa barang bawaan yang Neli bawa kekamar yang ada di bawah.
"Kenapa di bawa di kamar tamu? Dia istriku bawa barang-barangnya kekamarku yang ada di atas." Kaisar memberitau pelayan itu.
"Tapi Tuan muda. Nyonya besar yang meminta, maka kami harus melakukannya. Perintah Nyonya besar adalah mutlak adanya." jawab pelasan itu sembari menundukan kepala. Ia tak berani bahkan untuk sekedar mengangkat kepala di hadapan Kaisar.
"Di mana Ibuku?"
"Ada apa Sayang? Ibu di sini." sebuah suara tegas dari seorang wanita yang masih cantik di usia yang tidak muda lagi kini tengah menuruni anak tangga satu persatu. Ya dialah Nyonya besar Dian Samudra. Wanita berpengaruh dalam hidup Kaisar.
"Ibu, kenapa Neli harus tidur di kamar tamu?" Kaisar mendekat ke arah ibunya. Setelah sebelumnya membawa istrinya duduk di atas kursi sopa. Neli mengamati setiap barang yang ada di rumah itu termasuk barang mewah dengan harga selangit.
"Kau, masih bertanya Kai. Dia memang tamu di rumah itu." Jawabnya datar.
Jleb.
Hati Neli mencelos seketika, secara tidak langsung Ibu mertuanya menolak kehadirannya. Lagian ibu mertua yang kaya raya mana yang sudi menerima tamu seorang gadis sederhana juga yatim sepertinya.
"Ibu Neli istriku."
__ADS_1
"Ya. Tapi sebatas istri di atas kertas."
Yesss. Rasanya sangat sakit. Bahkan Neli memejamkan matanya, untuk menikmati rasa yang mampir padanya.