
Apa maksudmu?"
"Aku mengetahui perjanjian antara kau dan ibu mertuaku."
"Dari mana?" sesingkat itu kalimat yang Kaisar lontarkan meskipun banyak pertanyaan yang masih melekat pada tenggorokannya.
"Aku tidak meminjam telinga siapapun untuk mengetahui hal ini. Aku mendengar perbincanga kalian kala itu."
Astaga Kaisar seceroboh itu. Ternyata sejak delapan bulan yang lalu Neli memendamnya sendiri tanpa mengeluh apa lagi menuntut hal macam-macam padanya.
"Kai aku sadar, aku hanya mengagumimu bukan tulus padamu. Harusnya sejak awal aku tau jika langit hanya sekedar untuk di pandang bukan di raih apalagi di miliki." ucap Neli parau menahan tangis.
Lihatlah gadis seperti Neli yang tengah kecewa parah memberi perumpamaan Kaisar seperti langit, tinggi dan tak bisa di gapai.
Jika pria peka akan mengerti bagai mana dan di mana wanita itu menempatkan Kaisar dalam hatinya.
"Kau menyerah?"
Neli mengangguk tanpa keraguan. "Aku lelah Kai." ucapnya bergetar airmata dan air hidungnya berlomba keluar dari habitatnya.
"Apa ada pria lain yang tengah kau incar atau kau sukai.?"
__ADS_1
Apa-apaan Kaisar bertanya hal itu?
"Kaisar. Mencintaimu adalah luka yang kusengaja, sudah tau endingnya tak akan bersama aku masih nekad ingin memulai cerita." Neli menunduk menyembunyikan air matanya.
Kaisar tak menyangka jika cinta yang di berikan Neli untuknya ternyata melukai diri Neli sendiri. Kaisar ikut terduduk di ranjang tepat di samping istrinya.
"Begitukah? Kau benar-benar tak ingin bersamaku?" Kaisar menatap dalam wajah Neli.
"Untuk apa? Agar aku semakin terluka.?" Neli balik menatap wajah Kaisar, ia rekam lamat-lamat pria yang selalu tidur di sampingnya selama delapan bulan ini.
"Lima tahun lagi Neli, aku ingin mrmbiasakan diri hidup tanpa dirimu tanpa kalian. Aku ingin bersama kau dan putra kita dalam hitungan waktu lima tahun lagi."
"Kanapa? Bukannya selama ini kau terbiasa tanpa aku. Kau tenang saja aku akan membiarkan kapanpun kau ingin mengunjungi putramu. Aku akan membebaskan kau menemui putramu aku tak akan membatasimu Kai." Neli meraih wajah Kaisar.
"Kau akan membenciku setelah ini?"
"Tidak, Kai. Tidak akan aku membencimu. Kau adalah pria yang ku kasihi sejak dulu sampai hari ini pun tetap sama, kita berpisah bukan untuk berakhir hubungan, sampai kapanpun kita akan terikat dengan adanya bayi kita." Neli menghapus setetes air mata yang jatuh di pipi Kaisar.
"Hey jangan menangis!"
"Lalu aku harus apa? Tertawa?"
__ADS_1
"Ya, kau harus tetap bahagia." Neli tersenyum semanis mungkin berharap senyumnya bisa menular pada pria di hadapannya.
"Boleh ku lihat bekas oprasimu?"
Neli mengangguk dan mengangkat baju pasiennya.
Sebuah luka jaitan yang tertutup kain kasa.
Kaisar masih mengingat Perut seksih dan rata wanita itu, saat untuk pertama kalinya Kaisar menjamah dan menikmati tubuh ranum di hadapannya. Perut itu Kini sudah berubah menjadi bergelambir, kering, juga kecoklatan. Jangan lupakan juga perut itu kini sudah terdapat bekas sayatan tajamnya pisau oprasi.
"Maaf dan terimakasih." Kaisar mendaratkan kecupan sangat lama di kening istrinya.
"Kita akan berpisah dengan cara baik. Meskipun pernikahan kita tidak berjalan baik. Kita akan membesarkan bayi kita bersama." Kaisar tersenyum dengan luka yang sama besarnya dengan Neli. Entah karna apa Kaisar ikut terluka karna rencana perpisahan mereka.
"Ya Kai, pasti kita akan membesarkan anak kita bersama." Neli turut tersenyum. "Oh Ya, kau ingin menamai bayi kita siapa?"
"Aku boleh menamai bayi kita Neli?" tanya Kaisar tak percaya, wanita di hadapannya sangat baik membiarkan ia menamai bayi mereka.
"Tentu, Kai kau Ayahnya. Kau berhak menamai pada bayi kita. Kata orang jika Ayahnya yang menamai putra pertamanya, itu adalah bentuk penghargaan bagi seorang pria. Aku ingin memberikan penghargaan itu padamu Kaisar." Ujar Neli sungguh-sungguh.
"Terimakasih."
__ADS_1
"Aku menamai putra pertama kita. Austin Samudra. Sudah sejak lama aku menyiapkan nama itu."
"Austin Samudra. Nama yang indah Kai."